Mag-log in🤭🤭 eh..eh kenal rupanya
Lio tentu dengan senang hati mengambil alih kompor begitu melihat Tili meminta dengan wajah lesu."Aku akan buatkan sup krim kentang yang hangat! Aku sengaja tidak memakai telur sama sekali karena kau tidak menyukainya," celoteh Lio dengan riang sambil mengaduk panci. Cal duduk di samping Tili, terus mengusap punggung Tili dengan cemas. “Aku rasa kau tidak perlu ikut kembali ke Dietrich nanti. Aku saja. Sepertinya kau terlalu lelah.”Cal memang sudah merencanakan mereka segera kembali setelah acara pernikahan Lio dan Darian selesai. Mereka mulai mengembangkan pabrik kedua, tidak bisa ditinggalkan begitu saja.“Aku akan baik-baik saja setelah makan.” Tili yakin ia agak lemas hanya karena kurang makan, dan makanan Lio selama ini tidak pernah gagal membuatnya bernafsu, jadi tubuhnya akan pulih sebentar lagi.“Selesai!” Lio menyajikan semangkuk sup kental yang mengepul harum di depan Tili. “Ini untukmu.” Lio membuat porsi untuk Darian juga, yang tentu menerima dengan senang hati. Cal ti
Ruang kerja Duke Cornwall yang biasanya dipenuhi aura intimidasi atau kesibukan, kini justru memancarkan keputusasaan yang suram.Darian baru saja selesai menggerakkan tangannya, memberi catatan pada Bryan untuk dibacakan kepada Julian."Lord Adrian mengatakan bahwa hadiahnya gagal total, Your Grace," lapor Bryan dengan nada prihatin. "Lady Tilia bahkan membuang suratnya."Julian yang duduk di balik mejanya hanya bisa menghela napas panjang dan memijat pangkal hidungnya. "Sama," gumamnya lemas. "Dia juga menolak kapal mahalku mentah-mentah."Dua pria yang biasanya menjadi orang paling disegani di Cornwall itu terdiam, sama-sama merasa kehabisan akal. Darian duduk sambil menopang kepala, Julian masih memijat keningnya. Mengatur strategi untuk meruntuhkan ekonomi kerajaan ternyata jauh lebih mudah daripada membujuk Tili yang sedang mengamuk.“Apa aku terlalu memanjakannya?” Julian sampai merasa itu salahnya. “Mungkin aku…”BRAK!Pintu ruang kerja terbuka dengan kasar, nyaris membentur
Tili akhirnya tiba di paviliun Celandine dengan suasana hati yang masih seburuk awan mendung. Namun, pemandangan di dalam ruangan itu sedikit melembutkan ekspresinya. Lio sedang berdiri di depan cermin, mencoba sebuah veil (kerudung pengantin) transparan berbahan sutra yang disulam dengan sangat indah oleh Celandine.Melihat kedatangan Tili, Lio langsung berputar dengan senyum lebar—memamerkan hasil karya Celandine khusus untuknya."Pengkhianat," tembak Tili langsung, menunjuk Lio. "Kau membantu Adrian menulis surat konyol itu, kan? Seharusnya kau berpihak padaku, Lio! Tapi kau malah memihak kakakku yang menyebalkan itu."Lio tertawa pelan mendengarnya. Gadis itu melepas kerudungnya, berjalan menghampiri Tili, dan menarik sahabatnya itu untuk duduk berdampingan di sofa."Aku tidak memihak siapa pun kecuali kedamaian!" kata Lio, membela diri sambil memeluk lengan Tili. "Aku hanya ingin kau dan Darian—juga ayahmu berdamai. Pernikahanku tinggal sebentar lagi, Tili."Lio mulai merengek,
Suasana di Kastil Fellmor terasa seperti sedang dilanda musim dingin yang lebih awal. Meski belum ada salju turun, suhu di dalam kastil seolah sudah turun mendekati nol.Alasannya hanya satu: Tili sedang mogok bicara. Saat Tili tidak ada—mengunjungi Dietrich untuk mengurus pabrik, maka suasananya agak hangat. Masih ada Lio yang dengan celotehnya bisa mudah membuat orang tertawa.Para pelayan sangat menikmati kepanikan Lio setiap kali ia belajar menjadi Duchess—dan emosi kegembiraan yang sangat berkebalikan setiap kali ia menyiapkan pernikahannya.Tapi hari ini Tili pulang. Suasana otomatis menjadi lebih hening. Pelayan yang berbaris menyambut tidak ada yang berani mengangkat kepala.Mereka tersentak, padahal Tili hanya menepuk debu dari gaunnya dengan wajah lelah. Cal di sampingnya ikut membungkuk untuk membersihkan debu itu sebelum menyerahkan jubah bepergian pada pelayan.“Tolong siapkan makan dan air hangat.” Cal dengan ramah meminta, karena Tili masih malas bicara.Apalagi saat me
“Terkejut? Aku rasa ibumu tidak menyebutkannya padamu.” Gareth menyeringai sinis. Tahu benar bentuk kebohongan apa yang disebut Arielle pada Roderick.“Ya…” Roderick bergumam lirih, dan kembali menunduk. Alasan kelaparan itu yang paling membuatnya goyah saat ibunya membujuk—tapi ternyata tidak ada. Ayahnya sudah melihat kelaparan itu datang begitu mendengar laporan gagal panen dan mengambil langkah pencegahan. Ibunya berbohong.“Menjijikkan dan serakah!” desis Gareth, sambil meluruskan punggung, memandang Arielle yang masih menatap lantai.Roderick yang mendengar umpatan itu, menutup mata. Tahu kalau pertengkaran yang ingin ia cegah tetap akan terjadi."Aku bersyukur Roderick tidak menghabiskan kas Lunaris, tapi pilihannya memihak Montclair adalah fatal!” Gareth menepuk bahu Roderick—tidak lagi amat menyalahkan karena tahu peran Arielle, tapi masih salah.“Fatal apa?!” Arielle tidak terima menjadi yang paling disalahkan, berdiri dan menunjuk Gareth. “Langkah itu benar! Montclair yang
Aroma roti panggang yang hangat dan teh kamomil kualitas terbaik menguar di ruang makan privat The Golden Crown, penginapan termewah di pusat ibu kota Westhaven.Roderick duduk dengan anggun di salah satu kursi berlapis beludru. Ia menyesap tehnya perlahan, melirik jam saku emasnya untuk yang ketiga kalinya. Sudah lewat satu jam dari waktu sarapan yang mereka sepakati, tapi Baraka belum juga menampakkan batang hidungnya.Roderick mendengus pelan, meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar. "Orang dari benua selatan rupanya tidak memiliki tata krama soal waktu," gerutunya.Ia tidak keberatan menunggu, tapi tidak satu jam lebih."Mungkin beliau kelelahan setelah memeriksa gudang dan ketiduran, Yang Mulia," ucap Zane, yang seperti biasa, mendampingi Roderick hari itu. Ia berdiri di belakangnya sejak tadi. Menjadi pusat perhatian dari tamu lain yang mondar-mandir, tapi sudah terbiasa."Bangunkan dia.” Roderick mendesis. Sabarnya sudah habis. "Perjanjian ini harus segera dilaporkan. Aku t