MasukAlexandria mengira tidak akan pernah bertemu mantannya lagi. Randu. Namun, pada hari pertama pekerjaan barunya, dia justru mendapati pria itu, duduk di kantor yang sama. Keduanya berusaha bersikap profesional, sampai perasaan lama kembali muncul dan mengundang awal yang baru. Dulu, Alexandria dan Randu tidak benar-benar pacaran saat SMA. Randu mengejar Alexa sejak kelas dua. Namun, setelah ujian nasional, lelaki itu menghilang. Bahkan randu tidak datang saat perpisahan sekolah. Alexa kehilangan dan merasa bersalah, tapi tidak pernah berhasil mencarinya. Siapa sangka Randu muncul lagi sebagai pimpinan perusahaan tempat gadis itu bekerja? Alexa serba salah. Apalagi Randu menindas gadis itu di perusahaan sejak hari pertama, seolah hendak balas dendam atas sakit hatinya. Hubungan baru yang aneh kemudian tercipta, tapi semuanya dirahasiakan dari rekan kerja. Namun, sesuatu yang lebih besar terjadi dan menghancurkan banyak hal yang sudah direncanakan.
Lihat lebih banyak"Astaga, ini pasti salah lantai."
Alexa menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kaca berukir logo perusahaan yang megah. PT Daneswara Gemilang Enterprise. Tulisan itu terpampang dengan huruf emas berkilau di atas marmer putih. Tangan Alexa masih menggenggam erat map berisi berkas lamaran yang versi soft copy-nya sudah ia kirimkan tiga minggu lalu. Jantung gadis itu berdegup tidak karuan. Sebenarnya ia tidak gugup di hari pertamanya bekerja. Namun, ada firasat aneh yang tiba-tiba menyergap. Alexa menoleh ke kiri dan kanan. Koridor lantai 27 sangat lengang. Hanya ada dua pintu besar di ujung. Satu mengarah ke ruang rapat utama, yang lainnya lagi arah kantor direktur. Namun, bukan itu yang membuatnya merinding. Seperti ada sesuatu yang familiar. Alexa menggelengkan kepala. "Jangan paranoid, Alexa. Ini hanya hari pertama," gumamnya seolah memerintah diri sendiri. Gadis itu menarik napas panjang dan mendorong pintu kaca. Saat melangkah masuk, aroma kopi dan parfum mahal menyambutnya. Ruangan luas dengan meja-meja berwarna putih minimalis, kursi-kursi ergonomis, dan monitor besar di setiap sudut. Para pegawai yang sudah datang terlihat sibuk dengan laptop masing-masing. Beberapa menatapnya sekilas, lalu kembali ke layar di depannya. "Selamat pagi. Alexandria Nirmala?" Seorang wanita muda dengan blazer merah menghampirinya. "Saya Sari, HRD. Selamat datang di hari pertamamu." Alexa tersenyum lega. "Terima kasih, Mbak Sari." "Ayo, saya antar ke ruangan. Tim kreatif ada di ujung sana. Kamu akan di bawah supervisi langsung Pak Randu." Jantung Alexandria berhenti satu detik, lalu berdetak sangat kencang. "Pak Randu?" Suaranya bergetar tipis. Sari mengangguk. "Iya, Randu Daneswara. CEO sekaligus anak pemilik perusahaan. Jangan khawatir, beliau profesional, kok. Mungkin sedikit dingin, tapi asal kerjaan kita bagus, pasti diperlakukan adil." Alexa tidak mendengar kalimat terakhir Sari. Dunianya seperti berputar. Randu Daneswara. Apakah itu benar dia? Lalu, apa katanya tadi? Anak pemilik perusahaan? CEO? Tidak mungkin. Alexa memang beberapa kali mendengar dari teman-teman SMA dulu. Tentang keluarganya yang pindah lagi setelah Randu lulus. Bahwa lelaki itu kuliah di luar negeri dan menjadi ahli waris dari pemilik perusahaan besar. Namun, Alexa tidak pernah membayangkan jadi .... "Alexandria? Kamu baik-baik saja?" Sari menatapnya khawatir. "Wajahmu pucat." "Sa-saya baik-baik saja, Kak." Alexandria memaksakan senyum. "Cuma sedikit grogi hari pertama." Sari tertawa kecil. "Wajar. Ayo, ikut saya." Mereka berjalan melewati deretan meja. Alexa mencoba menenangkan diri. Mungkin yang akan ia temui bukan lelaki itu. Bisa jadi nama Randu memang cukup banyak di dunia ini. Tidak mungkin itu Randu yang dulu, kan? Dia yang meninggalkan Alexa tanpa pesan, dan bahkan tidak datang ke perpisahan sekolah. "Pak Randu, ini karyawan baru yang sudah saya infokan." Sari berhenti tepat di balik pintu setelah ia dan Alexa masuk. Alexa mengangkat kepala, dan semua harapan buyar. Di balik meja, seorang pria berdiri di dekat jendela dengan setelan jas hitam yang pas di tubuh. Rambutnya yang dulu lurus dan sering tergerai sembarangan, kini tersisir rapi ke belakang. Rahangnya jadi lebih tegas. Matanya tetap sama, tajam dan dalam. Seperti dua lautan yang siap menenggelamkan siapa pun di depannya. Pria itu memindai Alexa dari atas ke bawah. Ia Randu yang sama, tetapi kali ini menatap dengan ekspresi kosong dan dingin. Sama sekali tidak menunjukkan pengakuan kalau mereka pernah terlalu akrab. Seolah gadis di depannya bukanlah siapa-siapa. Randu berjalan mendekat, lalu duduk di balik meja besar. Jari-jarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan kayu. Tidak ada senyum atau sapaan hangat seperti dulu. Yang ada kini hanya senyum tipis dan sinis. "Alexandria Nirmala." Randu membaca berkas di meja tanpa menatap gadis di depannya. "Lulusan Desain Komunikasi Visual, IPK 3.89, dan pernah magang di tiga perusahaan besar. Lumayan." "Terima kasih, Pak." Alexa menahan suara agar tidak bergetar. Akhirnya Randu mengangkat kepala. Mata lelaki itu menatap Alexa dengan tajam. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Pertanyaan itu seperti pisau. Alexa merasakan dadanya sesak. Randu pura-pura tidak kenal, atau ia benar-benar sudah melupakan semuanya? "Tidak, Pak," jawab Alexa cepat. "Saya yakin belum." Alis Randu terangkat tipis. "Hmm. Baiklah. Saya tidak suka karyawan yang bawa-bawa masa lalu. Apa pun itu. Di sini, kamu mulai dari nol. Paham?" Alexa mengangguk kaku. "Paham, Pak." "Sari, antar dia ke meja nomor tujuh." Randu kembali menatap layar komputernya. "Kamu Alexa ...." Ia berhenti. Alexa menahan napas. "Mejamu di sebelah pintu. Aku ingin melihat langsung hasil kerjamu hari ini. Buatkan proposal desain untuk klien baru. Deadline jam empat sore. Ada masalah?" "Tidak, Pak." Alexandria menggigit bibir bawahnya. Jam empat? Ini sudah pukul sembilan pagi! "Bagus. Silakan keluar sekarang dan kerjakan." Sari menarik lengan Alexa dengan hati-hati. Mereka meninggalkan ruangan itu. Saat pintu tertutup di belakangnya, Alexa hampir terjatuh. Dada gadis itu terasa seperti ditekan batu. "Kamu yakin nggak kenal Pak Randu?" Sari berbisik. "Dia aneh banget tadi. Biasanya kalau terima karyawan baru selalu ramah."Awan putih membentang luas di balik jendela pesawat Boeing 777 yang membelah langit utara. Di ketinggian puluhan ribu kaki, Alexandria Nirmala menatap hamparan samudera biru yang perlahan berganti menjadi daratan semenanjung Korea.Pengalaman pertama terbang ke luar negeri sejujurnya menghadirkan sensasi takjub yang sulit dilukiskan. Selama ini, keindahan musim gugur, jalanan bersih Seoul, dan budaya Negeri Ginseng, hanya bisa ia nikmati dari balik layar ponsel sewaktu mengalihkan sengatan stres usai bekerja. Kini, takdir melemparkannya langsung ke negeri yang sangat terkenal itu.Namun, di balik decak kagumnya, ada rasa hampa yang menghimpit dada."Permisi, mau saya bantu naikkan tasnya ke bagasi atas?"Suara ramah berbahasa Indonesia dari arah samping membuyarkan lamunan wanita itu. Pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, dengan kacamata berbingkai hitam dan senyum yang hangat, berdiri di samping deretan kursinya. Lelaki itu baru saja kembali dari toilet dan melihat Alexa
Pukul tujuh malam, rapat penting Randu dengan para investor dari Singapura baru saja selesai di ruang konferensi lantai lima. Lelaki itu menjabat tangan para mitra bisnisnya dengan ramah, sebelum mereka meninggalkan ruangan. Sambil melangkah kembali menuju ruang kerjanya untuk mengambil jas dan kunci mobil, Randu merogoh ponsel dari saku celana. Ia ingin mengecek keadaan Alexa di apartemen. Randu membuka aplikasi pemantau smart home dan CCTV apartemennya. Namun, layar ponselnya hanya menampilkan simbol pemuatan data yang berputar tanpa henti, diikuti oleh pemberitahuan merah. Connection Offline - No Signal. Alis Randu menyipit kencang. Jaringan internet di apartemennya sangat jarang mengalami gangguan karena menggunakan jalur serat optik ganda. Perasaan tidak enak seketika merayap di dadanya. Sebuah firasat dingin yang sangat mirip dengan kejadian beberapa hari lalu. Randu buru-buru memutar nomor telepon Pak Danu. "Halo, Pak Randu?" "Pak Danu! Tadi jam berapa mengantar Alexa ke
Siang itu, matahari merayap di atas langit Jakarta. Udara terang benderang menyinari sebuah restoran mewah bergaya privat di kawasan Senopati. Alexa duduk berhadapan dengan Randu. Di atas meja tertata potongan daging wagyu yang dipanggang sempurna, salad segar, dan dua gelas jus buah. Alexa mengenakan gaun bahan katun berwarna krem lembut. Pakaian yang dibelikan Randu di mal malam itu. Wajahnya dipoles riasan tipis, memancarkan kecantikan yang amat alami. Ada binar hangat di matanya yang tak pernah dilihat Randu sebelumnya. "Kenapa mendadak mengajak makan di sini, Al?" tanya Randu sambil memotong daging di piringnya, senyum tipis terukir di bibir lelaki itu. "Biasanya kamu paling protes kalau diajak ke restoran sekelas ini." Alexa tertawa pelan. Suara tawanya terdengar amat renyah dan indah. "Sekali-kali, Ran. Lagipula, hari ini aku yang akan bayar." Randu menghentikan gerakan sumpitnya, mengangkat alis. "Kamu?" "Iya." Alexa membusungkan dada dengan jenaka. "Aku kan, sudah
Seretan sepatu laras polisi di atas lantai semen ruko kawasan industri Jakarta Barat itu, memecah kebisingan mesin server yang meraung. Bau tembakau murah, mi instan basi, dan hawa pengap seketika terdesak keluar saat pintu besi didobrak paksa.Deden tidak sempat melarikan diri. Pria itu masih duduk di depan tiga layar komputer yang berkedip-kedip menayangkan baris kode peretas, dengan cangkir kopi hitam di genggamannya."Jangan bergerak! Angkat tangan!"Dua anggota polisi berpakaian preman langsung memiting kedua tangan Deden ke belakang, menghantamkan dadanya ke atas meja hingga deretan cangkir plastik terguling. Dua peretas bayaran yang duduk di sampingnya hanya bisa mengangkat tangan kaku. Wajah mereka memucat pasi sewaktu personel kepolisian mengamankan barang bukti perangkat keras dan penyimpanan data.Deden menggeram, mencoba meronta saat borgol besi mengunci kedua pergelangan tangannya dengan bunyi klik yang dingin. "Apa-apaan ini? Saya tidak salah apa-apa!"Bima melangkah m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.