LOGINSebuah kesalahpahaman membuat Brandon dan Arini saling membenci. Sebuah kejadian lain membuat keduanya menjadi dekat, JUST FRIEND. Sebuah keputusan, kemudian memisahkan mereka, setelah menjalin persahabatan selama bertahun-tahun. *** Arini, seorang siswi berprestasi, memiliki hobby bermain basket. Dia memilih bergabung dengan klub basket, meski tidak bisa ikut dalam pertandingan karena bukan laki-laki. Di sanalah, Arini bertemu dengan Brandon, leader basket Casanova berparas tampan, tapi dingin. Sebuah kesalahpahaman, membuat Bran menentang kehadiran gadis itu di klub basket. Tak disangka, suatu kejadian membuat Brandon malah menjadi penolong bagi Arini. Sejak saat itu mereka berdua menjadi dekat dan menjalin persahabatan. Bertahun berlalu, sebuah keputusan mampu mengubah segalanya, ketika Arini dijodohkan oleh sang Ayah dengan pria lain. 'Tak ada persahabatan yang murni di antara pria dan wanita.'
View More“Papa, ini Kak Anin! Guru les aku,” seru Elvio polos sambil menggandeng tangan ayahnya yang baru saja tiba dari perjalanan bisnis. “Dia katanya mau jadi Mama aku!”
Anindya langsung tersentak.
“Eh, El! Kak Anin cuma bercanda!” Tegurannya terdengar panik, wajahnya memanas karena malu dan bingung.
Selama setahun terakhir, Anindya terpaksa bekerja sebagai guru les privat demi bisa membayar uang kuliah yang tinggal beberapa bulan lagi. Dan Elvio Dirgantara Pradipta, bocah laki-laki cerdas berusia 6 tahun dengan mata abu-abu pucat itulah yang Anindya ajar selama ini.
“Boleh, Papa? Kak Anin jadi Mama aku?” Elvio malah semakin bersemangat, menoleh pada ayahnya dengan wajah penuh harap.
Anindya ingin menutup wajahnya saat itu juga. ‘Ya Tuhan, apa-apaan sih ini!’ batinnya.
Ini adalah kali pertama Anindya bertemu dengan ayah Elvio karena selama ini, pria itu selalu pergi dinas. Seharusnya Anindya memberikan kesan pertama yang bagus, tapi kenapa sekarang malah rasanya jadi memalukan?
Sudut bibir pria itu sedikit terangkat. Sulit ditebak apakah itu senyuman atau hanya refleks. Tatapannya sama sekali tidak bergeser dari Anindya saat dia menjawab, “Boleh.”
Anindya membeku di tempat.
Boleh? Yang benar saja!
Apa dia barusan salah dengar? Tidak mungkin pria itu serius, bukan?
“P … Pak?” Anindya mencoba membuka suara, tapi yang keluar hanya gumaman tak jelas.
Arvendra Satwika Pradipta–seorang arsitek ternama di kota itu–akhirnya menatap putranya. “Elvio, selesaikan dulu tugasmu. Papa ingin bicara sebentar dengan Kak Anin.”
“Bicara apa, Pa?” Elvio memiringkan kepala, tampak penasaran.
“Tidak penting untuk anak kecil.” Arvendra berbicara datar, tapi sarat otoritas, membuat bocah itu langsung menurut meski wajahnya masih tampak kecewa.
Arvendra kembali menatap Anindya. “Bisa ikut saya ke ruang kerja? Ada yang ingin saya bicarakan.” Kalimat itu terdengar singkat, tapi jelas terasa seperti perintah, bukan permintaan.
Anindya menelan ludah dan buru-buru mengangguk. “I-iya, Pak.”
Tanpa banyak bicara, Anindya mengikuti langkah Arvendra yang sudah lebih dulu menuju tangga di tengah rumah itu.
Saat mereka mencapai belokan tangga, Anindya sedikit kehilangan keseimbangan. Runner carpet itu bergeser tipis ketika dia menginjaknya terlalu cepat. Dalam sepersekian detik, tubuhnya terhuyung ke depan.
“Ah!” seru Anindya kaget.
Dalam sekejap, tangan kokoh Arvendra meraih pinggangnya, menarik tubuh Anindya hingga menghantam dada bidang pria itu, benturan yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.
“Ceroboh sekali,” tegur Arvendra dengan suara rendah. Napas hangat pria itu menyapu kulit leher Anindya, membuatnya kaku seketika. Dia sadar betul betapa eratnya lengan itu melingkari pinggangnya, terlalu erat untuk sekadar menyelamatkan.
“Ma-maaf, Pak.” Anindya buru-buru mencoba meraih pegangan tangga untuk berdiri sendiri, tapi gerakannya goyah.
Arvendra tidak langsung melepaskan gadis itu. Tangannya bertahan satu detik lebih lama dari yang seharusnya, dan tentu saja membuat kulit Anindya merinding. Baru setelah itu dia melepasnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Perhatikan langkahmu,” ucap Arvendra singkat, tapi nada suaranya membuat kata-kata itu terdengar lebih seperti perintah daripada nasihat.
Anindya hanya bisa mengangguk, wajahnya memanas karena malu sekaligus bingung. Dia menunduk, mengikuti pria itu dalam diam hingga mereka sampai di depan sebuah pintu besar dengan ukiran mewah.
Anindya berdiri kaku di dekat pintu, sementara Arvendra melangkah ke tengah ruangan setelah membuka pintu, lalu berbalik menghadapnya.
Manik matanya yang berwarna hazel menelusuri tubuh Anindya dari atas ke bawah. Kulit eksotis khas wanita Indonesia, rambut hitam pekat yang tebal dan bergelombang hingga hampir menyentuh punggung bawah, serta tubuh ramping yang tampak semakin mungil di hadapan sosok setinggi dirinya.
Tatapan itu sulit diartikan, apakah Arvendra sedang menilai, atau menikmati. Anindya merasa seolah dirinya sedang ditelanjangi tanpa sentuhan.
Arvendra menyelipkan kedua tangannya ke saku celana, berdiri santai namun mengintimidasi.
“Saya tertarik dengan kamu,” ucap Arvendra ringan, seperti komentar sambil lalu. Namun, bagi Anindya, kata-kata itu terdengar terlalu dalam, terlalu sarat makna, membuatnya membelalakkan mata.
“M-maksudnya, Pak?” tanya Anindya. Dia mencoba menjaga sikap profesional, tapi nadanya penuh kegugupan.
Arvendra tidak langsung menjawab. Dia hanya berdiri di sana, menatap Anindya dari ujung kepala hingga kaki lagi, kali ini lebih lambat.
Anindya menelan saliva keras-keras. Tenggorokannya terasa kering. Pikirannya mulai ke mana-mana, kacau oleh tatapan pria itu.
Semakin lama berdiri di bawah tatapan itu, semakin sulit bagi Anindya untuk bernapas normal. Ada sesuatu yang asing di balik sikap tenang Arvendra. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi tatapannya terasa terlalu tajam, terlalu intens, membuat tubuh Anindya terasa seolah dipaku di tempat.
‘Nggak mungkin. Dia, ‘kan, bosku. Ayah muridku sendiri. Jangan bodoh, Anin,’ pikir Anindya, panik sendiri.
“Saya tertarik dengan cara mengajar kamu. Suster dan pelayan sering melapor. Katanya, Elvio jadi lebih disiplin dan bersemangat belajar sejak kamu yang mengajar,” jelas Arvendra akhirnya.
Ah, rupanya itu maksudnya. Sejenak Anindya merutuki dirinya sendiri karena sudah berpikir terlalu jauh. Pipi hangatnya terasa memanas karena malu.
“Oh … terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha melakukan yang terbaik.” Anindya mengangguk cepat, mencoba menguasai diri. Dia memaksakan senyum profesional, berharap pria itu tidak menyadari kecanggungan yang dia rasakan.
“Saya ingin tahu perkembangan anak saya,” ujar Arvendra dengan nada tenang namun berwibawa. Dia menunjuk kursi di seberang meja kayu jati yang luas, dipenuhi tumpukan blueprint dan miniatur bangunan. “Silakan duduk.”
Anindya segera menurut, duduk dengan punggung tegak. Tangannya bertaut di pangkuan, mencoba menutupi gugup yang jelas terasa dari detak jantungnya yang tak kunjung stabil.
“Bagaimana Elvio selama belajar? Saya ingin mendengar langsung dari kamu,” tanya Arvendra. Dia sudah duduk di sofa single, posturnya rileks namun sorot matanya tajam, membuat Anindya merasa seolah sedang diuji.
“Dia anak yang cerdas, Pak. Kadang sulit fokus, tapi cepat menangkap materi kalau dibimbing dengan sabar. Saya rasa, dia hanya butuh perhatian lebih,” jawab Anindya dengan suara pelan tapi berusaha tegas.
“Perhatian lebih, ya.” Gumaman Arvendra terdengar rendah, seolah lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
“Lanjutkan.” Satu kata singkat itu meluncur seperti instruksi, dan Anindya segera menambahkan penjelasan lain.
Namun, semakin lama Anindya bicara, semakin jelas perasaan aneh itu. Arvendra terlalu tenang, terlalu diam, seperti mendengar tapi tidak benar-benar menyimak. Seolah ucapannya hanya menjadi latar belakang bagi pikiran pria itu yang tengah berada di tempat lain.
‘Dia sebenarnya dengerin aku atau nggak, sih?’ batin Anindya resah.
__
Setelah kelas berakhir, Anindya langsung pulang ke kos tanpa singgah ke mana pun. Begitu masuk ke kamarnya dia meletakkan tas lalu membiarkan tubuhnya jatuh terlentang ke atas kasur.
Entah berapa lama, matanya terpejam begitu saja. Hingga tepat tengah malam, keributan dari luar mendadak membuyarkan tidurnya.
“Penggusuran!” teriak seseorang dari lorong kos. Suara panik itu disusul derap langkah penghuni yang berhamburan keluar kamar.
Anindya sontak bangkit, jantungnya berpacu. Dia berlari ke depan pintu kamar, meski kepalanya masih pening karena kantuk.
“Ada apa?” tanya Anindya terburu-buru pada Lestari, teman kosnya, yang wajahnya sudah pucat pasi.
“Lihat, Nin!” Lestari menunjuk ke arah jalanan dari jendela lorong. “Ada buldoser sama truk proyek. Mereka bawa aparat juga!”
Lutut Anindya mendadak lemas. Dia memang tahu kosan ini sudah lama terancam digusur. Namun, dia tidak pernah menyangka malam ini, tepat saat dia bahkan tak punya cukup uang untuk pindah, penggusuran itu benar-benar datang.
BRANDON Tuhan seakan menakdirkan aku dan Iin kembali berjumpa setelah dua tahun berpisah. Rindu yang sulit dibendung selama ini, sekarang terbayar sudah dengan pertemuan tak terduga kami beberapa hari yang lalu. Sungguh skenario yang dituliskan-Nya begitu indah. Siapa yang menyangka kami akan bersua kembali ketika bekerja di kantor yang sama? Di antara sekian banyak perusahaan di Jakarta, Iin bekerja di kantor tempatku mencari nafkah. Aku sungguh berterima kasih kepada Tuhan karena telah mempertemukan kami lagi. Sayangnya karena perbedaan sif dan waktu libur, membuat kami belum bisa berbicara dengan baik hingga sekarang. Hari ini, Iin akan datang berkunjung ke apartemen untuk pertama kali. Dulu sebelum menikah, dia menolak datang ke sini tanpa mengutarakan alasannya. Tapi kali ini, aku memaksa Arini datang melihat tempat tinggalku. Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi. Itu pasti Iin. Aku bergegas membuka pintu, karena sudah tidak sabar bertemu dengan sahabatku. Ingin sekali ber
BRANDONDua bulan kemudianAku duduk sambil memangku tangan melihat perempuan muda yang duduk di seberang meja. Dia makan sambil malu-malu. Istilah anak muda zaman sekarang jaim alias jaga image. Entah wanita ke berapa yang dikenalkan oleh Mama dua bulan belakangan.Dari sekian banyak yang disodorkan Mama, tak satupun menarik perhatianku. Demi menghargai jerih payah beliau, aku penuhi permintaan agar berkenalan dengan mereka.“Nggak makan, Kak?” tanyanya lembut.“Kenyang,” jawabku singkat.Dia mengangguk sambil membetulkan rambut model bob yang sempat turun ke depan. Satu hal yang Mama tidak tahu tentangku adalah aku tidak suka wanita berambut pendek, apalagi sampai model seperti ini.Pandangan beralih melihat ponsel. Aku mendesah ketika tidak melihat tanda-tanda Iin online. Kalian benar, inilah rutinitasku sehari-hari, memantau apakah dia online atau tidak. Meski Tante Asma mengatakan Arini baik-baik saja, tapi hati ini kurang bisa percaya sebelum mendengar suaranya.“Sudah selesai?”
BRANDONAku menatap nanar layar gadget pipih yang ada dalam genggaman. Hampir satu tahun Iin tidak bisa dihubungi. Ada apa dengannya? Kenapa tidak ada lagi telepon dan chat dari sahabatku? Hati kembali tidak tenang.Ingin menghubungi Tante Asma untuk menanyakan Iin, tapi diurungkan. Khawatir jika menimbulkan masalah jika Om Yunus tahu. Setelah ganti ponsel, nomor Uda David juga tidak ada lagi di daftar kontak. Nomor Donny sejak dulu tidak pernah disimpan, karena jarang berkomunikasi.Segera dibuka akun sosial media milik Iin, mulai dari Facebook hingga Instagram. Tidak ada postingan terbaru di sana. Terakhir kali dia mengunggah foto sebelum kami berpisah satu minggu menjelang pernikahan.“Kenapa, Bran? Sejak tadi Mama lihat kamu gelisah,” tanya Mama berdiri di dapur apartemen.Mama sedang berkunjung ke apartemen, karena hari ini aku libur. Seperti biasa, beliau mengecek kebutuhan makanan untuk satu minggu. Terkadang Bi Ijah juga datang ke sini mengantarkan makan siang dan malam.“Iin
ARINIKerinduan kepada Bran sedikit terobati. Gue bisa melihat wajah, senyum dan mendengar tawanya. Jiwa yang tadinya kosong menjadi terisi setelah video call dengannya. Secara sadar diri ini tahu apa yang terasa saat ini salah, namun nggak mau munafik karena faktanya seperti itu.Senyuman mengambang ketika selesai memasak ayam kecap kesukaan Bran. Jadi membayangkan wajah semringahnya setiap kali disuguhkan makanan ini. Sebelum dihidangkan di meja makan, gue mengabadikan dalam foto terlebih dahulu lantas mengirimkannya kepada Bran.Me: Masakan kesukaan lo udah selesai nih. Mau nggak?Begitulah caption yang ditulis saat mengirimkan foto ayam kecap.Nggak perlu menunggu lama, Bran membalas.Brandon: Enak banget tuh, In. Jadi kangen masakan lo deh.Gue hanya tersenyum membaca balasan dari Bran. Baru akan membalas, terdengar pintu diketuk. Itu pasti Bang Desta yang pulang.Ketika kaki melangkah, gue langsung ingat dengan pelumas yang ada di dalam kulkas. Dia harus jujur mengatakan milik s
ARINIPandangan menatap nanar ke arah cermin yang memantulkan wajah dengan riasan khas pengantin. Sebuah kebaya muslimah kini membalut tubuh. Kerudung juga menutupi rambut yang biasa terlihat. Tangan ini terangkat ke atas dan terlihat inai yang baru dihias kemarin sore, setelah bertemu dengan Bran.Ma
BRANDONMata ini susah diajak tidur sejak tadi malam. Baru terpejam, beberapa saat kemudian kembali terbuka. Arini mau dijodohkan oleh Om Yunus? Tidak bisa! Dia masih terlalu muda untuk menikah. Usianya juga baru akan menginjak dua puluh empat tahun, dua bulan lagi.Hati menjadi resah membayangkan tid
ARINISetahun sudah pasca perselingkuhan yang dilakukan oleh Om Sandy. Kondisi psikologis Bran dan Tante Lisa mulai pulih. Meski begitu, ada yang berubah setelah kejadian itu. Rumah keluarga Harun di Menteng Dalam menjadi lengang, tanpa kehadiran Om Sandy dan Brandon.Bran memutuskan keluar dari rumah
BRANDONAku memandang Iin lekat ketika menyuapkan nasi untukku. Dia memaksaku makan, khawatir sakit katanya. Sungguh beruntung sekali memiliki sahabat seperti Arini yang perhatian, pintar masak dan tidak pernah meninggalkanku di saat terpuruk.Andai saja aku tidak pernah bertemu dengan Inez dan Moza,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews