LOGINShe is mine, now. Whether she wants it or not, she belongs to me. "Please... let her go. She is an orphan, have pity on her..." These words resonate in the room, a fragile plea against the unyielding will of a man. But Ariane is not a mere victim. She is a force of nature, a young woman with burning courage, who refuses to bend before anyone, not even before Auracio Ferrari. Auracio. That name makes every soul in the city shudder. A mafia boss, a man with a glacial gaze and undeniable power, whose mere presence commands silence and fear. Yet, in front of Ariane, he falters. She, with her disarming boldness, her eyes full of fire and defiance, does not tremble. She does not flee. She does not submit. She does not yield. No one has ever dared to resist Auracio Ferrari like she does. No one has ever destabilized him to the point of losing his composure and control. He wants her. Not out of simple desire, but from a burning obsession, a visceral need to possess what he cannot have. Ariane will become his. No matter the price to pay, no matter the pain, no matter the time. She belongs to him, body and soul, to him alone. He is ready to do anything for her. To destroy anyone who dares to lay eyes on her, to crush any threat, to break any attempt at escape. "I will kill anyone who shows interest in her." These words are a cruel warning, a promise of blood and fire. Because Ariane is no longer a mere woman. She has become his empire, his weakness and his strength, his hell and ... The fight for her freedom is just beginning..but one thing is certain: she is his, now.
View MoreMISTERI VITAMIN YANG DIBERIKAN OLEH SUAMIKU
BAB 1
"Amira, gimana rasanya setelah tinggal satu bulan di sini? Nyaman nggak?" tanya Mbak Dian, tetangga yang sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya.
"Alhamdulillah, nyaman, Mbak." Aku yang menjemur pakaian pun menjawab dengan berbohong. Sejujurnya, aku sangat tidak nyaman tinggal di sini.
"Hati-hati, lho," bisik Mbak Dian. Aku mengerutkan kening mendengarnya. Tidak sempat bertanya, Mbak Dian dipanggil oleh suaminya dan mengharuskannya untuk masuk ke dalam rumah.
'Hati-hati kenapa ya?' batinku sambil membawa langkah masuk ke dalam rumah karena aku sudah selesai menjemur pakaian. Aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, sebaiknya aku mandi dulu sebelum memasak.
____
"Astagfirullah! Bapak ngapain masuk ke kamar saya?" Aku terkesiap, dan spontan mengambil pakaian apa saja yang bisa menutupi bagian tubuh atasku. Karena aku baru selesai mandi dan hanya berkemban dengan handuk.
"Bapak nyariin Aldi, kirain Aldi ada di kamar, lagian kamu kalau lagi mandi pintunya dikunci, untung Bapak yang masuk, kalau orang lain gimana?" dalih Bapak mertuaku, dengan mata yang memandang ke arahku penuh arti, sekilas aku melihat Bapak mertua meneguk ludah. Ya Allah, kenapa aku merasa sangat ji-jik sekali melihatnya.
Untuk kesekian kalinya Bapak mertua menatapku seperti itu. Inilah yang membuatku tidak nyaman berada di sini.
"Keluarlah, Pak. Tidak ada Mas Aldi di sini." Aku memberanikan diri untuk meminta Bapak mertuaku keluar dari dalam kamar ini. Jujur, mungkin sekarang wajahku tidak bisa menyembunyikan rasa ketakutan. Ya, aku sangat takut saat melihat mata Bapak mertuaku yang tidak henti memandang ke arah bagian yang tengah aku tutupi dengan kain.
"Jangan malu-malu, anggap Bapak ini, Bapak kamu sendiri," ucapnya dengan ekspresi yang genit, lalu membalikkan badannya dan pergi dari dalam kamar. Aku bergegas menutup pintu kamar dan menguncinya. Dan melihat keatas nakas, karena sewaktu aku mau mandi, aku sudah mengunci pintu kamar dan meletakkan anak kunci itu diatas sana. Ya, aku masih sangat ingat kalau pintu kamar sudah kukunci.
"Terus ini ... apa kamar ini mempunyai anak kunci lebih dari satu?" Amira Khairunnisa namaku, yang sudah menikah dua bulan dengan seorang pemuda yang bernama Aldi Pratama. Aku terpaksa tinggal satu rumah dengan Bapak mertuaku karena permintaan Mas Aldi. Sebab, Bapak mertua hanya tinggal sendirian setelah bercerai dari ibunya. Mas Aldi mempunyai kakak perempuan yang sudah menikah dan tinggal jauh di Kota Batam.
Sebelum menikah dengan Mas Aldi. Aku bekerja sebagai sales promotion girl di toko kosmetik di sebuah mal di Kota Jakarta. Aku berpacaran dengan Mas Aldi kurang lebih satu tahun dan memutuskan untuk menikah. Kami menikah tanpa restu dari kedua orangtuaku. Karena Mas Aldi tidak punya pekerjaan tetap dan takut bila aku hidup melarat.
Mas Aldi hanya bekerja di bengkel. Tapi, aku yakin kalau Mas Aldi mampu membahagiakanku dengan hal-hal yang sederhana. Karena kami saling mencintai. Orang tuaku mengancam akan mengusir anaknya ini keluar dari rumah bila tetap mau menikah dengan Mas Aldi.
Namun, entah setan apa yang mendorongku untuk tetap menikah dengan Mas Aldi dan memilih diusir dari rumah. Mengingat itu, entah kenapa kadang aku pernah merasa sedikit menyesali karena membantah larangan orang tuaku. Sebab, aku merasa rindu namun tidak bisa bertemu dengan mereka berdua. Ini semua kulakukan demi Mas Aldi.
Tapi, aku tidak nyaman setelah tinggal bersama dengan bapaknya di sini. Aku lebih nyaman tinggal di kontrakkan dulu. Mas Aldi memaksa untuk tinggal di sini, karena aku sudah berhenti bekerja atas permintaan Mas Aldi, jadi tidak cukup bila harus membayar uang kontrakkan, karena sekarang Mas Aldi sendirian bekerja.
"Selain bisa menjaga Bapak, kita juga tidak perlu membayar uang kontrakkan, Yank." katanya waktu itu.
Sebenarnya, ini bukan Bapak kandungnya, melainkan Bapak angkatnya, karena ingin membalas budi, jadilah aku dan dia tinggal di sini untuk menjaga Bapak. Kalau di pikir-pikir, untuk apa menjaga bapaknya ini? Orangnya masih sehat karena masih berumur 50 tahun. Memang benar apa yang dikatakan Mas Aldi, kalau tidak perlu membayar uang kontrakkan, karena kami bisa tinggal gratis di rumah ini. Rumahnya besar, punya tiga kamar.
Namun, aku merasa sangat tidak nyaman bila setiap kali berpapasan dengan Bapak mertuaku. Tatapannya sangat menji-jikkan saat melihatku. Dan hari ini, aku semakin tidak suka dengan Bapak mertua, karena sudah berani masuk ke dalam kamar di saat aku baru selesai mandi.
Aku yakin, Bapak mertua pasti punya tujuan buruk. Aku harus lebih hati-hati lagi sekarang. Aku duduk di samping ranjang dengan perasaan gelisah, lalu mencari kontak suamiku dan menelponnya. Tersambung, namun sayang, ponsel suamiku ada di dalam kamar dan membuatku menghela napas panjang melihatnya.
______
Setelah memakai pakaian lengkap, aku merasa enggan untuk keluar dari dalam kamar. Aku sangat takut bila harus bertemu dengan Bapak mertuaku setelah kejadian tadi. Aku tidak sabar menunggu kepulangan Mas Aldi. Akan aku ceritakan hal ini padanya.
Tok! Tok! Tok!
"Amira!"
Suara Bapak mertua membuatku spontan memandang ke arah pintu, degup jantungku langsung berdebar-debar karena takut. Namun, aku harus memberanikan diri untuk membukakan pintu.
Setelah kunci pintu kamar kuputar, aku bergegas keluar kamar. Melihat pintu utama terbuka, membuatku langsung menghela napas lega.
"Tolong sapukan balsem ini di punggung Bapak." Bapak mertua berkata sambil melepaskan bajunya.
"Tunggu Mas Aldi saja, Pak. Amira harus masak karena sudah waktunya untuk makan siang," dalihku yang menolak untuk melakukannya. Sudah sering sekali aku menolak bila Bapak mertua meminta bantuan padaku.
Entah kenapa, aku tidak suka. Aku ingin membawa langkah menuju dapur. Namun tanganku langsung dipegang oleh Bapak mertua yang tersenyum menyeringai.
"Sebentar saja, kalau menunggu Aldi, pasti lama, Bapak sudah tidak tahan." Suaranya terdengar berat, aku bergidik dan spontan menepis tangan Bapak mertua agar terlepas dari tanganku.
"Maaf, Pak. Tidak bisa," tolakku lagi. Bapak mertua terlihat tidak suka saat aku kembali menolaknya.
"Amira, Bapak minta tolong kok ditolak?" Suara dari pintu utama membuatku menoleh.
"Kamu saja yang melakukannya, Mas. Aku mau masak, kamu pasti lapar 'kan?" Aku langsung membawa langkah menuju ke dapur. Ada rasa lega di dada ini saat melihat suamiku sudah kembali ke rumah.
_______
"Pakai baju dinas warna merah yang Mas beli kemarin, ya, Sayang?" pinta Mas Aldi, saat aku baru keluar kamar mandi.
"Lagi, Mas? Tadi 'kan sudah?" tanyaku. Mas Aldi mengangguk tanpa melihat ke arahku. Aku baru selesai mandi besar, dan Mas Aldi memintanya lagi. Apa begini rasanya jadi pengantin baru?
"Kamu capek, ya?" tanyanya, dengan mata yang masih menatap layar ponsel.
"Iya, Mas. Aku capek, tidak enak badan juga," keluhku.
"Ya sudah, istirahat saja, jangan lupa minum vitaminnya lalu tidur, baju dinasnya pakai saja, Mas suka melihatmu berpakaian seperti itu," ucapnya yang memahami keluhanku.
Aku langsung berganti pakaian, sesuai dengan permintaannya yang menyuruhku memakai pakaian dinas berwarna merah. Mas Aldi tersenyum dan menyuruhku untuk naik keatas ranjang.
"Mas, kita ngontrak lagi, yuk, Mas?" ajakku.
"Kenapa? Di sini 'kan enak,"
"Ummm ... aku tidak nyaman, Mas. Kita pindah, ya?"
"Tidak nyaman? Kenapa? Selama ini, aku lihat kamu baik-baik saja di sini." Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Mas Aldi pasti tidak percaya kalau aku menyebut bahwa bapaknya sudah masuk ke dalam kamar dan melihatku hanya menggunakan handuk.
"Kita di sini saja ya? Kamu tahu sendiri, gaji aku itu cuma bisa buat makan, mana cukup kalau harus mengontrak rumah, kemarin saja sempat berhutang sama yang punya kontrakkan,"
"Kita cari kontrakkan yang lebih murah saja, Mas-"
"Amira, tolong mengerti ya, Sayang?" Lagi, aku hanya bisa mengangguk dan menurut kalau Mas Aldi sudah berkata seperti itu.
"Mas, nanti ganti kunci pintu kamarnya, ya?" pintaku, Mas Aldi mengerutkan keningnya.
"Kan sudah ganti dua Minggu yang lalu, masa mau ganti lagi?" tanyanya, raut kebingungan terlihat jelas di wajahnya itu.
"Ummm ... ganti saja, Mas. Tolong ya?" "Baiklah, Sayang. Besok, Mas ganti kunci pintunya, kamu jangan lupa minum vitaminnya, ya? Terus istirahat," ucapnya sambil mengusap kepalaku.
"Libur dulu minum vitaminnya, Mas. Soalnya, kalau minum itu, entah kenapa, badanku jadi sakit-sakit setiap bangun pagi," tolakku halus.
"Namanya juga pengantin baru, makanya, vitaminnya harus diminum, biar tidak terlalu sakit-sakit badannya," ucapnya dengan senyum genit dan menggoda. Aku hanya menanggapi dengan senyum malu-malu.
Mas Aldi membuka laci dan mengambil botol vitamin, mengeluarkan dua butir vitamin berbentuk hati, dan menyerahkannya padaku, lalu dia mengambil air putih yang sudah tersedia diatas nakas.
Setelah aku meminum vitaminnya, aku diminta Mas Aldi untuk berbaring di lengannya. Aku menguap dan memejamkan mata, mungkin karena lelah, mataku langsung diserang rasa kantuk. Ranjang terasa bergoyang karena aku belum tidur sepenuhnya, namun mata sudah berat dan mata enggan sekali untuk terbuka.
"Sudah?"
"Sebentar." Aku mendengar Mas Aldi berbisik-bisik entah dengan siapa? Lalu aku tidak mendengarkan apa-apa pun lagi.
BERSAMBUNG..
SalvadorAll night, I took her in every possible position. Hmm, she's very resilient! She liked every position I took. In the early morning, she sleeps peacefully in my arms. I open my eyes and gaze at her for a long time. She's truly beautiful! Her chest is just how I like it; she has a fine face that gives her a very exotic charm. Our children will be very beautiful. I get out of bed because the door has been unlocked. I take my shower and come back to the room; breakfast is brought to us.ArianeWe're in the afternoon, the day after the wedding. Stretched out on the lounger next to my king. I watch my children with their companions like the she-wolf I am. They seem happy:Tara with her husband, who watches all the men who get too close to her. And she tries to make him jealous by sending pointed looks at some; they remind me of me and Auracio.Sarah, surrounded by her two husbands, each trying to attract her attention, and she, like a queen, makes her choice.Auracio junior with hi
MarianneI look at Ariane, my children, the others, and I realize that this little woman transformed my life. Before I met her, I was the unhappiest girl in the world. The moment I met her, my life changed. I didn't want to leave her. We met by force of circumstance, because of a shared misfortune.We might never have crossed paths again, but something told me to be with her. In my mind, her place was by my side. Being an orphan, she should have been placed in an orphanage. But I did everything to keep her with me. And our adventure began.Every time she told me she would marry a rich man, very rich, and I laughed in her face. Sometimes I told myself she spoke like that to tell me that later she could repay me for everything I did for her. She was so convinced of what she wanted!And today when I look around me... I see that she was right. She always believed in herself. She never neglected herself. She was poor and proud of it, but she told everyone who would listen that she wouldn't
Tara· Let me go, do you want to kill me?He keeps squeezing my neck; I'm starting to weaken. That's when he throws me to the ground.He towers over me with his height; I grab my throat, the idiot, he was going to kill me.He goes into the bathroom and calls me:· What are you still doing out there? Come remove the bullet you lodged in my thigh.I find him there, and he tears his pants. I look at his thighs; they're so strong!· May I know what you're waiting for? Come here.He opens a drawer and takes out the first aid kit. I open it and take out some tools to try to remove the bullet. Thirty minutes later, it was over. I bandaged him, and he changed clothes. All this in heavy silence.· Can we go have breakfast now?· Are you attached to me? Will you get off my balls?· But I can't get off your balls since they're mine. Now let's go eat; I'm hungry.· How do you expect me to walk with what you just did? Are you crazy? Get out of my room.· You're going to have to put up with me; I d
TaraI woke up in the middle of the night with a start. I heard noises coming from Mike's room. Curious, I got up and went to see what was happening. I quietly opened the door and what I saw made my blood boil. He was with two women, laughing and kissing them. Rage took hold of me. Without thinking, I went back to my room, grabbed my father's gun that I had slipped into my suitcase, and returned to his room. I aimed and fired. The bullet hit him in the thigh. The women screamed and ran away. He looked at me, stunned, with a mixture of pain and fury.· Are you crazy? he shouted, clutching his leg.· That'll teach you to be faithful to me, I replied calmly, despite my trembling hand.He got up, limping, and came towards me with murder in his eyes. I stepped back, but he grabbed me by the neck and lifted me off the ground.Chapter 188: A Stray Bullet (Continued)Tara· Let me go, do you want to kill me?He keeps squeezing my neck; I'm starting to weaken. That's when he throws me to the g
ArianeFabiola comes to greet me with her twin girls:· Good morning, Majesty!I burst out laughing.· Good morning to you too, Majesty.· No, today, you are the queen and we are at your place; at your place, no matter the day, you are the queen. I'm happy you're back.· Thank you very much, I'm ha
ArianeI watch him as he watches me; he's so beautiful, my man, my king, the father of my children. I never would have imagined, even in my wildest dreams, being this happy in life. The Lord has given me a wonderful man; he's crazy about me, and on top of that, he's a wonderful father! What more co
AURACIOI look at this beautiful woman, my wife. She is even more beautiful than the last time I saw her. Her hips have filled out more, her breasts have become fuller, and she seems truly fulfilled far away from me. My heart clenches a little when I realize this.I conducted my investigations unti
ArianeI take a glass and drink slowly. Marianne and Marco's son is six months younger than the twins, so he has found his playmates. They've gone off to explore the new house.The twin girls have gotten down from their father's arms, but they're still right on his heels; they've grabbed both his h
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.