LOGINSinopsis “Buka!” Tanpa ragu, dokter muda itu memberi perintah tegas. Pasien yang duduk di kursi pasien langsung menegang, wajahnya berubah seketika. “Apa maksudmu?” Nada suaranya naik, jelas terkejut. Alicia, yang sudah 24 jam tak tidur dan salah membaca laporan pasien, menjawab santai, “Ini pemeriksaan awal sebelum tindakan. Jadi… buka celananya.” Satu kalimat polos itu cukup untuk membuat dunia Devan jungkir-balik. --- Dokter muda itu bernama Alicia, gadis superpolos yang bicara terlalu jujur untuk ukuran tenaga medis. Dan Devan? Seorang miliarder muda dengan ego setinggi langit dan kesabaran setipis tisu. Pertemuan salah paham itu memicu perang kecil yang kocak sekaligus menegangkan. Alicia tak sadar ucapannya telah menyinggung lelaki paling berpengaruh di kota itu. Sementara Devan, yang merasa kehormatannya diinjak-injak, tidak tahu bahwa dokter mungil itu justru perlahan mencuri perhatiannya. Apakah mungkin cinta terlarang antara dokter dan pasien akan terjadi?
View MoreBab 1
Alicia menutup berkas rekam medis terakhir hari itu, lalu memijat tengkuknya yang kaku. Shift hari ini benar-benar melelahkan. Bukan hanya karena tidak tidur selama 24 jam saja, tapi juga karena telepon dari orang tuanya pagi tadi masih terngiang nyata di kepala. “Alicia, kamu sudah cukup umur. Charlotte juga sudah siap menikah dengan Jerry,” suara ibunya terdengar lembut… namun penuh tekanan. Alicia hanya terdiam waktu itu. Bagaimana ia bisa menjawab? Dadanya terasa sakit dan juga sesak saat mendengar nama Jerry di sebut Jerry adalah pacarnya. Bukan milik Charlotte. Bukan milik anak angkat orang tuanya. Yang lebih menyakitkan, mereka mengucapkannya seolah itu hal paling wajar di dunia. “Kamu akan kami nikahkan dengan calon lain yang lebih cocok. Kamu harus mengalah terhadap adik mu. Ingat kondisi tubuh Charlotte lemah,” ucap ayahnya dingin sebelum telepon terputus sepihak. Alicia memejam lama. Napasnya berat. Ia menyandarkan punggungnya disandar kursi. Hal seperti ini sangat sering dilakukan oleh orang tuanya. 15 tahun Alicia mengalami hal menyakitkan seperti ini. Seharusnya ia sudah terbiasa. Namun nyatanya, rasa sakit tetap saja menusuk hingga uluh hati. "Lagi-lagi harus mengalah demi anak pungut." Alicia tersenyum sinis. Namun air mata tetap saja menetes. Dengan cepat ia menguap pipinya. Seperti biasa, yang harus mengalah adalah dia. Putri kandung. Yang tidak pernah dianggap ada oleh orang tuanya. Jika mereka tidak menginginkannya, lalu untuk apa menjemputnya di panti asuhan, lima belas tahun yang lalu. Lamunan Alicia buyar ketika seorang perawat mengetuk pintu dan memberitahu, “Dokter Alicia, ada satu pasien lagi di ruang VIP.” “Baik…” gumamnya, pasrah. --- Tubuh Alicia terasa seperti hendak rubuh. Sudah hampir 24 jam ia tidak tidur. Piket malam + pasien emergency yang datang bertubi-tubi hingga subuh. Kelopak matanya serasa dilem. Kepalanya berdenyut, dunia berputar. Hanya 15 hari lagi ia resmi menjadi dokter tetap di Citra Hospital. Karena itu, ia harus membuktikan diri agar diterima menjadi dokter tetap di rumah sakit ini. Ia ingin segera keluar dari keluarga Tonny Kurniawan. Dan menjalani hidup secara mandiri. Sikap profesional, tidak boleh terlihat rapuh. Ia menarik napas panjang, kemudian memakai masker hingga menutup sebagian wajahnya. dan mendorong pintu pelan. Ruang itu sunyi. Terlalu sunyi. Di atas ranjang pasien, duduk seorang pria dewasa bertubuh tegap. Kaki panjangnya menjuntai ke lantai, bahunya lebar. Wajahnya tampak menahan nyeri, namun sorot matanya tajam saat melihat Alicia. “Pasien… laki-laki dewasa?” gumam Alicia bingung. Ruangan VIP itu dingin menusuk, AC terpasang di 16°C. Namun punggung Alicia justru dipenuhi keringat dingin. Ia adalah dokter yang menangani area sensitif karena SOP. Dan pria di depannya, jelas bukan anak-anak. Namun ia harus profesional. Demi bisa mendapatkan status dokter tetap. Jika tidak bekerja dengan baik, maka masa kerja tidak di lanjutkan. Itu artinya ia harus mencari rumah sakit yang lain. “Halo,” Alicia memperkenalkan diri dengan suara serak. “Saya Alicia. Anda boleh panggil saya Dokter Licia.” Pria itu memperhatikannya dalam diam. Mata tajam itu menilai, seolah meragukan kelayakannya. Tidak tersenyum. Tidak bicara. Dan keheningan itu membuat Alicia semakin gugup. “Mengapa pasien dewasa tapi tetap diarahkan ke aku…” batinnya, otaknya terasa lambat karena lelah. "Ya sudah setengah melakukan pemeriksaan, jika penyakitnya berat dan aku tidak bisa menanganinya, tinggal di serahkan ke dokter Joko, Spesialis Urologi," batin Alicia. Bulu kuduk Alicia merinding ketika membayangkan benda yang akan ia lihat nanti. Devan mengerutkan keningnya saat memandang Alicia. “Ada apa?” tanyanya dalam suara rendah yang menggetarkan ruangan. Alicia tersentak. Ia segera kembali ke mode profesional. “Silakan buka, tuan," katanya sambil menunjuk tepat ke celana pria itu. Devan refleks menoleh cepat. “Maksudnya?” Alicia menelan ludah. “Iya… buka. Kalau tidak bisa, saya bantu bukakan.” Hening. Dua detik. Tiga detik. “Dokter Licia…” suara Devan rendah tapi sangat jelas, “Jangan mesum.” “Hah? Mesum dari mana?!” Alicia hampir tersedak napasnya sendiri. “Kamu nunjuk celana saya,” Devan mengangkat alis, tatapan menuduh. “Itu karena saya dokter, bebas melihat tubuh manusia dibagian manapun. Bagi saya, bagian tubuh manapun, hanya lah gumpalan daging, tanpa nafsu, tanpa ketertarikan. Mau sebesar ini atau sebesar ini sekalipun, tidak masalah!” Alicia berkata sambil menunjukkan jari telunjuk serta pergelangan tangannya. Tapi Devan menatapnya dengan penuh kemarahan. Alicia sudah terlalu lelah untuk debat. Saat ini ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali pulang ke rumah untuk beristirahat. “Silakan buka,” ulangnya tegas. “Tidak.” Devan menolak. “Apa kau tahu siapa aku? Aku Devan Alexander,” geramnya. Nama itu jelas penting. Siapa yang tidak kenal Devan Alexander. Mendengar namanya saja sudah membuat nyali nyali menciut. Namun berbeda dengan Alicia. Wanita itu terlihat tenang dan tidak peduli. Mode dokter otopilot aktif. Tanpa peringatan, ia maju dan menarik karet celana training Devan. “A—HEY!” Devan hampir terlompat dari ranjang. Alicia sudah setengah berjongkok. Profesional. Sangat cepat. “Tuan Devan, siapa pun Anda, saat ini Anda sedang sakit dan butuh pertolongan. Dan saya… akan bekerja sebaik mungkin.” Alicia berkata dengan wajah tegang. Devan ternganga tidak percaya. Alicia bahkan sempat bercanda. “Tidak pakai celana dalam ya? Wah, persiapan yang sangat baik…” Ia terkekeh gugup. “Atau… Anda tipikal tubles? Yang memang gak bakal dalaman.” Wajah Devan memerah padam. Ia memang tidak memakai celana dalam karena cedera pinggul dan sulit menunduk. Tapi dokter ini… tidak perlu terlalu jujur juga! “Kamu mencari masalah denganku,” geramnya. Ia hendak meraih celana itu kembali. Namun Alicia dengan refleks medis tiada banding, menendang celananya jauh ke belakang. Membuat Devan semakin ingin meledak. ---“Iya… aku tahu,” jawabnya pelan. “Dan aku percaya itu.”Ia tersenyum kecil.“Tapi tetap saja… aku ingin mami bahagia.”Devan mengangguk, kali ini tanpa banyak kata.Ia berjalan ke sisi mobil, lalu membukakan pintu untuk Alicia.“Silakan, Nona.”Alicia tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil.Gerakan sederhana itu…tapi terasa begitu berarti.Sepanjang hidupnya—tidak pernah ada yang memperlakukannya seperti ini.Bukan Tonny, bukan siapa pun.Bahkan saat bersama Jerry dulu… ia tidak pernah merasa dihargai seperti sekarang.Pintu mobil tertutup pelan.Suasana yang tadinya ringan… perlahan berubah.Alicia duduk di kursi penumpang, sementara Devan belum juga masuk. Pria itu berdiri di luar, satu tangannya bertumpu di pintu mobil, seolah masih menimbang sesuatu. Namun hanya beberapa detik saja, Devan kemudian masuk ke dalam mobil.“Sayang…” panggilnya pelan.Namun kalimat itu menggantung.“Ada apa?” Alicia menatapnya, mulai merasa ada yang berbeda.Devan menarik napas panjang. Tatapannya tida
Bab 299 “Aku sedang kerja," kata Vivian pelan. “Aku juga sedang menunggu hakku.” Jawaban Nicholas cepat, tanpa jeda. Vivian mulai kehilangan kesabaran. Apakah semahal itu kenikmatan yang diberikan Nicholas? Ia pikir semua kenikmatan itu didapatkan dengan gratis. Selama ini ia tidak mempermasalahkannya jika Nicholas meminta uang ataupun barang-barang yang dia inginkan. Karena uang di rekeningnya sangat banyak. Namun sekarang, uang di rekeningnya benar-benar sudah habis. “Kamu pikir aku sengaja menunda?” bisiknya, berusaha menahan emosi. “Aku lagi pusing di sini!” Nicholas terkekeh pelan. “Pusing karena kerjaan… atau karena Devan?” Kalimat itu seperti menyentil titik paling sensitif. Wajah Vivian langsung berubah. Dia tidak menyangka bahwa Nicholas tau tentang Devan “Jangan bawa-bawa dia.” Nicholas mendekat lagi, kini jarak mereka sangat dekat. “Tapi dia alasan utama kamu seperti ini, kan?” Pertanyaan itu jelas menunjukkan kecemburuan. Dan Vivian senang, ketika Nicholas c
Pagi itu seharusnya menjadi awal yang menyenangkan bagi Vivian.Tubuhnya memang lelah… namun biasanya, setelah menghabiskan waktu dengan Nicholas, ia akan merasa lebih segar. Lebih percaya diri. Lebih berenergi.Inilah alasan mengapa ia betah berada di Bali hingga berbulan-bulan.Tapi tidak hari ini.Justru sebaliknya—dadanya terasa sesak, pikirannya kacau, dan kepalanya penuh oleh satu nama yang terus berputar tanpa henti.Devan.Lokasi syuting di salah satu pantai di Bali sudah ramai sejak pagi. Kru berlalu-lalang, peralatan tersusun rapi, dan kamera sudah siap sejak satu jam lalu.Semua orang menunggu satu hal.Vivian.“Vivian, kita mulai sekarang ya!” teriak asisten sutradara.Vivian mengangguk cepat, mencoba mengumpulkan fokusnya. Ia berdiri di titik yang sudah ditentukan, menarik napas dalam-dalam.Fokus… ini cuma kerjaan. Kamu profesional.“Action!”Vivian mulai berjalan sesuai blocking. Wajahnya harus terlihat bahagia, ringan, penuh pesona.Namun—“CUT!”Suara sutradara langs
Sofia terbangun saat ponselnya berdering. Ia meraih benda itu dengan mata yang masih setengah terpejam. Begitu melihat nama yang tertera di layar—Thomas—ia langsung tersadar.Dengan cepat, panggilan itu diangkat.“Halo…”Di seberang sana, Thomas tersenyum mendengar suara Sofia yang masih serak—jelas tanda ia baru saja bangun tidur.“Kamu sudah bangun?”Sofia mengusap wajahnya pelan. “Iya, baru saja. Kalau kamu tidak menghubungiku, mungkin aku bisa tidur sampai pagi,” jawabnya sambil tertawa kecil.Perasaan itu… aneh.Jatuh cinta bukan hal baru baginya. Tapi entah kenapa, hanya dengan mendengar suara Thomas saja, jantungnya sudah berdebar tidak karuan.Sofia langsung mengingatkan dirinya sendiri—jangan terlalu berharap. Bisa jadi, Thomas hanya bersikap baik.“Aku sudah di bawah. Aku menunggumu.”Seketika mata Sofia membulat.“Hah?!” Ia langsung bangkit dari tempat tidur. “Aku belum mandi!”Di luar, Thomas tersenyum tipis mendengar kepanikan itu.“Tidak apa-apa. Aku tunggu.”“Aku mandi
“Aku… tidak perlu menceraikannya?”Suara Devan terdengar pelan, seolah ia sendiri masih mencoba mencerna kenyataan yang baru saja ia dengar.Ia masih duduk di kursi kerjanya, punggung bersandar pada sandaran kursi kulit hitam yang besar. Tatapannya kosong beberapa detik, sebelum akhirnya kembali fo
Tonny memandang ke sekeliling kamar. Rasanya sangat sunyi. “Charlotte… di mana dia?”Nada suaranya terdengar tenang, tapi Sinta tahu betul—itu hanya permukaan. Ada kegelisahan yang disembunyikan rapi, seperti air yang ditahan bendungan rapuh.Sinta menghentikan langkahnya. Tangannya yang tadi sibu
Alicia tidak bisa diam.Ia duduk di tepi ranjang—lima detik. Berdiri. Melangkah ke jendela. Berhenti. Menoleh ke pintu. Kembali duduk. Jemarinya saling bertaut, lalu terlepas. Napasnya pendek-pendek, seolah udara di kamar itu terlalu tipis untuk dihirup.“Berhenti mondar-mandir,” suara Devan akhirn
Baginya, semua ini berawal dari anaknya itu.Waktu berjalan lambat. Jam dinding berdetak terlalu keras, seolah mengejek kegagalannya malam ini. Ia bangkit, berjalan mondar-mandir, lalu berhenti di depan jendela.Kaca memantulkan wajahnya sendiri.Kusut.Tidak berdaya.Tidak lagi berwibawa.Rasa ses






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore