登入Malam itu, langit Riverton masih gelap ketika Lucas dan Maya duduk di trotoar di depan gedung apartemen yang kini hangus. Bau asap masih mengepul dari jendela-jendela yang pecah, dan cahaya lampu polisi yang berputar-putar menciptakan bayangan-bayangan aneh di wajah mereka. Beberapa penghuni apartemen lain berdiri di kejauhan, berbisik-bisik, menatap puing-puing dengan mata terbelalak. Api sudah padam, tapi kehancuran yang ditinggalkan masih terasa seperti luka yang baru saja menganga.Maya masih dalam pelukan Lucas. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena dingin, tapi karena ketakutan yang belum sepenuhnya hilang. Air matanya sudah mengering, tapi matanya masih merah dan kosong. Dia menatap gedung yang dulu menjadi rumahnya, dan dia tidak bisa menemukan kata-kata untuk menggambarkan apa yang dia rasakan.Lucas memeluknya erat, mencoba menjadi tembok yang bisa melindungi Maya dari rasa sakit yang tidak bisa dia hilangkan. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia tahu tidak ada kata-kata yang bi
Tiga hari berlalu sejak Lucas melaporkan Adrian ke polisi. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun. Maya masih tinggal di apartemennya, tapi dia tidak pernah keluar sendirian. Lucas selalu menemaninya—ke kampus, ke supermarket, ke mana pun. Dia tidak ingin Maya sendirian. Dia tidak ingin Adrian menemukannya dalam keadaan rentan.Selama tiga hari itu, Adrian tidak terlihat. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada ancaman. Hanya keheningan yang justru terasa lebih menakutkan daripada suara apa pun. Lucas tahu bahwa keheningan itu bukan pertanda baik. Adrian sedang merencanakan sesuatu. Adrian sedang menunggu waktu yang tepat.Hari keempat, Lucas duduk di kantin kampus bersama Maya. Maya sudah terlihat lebih baik. Memarnya mulai memudar. Senyumnya mulai kembali, meskipun masih ada bayang-bayang ketakutan di matanya."Kau tidak perlu menemaniku terus, Lucas," ucap Maya, menyesap jus jeruknya. "Aku tidak ingin mengganggu waktumu."Lucas menggeleng. "Kau tidak mengganggu. Aku melak
Malam itu, Lucas tidak bisa tidur.Dia berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar yang putih kusam. Pikirannya terus berputar. Tentang Adrian. Tentang ancaman yang dia lontarkan sebelum pergi. Tentang mata Adrian yang penuh kebencian. Tentang bagaimana dia bisa melindungi Maya dari seseorang yang obsesif.Lucas bangkit dari ranjang dan berjalan ke jendela. Dia membuka tirai dan menatap jalanan Riverton yang sepi. Lampu-lampu jalan menyala redup, menciptakan lingkaran cahaya kuning di aspal yang basah oleh embun malam. Tidak ada mobil. Tidak ada orang. Hanya kesunyian yang menyelimuti kota kecil itu.Dia meraih ponselnya dan memeriksa pesan. Tidak ada pesan baru dari Maya. Tidak ada pesan dari Isabella. Tidak ada pesan dari keluarganya. Hanya keheningan yang membuatnya semakin gelisah.Dia duduk di sofa ruang tamu, menyalakan televisi dengan volume rendah. Gambar-gambar bergerak di layar, tapi dia tidak fokus. Pikirannya melayang ke Maya. Apakah gadis itu baik-baik saja? Apakah
Hari-hari setelah konfrontasi dengan Adrian terasa berbeda bagi Lucas. Dia tidak bisa berhenti memikirkan kejadian itu. Bukan karena dia takut pada Adrian, tapi karena ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Cara Adrian menatapnya. Cara Adrian mengepalkan tangannya. Cara Adrian mengatakan bahwa Maya adalah miliknya.Milik. Kata itu terasa asing di telinga Lucas. Dia tidak pernah suka dengan konsep memiliki seseorang. Cinta bukan tentang memiliki. Cinta tentang menghargai. Tentang menghormati. Tentang membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Itu yang dia pelajari dari Christian dan Bella. Meskipun mereka pernah melalui masa-masa sulit, mereka tidak pernah saling memiliki. Mereka saling melengkapi.Lucas menghela napas. Dia sedang duduk di bangku taman kampus, menikmati sinar matahari sore yang hangat. Buku catatannya terbuka di pangkuan, tapi dia tidak bisa fokus. Pikirannya melayang ke mana-mana.Dia memikirkan Isabella. Dia memikirkan bagaimana gadis itu sekarang. A
Dua minggu berlalu sejak pertemuan Lucas dengan Maya. Persahabatan mereka tumbuh dengan cepat. Mereka belajar bersama, makan siang bersama, dan sesekali berjalan-jalan di sekitar kampus. Maya adalah gadis yang ceria dan mudah bergaul. Dia selalu punya cerita untuk dibagikan, selalu punya tawa untuk ditularkan. Lucas merasa nyaman bersamanya. Tidak seperti bersama Isabella—yang selalu membuat jantungnya berdebar kencang dan pikirannya kacau—bersama Maya, Lucas bisa menjadi dirinya sendiri. Tenang. Santai. Tanpa beban.Tapi hari itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.Lucas sedang duduk di kantin kampus, menikmati roti isi dan kopi hitamnya. Maya belum datang. Dia bilang akan menyusul setelah menyelesaikan tugas tambahan dari dosen. Lucas menunggu dengan sabar, sesekali menatap ponselnya untuk melihat pesan masuk.Tiba-tiba, seseorang duduk di depannya. Bukan Maya.Lucas mengangkat kepalanya, dan matanya langsung bertemu dengan sepasang mata biru yang tajam. Seorang pemuda dengan rambu
Satu bulan telah berlalu sejak Lucas pertama kali menelepon Isabella. Satu bulan yang mengubah banyak hal. Tidak secara drastis, tidak seperti badai yang menyapu bersih segalanya. Lebih seperti air sungai yang perlahan mengikis batu—perlahan, sunyi, tapi pasti. Lucas masih merasakan sakit. Dia masih merindukan Isabella. Dia masih mempertanyakan banyak hal tentang hidupnya. Tapi rasa sakit itu tidak lagi menguasai dirinya. Dia mulai bisa berfungsi. Dia mulai bisa tersenyum. Dia mulai bisa bernapas tanpa merasa seperti sedang ditindih beban yang tak terlihat.Pagi itu, Lucas duduk di balkon apartemennya, menikmati secangkir kopi hitam dan roti panggang. Langit Riverton berwarna biru cerah dengan awan-awan putih yang bergerak pelan. Angin pagi bertiup sejuk, membawa aroma bunga dari taman dekat apartemennya. Dia menatap jalanan di bawah, melihat orang-orang yang mulai beraktivitas. Ada yang berjalan ke tempat kerja, ada yang membawa anak-anak ke sekolah, ada yang hanya duduk di bangku ta







