MasukNadya Thung hanya ingin melindungi dirinya dan kedua adiknya dari Hendra, ayah tiri yang mulai melewati batas. Ketika rumah tak lagi aman, ia mencari Januar, lelaki yang namanya lebih ditakuti daripada hukum di sekitar tambang, tanpa menyadari bahwa perlindungan itu akan membawanya masuk ke dunia uang, rahasia, dan kekuasaan. Dari Belinyu hingga Jakarta, Nadya hidup di antara dua dunia: masa lalu yang terus mengejarnya dan masa depan yang menuntutnya menjadi orang lain. Semakin tinggi ia melangkah, semakin sulit membedakan siapa yang datang untuk melindungi, siapa yang ingin memiliki, dan siapa yang hanya menunggu Nadya menyerahkan sesuatu yang tak pernah ia janjikan.
Lihat lebih banyakBelinyu, Bangka
Agustus 2000“Kalau uangnya belum ada, adikmu ikut kerja besok.”
Tangan Nadya Thung berhenti di atas buku utang.
Bahar berdiri di seberang meja warung dengan rokok di bibir. Lumpur tambang mengering hingga lutut celananya. Di belakangnya, pompa pencucian timah meraung tanpa henti. Setiap truk melintas, gelas-gelas di rak kayu beradu.
Riko berdiri di samping Nadya dengan seragam SMP yang mulai sempit. Kedua tangannya mengepal.
“Adikku masih sekolah,” kata Nadya.
“Sekolah dak bisa bayar utang.”
“Ibu akan bayar setelah pekerja menerima upah dan melunasi utang warung.”
Bahar tertawa pendek. “Orang berutang ngomongnya selalu sama.”
Nadya kembali melihat buku di hadapannya. Hampir setiap hari ia membantu Lina mencatat pesanan kopi, nasi, rokok, dan minyak tanah. Ia mengenali angka-angka itu lebih baik daripada Bahar.
Tiga bulan lalu, Lina meminjam Rp380.000 untuk menambah persediaan warung. Dalam buku Bahar, jumlahnya sudah berubah menjadi Rp620.000.
Dua pembayaran belum dicoret. Ada bunga yang tidak pernah disepakati dan biaya satu drum solar yang bukan milik mereka.
Nadya menarik pensil dari sela buku.
“Hitunganmu salah.”
Lina meninggalkan tungku di belakang warung. Aroma asap melekat pada rambut dan pakaiannya.
“Nadya,” bisiknya. “Sudah.”
Nadya menggarisbawahi tiga angka dalam buku.
“Utang kita tiga ratus delapan puluh ribu. Bukan enam ratus dua puluh.”
Bahar menjentikkan abu rokok ke lantai.
“Kau mau mengajariku berhitung?”
“Kalau memang perlu.”
Jari Lina mencengkeram lengan Nadya.
Beberapa pekerja di bangku luar mulai menoleh. Seorang lelaki sedang membalut telapak tangannya dengan potongan karung beras. Lelaki lain mengaduk kopi sambil tersenyum tipis. Tidak seorang pun bergerak membela mereka.
Bahar meraih buku itu dan membantingnya ke meja.
“Besok adikmu ikut ke lokasi.” Ia menunjuk Riko dengan rokok. “Angkat selang sampai utang lunas.”
“Tidak.”
Bahar menyeringai. “Kau mau menggantikannya?”
Tatapannya turun dari wajah Nadya.
Nadya lebih tinggi daripada kebanyakan gadis seusianya. Tubuhnya ramping dan liat karena setiap hari mengayuh sepeda serta membantu di warung. Kulitnya kecokelatan oleh matahari Bangka. Seragam lamanya telah memudar dan mulai sempit di bahu karena tubuhnya terus bertambah tinggi.
Ketika pekerja tambang menatap terlalu lama, Nadya biasanya mendekap tas ke tubuh. Hari itu ia tidak menunduk.
Tatapan Bahar bergerak semakin lambat.
“Kalau kau ikut,” katanya, “utang bisa selesai lebih cepat.”
Salah seorang pekerja tertawa kecil.
Bahar mengulurkan tangan ke dagu Nadya.
“Jangan sentuh anak Atek Thung.”
Ahin berbicara dari bangku belakang. Pekerja tua bermata keruh itu tetap menghadap jalan.
Bahar menoleh. “Kau ikut campur?”
“Aku cuma bilang jangan sentuh.”
Bahar kembali menghadap Nadya.
“Bukunya nanti kubetulkan.”
“Sekarang.”
Jari mereka sama-sama menahan sampul buku.
“Lepas,” kata Bahar.
“Tidak.”
Riko maju setengah langkah.
Ahin mengisap rokoknya. “Kalau mau mengubah angka, cepatlah. Januar sebentar lagi datang periksa catatan.”
Wajah Bahar berubah.
Januar memang dijadwalkan datang pagi itu untuk memeriksa pembayaran dan persediaan solar. Bahar rupanya mengira masih memiliki waktu untuk memaksa Lina menerima jumlah tersebut.
Ia merampas buku dari tangan Nadya.
“Anak perempuan dak tahu diri. Baru bisa hitung sudah merasa paling pintar.”
Nadya menatapnya.
“Lebih pintar darimu mungkin.”
Suara motor terdengar dari ujung jalan.
Nadya mengenal suara itu. Januar beberapa kali datang ke warung untuk urusan tambang. Nadya pernah menyajikan kopi untuknya, tetapi mereka hampir tidak pernah berbicara.
Motor hitam berhenti dekat parit.
Januar turun dan menggantungkan helm pada setang. Usianya baru dua puluh empat tahun, tetapi nama keluarganya membuat pekerja tambang segera memberi jalan. Ia ikut mengurus tempat timbang, solar, serta pembayaran di beberapa lokasi milik keluarganya.
Bahar buru-buru meletakkan buku.
“Buku solar,” kata Januar.
“Nanti kubawa.”
“Sekarang.”
Bahar menunjuk Nadya. “Dia bikin ribut soal utang.”
Januar memperhatikan sampul buku yang nyaris terlepas, tangan Riko yang mengepal, dan Lina yang berdiri terlalu rapat dengan anaknya.
“Ada apa?”
“Cuma salah paham,” jawab Bahar.
Nadya membuka buku dan menunjukkan angka yang telah digarisbawahi.
“Dua pembayaran belum dicoret. Bunga ini dak pernah disepakati. Solar ini masuk ke lokasi sebelah.”
“Bukti pembayaran cicilan?”
Nadya mengeluarkan dua kertas kecil dari sela halaman.
“Yang satu Ahin tulis. Yang satu aku.”
Ahin mengangguk.
Januar meminta buku milik Bahar.
“Ketinggalan,” jawab Bahar.
“Kau menagih tanpa catatan?”
“Aku hafal.”
“Kalau hafal, kenapa jumlahnya berubah?”
Bahar akhirnya mengeluarkan buku kecil dari saku belakang. Januar membandingkan kedua catatan, lalu mengambil pensil Nadya dan mencoret angka akhirnya.
“Tiga ratus delapan puluh ribu.”
Lina mengembuskan napas.
“Betulkan,” kata Januar.
“Cuma salah tulis.”
“Kesalahan yang selalu menguntungkanmu?”
Bahar menunduk.
Januar melihat Riko.
“Kenapa dia mau dibawa?”
“Buat bayar utang.”
“Dia sekolah.”
“Banyak anak sekolah juga kerja.”
“Bukan kau yang menentukan anak siapa berhenti sekolah.”
Nada Januar tetap datar. Bahar justru tampak semakin kecil di hadapannya.
“Besok bawa semua buku ke rumah,” lanjut Januar. “Jangan pakai namaku untuk menambah bunga.”
Bahar mengangguk, lalu pergi.
Januar menyerahkan buku kepada Nadya.
“Masih kau yang pegang catatan?”
“Kalau Ibu sibuk.”
“Aku pernah lihat tulisanmu.”
Pandangannya jatuh pada seragam Nadya.
“Kelas tiga?”
“Iya.”
“Atek dulu juga cepat menghitung.”
Nadya mengangkat wajah. “Kau kenal Ayah?”
“Ayahku yang lebih dekat. Aku sering ikut ke tempat timbang.”
“Ayah mati tetap dengan utang.”
Lina mencubit pinggangnya.
Januar tidak tersinggung.
“Atek orang jujur.”
“Jujur dak membuat dia hidup lebih lama.”
Januar diam sejenak.
“Memang dak.”
Jawaban itu membuat Nadya terdiam. Januar tidak menghiburnya atau mengatakan bahwa orang baik selalu mendapat balasan. Ia hanya mengakui bahwa Atek telah mati meski tidak mencuri milik siapa pun.
Sebelum pergi, Januar melihat Riko.
“Sekolah yang benar.”
Riko mengangguk cepat.
Setelah motor Januar menjauh, Riko menyenggol lengan Nadya.
“Dia bela kita.”
“Dia menjaga namanya.”
“Tapi aku dak jadi kerja.”
“Karena dia melarang.”
“Itu sama saja.”
Nadya menutup buku utang.
“Cepat. Kita terlambat.”
Dalam perjalanan ke sekolah, pikirannya terus kembali pada kejadian di warung. Bahar hampir menyentuhnya. Lina menyuruhnya diam. Para pekerja hanya melihat.
Begitu Januar datang dan memeriksa angka, Bahar berhenti membantah.
Hari itu Nadya paham: angka yang benar pun bisa kalah jika tidak ada orang yang cukup kuat untuk membuat orang lain mengakuinya.
---
Sepulang sekolah, Nadya dan Riko membantu di warung sampai sore. Ketika tiba di rumah, motor Hendra sudah terparkir di halaman.
“Ko, cuci sepeda di luar.”
Riko memandangnya, tetapi tidak bertanya.
Rumah kayu itu bergetar ketika truk tambang melintas. Ruang tengah berbau rokok dan minuman basi. Televisi hitam-putih menyala tanpa suara.
Nadya masuk ke kamar. Pintunya tidak memiliki kunci karena Hendra melepas selotnya beberapa bulan lalu. Katanya, anggota keluarga tidak perlu saling mengunci pintu.
Nadya baru melepas ikat rambut dan membuka kancing paling atas seragam ketika papan lantai berderit.
Hendra berdiri di ambang pintu.
Ia masuk tanpa mengetuk. Tatapannya berhenti terlalu lama pada seragam Nadya yang belum sempat dirapikan. Nadya segera mengancingkannya kembali.
“Kau pulang terlambat.”
“Tadi bantu Ibu.”
“Bahar datang. Katanya kau mempermalukan dia.”
“Dia menambah utang.”
“Utang tetap utang.”
“Bukan berarti dia boleh mencuri.”
“Bahar bilang Januar bicara sama kau.”
“Dia periksa buku.”
“Apa saja yang dia tanyakan?”
“Soal Ayah.”
“Lalu?”
“Dak ada.”
“Jangan bohong.”
“Aku dak bohong.”
Hendra mengangkat tangan. Tubuh Nadya menegang, mengira tamparan akan datang. Namun jemari lelaki itu mengambil sehelai rambut yang terlepas dan menyelipkannya ke belakang telinga Nadya.
Gerakannya terlalu lambat.
“Kau sudah besar,” katanya. “Jangan sembarang bikin lelaki melihat.”
“Aku dak bikin siapa-siapa melihat.”
Hendra tersenyum.
“Perempuan selalu bilang begitu.”
Jarinya turun ke sisi leher Nadya.
Nadya mundur.
“Jangan.”
Hendra berhenti.
“Kau bilang apa?”
“Jangan sentuh aku.”
Di halaman, sebuah ember jatuh.
“Ce?” panggil Riko.
Hendra menoleh ke jendela, lalu kembali memandang Nadya.
“Mulutmu makin lancang setelah dibela lelaki.”
“Januar dak membela aku.”
Hendra mendekat sampai bau tembakau dan minuman basi memenuhi napas Nadya.
“Malam ini kita bicara.”
“Apa yang mau dibicarakan?”
“Cara kau tinggal di rumah ini.”
Ia berbalik dan keluar.
Riko muncul setelah pintu kamar Hendra tertutup.
“Ada apa, Ce?”
“Dak ada apa-apa.”
“Ce.”
“Pergi ganti baju.”
Riko mengatupkan rahang, tetapi akhirnya pergi.
Nadya menutup pintu. Gagangnya terasa longgar. Tidak ada selot atau kunci yang dapat dipasang.
Pagi tadi Bahar berhenti karena takut kepada Januar.
Malam nanti, Januar tidak akan berada di rumah.
Hanya ada Hendra dan sebuah pintu yang tidak dapat dikunci.
Cahaya pagi masuk melalui celah dinding rumah Mak Su, tetapi Nadya masih duduk di tempat yang sama.Gunting terletak di atas pahanya. Riko tertidur sambil bersandar pada tiang ruang tengah, seolah sejak malam tadi ia sengaja menempatkan tubuhnya di antara Nadya dan pintu.Mak Su tidak menyuruh mereka masuk kamar. Ia membiarkan pintunya sendiri terbuka, lalu bergerak pelan agar setiap suara dapat didengar Nadya lebih dahulu.Ketika hendak menutup jendela, ia berhenti beberapa langkah dari tempat Nadya duduk.“Aku mau tutup jendela.”Nadya mengangguk.Tangannya tetap menggenggam gunting sampai kait jendela terpasang.Mak Su kemudian meletakkan baskom berisi air hangat, kain bersih, dan pakaian lama milik Yuli di dekat dapur.“Pak Karim sudah melarang Hendra datang ke sini,” katanya. “Ada orang yang menjaga jalan kebun sampai tadi subuh.”“Aku bersihkan sendiri.”“Baik.”Mak Su mengajak Riko ke halaman belakang dan menutup tirai dapur. Ia tidak mendekat, tidak bertanya, dan tidak mencoba
Rumah Hendra tidak lagi terlihat ketika Nadya mencapai pagar kebun.Di persimpangan kecil, ia berhenti sesaat untuk memilih jalan. Jalan besar lebih terang, tetapi Hendra dapat mengejarnya dengan motor. Nadya memilih jalur kebun lada menuju rumah Mak Su.Satu tangannya menggenggam gunting, sedangkan tangan lainnya menahan pakaiannya yang robek.Ranting mengenai wajah dan lengannya.Jalan besar lebih terang, tetapi Hendra dapat mengejarnya dengan motor. Nadya memilih jalur kebun lada menuju rumah Mak Su.Ranting mengenai wajah dan lengannya. Setiap daun yang menyentuh kulit membuat tubuhnya tersentak seolah ada tangan yang kembali meraihnya.Suara motor terdengar dari jalan besar.Nadya merunduk di antara tanaman dan menutup mulut. Cahaya kendaraan melintas tanpa berbelok ke kebun. Ia tetap berdiam sampai suara mesinnya benar-benar menjauh.Jalur menuju sumur tua sulit dikenali dalam gelap. Nadya tersandung akar dan jatuh pada lututnya. Gunting terlepas, menghilang di antara daun kerin
Gagang pintu turun.Selot beradu dengan besi pengait, disusul bunyi kaki kursi yang menggesek lantai. Nadya tidak bergerak dari sisi ranjang. Gunting sudah berada dalam genggamannya, tetapi telapak tangannya begitu basah hingga gagangnya terasa licin.Di luar, Hendra tidak mengetuk.Ia juga tidak memanggil nama Nadya atau mengulang alasan bahwa dirinya hanya ingin bicara. Tidak ada lagi usaha untuk terdengar seperti seorang ayah yang hendak menasihati anaknya.Hanya ada napas berat dari balik pintu.Nadya melihat sekeliling kamar. Ranjang menempel pada dinding. Jendela kecil di atas meja terlalu sempit untuk dilewati. Satu-satunya jalan keluar berada di belakang tubuh Hendra.Kamar yang selama ini menjadi tempatnya belajar, menyimpan pakaian, dan bersembunyi kini terasa tidak lebih besar daripada sebuah kotak.Riko berada di rumah Mak Su.Lina berada di warung.Tidak ada langkah kaki lain di rumah itu.Untuk pertama kalinya, Nadya mengerti bahwa malam ini ia tidak dapat menunggu seseo
Senin pagi, Nadya berjalan kaki ke sekolah.Sepedanya masih dirantai pada tiang warung. Hendra tidak menjualnya seperti yang diancamkan. Ia sengaja membiarkan sepeda itu terlihat, tetapi tidak dapat digunakan sebelum Nadya membawa Riko pulang.Uang Rp17.500 disimpan di dalam kotak pensil. Sejak malam sebelumnya, Nadya telah membaginya menjadi tiga bagian: Rp10.000 untuk sekolahnya, Rp5.000 untuk Riko, dan Rp2.500 yang tidak boleh disentuh kecuali ia harus pergi.Ketika tiba, halaman sekolah sudah dipenuhi murid. Nadya langsung menuju ruang tata usaha.Bu Sulastri berdiri di samping meja petugas.“Hari ini saya bayar sepuluh ribu dulu, Bu.”Petugas menghitung uang itu, lalu mencatatnya pada buku pembayaran.“Sisanya dua puluh lima ribu,” kata Bu Sulastri. “Seragam penggantimu masih disimpan sampai lunas.”Nadya menerima tanda pembayaran.“Jumat saya bayar lagi.”“Berapa?”“Berapa pun yang saya dapat.”Bu Sulastri memandangnya dari balik kacamata.“Jangan berjanji kalau belum tahu caran


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.