登入Alexandria mengira tidak akan pernah bertemu mantannya lagi. Randu. Namun, pada hari pertama pekerjaan barunya, dia justru mendapati pria itu, duduk di kantor yang sama. Keduanya berusaha bersikap profesional, sampai perasaan lama kembali muncul dan mengundang awal yang baru. Dulu, Alexandria dan Randu tidak benar-benar pacaran saat SMA. Randu mengejar Alexa sejak kelas dua. Namun, setelah ujian nasional, lelaki itu menghilang. Bahkan randu tidak datang saat perpisahan sekolah. Alexa kehilangan dan merasa bersalah, tapi tidak pernah berhasil mencarinya. Siapa sangka Randu muncul lagi sebagai pimpinan perusahaan tempat gadis itu bekerja? Alexa serba salah. Apalagi Randu menindas gadis itu di perusahaan sejak hari pertama, seolah hendak balas dendam atas sakit hatinya. Hubungan baru yang aneh kemudian tercipta, tapi semuanya dirahasiakan dari rekan kerja. Namun, sesuatu yang lebih besar terjadi dan menghancurkan banyak hal yang sudah direncanakan.
查看更多Ia tidak menoleh. Enggan melihat Randu. Air sudah menggenang di matanya.Randu punya tunangan, tapi dia tidak pernah bilang.Sampai di meja kerjanya, Alexa langsung duduk diam. Laptop terbuka di depannya, tapi gadis itu tidak melihat apa-apa. Hanya satu kalimat yang berputar di kepalanya."Aku Wina, tunangan Randu.""Kau baik-baik saja?"Alexandria menoleh. Farel berdiri di sampingnya dengan ekspresi khawatir."Kau pucat," lanjut Farel. "Apa kau sakit?""Aku baik-baik saja." Suara Alexa datar. "Cuma sedikit pusing.""Mau aku ambilkan air minum?""Nggak usah.""Siapa cewek tadi?"Alexa membeku. "Cewek yang mana?""Di kafe. Wanita berbaju merah." Farel menarik kursi di samping Alexa, lalu duduk dengan nyaman. "Aku lihat dari kejauhan. Dia kayak kenal dekat sama Pak Randu.""Ya." Alexa menelan ludah karena tidak menduga Farel melihat adegan di kafe. "Dia tunangannya.""Tunangan?" Farel terkejut. "Tunggu. Pak Randu tunangan? Aku nggak pernah dengar!"Alexa menatapnya. "Kamu nggak tahu?""
Alexa menarik kursi di depannya. Randu berjalan ke balik meja, tapi tidak duduk. Dia bersandar pada dinding di belakangnya."Aku sudah pikirkan semuanya semalaman," kata Randu. "Tentang kita."Kita. Kata itu terasa berat dan ringan sekaligus."Lalu?""Nggak tahu harus berbuat apa." Randu mengusap wajahnya lelah. "Aku masih marah, tapi mana bisa bisa juga berpura-pura nggak peduli."Alexandria menunduk. "Aku juga.""Kau juga apa?""Aku juga nggak bisa berpura-pura." Ia mengangkat kepala. "Aku menyesali semuanya, Randu. Setiap hari. Aku mencari tahu kabarmu ke teman-teman, tapi nggak ada yang tahu ke mana kamu pergi.""Karena aku pergi ke luar," jawab Randu datar. "Papa mengirimku ke Harvard. Katanya aku perlu menjauh dari gangguan. Kau tahu siapa yang dimaksud?"Alexa menelan ludah. "Aku."Randu tertawa pahit. "Papa melihat aku hancur setelah hari itu. Dia bilang kamu nggak layak untukku karena selama ini hanya main-main. Sampai sekarang aku nggak percaya.""Aku nggak main-main, Randu.
Ia berhenti. Menelan ludah. "Aku juga masih menyukaimu, dan itu menyebalkan, Alexandria."Alexa selalu ingat, Randu akan menyebut namanya dengan utuh saat marah. Bukan Al atau Alexa. Lelaki itu melepaskan tangannya. Berdiri. Kemudian keluar dan berjalan kembali ke kursi depan."Besok kau tetap harus bekerja," katanya tanpa menoleh. "Aku juga akan tetap menjadi bos yang menyebalkan. Setidaknya sekarang ...." Randu menoleh sekilas. Matanya sayu. "Aku nggak perlu berpura-pura belum pernah kenal sebelumnya."Alexa menatap lelaki itu. Hatinya berdesir. Untuk pertama kalinya hari ini, senyum kecil muncul di bibir gadis itu."Oke.""Sekarang masuklah. Aku akan tunggu sampai lampu kamarmu menyala."Alexa turun dari mobil. Ia melangkah ke kosnya. Begitu sampai di kamar, gadis itu menyalakan lampu.Mobil Randu masih di bawah. Sampai sepuluh menit berikutnya sebelum melaju perlahan.Alexa menatap kepergiannya. Di dada gadis itu, ada sesuatu yang lama terkubur dan mulai bangkit kembali.Peras
"A-aku baru mau pulang," jawab Alexa cepat, menutup map biru itu, dan memasukkannya ke dalam tas."Ini sudah malam.""Masih jam tujuh."Randu melangkah mendekat. "Kau naik apa?""Bus.""Bus terakhir jam delapan." Randu berhenti di depan mejanya. "Kau tahu itu?"Alexa mengangkat dagu. "Aku tahu.""Bagaimana kalau kau ketinggalan bus?""Ada ojek online."Randu mendengkus. "Malam-malam naik ojek? Kau tidak takut?"Kenapa ia harus peduli? Alexa menahan diri untuk tidak berteriak. Bukannya tadi Randu bilang ingin mengabaikanku?"Aku sudah dewasa, Ran." Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan. "Bisa menjaga diri sendiri."Rahang Randu seketika kaku. "Kamu nggak berubah sama sekali, ya. Tetap keras kepala.""Kamu sendiri sama aja. Tetap suka mengatur orang lain."Mereka saling tatap. Udara di antara keduanya terasa panas. Alexa bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Juga napas Randu yang sedikit memburu.Kemudian lelaki itu tertawa. Pelan dan pahit."Benar," katanya. "Aku memang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.