تسجيل الدخول—Te las dejaste en mi rover —dijo, poniéndome las bragas en la mano—: Pensé que debía devolvértelas. —¿Quieres que te dé las gracias? —espeté, metiéndome rápidamente la tela en el bolsillo antes de que alguien se percatara.*Theodora Walker nunca pretendió ser perfecta. Especialmente en lo que se refería a su vida amorosa. La ex pistolera militar se hizo un nombre como independiente galáctica. Desde la caza de monstruos hasta la búsqueda de chicas desaparecidas, trabajaba en su nave, Peacemaker, con sus mejores amigos y la mejor tripulación que pudiera desear.Como capitana, nunca esperó sentir algo por su mecánico, Mads, e intentó corregirlo teniendo una aventura de una noche con un desconocido.Sin embargo, se enfrentará a más complicaciones de las que puede manejar, y tendrá que encontrar la manera de navegar por su corazón y por la galaxia al mismo tiempo."El capitán, el mecánico y la aventura de una noche" es una obra de Claire Wilkins, autora de eGlobal Creative Publishing.
عرض المزيدDi hari pertama kuliahnya, terlihat seorang gadis berusia 19 tahun berdiri sambil menunduk menatap lantai kantin yang kinclong. Namanya Odohun—hanya ODOHUN—yang sering dipanggil Odoh. Gadis itu punya banyak ekspresi dalam menjalani kehidupannya.
"Lo tau kesalahan Lo itu apa?!" ucap sang kating yang tak diketahui namanya. "Saya gak tau," jawab Odoh datar. "Oke, gua kasih tau kesalahan Lo dimana! Gak sopan dan nama Lo BODOHUN? Jelek banget! WTF hahahahahhahha." Si kating tertawa dengan ekspresi mengejek. Yang lain pun ikut tertawa mendengarnya. JELEK! Itu kata yang kerap Odoh benci. Jelek dan bodoh. Dua kata yang bisa membuat kepribadiannya langsung berubah dalam sekejap. Wajahnya yang memang sudah datar kini semakin datar. Namun tak ada yang menyadarinya karena ia masih menunduk dengan tangan mengepal. "Sorry gua cuma bercanda, gak usah dibawa perasaan terus posting internet sana sini yang menjelekkan nama kampus dengan caption pembulian basi banget!" ucap si kating sambil tersenyum. Satu hidangan romantis', batin Odoh sambil mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk. Senyum biasa penuh misteri terukir di wajahnya. "Ya kak." Kemudian semuanya mulai bubar. Setelah keributan di kantin, Odoh duduk dalam diam di kelasnya sambil memikirkan cara membawa 'satu hidangan romantis' itu. "Heh, kamu yang duduknya paling belakang!" Sang dosen yang dianggap killer di hari pertama kuliah oleh mahasiswa menatap Odoh yang memang duduk paling belakang dan sendirian. Odoh menatap dosen sambil berkata, "Ya, Pak?" ucapnya dengan sedikit senyum tipis yang bahkan tidak terlihat siapa pun kecuali Tuhan dan iblis. "Coba jelaskan apa yang harus dilakukan jika seseorang jatuh pingsan di depan Anda lalu dia tidak bisa bernapas akibat gangguan pernapasan?" tanya si dosen sambil membenarkan kacamatanya yang kuno. 'Hidanganku! Hidanganku! Hidanganku!' Hanya itu yang ia pikirkan. Karena melihat lambatnya sang mahasiswi ini, sang dosen pun geram lalu mendatangi meja Odoh. Mahasiswinya ini dari tadi hanya diam melamun saja setelah menatapnya, bahkan sepertinya tidak menanggapi pertanyaannya dengan serius. "KELUAR KAMU DARI KELAS SAYA!" Menggebrak meja sambil menatap sang mahasiswa yang bahkan ia lupakan namanya. "Baik," ucap Odoh. Lalu memasukkan buku dan pulpen ke dalam tasnya yang penuh dengan barang-barang selain buku, pulpen, dan laptop—seperti gunting kuku dan plastik hitam. Odoh berjalan perlahan menuju kantin, tempat tadi pagi ia dicemooh oleh si "hidangan romantis" nya. Ia sedang mencari. "Heh! Lo yang tadi pagi itu kan?" tanya seorang mahasiswa. Odoh yang tahu arah pembicaraan si mahasiswa ini tidak menjawab dan langsung bertanya, "Kamu tau dimana hidang—em, maksudku si kating yang tadi pagi meledekku?" ucapnya dengan muka datar seperti biasanya. "Emmm maksud Lo kak Begel? Gua tau dia dimana!" ucap si mahasiswa berkacamata ini dengan semangat. "Dimana?" "Dia lagi di kosannya. Sepupu gua tadi bilang ke gua." "Dimana kosannya?" tanyanya setengah memaksa. "Cih! Males banget gua kasih tau ke Lo. Gak ada manfaatnya." "Baik," ucap Odoh dengan senyum misteriusnya. Lalu berjalan perlahan. "Kalau Lo mau gua kasih tau dimana kosannya kak Begel, Lo harus ikuti gua." Odoh berhenti dan memutar arah mengikuti gerak si mahasiswa yang tak ia kenali sambil tersenyum. Berhenti di gudang kosong, lelaki tersebut kemudian duduk bagaikan raja. "Oke. Sekarang Lo duduk dulu disini!" Si mahasiswa ini mengambil kamera yang memang sudah ada di lehernya dan mulai mengambil foto. "Kamu ngapain?" ucap Odoh dengan ekspresi datarnya. "Bisa Lo lihat sendiri, gua lagi potoin Lo yang jelek ini. DASAR BODOH!" Masih sambil menjepret kameranya. Si Odoh terdiam dan mulai mengambil barang yang ada di dalam tasnya. Ia mulai menarik tali kamera lalu mengikat leher mahasiswa ini dengan ekspresi bahagia. Lalu menancapkan gunting ke tangan kiri mahasiswa itu, dan mengambil pisau—menancapkannya lagi ke tangan kanan si mahasiswa. "AAAAAAAAARGHH!" Odoh yang muak mendengar jeritan lelaki ini mulai mengambil papan yang memang sudah ada di gudang tersebut, kemudian memasukkannya ke dalam mulut mahasiswa ini. Si Odoh masih terdiam dan melihat jam. Ternyata sudah tiga menit berlalu. "Kamu kuat juga untuk tidak tertidur," sambil tersenyum. "Can you play with me?" ucap Odoh dan mulai mengambil gunting kuku, mulai memotongi kuku lelaki ini hingga habis. Si mahasiswa ini hanya menjerit dalam hati menahan kengerian Odoh. Niatnya ingin mempermalukan si Odoh, nyatanya berujung pada nyawanya yang entah apa yang kan terjadi. "Kukumu sangat jelek! Pendek dan tidak panjang seperti tante-tante jalang kemarin," ucap Odoh menghela napas. "Emmm... bagaimana jika aku mengambil gigimu untuk koleksiku?" Odoh tertawa bahagia. "Emm yah, sepertinya tidak buruk kan." Lalu Odoh mulai mengambil barangnya yang lain, yaitu tang, dan mulai mencabut satu per satu gigi mahasiswa ini. Setelah selesai dengan kegiatannya memotong kuku dan mencabut gigi si mahasiswa yang sudah tak berdaya ini, Odoh membuka penutup kayu dalam mulut si mahasiswa yang baru saja jadi korban kebrutalannya. Saat melihat korbannya yang sudah berdarah di bagian kaki, tangan, dan mulutnya, Odoh mulai menangis. "Huhuhu... kamu sungguh sangat tampan, aku sangat sedih," sambil menatap mata korbannya yang entah bagaimana tidak mati. "Ayolah berbicara. Aku ingin mendengarmu lagi berbicara. Aku ini jelek." Terdiam sesaat. Kemudian Odoh mulai marah dan mengambil silet dalam tasnya. "Kamu tidak ingin bicara? Iya, hum?" Sambil mulai memotong baju yang dipakai korbannya dan menggambar sebuah lingkaran dari yang kecil hingga terbesar. "Be-bber-henn-ti..." ucap sang korban dengan suara yang lemah, bahkan hampir tak terdengar. "Baiklah, aku akan berhenti setelah mengobatimu." Dan mulai mengambil air dan alkohol yang ada dalam tasnya. Setelah mengambil air dan alkohol, Odoh mulai membuka tutup air minumnya dan mencucurkannya pada sang korban—korban pertama di kampusnya. Setelah itu, Odoh mulai menyiramkan si korban dengan alkohol yang sudah dicampurkan garam. Sangat kuat, namun berwarna bening seperti air pada umumnya. "Aku akan pergi. Jika kamu masih ingin hidup, kamu harus diam, oke?" ucap Odoh tersenyum manis dan membersihkan barang-barangnya. "Selain itu, dimana alamat kosan ny kak Begel—Begel itu?" ucapnya lagi setelah selesai memasukkan barang yang sudah dibersihkan. "D-di..." Sang korban pun mulai pingsan sebelum selesai dengan perkataannya. "SIAL!" Si Odoh marah dan emosi, lalu mengambil kantong kresek hitam berisi kuku dan gigi sang korban, kemudian pergi. Sebelum pergi, Odoh melihat ada bayangan hitam di dekat jendela gudang kosong ini. Yang ternyata hanyalah seekor tikus. Kemudian ia mulai memotong-motong tikus kecil tersebut tanpa perasaan karena moodnya sedang buruk. "Kamu anak baik," sambil memotong-motong secara pelan-pelan. "Sungguh menyebalkan. Karena mu aku jadi harus membersihkan ulang peralatanku!" ucap Odoh sambil menangis sedih. "Ya sudah lah, aku pergi," ucapnya kemudian pergi dari kampus. . . . . . -----"Entonces, ¿qué pasó con ese mago cobarde?" Preguntó mi mamá, afortunadamente rompiendo el incómodo silencio. "¿Cómo se llamaba…Pant..y…panto…? ¡El hombre de las bragas!"El Pantomata, mamá", dijo Daxton, riéndose entre dientes ante una taza de licor.Mi mamá se rió, con las mejillas sonrojadas, "Oh
Punto de vista de TheodoraLa vida era muy diferente ahora.Parecía que ayer estaba esquivando láseres militares y saltando desde rascacielos. Peleando con mi papá. Evitando las locuras. Mentirle a mi hermano sobre mis relaciones. Tener flashbacks cada dos días de tiempos de guerra.Pero ahora estab
"No quiero volver a casa", dije, sorprendiéndome a mí mismo."¿Qué? Estás en casa... No entiendo", respondió Cyrus.Negué con la cabeza. "No. Este no es mi hogar. No cuando estás faltándole el respeto activamente a las personas que amo"."¿Gente?""Sí. Gente. Te amo, Cyrus, pero de ninguna manera vo
"Tengo un nombre". La voz de Mads bajó las escaleras.Seguí el sonido y vi a Mads agacharse bajo el marco de la puerta y bajar las escaleras a grandes zancadas. Era tan intimidante como siempre, pero más con la expresión oscura en sus ojos.Visiblemente muy enojado.Cyrus fulminó con la mirada mient
Punto de vista de TheodoraBajo el resplandor del sol, el castillo real adquiría aún más espectacularidad. Los arcos dorados reflejaban la luz solar, convirtiéndolo en una joya en medio del verdor de la montaña. Desde tempranas horas de la mañana, una bruma se había deslizado entre los árboles.El t
"Pensé que a una dama le gustaría una cama grande y lujosa", respondió. Su voz era profunda y ronca, enviando escalofríos por mi espalda. Imaginé que sería aún más emocionante escucharlo gemir."No necesito una cama", dije, deslizando mi pierna sobre la consola central y sentándome a horcajadas en
"Vamos, pruébalo. Está hecho de una hierba exclusiva de Ilios", dijo el hombre misterioso con una sonrisa burlona.Sin dudarlo, agarré el vaso y lo llevé a mis labios, inclinándolo hacia atrás para tomar un sorbo generoso.El hombre a mi lado farfulló en su bebida, y yo tosí fuertemente, con lágrim
Punto de vista de TheodoraEl atardecer en Ilios resultó un espectáculo impresionante. La presencia de dos soles proporcionaba dos puestas de sol únicas. El cielo se iluminaba con tonos púrpuras y rosados, y tres lunas de diversos tamaños y colores se alzaban en el horizonte, asemejándose a las mont






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.