เข้าสู่ระบบSiang itu, suasana di restoran privat terasa cukup tenang. Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca besar, memantulkan kilau lembut di atas meja makan yang dipenuhi berbagai hidangan.Namun, ketenangan itu tidak benar-benar terasa hangat.Rayan duduk sambil memotong daging stek di piringnya dengan gerakan tajam dan rapi. Tatapannya dingin. Rahangnya mengeras.Jelas sekali pria muda itu masih menyimpan amarah besar terhadap Toni.“Mami terlalu baik,” gumamnya tiba-tiba.Alicia dan Sofia langsung menoleh.Rayan meletakkan pisau makan dengan bunyi pelan, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.“Kalau terjadi pada aku, pria seperti dia tidak akan kubiarkan hidup tenang di penjara. Setelah semua yang dia lakukan…” sorot matanya berubah tajam, “dia bahkan masih beruntung.”“Rayan,” tegur Sofia pelan. “Jangan bicara seperti itu.”Namun, suara Sofia terdengar lemah.Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu… putranya tidak sepenuhnya salah.Seketika ingatan tentang Toni kembali menghantam pikirann
Suara pintu depan terbuka pelan memecah keheningan rumah.Alicia masuk sambil menjinjing tas kecilnya. Namun yang paling mencolok malam itu bukanlah penampilannya—melainkan senyum lebar di wajahnya yang sama sekali tidak bisa disembunyikan.Matanya langsung menangkap sosok Sofia yang duduk di sofa ruang tengah. Televisi menyala tanpa suara, sementara wanita itu tampak melamun dengan secangkir teh hangat di tangannya.“Mamiii…” Alicia langsung menghampiri dengan langkah cepat. “Belum tidur?”Sofia sedikit tersentak dari lamunannya, lalu tersenyum lembut saat melihat putrinya.“Belum. Mami nungguin kamu pulang.” Tatapannya langsung menyapu wajah Alicia yang terlihat begitu cerah. “Bagaimana? Lancar fitting gaunnya?”“Lancar banget!” jawab Alicia semangat.Belum sempat Sofia bertanya lagi, Alicia sudah duduk merapat di samping ibunya dengan ekspresi heboh seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah paling mahal sedunia.“Dan Mami harus tahu apa yang terjadi setelah itu!”Sofia tertawa k
Sore berganti malam ketika mereka tiba di sebuah butik eksklusif. Beberapa staf langsung menyambut kedatangan mereka dengan membungkuk hormat. "Silakan pilih gaun yang kamu suka," kata Devan setelah mereka dipandu ke area privat. Alicia memandang deretan gaun indah di sekelilingnya dengan ragu. "Semuanya kelihatan sangat mahal, Devan." "Memang." "Tapi—" Devan memotong ragunya dengan mendekat, lalu berbisik pelan tepat di samping telinganya, "Calon tunanganku tidak boleh tampil biasa saja." Deg. Alicia terpaku dengan wajah yang kembali memanas. Sementara itu, Devan sudah kembali berdiri tegak dengan ekspresi tenang, menikmati bagaimana kalimatnya berhasil memengaruhi Alicia. Beberapa gaun mulai dicoba oleh Alicia. Devan menunggu dengan sabar di sofa. Hingga pada gaun keempat, saat tirai ruang ganti perlahan terbuka, Devan benar-benar kehilangan kata-katanya. Gaun malam berwarna champagne itu melekat dengan sangat sempurna di tubuh Alicia. Anggun, elegan, dan memancarka
Thomas menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, namun fokusnya sama sekali tidak tertuju pada tumpukan berkas di meja. Matanya terpaku pada layar ponsel yang menyala, menampilkan sebuah foto yang ia ambil secara diam-diam dan kini ia pasang sebagai foto profil. Di dalam foto itu, Sofia sedang duduk di sofa bersama Arabella. Keduanya tertawa lepas, tampak begitu dekat tanpa jarak. "Sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?" gumam Thomas, senyum tipis terukir di bibirnya. Saat mengambil foto itu tempo hari, Thomas sebenarnya sangat ingin menguping. Namun, ia mengurungkan niat karena takut Arabella akan mengomel. Putri kecilnya yang baru berusia tujuh tahun itu kalau sudah mengomel sangat sulit dihentikan. Sifat cerewet itu benar-benar warisan mutlak dari mendiang istrinya. Dulu, Thomas selalu berpikir bahwa sosok sang istri tidak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Namun, ia keliru. Sofia hadir dan perlahan mengisi hatinya, tanpa menggeser posisi mendiang istrinya
Devan tidak langsung menjawab.Dengan gerakan santai, ia meraih tali sabuk pengaman di samping Alicia lalu menariknya perlahan.Klik.“Sabuknya belum dipasang,” ucap Devan tenang.Namun setelah selesai memasangnya, pria itu tetap belum menjauh.Wajah mereka terlalu dekat.Sangat dekat.Sampai Alicia bisa merasakan napas hangat Devan menyentuh kulitnya.Jantung Alicia langsung berdetak kacau.Ia bahkan merasa sulit bernapas.Sedikit saja mereka bergerak… bibir mereka bisa saling bersentuhan.“Aku bisa pasang sendiri,” gumam Alicia pelan. Suaranya bahkan terdengar tidak meyakinkan bagi dirinya sendiri.Devan masih belum menjauh.Tangannya berada di sisi kursi Alicia, tubuhnya sedikit membungkuk menahan sabuk pengaman yang baru saja dipasangnya. Aroma parfum pria itu bercampur dengan udara dingin di dalam mobil, membuat Alicia semakin salah tingkah.“Hm,” jawab Devan santai. “Tapi aku lebih suka memasangkannya.”Deg.Jantung Alicia langsung berdegup semakin cepat.Ia buru-buru memalingka
"Tuan, cincin yang Anda pesan sudah datang."Bara melangkah masuk ke ruang kerja Devan, lalu meletakkan sebuah kotak beludru hitam kecil di atas meja dengan hati-hati.Saat kotak itu dibuka, kilauan berlian langsung memantul terkena cahaya lampu. Cincin itu begitu indah dan elegan. Berlian langka berbentuk pear cut di bagian tengahnya berkilau sempurna, dikelilingi butiran berlian kecil yang membuatnya tampak semakin mewah tanpa terkesan berlebihan.Devan memandangi cincin itu cukup lama. Tatapannya yang biasa dingin mendadak melembut. Akhirnya, setelah beberapa hari terakhir hampir dibuat frustrasi karena barang yang ia inginkan tak kunjung siap, cincin itu kini ada di depan matanya."Sulit sekali mendapatkannya," ujar Bara sambil menghela napas pendek. "Kemarin cincin ini sempat dibeli oleh seorang artis terkenal, tapi entah kenapa dijual kembali.""Tidak masalah," jawab Devan, sudut bibirnya terangkat tipis.Ia tidak peduli siapa pemilik cincin itu sebelumnya. Yang terpenting, seka







