تسجيل الدخولI thought he was a ghost from my past, but he came back with a marriage certificate and a billion‑dollar debt. He says I have to pay with my body—and my voice. “You’re in breach of contract, Mrs. Moretti.” Seven years ago, Dante Moretti was a broken sound engineer who broke my heart and vanished. Today, he’s the ruthless head of a global empire—and he just walked backstage to claim what’s his. Me. He brings a marriage certificate I don’t remember signing and a list of clauses that turn my world‑famous life into a gilded cage. He owns my label. He owns my jet. And he claims he owns my voice. Dragged to a fortress in Sicily, I’m trapped between a secret past I can’t outrun and a “husband” who looks at me with equal parts hunger and hate. Dante swears he’s the only thing standing between me and the monsters who want to buy my soul. But as the line between protection and possession blurs, I have to wonder: Is Dante Moretti saving me from the fire… or is he the one holding the match? He’s my greatest sin. My biggest secret. And now, he might be my only hope. ---
عرض المزيد"Seharusnya, kamu bilang dari awal kalau sudah pernah nikah, dan punya anak." Bumi berdecak kesal dan kecewa. Tatapannya berlari sejenak, pada seorang wanita paruh baya yang tengah menggandeng seorang bocah. Perkiraan Bumi, anak laki-laki tersebut baru berusia sekitar satu tahun, karena masih belum lancar berjalan.
Kiya menghela panjang. “Aku sudah punya rencana mau bilang, tapi—“
“Rencana?” putus Bumi kembali berdecak, sambil mengacak-acak rambut cepak yang baru saja dipotongnya. “Kalau aku nggak ada liputan di sekitar sini, aku nggak yakin kamu bakal bilang itu semua.”
“Mi, dengerin—“
“Aku kecewa, Ki.” Bumi kembali memutus ucapan Kiya, tanpa mau mendengar ucapan gadis itu. “Aku nggak tahu, apalagi yang kamu sembunyikan selain ini.”
“Nggak ada,” jawab Kiya cepat. “Aku berani sumpah!”
“Kemana ayahnya? Suamimu?”
“Dia … ada,” jawab Kiya menelan ludah. “Kami sudah cerai dan—“
“Aku nggak mau …” Lidah Bumi kembali berdecak, lalu membuang kasar napasnya. “Lebih baik, kita instropeksi diri masing-masing dulu. Kita … pikirkan lagi hubungan ini, karena aku nggak tahu mau dibawa ke mana.”
“Maksudnya?”
Bumi mengendik gusar. “Kita break dululah, Ki. Banyak yang harus aku pikirkan ke depannya kalau masih harus jalan sama kamu. Sorry.”
~~~~
“Gila!” Gilang tertawa sinis saat melihat Kiya benar-benar menandatangani surat yang dibuat pagi tadi. Tidak ada beban sama sekali saat Kiya membaca ulang seluruh isi kontrak yang sudah disepakati, lalu membubuhkan tanda tangannya. “Di kepala lo itu, isinya cuma uang, uang dan uang, ya, Ki!”
“Saya realistis, Mas.” Setelah menandatangani berkasnya, gadis yang bernama Saskiya Syahputri itu memberikan kertas tersebut pada Gilang. “Kalau pacaran sama Mas Gilang bisa bikin kerjaan berkurang, tapi uang saya jadi banyak. Kenapa, nggak? Lagian, Mas butuh saya buat meyakinkan pak Adi biar bisa megang Jurnal, kan? Jadi, anggap aja ini simbiosis mutualisme.”
Sejak putus dari Bumi dahulu kala, seluruh dunia Kiya berubah. Ucapan pria itu, membuat sudut pandang Kiya terhadap hidupnya berbalik 180 derajat. Kiya sama sekali tidak butuh pria untuk bersandar. Yang Kiya butuhkan hanyalah menjadi diri sendiri, dan bekerja keras untuk membahagiakan keluarga kecilnya.
“Selain matre, lo licik juga.” Gilang melihat dua buah tanda tangan Kiya di kertas yang berbeda. Setelahnya, barulah ia juga membubuhkan tanda tangan di tempat yang sudah tersedia di sana.
“Seengaknya, saya nggak ngerugiin orang,” sanggah Kiya sembari memberikan senyum manisnya pada Gilang. “Dengan adanya surat perjanjian ini, Mas Gilang untung, saya juga untung. Oia, kalau ada wacana nikah, jawaban kita harus sama.”
“Maksudnya?” Gilang menunda untuk membubuhkan tanda tangan pada berkas yang kedua. Menunggu Kiya menjawab pertanyaannya.
“Saya mau Mas Gilang jadi CEO dulu, baru kita nikah,” ucap Kiya yang baru saja memikirkan hal tersebut. “Dengan begitu—”
“Aduuh!”
Kiya terbelalak, dan segera berdiri dari tempat duduknya. Berjalan cepat ke arah pintu yang terayun ke dalam, setelah mendengar suara Kasih mengaduh dari sana. “Kasih?”
Kiya menarik handle pintu. Membuka lebar, kemudian keluar ruangan dan melihat ke sekitar. Tidak ada tanda-tanda gadis kecil itu di sana, tetapi Kiya yakin sekali keponakan Gilang yang berusia tujuh tahun itu baru saja ada di sekitar pintu.
Jangan-jangan, gadis kecil itu mendengar semua pembicaraan yang terjadi antara Kiya dan Gilang. Buru-buru Kiya berbalik masuk, dan menutup rapat pintunya. Selama ini, ruang kerja milik Adi tersebut memang tidak pernah tertutup, saat Kiya membantu Gilang mempelajari beberapa hal yang dikerjakan oleh kakak perempuan pria itu di perusahaan. Namun, mereka lupa bila pembahasan yang dilakukan kali ini adalah hal yang sensitif, sehingga lupa menutup rapat pintunya.
“Mas! Saya yakin Kasih barusan nguping obrolan kita.”
“Biarin.”
“Kok biarin?” Kiya bertanya dengan cemas. “Nanti kalau dia cerita sama bu Elok gimana?”
“Biar gue yang bicara dengan Kasih,” ujar Gilang tetap santai. Berbanding terbalik dengan Kiya, yang khawatir bila Kasih melapor pada sang mama, Elok Mahardika. “Kalau memang dia dengar pembicaraan kita, nanti biar gue yang handle semuanya.”
“Yakin, Mas?”
“Lo nggak denger yang gue omongin, apa?” Gilang berdecak karena Kiya masih saja terlihat khawatir.
Andai kecelakaan mobil itu tidak terjadi, Gilang mungkin tidak akan berakhir dengan rasa rendah diri seperti sekarang. Sampai-sampai, ia harus meminta Kiya, asisten pribadinya bekerja sama untuk meyakinkan papanya bahwa Gilang sudah berubah. Ia sudah tidak lagi bermain dengan perempuan-perempuan di luar sana, dan menjalin hubungan serius dengan Kiya. Mantan asisten pribadi Elok, yang sudah sangat dipercaya oleh keluarga Mahardika.
“Denger, Mas, denger.” Kiya juga balas berdecak, karena setelah mengalami kecelakaan tempo hari, emosi Gilang sedikit tidak bisa terkontrol. Padahal, pria itu dulunya terkenal ramah, dan sangat baik terhadap semua wanita, termasuk Kiya.
Akan tetapi, Gilang tidak berani macam-macam pada Kiya karena ada Elok di belakangnya.
“Sekarang, simpan berkas lo baik-baik.” Gilang menyodorkan berkas yang harus disimpan oleh gadis itu. “Jangan sampai ada yang tahu. Paham, lo!”
“Ya, pahamlah, Mas.” Kiya segera mengambil berkas tersebut, lalu beranjak menuju sofa, tempat tas kerjanya berada. Ia memasukkan berkas tersebut ke dalamnya, kemudian kembali menghampiri Gilang yang sedari tadi tidak beranjak dari meja kerja. “Apa Mas Gilang butuh sesuatu lagi?”
“Kenapa?”
“Kalau nggak ada, saya mau pulang.”
“Lo belum bisa pulang, kalau belum gue suruh pulang,” kata Gilang seenaknya. “Gue mau lihat semua arsip notulen rapat direksi.”
Kiya menarik napas dan menahannya. Gilang yang sekarang, sungguhlah menyebalkan. Keramahan yang dulu kerap ditunjukkan, kini sudah jarang terlihat karena mood pria itu selalu saja naik turun tidak menentu.
“Oke, Mas.” Saat menerima pekerjaan menjadi asisten pribadi, Kiya sudah tahu betul dengan resiko yang akan dihadapi. Tidak ada jam kerja yang pasti, karena Kiya harus siap sedia menerima perintah kapan pun itu. Namun, bayaran yang diterimanya memang sangatlah sepadan. “Saya mau ke toilet sebentar.”
“Hm.” Gilang mengibaskan tangannya pada Kiya, lalu beralih pada layar komputer yang penuh dengan data-data membosankan. Ia rindu bekerja di lapangan. Bertemu orang banyak, dan bersenang-senang tanpa batas seperti dahulu kala.
Akan tetapi, Gilang merasa rendah diri dengan keadaannya saat ini. Jika diperhatikan baik-baik, kaki Gilang sudah tidak bisa berjalan sempurna seperti dahulu kala. Sedikit pincang, dan masih belum bisa digunakan untuk berlari.
Saat penat tiba-tiba menyerang kepala, Gilang memutuskan pergi ke luar. Melangkah menuju dapur, untuk mengambil susu kemasan Kasih yang berada di lemari pendingin. Sekilas, Gilang melihat Kiya berada di teras dapur, tetapi gadis itu menghilang dengan cepat.
Penasaran, Gilang pun keluar dan mengikuti ke mana langkah Kiya tertuju. Dahi Gilang mengernyit, saat melihat Kiya berjongkok di balik pilar yang berada tidak jauh dari sudut kolam renang. Gadis itu sepertinya sedang menelepon seseorang.
Gilang mengendap. Berdiri di sisi yang berbeda dengan Kiya, menguping. Jika hendak menelepon, untuk apa sampai pergi jauh ke sudut kolam renang. Ditambah, Kiya juga berpamitan ke kamar kecil, bukan untuk pergi menelepon.
“Bu, tolong jemput Duta, ya? Aku kayaknya nggak bisa pulang cepat lagi, masih ada kerjaan.”
Duta? Siapa Duta? Kenapa harus dijemput dan dijemput dari mana? Gilang benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Kiya.
“Kalau ngambek lagi, tolong bilangin nanti hari minggu kita jalan-jalan cari sepeda baru.”
Semakin dipikirkan, Gilang semakin bingung dan tidak menemukan jawabannya. Duta adalah nama pria, sementara sifat ngambek … ada pada anak kecil.
Lantas setelah mendengar Kiya mengakhiri pembicaraannya, Gilang dengan semua rasa penasarannya menghadang gadis itu.
“Siapa Duta, Ki?”
“Mas Gilang!” Kiya reflek menghardik dengan kedua tangan terjatuh di atas dada.
“Siapa Duta?”
“Duta?” Kiya masih menetralkan detak jantung karena keterkejutannya barusan. Jika Gilang bertanya tentang Duta, itu berarti pria telah menguping pembicaraannya.
“Iya, Duta?” desak Gilang semakin penasaran
Kiya berdehem. Menegakkan dagu, dan berusaha tetap tenang di hadapan Gilang. Sebuah ketenangan, yang dipelajarinya dari Elok ketika menghadapi sebuah masalah. “Duta ...
~~~~
Hai, haiii ....
Saia terbitin kisah Kiya sama Gilang dulu, yaakk ...
Spin off dari Bukan Istri Sah dan The Real CEO. Hepi riding Mba Beeb~~
PS : Bisa dibaca terpisah
“I want you to keep singing,” he says. “In my house. In my studio. In my ear. I want you to stay long enough for us to rip your name off every page they stuck it on without asking. I want my enemies to hear your voice every time they close their eyes and know they failed to kill the only good thing that ever came out of what they did to my family.”It’s too much.Too honest.Too heavy.“And,” he adds, voice dropping, “I want to know what it feels like when you sing for me alone and not for a stage, or a contract, or a ghost.”The air between us crackles.My ribs feel too tight.“That’s a lot of wants,” I manage, my voice coming out rougher than I’d like.“Honesty,” he reminds me. “As requested.”He’s close now.One more breath, and we’ll be in each other’s air.I should step back.I don’t.“You,” he says softly, “what do you want, Eliana?”The way he says my name makes something low in my stomach clench.Freedom.Safety.Payback.All the big answers bottleneck in my throat.What comes
The next day is a strange mix of domestic and deadly.We spend the morning with Jace, combing through more emails and contracts, my anger given neat columns and color‑coded highlights. Victor postures. Rick squirms. Corsini’s shells keep circling like vultures in Armani.By lunch, my brain is mush.By early evening, Sofie has successfully convinced Bianca to let her “help” make pizza, which means there’s flour on every horizontal surface and at least one piece of pepperoni stuck to the ceiling.“You live in chaos,” I tell Bianca.She shrugs.“Chaos is better than silence,” she says. “Silence means someone is hiding.”I can’t argue with that.After dinner and a bath that involves more splashing than actual cleaning, Sofie finally collapses in a heap of damp curls and clean pajamas. I tuck her into bed, kiss her forehead, and stand there a little too long, watching her breathe.It’s become a ritual.Part prayer.Part reminder of why I haven’t tried to bolt over the fence again.When I f
By mid‑afternoon, the house feels like a pressure cooker.Thunder has rolled out to a low, distant grumble.The men in expensive jackets beyond the wall have, for the moment, decided honking their metaphorical horns is enough.Inside, we all pretend to be normal.Bianca bakes.Ava charts my blood pressure like it’s the stock market.Jace mutters to himself about IP addresses.Kael moves from room to room like a storm in a dark shirt, never raising his voice, somehow still making the air rearrange itself around him.And me?I’m back in the studio.Because if I don’t put this somewhere, it’s going to claw its way out of my throat sideways.I sit at the piano and stare at my hands.They hover over the keys.Hesitate.Every time I skirt too close to the lullaby’s progression, my shoulders tense.I told myself I wouldn’t give that song away again.Not for free.Not to an audience that doesn’t understand what it costs.But the melody is a splinter.Pressing under my skin.I exhale.“Rip it
Lockdown, as it turns out, is not quiet.It’s just…contained.I spend the next morning oscillating between wanting to punch walls and wanting to crawl out of my own skin.Breakfast tastes like cardboard.The coffee doesn’t help.Sofie is in rare form, ping‑ponging between the kitchen and the living room, demanding stories and songs, and “castle adventures.”Bianca keeps giving me looks like she can hear the buzzing under my skin.Ava corners me in the hallway after vitals.“How’s your breathing?” she asks.“Occurring,” I say.“In full sentences?” she presses.“Mostly,” I say.She hums, unconvinced.“You need an outlet that isn’t yelling at Kael or rearranging my pill schedule,” she says.I snort.“I have an outlet,” I say. “It’s called threatening to burn the music industry down.”“Verbal arson doesn’t count,” she says. “I meant something that burns adrenaline without burning you. Studio?”I hesitate.Then nod.“Yeah,” I say. “Studio.”She pats my arm.“Good girl,” she says, like I’m
He doesn’t give me long to enjoy my tiny victory.The clip keeps climbing all afternoon. Mia keeps pretending she’s not refreshing every ninety seconds. I keep pretending I’m not listening for his footsteps.By evening, the comments are a blur of guesses and theories.– * This is luna v, I’d bet my
The gatehouse feels like a stage someone built out of stone and bad decisions.It’s a small building just inside the outer wall—thick door, thick windows, thick air. A table, a few chairs, a bank of monitors showing grainy camera feeds from around the property.I’m not supposed to be here.Which is
The next morning, I woke up with a sore throat and a smile I don’t want to examine too closely.Mia bursts into the room without knocking because boundaries are for people who don’t share tour buses.“Emergency,” she announces, waving my new phone like a baton.“If that’s about me being canceled, I
By the time I stagger back to my room from the studio, my mouth still tastes like him.I scrub my teeth. Twice. It doesn’t help.Mia is sitting cross‑legged in the middle of my bed with a bag of chips she definitely bribed someone for, watching some game show in rapid‑fire Italian.She looks up, fr


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.