Share

Bab 02

Author: Lavendulaaa
last update Last Updated: 2025-10-15 21:39:59

Matahari mulai berpindah ke ufuk barat, membuat semburat senja yang sangat memanjakan mata untuk melihatnya. Naya turun dari ojek online dan masuk kembali ke rumahnya. Dia melihat mobil yang akhir-akhir ini sudah jarang dilihat jam segini di rumah. Naya melanjutkan langkahnya dan bertepatan dengan seorang wanita yang keluar dari dapur. 

“Kamu sudah pulang, Nay?” tanya wanita itu.

“Sudah, Ma. Mama kok tumben sudah pulang, Ma? Nggak terlalu sibuk?” balas Naya.

“Nggak, Nay. Mama besok harus ke luar kota, kamu nggak papa sama Bi Ida di rumah? Papa masih belum pulang soalnya, Nay.” Mama Naya menanyakan kesediaan anaknya. 

“Nggak papa, Ma. Orang biasanya juga lebih sering sama Bi Ida daripada sama Mama atau Papa. Mama jaga kesehatan aja, Ma.” Naya menatap mamanya tanpa ekspresi. “Naya ke kamar dulu, Ma. See you,” lanjut Naya yang langsung melangkahkan kaki ke kamarnya. 

Di kamarnya, Naya hanya menaruh tas ke meja belajar dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Dia menatap langit-langit kamar yang kosong, tapi seolah menjadi hal yang menarik untuk diperhatikan. Beberapa kali Naya menghela napas yang terasa sesak di dadanya. 

“Buat apa punya anak, kalau selalu ditinggal? Sebenarnya aku anak Mama sama Papa, atau malah anak Bi Ida sih? Kok lebih sering Bi Ida nemenin aku daripada Mama sama Papa yang nemenin aku di rumah.” Naya bergumam pelan mencoba mengangkat rasa lelah di batinnya. 

Naya mengatur emosinya sendiri. Dia tidak ingin terlalu larut akan rasa sendirinya. Jika kedua orang tuanya bisa melakukan apa pun, seolah Naya bukan hal yang terlalu penting, lalu mengapa dia harus larut dalam kesendirian yang memang terasa sedikit berat. Itu yang selalu ada di pikiran Naya. 

Perlahan, Naya bangkit dan memilih untuk membersihkan dirinya. Dia masuk ke kamar mandi dan menjalani rutinitasnya. Setelah mandi, Naya langsung menjatuhkan kembali tubuhnya ke kasur. Seolah tubuhnya sudah sangat bersahabat dengan sebuah benda bernama kasur itu. Matanya terpejam hingga tanpa sadar terlelap begitu saja.

***

Sebuah mobil masuk sebuah halaman rumah yang cukup mewah. Belum juga mesin mobil berhenti, terdengar suara teriakan membuat pengemudi keluar dari mobil dan segera mematikan mesin mobilnya. Terlihat anak kecil sedang berada dalam gendongan seorang wanita yang berdiri di ambang pintu. 

“Ayah!” Anak itu berteriak kembali saat melihat pengemudi yang keluar dari mobilnya. 

Ardi berjalan mendekat dan menggendong anaknya itu. Anak itu memeluk erat leher ayahnya dan mengecup pipi ayahnya bertubi-tubi. Ardi pun membalas kecupan anaknya di pipi gembul anak kesayangannya itu. 

“Mbak, Ibu di mana?” tanya Ardi pada wanita yang tadi menemani anaknya. 

“Ibu tadi pamit keluar dulu, Pak. Ada urusan sebentar aja katanya, Pak.” Wanita itu menjelaskan dengan sopan. Ardi pun hanya menganggukkan kepalanya dan menghabiskan waktu bersama dengan anaknya. 

“Daffara, kita ke kamar Ayah, ya. Ayah mau mandi dulu, kamu tunggu di kamar, oke?” Ardi memperhatikan anaknya yang minta mengambil miniatur dinausaurusnya. Anak itu menganggukkan kepalanya dan kembali ke gendongan Ardi. 

Ardi membawa anaknya dalam gendongannya dan segera masuk ke kamarnya. Dia menaruh anaknya di tempat tidur dan meninggalkannya sebentar. Ardi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi, Ardi langsung menemani anaknya bermain kembali sambil menunggu istrinya pulang. 

Ardi mendengarkan celoteh anaknya yang memang suka bercerita padanya apa saja yang dilakukan. Sungguh sosok ayah yang baik untuk Daffara. Ardi sendiri sangat menikmati waktunya saat bersama dengan anaknya itu. 

***

Latihan sore dilakukan seperti biasa, tapi Naya seperti kehilangan semangat dan duduk di tepi lapangan memperhatikan teman-teman tim cowok yang sudah asyik berlatih. Beberapa kali Naya menghela napas panjang seolah sedang merasa berat. Naya berdiri setelah mengganti sepatunya. 

Naya berdiri di samping Ardi yang memperhatikan permainan beberapa gadis yang tergabung dalam tim basket putri. Ardi menyadari keberadaan Naya yang ada di sampingnya bersiap untuk menggantikan temannya yang kelelahan. Ardi menoleh dan menatap wajah Naya yang terlihat lebih lesu dari biasanya. 

“Kamu nggak papa, Nay? Apa kamu mau libur latihan dulu? Wajahmu seperti tidak sedang dalam kondisi baik.” Ardi sebagai pelatih dan pembina terlihat khawatir dengan Naya yang tidak terlihat seperti biasanya. 

“Tidak papa, Pak. Saya baik-baik saja kok.” Naya memberikan senyum terbaiknya. 

Ardi menganggukkan kepala dan memberikan isyarat untuk pergantian pemain. Naya masuk dan berlatih seperti biasanya. Latihan hari itu terlihat sangat berat untuk Naya, tapi gadis itu berhasil menyelesaikannya dan mencetak beberapa poin selama permainannya. 

Semua duduk di tepi lapangan dan mendengarkan arahan dari Ardi. Naya hanya duduk di ujung dan meluruskan kakinya. Setelah selesai pengarahan, satu persatu pamit pulang terlebih dahulu. Naya mengganti sepatunya lagi dan memasukkannya di tas. 

“Naya, saya ingin berbicara denganmu sebentar, bisa?” tanya Ardi yang berdiri di belakang Naya yang sedang memasukkan sepatunya. Naya menganggukkan kepala dan menunggu pelatih sekaligus kepala sekolahnya itu berbicara dengannya. 

“Ada apa, Pak?” tanya Naya yang berdiri di hadapan Ardi. 

“Permainan kamu hari ini tidak seperti biasanya, Nay. Kamu sangat berantakan dan seperti tidak fokus pada bola, kamu sedang ada masalah?” tanya Ardi yang memperhatikan Naya. 

“Saya minta maaf, Pak. Saya akan perbaiki lagi di pertemuan selanjutnya dan saya janji tidak akan seperti ini saat pertandingan.” Naya menundukkan kepalanya di depan Ardi. 

“Duduk dulu, Nay. Saya tidak ingin terlihat menghakimimu seperti ini.” Ardi duduk terlebih dahulu dan mengajak Naya untuk duduk bersama dengannya. Gadis itu masih menundukkan kepalanya, meski dia mau duduk bersama dengan Ardi untuk membicarakan masalahnya. “Jadi, kamu kenapa, Nay? Tidak biasanya kamu seperti ini. Tim kita sangat membutuhkanmu juga, Nay. Kamu bisa bercerita dengan saya. Saya janji tidak akan ada yang mengetahui masalahmu, Nay. Saya janji!” lanjut Ardi. 

“Saya merasa sendirian aja, Pak. Saya terlalu ingin dilihat oleh orang tua saya, tapi mereka sama sekali tidak pernah melihat saya. Saya—” Naya tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Gadis itu menangis dan menenggelamkan wajahnya di lututnya. 

Ardi sangat tidak tega melihat Naya yang terpuruk seperti ini karena kedua orang tuanya. Tanpa sadar, tangan Ardi bergerak membelai rambut Naya memberikan ketenangan untuk Naya yang memang sedang terjatuh pada dirinya sendiri

“Saya bisa tahu perasaanmu, Nay. Kamu tidak perlu menahannya, kalau kamu ingin menceritakan dan membutuhkan orang untuk mendengarkanmu, kamu bisa menghubungi saya. Saya juga orang tuamu di sini, Nay. Saya akan menemanimu dan mendengarkanmu, saat kamu butuh, Nay.” Ardi mengeluarkan kalimat pendukungnya. 

“Terima kasih, Pak. Saya pasti bisa melakukan semuanya sendiri. Saya izin segera pulang, ya, Pak. Saya tidak ingin Bi Ida akan menunggu lama di rumah.” Naya pamit dan melihat Ardi yang menganggukkan kepalanya.

Ardi menatap kepergian Naya yang berjalan meninggalkan lapangan. Punggung Naya perlahan pergi dari hadapan Ardi yang masih duduk di tepi lapangan. Pria itu masih terus memperhatikan Naya yang menjauh dan menghilang di keramaian jalan raya. 

“Ternyata dia tidak seceria itu hatinya.”

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 63

    Di makam Reski, Miya menatap heran buket bunga yang ada di makam Reski. Namun, saat menatap ke arah wanita yang baru saja pergi, Miya malah mengerutkan dahinya heran. Dia menatap saat kedua orang itu berjalan menjauh dari area pemakaman. Miya menaruh buketnya di makam Reski, berdampingan dengan buket yang sudah ada di sana. Dia menatap buket lily yang masih sangat fresh itu. Ada rasa penasaran dengan apa yang sebelumnya dia lihat. “Cewekmu datang, ya. Pada akhirnya, meski kamu membawa cintanya pergi, kakakmu masih sangat menyukainya dan tetap membenciku,” gumam Miya menatap makam pria yang dulu dia inginkan sepenuh hatinya.Sementara itu, di pojokan kafe, Naya duduk menatap Xera, sembari menunggu pesanan mereka datang. Naya menunggu wanita di depannya itu menjelaskan apa yang dia lihat di makam tadi. Xera tersenyum miris sebentar dan menghela napasnya erlahan.“Dia mantan Reski. Sebelum pacaran sama aku, dia pacaran sama cewek tadi, Nay. Apa kamu nggak pernah dikenalkan sama cewek t

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 62

    Seperti yang Naya janjikan pada Xera, setelah kelas, gadis itu berjalan bersama Sari seperti biasanya. Namun, Naya sibuk dengan ponselnya. Sari menatap heran sahabatnya itu.“Nay, kenapa sih? Sibuk banget.” Sari mulai mengeluarkan pertanyaannya. “Pak Ardi?” tanya Sari pelan sekali.“Bukan dong. Orang penting lainnya. Orang paling lama aku dambakan kedatangannya,” kata Naya dengan semangat.“Siapa sih? Jadi penasaran,” balas Sari.“Sstt.” Naya meminta Sari untuk diam terlebih dahulu, karena panggilan masuk ke ponselnya. Naya langsung mengangkatnya. “Ni Hao, Aunty! Tunggu di hotel, aku akan jemput Aunty sekarang, tunggu bentar, mau pesan taksi online buat kita,” kata Naya. Setelah mematikan sambungannya, Naya menoleh ke arah Sari. “Sar, kelas udah selesai, aku mau ketemu orang penting dulu. Kalau kamu ketemu Ranga atau anak basket yang lain, tolong bilangin, ya, aku izin latihan kali ini. Bye-bye!” Naya langsung berlari meninggalkan Sari yang tercengang melihat tingkahnya.Naya langsun

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 61

    Ardi segera mengantar Naya pulang, saat gadis itu mengatakan harus segera pulang untuk menemui seseorang. Dia masih menyimpan banyak pertanyaan di dalam benaknya. Naya turun dari mobil Ardi, begitu mereka sampai di tempat biasanya.“Pak, saya duluan, ya. Daah!” Naya langsung berlari meninggalkan mobil Ardi. Ardi menganggukkan kepalanya dengan cepat. Dia hanya berdiam di kemudi dan menatap Naya yang berlari dengan sangat semangat. Wajah ceria Naya terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.“Penasaran, siapa yang bisa buat Naya sebahagia itu? Kayaknya sangat berarti banget,” kata Ardi yang langsung menjalankan mobilnya meninggalkan area perumahan Naya.Sementara itu, Naya berlari ke rumahnya dengan cepat. Dia mencari Bi Ida. Mendengar namanya dipanggil, Bi Ida langsung menghampiri Naya.“Kenapa, Mbak?” tanya Bi Ida.“Bibi ingat pacarnya Ores dulu nggak?” Naya dengan antusias.“Iya, Mbak. Kenapa?” tanya Bi Ida lagi.“Aunty Xera mau datang jenguk aku, Bi Ida. Jadi, nanti tolong buat hida

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 60

    Miya turun dari mobil. Dia berjalan menyusuri parkiran menuju ke sebuah jalan setapak yang telah lama tidak dia lewati. Langkahnya terus membawanya ke tempat yang sunyi.Miya berdiri menatap batu nisan bertuliskan nama mantan kekasihnya yang telah pergi meninggalkannya. Dia menaruh buket bunga yang dia bawa dan memejamkan matanya. Sejenak otaknya mengingat banyak memori tentang mereka.“Kenapa kamu masih datang ke sini?” tanya seseorang dari balik badan Miya.Miya membalikkan badannya dan melihat jelas siapa yang ada di depannya. Terlihat pria yang cukup dia kenal. Hal itu membuat dia menundukkan kepalanya.“Aku masih menyimpan rasa untuknya,” kata Miya.“Menyimpan rasa? Untuk siapa? Untuk adikku? Setelah kamu mencoba mengambil keuntungan darinya?” Kakak Reski mengatakannya. “Kak, aku tahu, aku salah, tapi aku memang sangat mencintai Reski, Kak. Aku malu, kalau aku nggak begitu cocok bersanding dengan Reski, Kak. Aku terlalu menyuk—”“Stop membual! Kamu kira aku akan percaya dengan a

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 59

    Ardi mencengkram botol air mineral yang sebelumnya dia minum. Ingatan masa lalu membuat emosinya bergejolak di dalam dirinya. Kepala terasa pening dan Ardi pun memejamkan matanya kembali. “Kalau Reski nggak meninggal, sampai sekarang mungkin aku nggak akan punya Daffa.” Ardi bergumam pada dirinya sendiri. “Ternyata rasa cintaku sekarang benar-benar pindah ke Naya,” lanjut Ardi. Setelah merasa istirahatnya cukup, Ardi kembali melanjutkan olahraganya untuk berlari ke rumah. Ardi segera pulang dan saat sampai rumah, dia melihat istrinya terlelap di sofa. Tanpa keinginan mengganggu, dia segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi, dia melihat Daffa belajar bersama dengan pengasuhnya di kamar. Ardi mengetuk pintu kamar tersebut dan Daffa berlari memeluk ayahnya. Ardi pun mengusap lembut rambut anaknya“Lagi apa nih?” tanya Ardi basa-basi pada anaknya. “Belajar membaca. Sekarang aku sudah jauh lebih baik, Ayah.” Daffa mengatakannya dengan sangat yakin dengan apa yang

  • Dosa Terlarang Bersama Pelatih   Bab 58

    Ardi langsung membawa pulang istrinya yang masuk berat. Sepanjang perjalanan, Miya menangis dan memanggil nama Reski. Ada luka sayat dalam hati Ardi, tetapi pria itu tidak mempermasalahkannya.Ardi memapah tubuh istrinya ke kamar dan merebahkannya ke kasur. Miya menarik tubuh Ardi hingga menindihnya. Wanita itu menangkup pipi suaminya dan mengecup bibir suaminya dengan mesra. “Reski, ayo bersama. Aku percaya, kamu akan jauh lebih sukses dari Ardi.” Miya mengatakannya dengan kesadaran yang entah berada di mana.“Aku bukan Reski. Aku Ardi, suamimu.” Ardi mencoba melepaskan tangan istrinya yang malah memeluk lehernya erat.“Sentuh aku! Jangan tinggalkan aku!” Miya merengek pada Ardi.“Kamu akan menyesalinya, Miya.” Ardi masih mencoba menolak untuk menyentuh istrinya yang tidak sadar diri. Dia bukan pria bajingan yang menikmati tubuh wanita, di saat wanita itu hilang kesadaran. “Huum, ayolaaah. Sentuh aku. Aku yakin, kamu pasti lebih nikmat dari Ardi,” rengek Miya yang malah membuat Ard

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status