LOGINTili percaya pernikahannya dengan Theo, Duke of Greybone, sudah bahagia. Theo bersikap lembut dan perhatian, tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Tidak ada skandal—hanya kehidupan bangsawan yang tenang dan teratur. Hingga sebuah bayangan datang padanya. Serupa ilusi, memperlihatkan sisi Theo yang tidak seharusnya ada. Tili ingin menyangkalnya, namun satu per satu bayangan itu menjadi nyata—dan melukainya. Menolak membiarkan takdir berubah menjadi kehancuran, Tili memilih pergi lebih dulu. Namun mengapa Theo tak mau melepaskannya? Dan haruskah Tili menerima uluran tangan Caelan—seorang pangeran yang datang menawarkan bantuan, sementara ia tak tahu sandiwara apa yang sedang ia mainkan?
View More“THEO!”
Tili menyambar tangan suaminya, memohon agar tidak pergi. Tapi Theo menepis, sambil meraih tiang terdekat untuk berpegangan.
Tanah masih bergoyang—gempa telah terlewat beberapa menit, tapi bangunan kastil masih memperdengarkan gemuruh. Retakan pada atap tampak semakin nyata. Tinggal menunggu waktu sebelum kastil akan runtuh, dan akan lebih baik kalau mereka segera keluar.
“Kau keluar saja bersamanya.” Theo menunjuk pengawal yang sudah memegang tangan Tili—siap membawanya keluar sebelum atap kastil runtuh, begitu getaran berhenti.
“Tapi saya…”
“Kau bawa Duchess keluar!” Theo menyela keberatan dari pengawal itu—tapi Tili tidak akan diam.
“Kau mau kemana?! Kau seharusnya bersamaku dan keluar dari sini!” Tili mencengkram tangan Theo, semakin kuat. “Kenapa kau harus kembali ke dalam?! Aku tidak tahu harus kemana!”
Tili tidak mengerti apa urusannya Theo kembali ke dalam kastil, padahal sudah jelas berbahaya. Mereka beruntung bisa keluar, entah berapa orang tertahan karena ada bagian lorong kastil yang runtuh tadi.
“Aku… Sera… masih di dalam!” Theo menepis tangan Tili—lebih mudah, karena tangan Tili kehilangan kekuatan.
“THEO!” Tili memekik saat Theo berlari menerobos pintu besar aula. Tapi Theo tidak menoleh, rambut pirangnya yang agak panjang berkibar, menandakan ia berlari sekuat tenaga—demi Sera!
Wanita yang tidak pernah lepas dari benaknya—tidak sesuai dengan bayangan Tili.
“Duchess! Mari!” Pengawal yang bersamanya mendesak dan menarik tangannya, karena Tili malah terdiam.
Bahkan saat kakinya mengikuti tarikan tangan itu, mata Tili masih kosong karena terlalu tertegun. Hanya tangan Tili yang bergerak hidup—reflek merangkup perutnya, melindungi anak dalam kandungannya dari bahaya di sekitar.
Tapi tidak ada yang melindungi hati Tili dari luka. Nama itu… tersebut hanya sekilas, tapi cukup untuk mematahkan hatinya.
Sera adalah nama yang seharusnya tidak disebut lagi oleh suaminya. Nama wanita yang seharusnya tidak lagi dipedulikan oleh Theo!
Ini yang dipercaya Tili. Pernikahannya dengan Theo memang bukan karena cinta—perjodohan politik. Tapi bukankah hubungan mereka membaik?
Bukankah mereka lebih saling mengerti sekarang? Karena itu ada janin dalam kandungannya. Karena itu Tili mau menyerahkan dirinya pada Theo—merasa pernikahan mereka memang bisa bertahan.
Tapi Theo memilihnya lagi! Sera—wanita yang juga teman kecilnya itu memang dikabarkan sangat dekat dengan Theo. Theo memilih Sera lebih dari dirinya dan anaknya.
“Tidak seperti ini!” Tili bergumam, matanya masih kosong, tidak bisa memikirkan hal selain kekecewaan dan sakit hati.
Ia bahkan tidak peduli saat tersandung—dan terjatuh akibat bongkahan besar potongan tembok baru yang runtuh. Napasnya sesak oleh debu reruntuhan, tapi Tili tidak merasa kalau hal itu gangguan.
“Duchess!” Pengawal yang bersamanya, mencoba untuk mengangkat Tili, mengguncang tubuhnya agar Tili juga bergerak dan tidak menjadi beban mati.
“Duchess!”
Guncangan lagi—Tili akhirnya tersentak, karena merasakan bahaya yang lebih besar lagi mengancam. Tili mencengkram tangan pengawal yang bersamanya, saat tanah yang dipijaknya terus bergerak.
“Kita kemana?” Tili bingung, karena mereka tidak juga sampai di halaman. Tili buta arah, ia dengan mudah hilang arah saat keadaan sekitarnya berubah.
“Saya tidak tahu!” Pengawal itu terdengar putus asa, dan Tili akhirnya ingat. Pengawal itu sangat baru, ia belum menghapal jalan kastil Greybone.
“Ayo!” Tili nekat menarik tangan pengawal itu, entah ke arah mana, yang penting mereka bergerak..
“Kita—AGH!” Tili menjerit, karena goncangan sangat keras terjadi.
“DUCHESS!”
Tili belum sempat berlari saat mendadak tubuhnya tertolak—didorong keras, dan detik berikutnya Tili mengerti. Pengawal itu mendorong karena ada bongkahan batu menghujani tempatnya berdiri.
Tili bahkan tidak mendengar jeritannya sendiri, kalah oleh gemuruh yang suaranya lebih keras dari petir maupun suara ledakan meriam di atas benteng.
Tili berhenti menjerit—napasnya tertahan oleh debu yang terhirup mulutnya saat mencoba menarik udara. Tidak ada rasa lega, karena semua yang tertarik bercampur debu pekat.
Tili mencoba membuka mata—dan sama, debu membuatnya tidak bisa menatap sangat jauh. Tapi satu hal terlihat oleh Tili, membuatnya ingin menjerit, tapi hanya mampu menghasilkan deguk pelan karena sesak—terkejut dan takut.
Tangan, terulur dari bawah reruntuhan, menggapai ke arahnya—tangan pengawal tadi yang menyelamatkannya. Hanya tangan yang terlihat karena sisa tubuhnya yang lain hilang tertindih oleh batu, kayu dan besi.
“Ti…tidak…” Tili merintih—putus asa, menyadari kalau keadaannya sama. Separuh tubuhnya yang terbaring miring, juga tertindih reruntuhan kastil. Kaki, sampai ke pinggang—Tili tidak bisa merasakan apapun di separuh bawah tubuhnya.
“Jangan…” Tili tidak peduli keadaan tubuhnya, setelah kesadaran lain menyusul. Tubuhnya bukan hanya miliknya—ia sedang hamil, dan tidak mungkin anaknya akan selamat karena reruntuhan itu menelan sebagian besar tubuhnya.
Adrenalin membuatnya tidak merasakan sakit, tapi saat darah menyebar di sekitar tubuhnya, Tili tahu ia akan mati—bersama anaknya.
“Ti… tidak… jangan kau juga.” Tili merintih, memohon.
Tidak boleh begini. Meski tidak menantikan pernikahan ini, tapi Tili mencoba menerima, dan kehadiran anaknya yang akan menjadi perekat hubunganya dengan Theo. Setelah ini seharusnya mereka berbahagia.
Seharusnya mereka bertiga akan menjadi keluarga sempurna seperti yang diinginkan semua orang setelah ini.
Tapi kemana harapan itu? Mimpi itu hilang, runtuh bersama seluruh kastil. Terbunuh bersama dirinya.
“Aku… tolong…” Tili mengedipkan mata, menggapai saat melihat bayangan bergerak mendekatinya.
Air mata sedikit membersihkan debu, dan Tili melihat Theo berlari menghampirinya.
Tili terisak dan meraih tangannya. “Tili? Apa kau…”
Tapi sisa pertanyaan Theo tidak lagi didengar Tili, karena telinga sekejap kemudian bergemuruh oleh detak jantungnya sendiri yang terpacu oleh amarah.
“KAU PEMBUNUH!” jerit Tili, sambil menyambar kerah jubah Theo.
“Kau pembunuh! Kau membunuh anak kita demi wanita itu!” Tili mengguncang jubah itu sekuat mungkin.
Kalau Theo tetap bersamanya, maka mereka akan keluar dengan selamat sejak tadi. Theo sangat tahu kalau dirinya buta arah. Pilihan Theo menghancurkannya.
Tapi Theo malah meninggalkannya bersama pengawal yang bahkan belum menghapal detail kastil Greybone—sedangkan Theo bisa menemukan jalan keluar dengan mata tertutup.
“Tili? Aku… aku akan menyelamatkanmu. Aku…”
“KAU PEMBUNUH!”
Tili terus menjerit. Tili tidak peduli kalaupun dirinya selamat, Tili lebih ingin anak dalam kandungannya yang selamat.
“Tili… ” Theo terlihat mengangkat bongkahan batu yang menimpa Tili, tapi yang terlihat hanya membuat Tili menjerit semakin keras, karena hanya mengkonfirmasi dugaannya.
Separuh tubuhnya hancur, gaunnya ternoda merah merata, dan kakinya nyaris tidak terbentuk.
“Kau pembunuh… kau membunuh anakku…” Tili tidak sanggup lagi menjerit, hanya menunjuk Theo saat pandangan matanya semakin gelap.
***
“Tili? Apa kau sakit?”
“Huh?” Tili mengedip, mendapati mata biru besar milik Lio menatapnya. “Tili?”
Lio menepuk pelan pipi Tili, yang kini menatap sekitar. “Aku…”
Tili bingung. Ia tidak lagi melihat reruntuhan, atau kekacauan apapun. Ia tengah berdiri di ujung atas tangga utama kastil Greybone, yang utuh dan berkilau oleh segala dekorasi pesta—chandelier masih menyala terang, tidak jatuh dan pecah.
Suara yang didengarnya bukan gemuruh pembawa kehancuran, tapi musik yang dipakai oleh beberapa tamu untuk berdansa. Napas Tili juga tidak sesak oleh debu reruntuhan, malah tercium aroma makanan yang lezat.
“Kemana… dimana?” Tili berputar di tempat, menatap ke seluruh penjuru.
“Tili? Kau itu kenapa?” Lio semakin khawatir, dan menggenggam erat tangannya.
“Gempa… runtuh…” Tili mengedipkan mata, untuk mencerna keadaan. Semua nyata, dan utuh.
Tili mengepalkan tangan, sampai kukunya menusuk telapak tangan dan pedih. “Apa aku bermimpi?” gumamnya.
[Apa kau yakin ingin—]“Itu terserah padaku!” Lio yang menatap saat Darian menulis dan membacanya dari atas, menarik kertas sebelum Darian bisa menyelesaikan tulisannya."Aku yang menentukan siapa pria yang akan menjadi suamiku, bukan statusnya," ujar Lio keras, mata birunya menatap tanpa berkedip. "Aku menginginkan seorang Knight—dan itu adalah kau. Sudah itu saja. Tidak penting yang lainnya!"Darian terpaku.“Apa itu tidak cukup? Itu keinginanku! Bukan ibuku atau siapa pun. Apa kau tidak mengerti? Apa kau masih akan memilih sikap lurus dan merasa perlu mengorbankan perasaan untuk jalan yang menurutmu lebih benar?”Lio tadinya tenang, tapi suaranya perlahan bergetar. Ia bukan tidak terluka saat Darian menolaknya dengan terang-terangan, tapi memberanikan hatinya untuk meluruskan keadaan. Meski ragu dan takut juga akan ada penolakan yang sama. Tapi Lio tahu Darian menginginkannya—hanya butuh keyakinan kalau status atau apa pun itu tidak akan membuatnya tersingkir.Perlahan, Darian meng
“Kau benar….Astaga! Akhirnya ada yang sepemikiran denganku. Aku sempat heran pada Tili juga. Bagaimana bisa dia tidak melihat saat Pangeran menatapnya seperti itu? Apa kau tahu? Aku yang harus menyebut pada Tili soal perasaan itu. Aku yang harus mengatakan dengan jelas pada Tili kalau pangeran menyukainya.”Lio terus terpingkal sampai memukul dada Darian, karena seru dan sulit berhenti. Akhirnya ada tempat untuk membagi rasa frustasi itu.Darian tidak sampai tertawa—karena mencela Cal adalah pekerjaannya sehari-hari. Tapi ia menatap tangan Lio yang memukul dadanya itu—lega. Darian tadi merasa sangat sendiri. Cal menjauhinya—ia merasa tidak punya apa pun lagi. Tapi Lio tidak, mungkin marah, tapi masih mau menyentuhnya. Mendadak Darian tidak lagi merasa ditinggalkan. Darian meraih tangan Lio—mengikuti keinginan hatinya saja, untuk berterima kasih—dan menyatakan kalau sentuhan aneh itu melegakannya.“Eh?” Lio tentu saja heran. Darian tidak biasanya mau menyentuhnya seperti itu—bukan kar
Makan malam di Kastil Cornwall malam itu terasa sangat hangat. Tili tidak mengisi meja makan besar yang biasa dipakai perjamuan, tapi meja bundar lebih kecil yang tidak jauh dari paviliun Celandine. Tili tidak ingin Celandine bingung karena harus ada di ruangan besar yang asing. Ruang yang agak sempit itu lebih mudah diproses. Celandine awalnya kaku dan terus menunduk—khawatir ada yang mengamati caranya makan yang aneh karena agak sulit memegang sendok—tapi setelah beberapa lama, ia kembali bisa tersenyum.Tidak ada yang menghakimi cara makannya, Celandine juga tidak peduli lagi karena harus mendengar Cal dan Tili yang kembali berbantahan.Lalu ada Julian yang tanpa segan mengkritik apa pun yang dilakukan Cal. Setelah itu, tidak mungkin Celandine bisa terus tenggelam dalam kecanggungannya. Ia mulai turun ikut bicara saat mereka menyentuh topik pernikahan Tili dan Cal. Mereka akan mengumumkan pernikahan itu secepat mungkin, dan memulai persiapan secara umum.Tapi hangat itu tidak te
Begitu mereka tiba di paviliun timur, langkah Celandine terhenti. Di balik tirai topinya, matanya melebar takjub.Udara di dalam ruangan itu terasa sangat familiar. Tili benar-benar memenuhi janjinya. Pencahayaan diatur agar tidak terlalu menyilaukan—Bryan meminta tambahan tirai untuk jendela yang terlalu lebar, dan beberapa rak untuk mengatur pot.Aroma thyme serta rosemary menguar lembut dari pot-pot yang mulai diletakkan dengan apik di sudut-sudut ruangan. Pelayan masih sibuk mengatur, tapi sudah terlihat kalau ruang tinggal itu akan sama dengan apa yang ditempati Celandine di Southred.Celandine menoleh pada Tili. Ia meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. Tili bisa merasakan tangan di balik sarung tangan sutra itu sedikit bergetar karena haru."Sama-sama, My Lady," bisik Tili sambil tersenyum tulus. Lalu mengikuti Cal yang ikut menunjuk beberapa pengaturan barang. Cal yang paling tahu seperti apa keinginan ibunya.“Aku rasa cukup?” tanya Tili, ingin tahu apa lagi yang
Mimpi Theo terlalu tinggi. Jangankan memukul—sebelum kulitnya bisa menyentuh Cal, kaki Darian dengan cepat menjegal membuatnya tersungkur jatuh di hadapan Cal.“Oh? Anda tidak perlu berlutut kepada saya.” Cal mengejek sambil terkekeh. “Mungkin nanti saat Duchess sadar, Anda perlu berlutut padanya.”
“TILI!”Dua suara menyahut bersamaan saat tubuh Tili terhempas, tapi Cal yang menangkapnya. Theo bahkan tidak bisa mencapai pintu dengan cepat—harus melewati Gareth yang masih menghadang. Tidak direncanakan, tapi juga sempurna.“Astaga…” Gareth bergumam prihatin, sambil menggelengkan kepala—juga me
Cal memang menghindar dengan mundur, tapi tidak berkedip melihat ‘serangan’ itu. Ia sudah menduga reaksi brutal ini akan terjadi."Lancang sekali kau, Sialan!" umpat Julian dengan suara menggelegar. Tangannya mencengkeram erat lengan kursinya. “Saya ingin menikah…”“AKU TAHU!” Julian menyentak, kar
“Sera? Kenapa kau… Oh? Kau membawa dokumen?”Theo sudah akan menegur saat melihat Sera masuk—tidak ingin terganggu keluhannya, tapi segera maklum saat melihatnya membawa gulungan dokumen. Memahami kalau Sera datang atas perintah Tili.“Kau tidak suka aku datang?” Sera menangkap perubahan wajah Theo
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore