LOGINSejak diputuskan karena dianggap membosankan dan tidak menarik, Kirana Prameswari bersumpah akan membuat mantannya menyesal. Caranya? Mendapatkan pacar yang jauh lebih baik. Targetnya pun tidak main-main—Adrian, CEO Arkana Group yang tampan, dingin, disiplin, dan anti berpacaran dengan karyawan. Di saat semua perempuan memilih menunggu, Kirana justru mengejar. Ia menggoda, merayu, bahkan terang-terangan mengumumkan bahwa Adrian adalah calon pacarnya. Sayangnya, pria itu sudah dijodohkan dengan perempuan pilihan keluarganya. Bisakah Kirana meluluhkan hati CEO yang super dingin itu? Ataukah keberaniannya justru berakhir dengan patah hati untuk kedua kalinya?
View MoreKabar bahwa Adrian mengajak Kirana untuk dinas luar kota langsung menyebar ke seluruh Arkana Group. "Serius?" "Baru beberapa hari kerja, kok yang diajak sekretaris baru?" "Pak Adrian biasanya paling susah percaya sama orang." Bisik-bisik terdengar di hampir setiap sudut kantor. Clarissa yang baru saja datang pun ikut menghentikan langkahnya. "Pak Adrian mengajak Kirana?" Sekretaris senior mengangguk pelan. "Iya, Bu." Clarissa tampak sedikit terkejut. Namun, ia hanya tersenyum tipis. "Oh... semoga perjalanan mereka lancar." Sementara itu, Kirana yang mendengar pembicaraan itu justru tersenyum bangga. "Tuh, kan." "Berarti aku mulai dipercaya calon pacarku." Beberapa karyawan langsung memijat pelipis. Clarissa yang berdiri tak jauh darinya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Perempuan itu benar-benar tidak bisa membedakan urusan pekerjaan dengan urusan perasaan. **** Tak lama kemudian, mobil dinas meninggalkan halaman Arkana Group. Begitu duduk,
"Baru calon kan? belum jadi istri?" gumamnya pelanItulah kesimpulan yang berhasil dibuat Kirana setelah semalaman memikirkan ucapan Clarissa. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin sambil menunjuk bayangannya sendiri. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan." Ia mengepalkan tangan dengan penuh semangat. "Semangat, Kirana! untuk dapatkan Pak Adrian!" ***Sejak pagi, bahkan satu kantor kembali dibuat geleng-geleng kepala. Bukan karena Kirana membuat keributan. Melainkan karena setiap kali Clarissa muncul di dekat Adrian, entah bagaimana Kirana selalu muncul lebih dulu. Saat Clarissa membawa kopi, Kirana datang dengan minuman lain. Ketika Clarissa hendak menyerahkan berkas, Kirana sudah lebih dulu mengambilnya.Bahkan saat Clarissa hanya berbincang santai dengan Adrian beberapa menit, Kirana tiba-tiba muncul membawa map, jadwal rapat, atau sekadar bertanya hal yang sebenarnya bisa menunggu. Semua kejadian itu seolah memang nampak di sengaja oleh Kirana, bahk
Kirana mematung beberapa detik di depan ruang rapat, ucapan itu perlahan membuatnya berpikir lebih keras. "Pak Adrian mau nikah?" cicitnya pelan. Kata-kata yang tidak sengaja didengarnya sejak tadi terus berputar di kepalanya. Ia menatap kosong ke arah pintu ruang kerja CEO. Lalu, menepuk kedua pipinya sendiri. "Nggak! Belum tentu!" Beberapa staf yang melintas langsung menoleh. Kirana mengepalkan tangan dengan semangat. "Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan!" Ia mengangguk mantap, menyemangati dirinya sendiri. "Harus bisa dapatin Pak Adrian, demi pamer ke Gerry!" Salah satu staf berbisik pada temannya, mereka sedang membicarakan ke anehan sekretaris baru Pak Adrian yang suka berbicara sendiri, menurut para pekerja di sana, perempuan itu memang manusia paling aneh. Meskipun demikian, Kirana sama sekali tidak peduli. Karena mereka tak tahu, rasanya direndahkan oleh mantan pacarnya hanya karena penampilan, harga dirinya sebagai perempua
Malam itu, kamar Kirana masih terang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur hingga memantul pelan. Kedua kakinya menempel di dinding, sementara matanya menatap langit-langit kamar dengan wajah lesu. "Ah, gagal satu misi." Ia meraih ponselnya, lalu membuka aplikasi catatan yang berisi daftar misinya. Misi Menaklukkan Pak Adrian: Pak Adrian kenal aku. Pak Adrian ngomong panjang sama aku. Pak Adrian senyum. Pak Adrian ngajak ngobrol duluan. Jadi pacar Pak Adrian. Kirana menghembuskan napas panjang. "Yang senyum aja belum.. eh, malah muncul Clarissa." Bayangan perempuan cantik yang memeluk lengan Adrian sore tadi kembali terlintas. "Siapa, sih, dia?" gumamnya sambil mengerucutkan bibir. "Pacarnya? Tunangannya? Jangan-jangan istrinya? Ih... jangan serem-serem gitu, deh." Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri, sebelum akhirnya duduk tegak di atas kasur. "Nggak bisa!" katanya sambil mengepalkan tangan. "Kalau aku keduluan, gimana mau pamer ke Gerry? Dia harus












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.