LOGINWhen Eliot Duke, a self-made man crosses his path with Raquel Roswell, he thought that he finally has the woman of his dreams, but fate seems to play a dangerous game. Raquel is married—and he, the greatest Billionaire of his time had just become her illicit lover. ** What Raquel and Eliot shared in Bali was magical. It was more than their pleasure. It was more than the libido they had drowned themselves, and Eliot thought that Raquel was the woman made for him, but she disappeared without any trace, gone without giving him a chance to ask her to become his lover. When fate allows him to meet her again—Raquel was afraid, because she too longs for the man she meets on that beach. One of the greatest scandals. The betrayal of a wife, and a downfall of a man. Will Eliot’s love for Raquel overcome her betrayal, or is she worth going against his principles and his prime?
View More“Apa lagi ini, Areta?!”
Aku tertegun menatap Arlan. Kami kini duduk berseberangan, dipisahkan meja makan. Suamiku yang berusia tiga puluh tahun ini hanya memandangi map plastik berwarna putih susu di depannya. Di dalamnya terdapat bukti gugatan dan daftar berkas yang harus disiapkan untuk perceraian kami. Dia tidak menyentuhnya, apalagi membacanya. Ekspresi wajahnya datar, seolah apa yang aku sampaikan hanyalah kabar tak penting. Bahkan saat membaca koran, wajahnya lebih 'hidup' daripada saat ini.
Aku mendorong sebuah map berwarna kuning ke arah Arlan hingga tepat berada di depannya. “Nih, dibaca baik-baik, jangan sampai enggak paham,” kataku.
Arlan memandangku sejenak, dan sorot matanya jelas menunjukkan rasa tidak terima. Ia tidak pernah menduga bahwa aku bersungguh-sungguh dengan ancaman untuk mengajukan gugatan cerai. Pernikahan kami memang diwarnai pertikaian tiada ujung. Ia bahkan sudah memiliki kekasih untuk menghibur hatinya. Tapi bercerai? Arlan selalu ruwet dan berkelit.
“Kamu kenapa, sih?” tanyanya. Arlan mengerjap, tampak bingung.
Tuh, lagi-lagi dia mencari cara untuk menghindar. Mungkin aku terlalu cantik untuk dia ceraikan. Wajahku oval, mataku lebar, hidungku runcing mancung, dan bibirku tipis. Kata orang, wanita yang memiliki bibir tipis itu judes dan bawel. Namun, selama tiga tahun pacaran denganku, Arlan tidak pernah merasakan kejudesan atau kebawelanku. Sikapku pada Arlan lebih ke manja-manja manis, bak kucing yang menempel pada tuannya. Arlan baru tahu bibir tipis ini bisa mengeluarkan kata-kata pedas setelah pernikahan kami menginjak tahun kedua.
“Aku lapar, Retaaaaaa,” cetus Arlan, tidak memedulikan kekesalanku.
“Arlan! Kita baru membahas perceraian. Jangan mengalihkan pembicaraan!” seruku.
“Ya tapi aku mana bisa bisa mikir kalau lapar!” Suaranya ikut meninggi. Ia pulang dari kantor, berharap untuk memanjakan perutnya yang kosong, tetapi bukan santapan yang terhidang di meja, melainkan gugatan cerai.
“Aku enggak masak. Mulai sekarang, kita makan sendiri-sendiri dan tinggal terpisah!” kataku tegas.
“Loh, kita kan udah pisahan. Mau pisah gimana lagi?” Arlan menjawab dengan santai.
Aku menatap tajam. “Maksudku pisah rumah, bukan pisah kamar!”
“Loh, terus aku tinggal di mana, dong?” tanyanya, tampak bingung.
“Terserah!” balasku, merasa frustrasi.
Arlan melengos, menghembuskan napas kasar. “Kenapa enggak ke rumah Anya aja? Sekalian nikahan di sana?” tantangku, merasakan amarahku memuncak.
“Aku nggak mau serumah sama Anya.”
Aku mengerutkan kening. “Kamu udah pernah kumpul sama dia, kan? Kenapa nggak mau serumah?”
“Enggak!”
“Apa bedanya?” tanyaku.
“Nggak asyik. Nanti cepat bosan. Enakan di sini, kalau kangen atau kepingin ... ehm ... baru ke tempat Anya.”
“Arlaaaaaaaaaan! Kamu mau aku mati muda, hah? Teganya ngomong gitu!” Aku memekik dengan emosi memuncak, sementara yang diteriaki hanya meringis tanpa merasa dosa.
“Itu gunanya istri muda, Sayangku. Istri tua untuk keamanan dan kestabilan hidup. Istri muda untuk bersenang-senang.”
Aku sudah beberapa kali mendengar alasan itu. Tetap saja, saat mendengarnya kembali, dadaku terasa sesak. Sudah setahun pernikahan kami menjadi neraka. Pertengkaran demi pertengkaran mewarnai hari-hari kami, disebabkan oleh Arlan yang jatuh ke pelukan wanita lain. Padahal, selama ini akulah yang banyak berjuang. Sebagai agen di perusahaan sekuritas, aku menghandle klien-klien bermodal tebal, berharap mendapatkan tip yang lumayan.
Lumayan untuk apa? Bukan hanya untuk membeli baju, tas, atau alat rias, tetapi cukup untuk membeli sepetak tanah dan membangun rumah kecil di daerah eksklusif di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan. Gaji Arlan yang seorang ASN di Kota Tangerang tidak bisa menandingi penghasilanku. Mungkin itulah alasan utama Arlan mencari perempuan lain yang inferior. Di depanku, keluhan yang selalu dia ungkapkan adalah aku tidak menghargai dan mencintainya lagi. Tapi aku tidak terima dituduh begitu. Yang namanya selingkuh, tetaplah selingkuh.
Bukankah kami sudah berjanji untuk tidak menduakan pasangan? Mengapa sekarang Arlan ingin menikah lagi? Oh, aku nggak rela. Biar bumi berputar terbalik, aku nggak sudi dimadu!
“Kamu seharusnya senang aku bilang jujur apa adanya, nggak berbelit-belit kayak orang lain. Coba kayak si Anto itu, uh, pusing sendiri berbohong sana sini. Aku kan simpel. Mau begini, ya, aku bilang begini. Mau begitu, aku akan bilang seperti itu,” lanjut Arlan.
“Arlan! Cukup udah kamu menyiksaku dengan perselingkuhan, sekarang malah ngomong seperti itu tanpa merasa bersalah! Dasar lelaki hidung belang! Jamet!” Aku melanjutkan dengan menyebut segala binatang yang melata di muka bumi.
“Heh! Dengar, ya. Aku nggak salah kalau punya istri lagi. Justru kamu yang salah kalau menghalangi!”
Aku terhenyak ke sandaran kursi dengan lemas. Rasanya sudah putus asa untuk menagih janji lelaki itu sebelum menikah. Lelaki, tetaplah lelaki. Tampan dan sehat, hasrat Arlan seolah tak terpuaskan. Dan aku? Perempuan yang sebentar lagi melewati masa keemasan. Apa yang bisa aku berikan pada sang suami? Kami bahkan belum dikaruniai anak. Tanpa kusadari, air mata menggenang di pelupuk mataku, siap untuk meluncur ke pipi.
Arlan menatapku iba. Ia masih menyukaiku meskipun mulutku lebih pedas dari tamparan sandal. Selain wajahku yang cantik, tubuhku juga memiliki proporsi yang pas, sehingga sangat menggemaskan bila menggeliat di ranjang. Sayang sekali, kami belum mendapat anak meski sudah mencoba berbagai jamu dan obat medis, bahkan berulang kali mendatangi 'orang pintar'. Barangkali rahimku memang kering. Namun, Arlan tidak mau melepaskanku.
“Nggak usah nangis. Kamu kebanyakan tuntutan, sih, makanya sakit sendiri. Coba terima saja Anya sebagai madu. Masalah selesai, kan?”
Aku menghapus air mata dengan kedua telapak tangan. Cukup sudah, aku tak mau mendengar kalimat menyakitkan itu lagi.
“Jangan ngajak berantem! Nih, simpan daftarnya lalu disiapkan. Minggu depan harus kamu kasih aku!” Aku menegaskan sekali lagi permintaanku.
Aku sudah mendatangi Pengadilan Agama dan melakukan gugatan cerai. Bukti gugatan itu sudah kusertakan dalam map yang tergeletak di hadapan Arlan.
“Beneran aku enggak dikasih makan?” tanyanya.
“Enggak ada makanan! Aku capek!”
“Ya udah. Aku mau beli sate kambing. Kamu mau enggak?”
“Enggak!”
Arlan bangkit dari duduk lalu meraih kunci mobil, dompet, dan ponselnya dari atas meja. Ia berbalik begitu saja.
“Hei! Berkasnya dibawa, dong!”
“Nanti aja.” Lelaki itu terus melangkah tanpa menoleh.
“Enggak ada nanti! Bawa sekarang, sekalian baju-baju dan barang-barangmu!”
Mau tak mau, Arlan membalikkan badan. Keningnya berkerut. “Aku diusir, nih, ceritanya?”
“Harusnya aku nggak perlu ngomong, kamu udah tahu sendiri. Kalau udah digugat cerai itu, ya, harus keluar dari rumah ini!”
Arlan termangu sejenak, lalu mengangguk. Buat apa juga tinggal di sini kalau sudah tidak disiapkan makanan dan tidak bisa menikmati ranjang? Mungkin itu yang dia pikirkan. Ada baiknya dia pulang ke rumah orang tuanya di daerah Karawaci.
“Nggak perlu diusir, aku bisa pergi sendiri,” ujarnya, dengan nada yang dulu membuatku jatuh hati. Sekarang, sepasang bibir kemerahan itu justru membuatku mual. Aku melihat dengan mata kepala sendiri benda kenyal itu mendarat di bibir perempuan lain.
Cuih! Cuih! Jijik! Aku selalu ingin meludah bila mengingat adegan tak senonoh itu.
“Habis ini kamu mau ke mana?” Arlan balik bertanya.
Aku berkedip dengan keheranan. “Maksudmu?”
“Rumah ini, kan, harta gono-gini. Kalau aku keluar, kamu juga nggak berhak tinggal di sini.”
Kontan mataku memicing. “Kamu lupa uang siapa yang dipakai untuk membeli rumah ini? Bukan uangmu, kan? Mana andilmu, coba?”
“Aku, kan, bagian mengepulkan asap dapur. Kamu udah aku kasih jatah bulanan. Apa masih kurang? Biarpun uang kamu yang dipakai, tetap aja, harta yang dibeli saat pernikahan itu adalah harta gono-gini, nggak peduli siapa yang membeli.”
Aku membelalakkan mata. “Aturan dari mana itu? Aku nggak percaya!”
“Ya udah. Tanya saja sama pengacara kalau nggak percaya,” jawab Arlan santai. Sebenarnya ia hanya menggertak saja. Aturannya seperti apa, ia tidak memahami. Melihat Areta kebingungan, ia senang sekali.
“Kamu! Enak bener! Aku yang banting tulang buat membangun rumah ini, lantas mau dibagi dua! Mau kamu ke manakan uang bagianmu? Buat perempuan itu, hah? Sembarangan! Dia nggak merasakan perjuangan, tahu- tahu mau menikmati enaknya, gitu? Enggak bakalan! Ingat ya, sertifikatnya atas namaku!”
“Terserah. Tunggu aja apa kata pengacara.” Arlan mengangkat bahu sambil mencibir.
“Kamu! Kamu!” Aku benar-benar kehabisan kosa kata karena terlalu marah.
Arlan malah berjalan ke lemari pendingin dan memeriksa isinya. Ia mengambil piring berisi potongan buah mangga, lalu kembali duduk di kursi makan dengan santai sambil menyuap potongan buah. Segera kuambil piringnya.
“Ini manggaku! Ini bukan gono-gini!”
Arlan menghela napas panjang. Matanya berkilat marah. “Ya udah. Aku pergi sekarang! Mangga doang diributkan!”
“Silakan! Siapa juga yang melarang?” sergahku.
“Siapkan bajuku, masukin yang rapi ke dalam koper!”
Mataku langsung melebar. “Apa?”
“Siapkan bajuku, masukkan ke dalam koper merah yang ditaruh di atas lemari itu lho.” Arlan mengulang perintah dengan lebih pelan agar dimengerti oleh istrinya.
“Kamu waras, Arlan? Hah? Mana ada orang mau pindah ke rumah selingkuhan minta disiapin baju dalam koper?”
The next morning was a bliss. For Raquel, it was, but for Eliot, it isn’t.When she noticed the grim look plastered on his face, Raquel did not hesitate to ask, “Is everything’s alright?”Unlike her, Eliot was already fully clothed compared to the bareness they share last night, and the thirst they both patched up with flames. But his face seems to be I grave, grievance worries that she was oblivious about.Is it about last night? She don’t think so. When they did it, he doesn’t seems regretful, no remorse and lament that she could perceive as they make love to each other.If it is love making, and not just some sex he had been pursuit, because of his anger.“It’s my father.” Eliot brushed his hair, already messing the tangle knots that lay sprouted on top of his head. “Maids called, he had been diagnosed last night, and they said he is in the ER.”“Oh my god.” Worries flashed before her eyes. “Do you wanted to go to him? I can packed some things up, and let’s just grab some breakfast
“How long had I been out?” Eliot asked.So far, his conditions are getting better. He is already recovering from the worst scenario that Raquel feared he’ll fall once he lay there on that hospital bed.“Just a couple of days, but everything’s good.” She was busy peeling an apple as she glanced on her shoulder to look at him. “Jerome said that you can be discharge tomorrow, since you’re okay now, but they are still going to run some test, Eliot.”“Who’s Jerome?” A tiny bit of jealousy made his chest twitched.Raquel noticed it.“It’s the doctor, Eliot.” Raquel rolled her eyes.“I’m just making sure that no one’s trying to pursue you yet, Raq.” He joke, chuckling“Oh, don’t be absurd.” Raquel placed down the apple and the knife in the table and dried her hands. She grab the plate and walked near to his bed. “Are you still not going to believe me after I confessed?”“Of course, I do.” Eliot hold her hand. “Because I love you.”Their eyes meet.Raquel softly smiled at him, “And I love you
“I—” Raquel gulps. The awkward air made the atmosphere between them thickens. Even with David, she had never been this nervous, only with Eliot. Only with this man, whom she always wonder—“Why?”“Why?” Eliot looked at her.“Why do you wanted to help me?” She was straightforward. “…so bad?”Raquel didn’t know, but Eliot was like a breathe of fresh air, away from the abuse. He was the same stranger. Always carefree. Always the risk-taker. He was full of freedom, while she’s not. And she will not drag someone to the same hell just because she was chained there.Elliot is just…too precious to be contaminated by her toxic family.“And I wasn’t blind, I don’t want to assume, but your action speaks of a pursuant man.” She bit her lips. “And you know…I am married, I am no longer free, Eliot.”“Raquel…” Eliot took a deep breathe, before looking at her. “Would your doubt be compensated, if I told you that I like you?”“Don’t give me that crap, Eliot.” With him around, Raquel felt free expressin
Raquel knew for a fact that Eliot is somebody, a sin from that island she must forget, but her heart couldn’t. The memories of the night they shared would came back, on how much she moaned with pleasure, forgetting the marriage she was forced to, while they were together.Eliot Duke made her forget every pain, and the torment meant to made her suffer. When she rejected him, Raquel knew it ended, that the fate that was playing between them was already cut in loose. Not until seeing the great Eliot Duke in the flesh to the charity ball she had accompanied her mother.“Tired of forcing yourself to smile, Mrs. Smith?” Eliot’s voice filled her ears, and unconsciously, Raquel stepped away from him. “Am I really that scary, huh?”She hardened her resolve.Don’t do anything silly. Raquel was begging herself. Don’t do something that would only hurt you badly at the end. She reminded herself about what happened to David that night before the whole world knew that they had spend the night togeth
Yesterday, she thought that it would be Claire, but look who’s here, another woman named Janine.How can he have the nerve to bring different women inside? It somehow made her annoyed. To add up, Nancy’s taunts whenever she walked past by at her. “And speaking of the wife.” She would chuckled behind
CHAPTER 114: ABDUCTION, BETRAYED‘If you wanted to know about her. Come meet us, we’ll text the address.’That is what the text sent to Anna contain. It came from her mother, no, she is not her mother. It came from Mrs. Mason, who was persuading Anna to meet her to the address she sent. It is the same
CHAPTER 24: HIS ORDERS Raquel did not lost them. As she run to save herself from whatever trouble awaits for her, she never noticed the dead end in front. But it’s too late.She was cornered, and the fear that blossoms inside her chest doubled.“What an I going to do?” She whispered helplessly.Hopeles
CHAPTER 10: MARRIAGE FOR CONVENIENCE “Mom, I hated this dress! It’s too bright and ugly!” Grace groaned.Her shrill voice echoed. Stomping feet reoccurred afterwards with her nonstop complaint with the red dress she wore. But regardless of her disgust, she couldn’t do anything same with Raquel, who s
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews