MasukWajah Devan masih agak pucat. Bagaimana tidak? Setelah berjuang mati-matian melewati masa kritis, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa pernikahannya dengan Alicia kembali tertunda! Dan yang lebih menyebalkan lagi, Rayan—abang iparnya yang selama ini paling dingin, kaku, dan tak pernah sekalipun mengungkit masalah asmara—malah mendadak memotong jalur dan menguasai pelaminan yang sudah dipersiapkannya!"Tunggu dulu! Ini tidak bisa begini!" protes Devan dengan nada vokal yang dinaikkan, mencoba duduk lebih tegak meski punggungnya masih ditahan bantal. "Itu acara milikku dan Alicia! Gedung itu, konsep dekorasinya, kateringnya, semuanya aku yang pilih! Kenapa malah Rayan yang enak-enak naik pelaminan?!"Mendengar ocehan putranya, Luna memutar tubuhnya perlahan. Ia melangkah mendekati brankar dan mendelik, menatap Devan dengan tatapan tajam dan menyeramkan—tipe tatapan maut seorang ibu yang sanggup membungkam siapa saja."Biarkan Rayan yang menikah di tanggal itu!" potong Luna tegas, sua
Semua mata seketika tertuju padanya."Kecuali gaun yang sudah dipesan," lanjut Rayan mantap. "Seluruh biaya gedung, katering, dan dekorasi yang sudah dibayar oleh Devan... akan aku ganti rugi seluruhnya."Sofia yang sejak tadi diam terperanjat. Ia menatap putra sulungnya tak percaya. Begitu pula Thomas yang menaikkan alisnya heran."Kamu yakin ingin membayar semuanya, Ray?" tanya Sofia ragu. "Untuk apa kamu mengeluarkan uang miliaran hanya untuk menanggung pesanan acara Devan? Bukankah itu rugi besar?"Rayan menarik napas panjang, menetralkan ritme jantungnya yang berdegup gila-gilaan di balik kemejanya. Ia melirik Rebecca yang berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh kepastian, lalu kembali menatap keluarganya."Semuanya sudah dipesan dan rangkaian acaranya sudah matang," jawab Rayan dengan binar mata yang begitu tajam dan berani. "Karena itu... biar aku yang mengambil alih seluruh biaya dan jadwalnya. Dan acara pernikahan di tanggal itu... akan menjadi acara pernikahanku."DEG!Ke
Mobil Rayan akhirnya berhenti di area parkir VIP rumah sakit. Namun, Rayan tidak langsung turun. Ia bergeming sejenak, memegang kemudi dengan erat sambil memikirkan bagaimana cara menjelaskan kehadiran Rebecca di sampingnya kepada seluruh keluarganya nanti."Kenapa tidak turun?" tanya Rebecca lembut, menyadari kegugupan pria di sampingnya.Rayan menoleh, tersenyum nyengir lalu menganggukkan kepalanya. "Ayo turun."Pria itu melepas sabuk pengaman dan membuka pintu mobilnya, diikuti oleh Rebecca. Begitu kaki mereka melangkah di koridor rumah sakit, Rayan berjalan seraya menggenggam erat jemari Rebecca. Pria yang biasanya berwajah dingin itu mendadak bersikap seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta—memegang tangan Rebecca dengan senyum malu-malu yang menggemaskan.Rebecca tersenyum gemas melihat tingkah pria di sampingnya. Apa kata dunia jika publik mengetahui bahwa Rayan—tuan muda yang disegani, kaku, dan terkenal berdarah dingin—memiliki sisi manis dan menggemaskan seperti in
Siang itu, sinar matahari menerobos lembut lewat dinding kaca sebuah restoran bernuansa elegan di pusat kota. Di salah satu sudut meja yang tenang, Rayan duduk berhadapan dengan Rebecca—wanita yang baru saja resmi menjalin hubungan asmara dengannya.Namun, alih-alih diwarnai dengan obrolan romantis layaknya sejoli yang baru dimabuk asmara, meja makan itu diliputi oleh atmosfer yang cukup hangat namun sarat akan rasa prihatin."Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sedihnya Alicia melihat kondisi Devan seperti itu," ucap Rebecca dengan raut wajah sedih yang mendalam.Suara dan sorot matanya memancarkan keprihatinan yang amat tulus dari dalam lubuk hatinya—bukan sekadar formalitas agar terlihat seperti calon kakak ipar yang baik di mata Rayan."Padahal hari pernikahan mereka tinggal menghitung hari..." sambung Rebecca pelan, lalu menatap Rayan ragu. "Apa Devan masih belum sadar sampai siang ini?""Pagi tadi belum," jawab Rayan lirih.Ia memotong steak di piringnya, lalu
Alicia duduk di tepi tempat tidur VVIP itu dengan telaten, memegang mangkuk bubur hangat dan menyuapi Devan sendok demi sendok.Namun dasar Devan—meski baru saja lolos dari cengkeraman maut, sifat manjanya mendadak melejit naik hingga 80 persen. Pria gagah itu benar-benar memanfaatkan posisinya sebagai pasien. Ia sengaja mengunyah pelan, menatap Alicia dengan mata berbinar pasrah, lalu berpura-pura lemas hanya agar bisa mengusapkan kepala ke lengan calon istrinya."Suapannya kurang besar, Sayang..." rengut Devan pura-pura merajuk."Devan... ini bubur medis, disuap sedikit-sedikit supaya tidak mual," tegur Alicia gemas seraya mengetukkan ujung sendok pelan ke bibir Devan. "Jangan bertingkah seperti anak TK ya."Brak!Pintu kamar rawat mendadak terdorong lebar."Devan! Kamu sudah sadar, Nak?!"Luna masuk ke dalam kamar rawat dengan langkah sangat tergesa-gesa. Tanpa memedulikan tasnya yang terjatuh di sofa, wanita itu langsung menepi dan memeluk putra tunggalnya dengan penuh rasa bahagi
Kelopak mata Devan yang amat berat perlahan-lahan terkuak. Pandangannya yang sempat kabur berangsur-angsur jernih, menatap langit-langit plafon putih kamar rawat yang beraroma antiseptik lembut. Pria itu menarik napas panjang, meresapi udara dan pasokan oksigen segar yang membasahi rongga dadanya.Detik itu juga, sebuah kesadaran menghantam jiwanya—dia berhasil lolos dari cengkeraman maut. Dia masih hidup.Bersamaan dengan rasa syukur yang membuncah, Devan merasakan kehangatan yang amat familier melingkupi jemari tangan kanannya. Ada sentuhan lembut dan napas teratur yang berembus pelan di dekat ceruk lehernya.Devan menolehkan kepalanya secara perlahan. Senyum tipis nan tulus seketika mengukir bibirnya yang masih agak kering saat melihat Alicia terlelap begitu pulas di sampingnya. Pipi lembut calon istrinya menempel hangat di atas bahunya, seolah wanita itu menjadikan tubuh Devan sebagai satu-satunya tempat teraman di dunia.Rasa bahagia dan haru meluap memenuhi seluruh ruang di dada







