Se connecterYo estaba embarazada de ocho meses. Pero cuando mi esposo, Mateo Díaz, me obligó a acompañar a su amiga de infancia, Clara Vegas, a hacer bungee, no me quejé ni protesté. Simplemente asentí. Todo porque, en mi vida pasada, Clara no estaba contenta. Para animarla, Mateo le ofreció cumplirle un deseo. Clara le confesó que su mayor anhelo era que alguien la acompañara a saltar en bungee. Mateo, que le tenía pánico a las alturas, inmediatamente me pidió que yo la acompañara. Me negué en el acto, alegando mi embarazo. Clara, al ser rechazada, se entristeció y terminó yendo a un bar para ahogar sus penas. Allí, alguien le puso algo en la bebida y fue violada. Después, devastada por el dolor, le dejó una nota de suicidio a Mateo: “Si ese día no hubiera ido al bar, ¿todo habría sido diferente?” Al leer la nota, Mateo me agarró del cuello: —¿Por qué no accediste a acompañar a Clara? ¿Acaso habrías muerto si lo hacías? Finalmente, Mateo me estranguló hasta la muerte, y el niño que llevaba en mi vientre se fue conmigo. Al abrir los ojos de nuevo, había vuelto al día en que Mateo me pidió que acompañara a Clara a hacer bungee...
Voir plusBab1
"Sial... tubuh kalian jauh lebih hangat daripada perempuan berbadan subur itu."
Suara berat Gavin terdengar dari balik pintu kamar suite. Isolde Ravelyn mematung. Kotak beludru di genggamannya perlahan bergetar, sementara dadanya mendadak sesak.
"Tunanganmu sudah menunggu di bawah, kan?" suara tawa manja seorang wanita menyusul.
"Biarkan saja," jawab Gavin, remeh. "Biarkan gadis membosankan itu menungguku."
"Lagipula, Tuan Gavin... kamu serius ingin menikahi wanita berbobot berlebih seperti dia? Apa kamu tidak malu?"
Gelak tawa pun pecah di dalam sana. Telinga Isolde mendadak berdenging hebat. Nama itu—Gavin. Pria yang telah bersamanya selama lima tahun, pria yang selalu meyakinkannya bahwa "penampilan bukan segalanya.
Dengan tubuh gemetar, Isolde mendorong pintu. Seluruh pertahanannya runtuh saat melihat pemandangan di dalam kamar. Pakaian berserakan, dan di atas ranjang, Gavin sedang bertelanjang dada bersama dua wanita.
Mata Gavin membelalak sempurna. "Isolde—"
Kotak cincin di tangan Isolde terjatuh. Kedua wanita di ranjang bergegas menarik selimut, sementara Gavin langsung bangkit dengan panik.
"Sayang, dengarkan aku dulu—"
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Menjijikkan," potong Isolde dengan suara bergetar karena sesak. Tatapannya tertuju pada bekas lipstik di leher Gavin.
Salah satu wanita di ranjang mendengus, melirik Isolde dengan tatapan menghina. "Astaga... dia ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat di foto. Benar-benar seperti gajah!"
Wajah Isolde seketika memanas. Malu yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Kalian berdua diam dulu!" bentak Gavin frustrasi.
Namun, wanita satunya justru mencibir. "Ya, salah dia sendiri. Pria mana yang betah dengan wanita yang tidak pandai merawat bentuk tubuhnya? Dia terlihat sangat kontras bersamamu, Tuan Gavin. Seperti angka satu dan nol"
Kalimat itu menghantam dada Isolde dengan telak. Kata-kata kasar tentang bentuk tubuhnya sudah sering dia dengar sejak remaja, tetapi mendengarnya langsung dari selingkuhan tunangannya sendiri memberikan rasa sakit yang jauh lebih menghancurkan.
"Isolde..." Gavin mencoba meraih tangannya. "Aku bisa jelaskan."
"Jelaskan apa?" tanya Isolde lirih, air mata mulai menggenang. "Bahwa kamu malu memiliki tunangan sepertiku? Bahwa kamu sebenarnya jijik padaku?"
"Bukan begitu!"
"Lalu apa?!" Isolde akhirnya kehilangan kendali. "Kenapa kamu harus melakukan kebusukan ini di malam pertunangan kita?!"
Gavin terdiam. Rahangnya mengeras, dan keheningan itu menjadi jawaban yang paling jujur bagi Isolde.
Isolde terkekeh pahit, menertawakan kebodohannya sendiri. "Kamu tahu? Aku sengaja melewatkan makan selama tiga minggu hingga jatuh sakit, hanya agar muat memakai gaun ini malam ini. Hanya agar aku terlihat pantas bersanding di dekatmu."
"Tapi tetap saja tidak berpengaruh, kan? Usahamu sia-sia," sahut wanita di ranjang sinis.
Sesuatu di dalam diri Isolde patah malam itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, dia berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan ruangan terkutuk tersebut.
Ballroom hotel masih riuh oleh para tamu ketika Isolde melangkah masuk dengan penampilan yang berantakan. Gaunnya kusut dan riasannya telah rusak parah oleh air mata. Kehadirannya langsung mengubah atmosfer ruangan dalam sekejap.
Ibu Gavin menghampiri dengan wajah cemas. "Astaga, Isolde. Ada apa denganmu?"
Isolde tidak menjawab. Matanya tertuju pada Gavin yang baru saja menyelinap masuk dari pintu samping dengan wajah pucat, menggelengkan kepala memohon agar Isolde tidak membuka suara.
Gavin tahu posisinya terancam. Selama lima tahun ini, dia terpaksa bertahan menjadi kekasih Isolde hanya demi membalas budi. Bertahun-tahun lalu, orang tua Isolde mengorbankan nyawa mereka demi menyelamatkan ibu Gavin. Utang nyawa itulah yang membuat Gavin terjebak dalam lingkaran balas jasa, beban moral yang diam-diam membuatnya frustrasi hingga melampiaskannya dengan cara yang paling kotor.
Namun, Isolde mengabaikan tatapan memohon itu. Dia berjalan mantap menuju panggung utama dan mengambil alih pengeras suara.
"Pertunangan ini batal," ucap Isolde lantang. Suasana ballroom seketika senyap.
"Isolde, jangan membuat drama murahan di sini," desis Gavin yang kini sudah berada di sampingnya, mencoba meredam situasi.
"Drama?" Isolde menatap Gavin dengan pandangan muak. "Kamu mengkhianatiku dengan dua wanita sekaligus di kamar hotel beberapa menit lalu, dan sekarang kamu menuduhku membuat drama?"
Kasak-kusuk langsung pecah di antara para tamu. Ibu Gavin tampak syok hingga hampir pingsan, sementara ayahnya memperlihatkan kemarahan besar karena nama baik mereka tercoreng.
"Kamu tahu apa yang kamu bicarakan, Isolde?!" tanya ayah Gavin bernada mengancam.
"Dia berbohong! Dia hanya salah paham!" Gavin mencoba membela diri di hadapan relasi bisnis keluarganya.
"Bohong?" Isolde mengikis jarak, menatap Gavin tajam. "Lihat lehermu, Gavin. Begitu banyak bekas tanda merah dari wanita-wanita itu. Menjijikkan sekali."
Gavin tertegun, spontan menyentuh lehernya sendiri. Wajahnya yang memucat dan kegagapannya menjadi konfirmasi mutlak bagi semua orang di ruangan itu.
Plak!
Satu tamparan keras menggema lewat mikrofon yang masih aktif. Bukan dari Isolde, melainkan dari ayah Gavin dengan wajah merah padam menahan amarah.
"Anak tidak tahu diuntung! Kamu menghancurkan nama baik keluarga kita di depan semua rekan bisnis!" bentak ayahnya, napasnya memburu kencang.
Ibu Gavin yang tadinya pura-pura lemas. Dia memukul dada Gavin berulang kali tanpa memedulikan tatapan ratusan pasang mata. "Gavin! Apa yang kamu lakukan?! Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi pria murahan seperti ini! Mau ditaruh di mana muka Ibu?!"
Panggung megah pertunangan itu seketika berubah menjadi arena eksibisi kehancuran keluarga mereka. Gavin hanya bisa tertunduk, meremas rahangnya menahan malu dan amarah yang bergejolak karena harga dirinya dihabisi di depan publik oleh orang tuanya sendiri.
Perdebatan dan makian keluarga itu terus bersahut-sahutan, namun Isolde tidak peduli lagi. Riuh makian kemarahan di hadapannya terasa hambar. Rasa cintanya sudah mati, digantikan oleh kekosongan yang hampa.
Isolde melangkah mundur, berniat turun dari panggung dan meninggalkan drama keluarga tersebut. Namun, di tengah kekacauan di atas panggung, perhatian para tamu di bawah justru mulai teralih padanya. Bisik-bisik dari barisan depan mulai terdengar jelas di telinganya.
"Tapi kalau dipikir-pikir... wajar saja Tuan Gavin mencari pelarian. Pria setampan dan seandal dia dipaksa menikah dengan wanita bertubuh besar dan tidak jelas seperti Isolde? Sangat tidak sebanding."
"Iya, lihat saja badannya. Pantas Tuan Gavin butuh wanita lain."
Bisikan-bisikan kejam yang menghakimi fisiknya mulai berdengung, mengepung Isolde dari segala penjuru. Dada Isolde kian sesak, pandangannya mengabur oleh air mata baru. Saat bergegas turun dari tangga panggung untuk menghindari tatapan-tatapan menghakimi itu, ujung kain gaun panjangnya tersangkut pada hak sepatunya sendiri.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dan Isolde jatuh cukup keras di atas lantai marmer yang dingin, tepat di bawah tangga panggung. Beberapa tamu yang berada di dekat sana justru refleks mundur seolah takut tertimpa, dan beberapa orang lainnya—terutama para sosialita muda—mulai menutupi mulut sambil berbisik mengejek, bahkan ada yang diam-diam mengarahkan kamera ponsel mereka.
Wajah Isolde terasa terbakar hebat. Rasa sakit di lututnya sama sekali tidak sebanding dengan harga dirinya yang diinjak-injak di depan ratusan orang malam itu. Tidak ada satu pun orang yang mengulurkan tangan untuk membantunya. Gavin dan orang tuanya masih sibuk berdebat dan memaki di atas panggung, sama sekali tidak memedulikannya.
Dengan sisa kekuatan dan sisa harga diri yang dia miliki, Isolde bangkit berdiri. Tanpa memedulikan gaunnya yang robek di bagian bawah atau rambutnya yang berantakan, dia berlari keluar dari ballroom secepat yang dia bisa, mengabaikan semua mata yang memandangnya seperti tontonan sirkus.
Udara malam langsung menyergap kulitnya begitu dia tiba di area luar hotel. Isolde berhenti di dekat pilar yang gelap, bahunya terguncang hebat karena tangis yang akhirnya pecah. Dengan kasar, dia melepas kedua sepatu hak tingginya, mengabaikan rasa perih pada telapak kakinya yang mulai lecet.
Di tengah isak tangisnya, ponsel di dalam tasnya bergetar intens dari nomor yang tidak dikenal. Isolde menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol jawab.
"Halo..." suaranya terdengar serak.
"Apakah ini Nona Isolde Ravelyn?" Suara seorang pria paruh baya terdengar dari ujung telepon, bernada formal dan tenang.
"Iya, benar. Ini siapa?"
"Saya Raymond Hale, pengacara pribadi dari mendiang Nyonya Berliana Blackthorne."
Isolde mengerutkan kening. Nyonya Berliana adalah sosok wanita tua konglomerat yang sangat dermawan. Sejak kedua orang tua Isolde meninggal, wanita tua itu selalu membiayai seluruh keperluan hidup dan kuliah Isolde secara rahasia tanpa pernah meminta imbalan apa pun.
"Ada apa, Pak Raymond?"
Hening sejenak di seberang sana. "Nyonya Berliana baru saja mengembuskan napas terakhirnya satu jam yang lalu di rumah sakit."
Dunia Isolde seakan berhenti berputar untuk kedua kalinya dalam semalam. Kehilangan satu-satunya orang yang tulus memedulikannya membuat dadanya kian remuk. "Apa...? Nyonya Berliana..."
"Ada surat wasiat darurat dan sangat penting yang harus segera dibacakan kepada Anda selaku pihak terkait," lanjut pengacara itu. "Sebentar lagi, sebuah mobil khusus utusan kami akan menjemput Anda untuk langsung menuju ke kediaman utama keluarga Blackthorne."
"Wasiat? Tapi saya tidak mengerti apa hubungannya dengan saya..." Isolde berbisik bingung.
Raymond menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan pada informasi terakhirnya. "Semua hal akan dijelaskan secara terperinci setibanya Anda d
i sana, Nona Isolde. Karena mulai malam ini, Anda secara resmi diwajibkan untuk tinggal dan menetap di Blackthorne Mansion."
Durante el tiempo que Mateo me buscaba por todas partes, yo ya me había reintegrado al mundo laboral en una empresa de Ciudad de Sol.La nueva compañía, al ver mi currículum, quedó asombrada. El director general me llamó directamente para negociar y me dijo que, si aceptaba quedarme, las condiciones las pondría yo.Yo solo sonreí con serenidad:—No pongo condiciones. Y además, puedo traerles al menos diez proyectos más.El director, impresionado, me ofreció un salario anual astronómico y se mostró dispuesto a cederme una parte de las acciones.Acepté con naturalidad. Al segundo día de ingresar, me puse manos a la obra y le quité varios proyectos a la empresa de Mateo.Incluido aquel software denunciado que su subordinado había mencionado: también fue obra mía.Como eran mis propios diseños, todo me resultó más fácil. Cuando se dieron cuenta, ya era demasiado tarde.En menos de un mes, prácticamente había absorbido todos los proyectos de la empresa de Mateo, lo que me consolidó por comp
Mateo no podía creer lo que escuchaba:—¡Es imposible! ¿Cómo puede ser? ¡Clara no me mentiría!En ese momento, su subordinado volvió a llamar:—Se... señor Díaz, ¿cuándo podrá venir la señora García a la empresa? Nuestro software fue atacado, toda la red está colapsada y los usuarios nos están inundando con quejas.—¡Que lo solucione el equipo técnico! ¡Busquen otro soporte! ¿Acaso no pueden vivir sin Sara?Mateo colgó furioso y se dirigió a la salida del hospital. Como el ascensor estaba ocupado, tomó las escaleras con prisa.Pero al bajar apenas dos pisos, escuchó unos gemidos descarados que provenían del rellano inferior:—Doctor Torres, ya he... he hecho todo esto por ti... ¿Podrías diagnosticarme algo más grave en mi historial? Dile a todos que esa Sara me provocó tanto que quise suicidarme...Una voz masculina jadeaba con impaciencia, mientras unas manos recorrían con avidez el cuerpo de la mujer:—Pequeña zorra... ¿por qué tienes que meter a Sara en esto? Con ser la amante ya te
Después de que llevaron a Sara al hospital, Mateo llamó dos veces, pero nadie contestó.Sumado a que Clara no paraba de llorar, diciendo lo triste que estaba y que quería hacerse daño, él no tuvo ánimos para preocuparse por cómo estaría Sara.No fue hasta una semana después, cuando la condición de Clara por fin se estabilizó, que Mateo regresó a casa.Al entrar, tiró la chaqueta a un lado sin pensar e instintivamente gritó hacia la sala:—¿Todavía no hay comida?Pero no hubo respuesta.Mateo notó que algo andaba mal. Frunció el ceño, recorrió la sala, luego el dormitorio, y solo después de dar una vuelta completa se dio cuenta de que no había nadie en la casa.Entonces cayó en la cuenta: Sara no estaba.Sacó su celular y volvió a marcar el número, pero le indicaron que el teléfono estaba apagado.Mateo maldijo en voz baja. Pensó que Sara estaba haciendo otro de sus berrinches y decidió ignorarlo. En su lugar, llamó a unos amigos para ir a beber.Después de varios días de borrachera y d
Pasé unos días más en el hospital. Durante ese tiempo, contacté a una empresa colaboradora en Ciudad de Sol con la que mi antigua compañía había trabajado. Envié mi currículum por la noche y concerté una entrevista para el mes siguiente.Luego fui al banco, retiré todos mis ahorros, cancelé la tarjeta y compré un boleto de avión a Ciudad de Sol. Era hora de dejar esta ciudad atrás, para siempre.Mateo y yo éramos compañeros de universidad. Nos asignaron al mismo grupo de estudio porque compartíamos ideas en las materias de especialidad.Mateo era un hombre de acción, pero le faltaba creatividad y talento para el diseño. El software que diseñaba solían quedar obsoleto rápidamente, sin competencia en el mercado.Mis diseños, en cambio, eran innovadores y adelantados a su tiempo. Gané varios concursos.Por eso no tardó en buscarme para emprender juntos. Los inicios fueron duros, pero nuestra complementariedad funcionaba, y él confiaba en mis ideas, así que pronto las cosas empezaron a mar






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.