LOGINOn the third month after our breakup, my ex-boyfriend, Julius Rowe, pins me onto the bed and ravages me tirelessly. But the thing is, he used to be very gentle with me when it came to bedroom matters. Scared out of my wits, I try to flee from him. "Stop it! You weren't like this before!"
View MoreTawuran yang terjadi antara SMA Harapan dan SMK Bunga Bangsa berakhir di kantor Polisi. Penyerangan itu dipicu akibat salah satu murid SMA Harapan yang nyaris dilecehkan oleh murid Bunga Bangsa. Seluruh murid yang terlibat dalam aksi tawuran itu diseret ke kantor polisi, termasuk pemimpin penyerangan SMA Harapan. .
Laki-laki bertubuh tegap itu bernama Akmal Malik. Dia adalah otak dibalik penyerangan yang terjadi satu jam yang lalu. Akmal, si pemberontak yang tidak takut pada siapapun, kecuali Tuhan. Keadilan harus ditegakkan,itu adalah pikiran Akmal saat mengatur strategi penyerangan hari ini. Apalagi bagi Akmal– perempuan adalah sosok yang melahirkan peradaban.
Salah satu polisi yang mengurus kejadian ini melihat ke arahnya, miris sekali gadis yang mau pacaran dengan laki-laki pembangkang ini.
"Kalian tidak kami tahan, usia kalian semua dibawah umur. Tapi, kalian wajib lapor setiap hari," ucap polisi yang bernama Hendra.
"Dan kamu." Manik matanya mengarah pada Akmal, kakinya bergerak pelan menuju jendela menatap seorang gadis yang duduk diatas vespa sendirian.
"Kalau bukan karena gadis diluar sana, kamu mungkin habis dikeroyok mereka," lanjutnya.
"Dia pacar saya, pak" jawab Akmal.
"Ya sudah, saya persilahkan kalian pulang. Jangan sampai kalian kembali ke sini lagi, saya tidak segan menahan kalian disini."
"Siap. Terima kasih, pak." Ucap mereka serentak.
Derap langkah dua kubu itu terdengar seperti gemuruh, mereka semua keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan beberapa polisi yang terheran-heran dengan kelakuan anak sekolah jaman sekarang. Memangnya apa yang lebih baik dari berdamai.
Langkah mereka berhenti, diambang lorong dekat pintu keluar menuju parkiran. Billy– menahan langkah Akmal dengan satu tangannya. Laki-laki itu menatap keluar parkiran, menyeringai kecil di depan wajah Akmal.
"Itu cewek yang lo jadiin bahan taruhan itu, kan?" taya Billy.
"Bahan taruhan yang udah gue gembok jadi istri gue," balas Akmal.
"Boleh juga. Lo nggak ada niatan buat giveaway?" tanya Billy.
Akmal tidak terima, tangannya yang hendak memukul Billy ditahan Arjun dan Ando– sahabatnya. Anak SMK Bunga Bangsa yang lain pun bereaksi untuk menyerang Akmal, namun dicegah Billy dengan satu tangannya. "Calm dude."
"Gue bunuh lo," sebut Akmal tepat dihadapan Billy. Wajah keduanya begitu dekat, hidung mancung itu menegak sempurna dihadapan rivalnya. Nyaris berciuman. Sorot mata Akmal bisa menyalakan alarm tanda bahaya. Tidak ada yang boleh menyentuh kekasihnya.
Billy menepuk pelan pundak Akmal. "Sudah berapa kali tidur?"
"Brengsek!" Kepalan tangan itu mengudara tanpa turun, tangannya ditahan salah satu polisi disana. Akmal berdecak pelan, hampir saja dia ditahan lagi karena laki-laki brengsek seperti Billy.
"Kamu mau saya tahan lagi?" ancam polisi itu. Dengan emosi yang masih meradang, Akmal menepis kasar tangan pria itu, lalu beranjak meninggalkan mereka semua.
"Kalian semua bubar!" perintah polisi itu.
Segerombolan siswa itu meninggalkan polsek setempat, termasuk Arjun dan Ando. Mereka tidak kembali ke sekolah. Pihak sekolah sudah mengetahui aksi tawuran itu, sudah pasti esok mereka akan disidak habis-habisan oleh guru.
Berbeda dengan yang lainnya, Akmal sudah disambut kekasihnya dengan tatapan penuh kemarahan. Vespa kesayangannya dibawa gadisnya ke polsek, karena Helsa tahu Akmal tidak akan kembali ke sekolah.
Helsa Septian, sosok gadis yang sudah menemani Akmal selama dua tahun. Banyak orang mengatakan bahwa Akmal beruntung mendapatkan gadis seperti Helsa. Si penyabar, si yang paling gampang memaafkan. Soal kejadian tadi, Helsa yang menelepon pihak kepolisian tentang adanya tawuran di simpang SMK Bunga Bangsa. Helsa takut terjadi sesuatu pada kekasihnya, Helsa tidak mau Akmal terluka.
"Kamu tuh pantesan di kantin nggak kelihatan, Akmal."
"Ceramahnya jangan disini, sayang. Malu sama polisi," titah Akmal
"Pulang yuk, kasihan nih pacarnya lebam semua," tunjuknya pada lebam yang ada pada wajahnya.
Helsa berdecak kesal, melempar pandangannya ke tempat lain. "Aku pulang sendiri."
"Mau pulang sendiri atau aku gendong ke motor? Kamu nggak malu disini banyak orang," ancamnya. Akmal selalu seperti itu, bertindak seenaknya.
"Nggak!" tolak Helsa.
"Ok," singkat. Helsa menantang Akmal, laki-laki itu menggendong kekasihnya seperti karung beras dan mendudukkannya di jok motornya.
"Akmal–" pekik gadis itu saking terkejutnya.
"Kalau mau pacaran jangan disini," tegur salah satu polisi yang melintas parkiran.
"Bapak kayak nggak pernah muda aja," balas Akmal saat pria itu sudah jauh dari keduanya. Lalu, Helsa yang masih digendongannya terus memberontak untuk diturunkan, Akmal tidak menggubrisnya.
"Sudah, tenang disini." Akmal mengambil helm, lalu mengenakan pada Helsa.
"Terus kamu?" Helm itu milik Akmal, seharusnya Akmal yang pakai, apalagi dia yang pegang kemudi.
"Pacar aku lupa bawa helmnya, kalau dijalan ada apa-apa gimana? Aku mah nggak masalah, sayang." Helsa tersenyum tipis, hal sederhana seperti ini yang membuat dia jatuh cinta berulang kali pada kekasihnya. Helsa bahagia dengan segala kesederhanaan yang dimiliki Akmal. Tidak terlahir dari keluarga kaya raya bukan masalah bagi Helsa, Akmal tetap kekasihnya.
"Maaf aku marah-marah sama kamu, Al. Aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa, aku takut terjadi sesuatu sama kamu." Ungkap Helsa, pelupuk matanya digenangi cairan bening yang sebentar lagi akan luruh.
Akmal mengusap pipi itu, lalu memeluk Helsa yang sudah terisak. "Aku nggak apa-apa, Sa. Kamu lihat sendiri kan, aku bisa peluk kamu sekarang."
Helsa mendongak. "Bisa janji kan, ini yang terakhir? Kamu selalu buat aku panik,"pintanya.
Akmal mengiyakan permintaan kekasihnya, tapi dia tidak bisa berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama. Dia akan selalu dengan karakter bad-nya, sekeras apapun Helsa melarangnya. Akmal tetaplah Akmal, si pemberontak yang mencari keadilan untuk orang-orang yang pantas mendapatkannya.
***
"KELUAR!"
Itu suara guru olahraga SMA Harapan, pak Darwin. Guru paling kejam di sana, tidak ada yang berani menentangnya sekalipun itu kepala sekolah. Wajahnya tampan, terlihat baik, tapi jangan salah jika sudah marah.
"MAU NGAPAIN KALIAN?" tunjuknya pada Arjun.
"Bapak suruh kami keluar. Ya kami keluar," jawab Akmal
"MERAYAP DARI SINI!"
"KALIAN SEMUA!" teriaknya sekali lagi.
Suasana sekolah begitu ramai, pagi itu semua kegiatan pembelajaran dihentikan. Semua yang terlibat tawuran kemarin diturunkan ke lapangan dengan cara yang berbeda, yaitu merayap. Akmal sendiri yang mendahului, lalu diikuti oleh teman-temannya.
Dari kejauhan Helsa menatap ibah pada kekasihnya, dengan Bella yang setia disampingnya. Helsa tahu bahwa akan ada hukuman berat yang dilakukan pak Darwin. Akmal sudah berulang kali seperti itu.
"Sa, mau kemana?" tanya Bella saat melihat gadis itu memutar haluan.
"Kantin," jawabnya.
"Gue tunggu disini," ucap Bella.
Helsa melangkah pergi meninggalkan Bella sendiri disana. Bukannya Helsa malu, dia tidak tegah menyaksikan kekasihnya disiksa habis-habisan oleh pak Darwin. Kasihan Akmal.
***
Akmal menyeka keringat yang bercucuran pada pelipisnya. Wajahnya tampak lelah, bayangkan merayap dari lantai dua hingga ke tengah lapangan. Untung saja dia sempat sarapan.
Dia duduk pada bangku panjang dekat loker, hanya sendiri tanpa teman-temannya.
Sebotol air mineral dingin mendarat pelan pada pipinya, Akmal mendongak mendapati kekasihnya yang berdiri disamping.
"Sa ... Aku capek," adu laki-laki itu pada kekasihnya, dia lalu mengambil botol air dari tangan Helsa.
"Cengeng banget sih," cibir gadis itu.
"Kamu bukannya semangatin aku tadi, malah pergi gitu aja. Aku lihat."
Helsa mendengus kesal. "Kamu nggak lagi ada pertandingan futsal yang harus aku semangatin."
Akmal berdecak, lalu meneguk satu botol air tanpa henti. Dia tertegun saat Helsa menghapus peluh keringatnya, gadis itu selalu disampingnya saat-saat seperti sekarang.
"Kata pak Darwin, kita bakal di skors aja. Tapi belum tahu, lagi ada rapat."
"Al, ini yang terakhir. Bisa kan?"
"Aku nggak janji, Sa."
"Ya udah, nggak usah pulang bareng. Aku pulang sama Bella aja, atau nggak pakai taxi."
"Sok ngancam. Emang duit janjannya masih ada?" tanya Akmal. Laki-laki itu tahu betul jika Helsa tidak pernah membawa uang lebih untuk taxi, dia hanya membawa uang sekedar untuk jajannya saja.
"Ih, Akmal ..."
"Sini peluk. Aku capek, pengen bersandar sama pujaan hati." Ucapnya dramatis, dengan tangan yang direntangkan ke depan.
"Bucin teros ...." sindir Ando yang tidak sengaja turun dari rooftop sekolah. Loker memang tidak jauh dari tangga rooftop.
"Jomblo terus ..." balas Akmal.
"Dih, ngelunjak." Ujar Ando yang menghampiri keduanya. "Awas lo berdua, biasanya orang ketiganya setan."
"Eh, bentar ... Gue dong setannya," kata Ando menyadari posisi.
"Ya iya ... Mending lo cabut, sebelum uwuphobia lo kambuh," ketus Akmal yang tiba-tiba saja memeluk Helsa.
"Gue doain putus," celetuk Ando.
"Gue doain lo keluar dari sekolah," balas Akmal tak mau kalah.
"Akmal, kok gitu sih sama ando. Dia itu moodbooster aku di kelas," kata Helsa membelah sahabatnya.
"Nah loh, tarik kata-katanya Malik."
"Oh, jadi selama ini aku nggak ada apa-apanya dibanding si ceking satu ini?" todong Akmal berpura-pura marah.
"Ya nggak gitu ... Dia cuma pelarian," bisik gadis itu.
Akmal tertawa. "Kasihan banget, An. Sekalinya punya temen cewek, dianggap pelarian doang. Makanya punya cewek."
"Bener-bener gue dibully. Udah, mending gue cabut. Bisa stres ladenin lo berdua."
"Bye bye, An. Selamat sampai tujuan," ucap Helsa sambil melambaikan tangannya pada pemuda itu.
Akmal terus memeluk Helsa. Capeknya perlahan menghilang, keduanya kembali duduk di bangku itu. Sekeliling mereka sepi, tidak ada murid yang melintas disana. Akmal akan lebih leluasa dengan aksi bucinnya. Dibalik Akmal yang selalu memamerkan kemesraannya bersama Helsa, akan dirinya yang selalu ingin berduaan bersama gadis itu tanpa ada mengusik. Tidak heran jika mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama di rumah laki-laki itu.
"Jangan pergi, Sa. Aku cuma mau kamu. Disini terus sama aku."
A long while later, Julius finally replied hoarsely, "I'm sorry. I'm the one who's remained stuck in the past. Till now, I have yet to walk out of the darkness."I was also the one who told you that we'd be in a proper relationship this time, and yet I'm also the one who's making you suffer."Our bodies were still connected. As he remained glued inside me, Julius started to repent for his sins.I moved to nestle into his arms, trying my hardest to endure as the pleasure built up. My breathing was completely ragged at this point, and my body kept trembling as well."It feels so good, Julius… You're amazing…" I breathed out in a quivering tone as I lay in his arms. Then, I raised my head to look him in the eye. "You can unleash your true self with me, but at least give me a bit of time to catch my breath, okay?"…Since then, our relationship became more amicable. My words seemed to have triggered something within Julius. He began letting loose his possessiveness, jealousy, and n
Our chairs were placed side by side. If I were to scoot over just a little bit more, I'd be able to kiss Julius on the cheek.A smirk soon appeared on my face. Still, I pretended to look troubled."You're sitting so close to me that I can't even move my right hand around. How am I going to eat now?"Julius knew that I was left-handed, but he still decided to feed me with a spoon.I didn't continue kicking up a fuss. After all, James was still here with us. When James was done eating, he told us he'd return to his room before hurrying back inside. My gaze was trained on him the entire time, as I was afraid that he might stumble or bump into something. Only after I saw him make it back to his room safely did I continue eating.After filling my stomach with food, I stretched lazily, feeling very satisfied. Julius rose to his feet to clear the table and clean the kitchen. As for me, I began tidying the rest of the apartment.As always, we spent a wild night in bed. Julius seemed to
That man stayed in the master bedroom, which also happened to be Julius' room.When I was still in my first relationship with Julius, I'd stay in the guest room whenever I got mad at him. Whenever that happened, Julius would move to the guest room just to coax me.As time passed, the guest room became our private sanctuary. That left his master bedroom vacant.Once I moved out of Julius' apartment, he must have moved back into the master bedroom. Since that man was already living there, I knew what the truth actually was.If Julius was already in a relationship with someone else, why did he agree to get back together with me? Why did he bring me back to his place?He was just bullying me at this point, wasn't he? Was it so that he could get back at me for dumping him?A series of knocks came from the door at that moment, and soon, Julius opened it. "Don't stew in anger now." He caressed my face. "That was my cousin, James Henderson."Julius knew me far too well. In an instant,
Round two was rough, brutal, yet passionate at the same time. I had nowhere to run, so to speak.The toe-curling pleasure had already overpowered my senses, making me scream and wail the whole time. I remembered slurring Julius' name as well.Oh god… It was too satisfying, to say the least.I couldn't fathom how much effort Julius had put into restraining his urges to hide his true self from me so flawlessly. Now that he'd decided to release his pent-up urges in one go, I couldn't endure the consequences at all.The overwhelming pleasure made me feel like I was on the brink of death and didn't even give me a chance to catch my breath. All I could do was writhe in pleasure under Julius.Julius wiped my tears away for me. Then, he carried me into the bathroom for the third round. By then, I could barely lift a finger.When Julius was finally completely satiated, the hotel room was left in a huge mess. I snuggled under the covers before hugging him from behind, my cheek already plas
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews