Se connecterHe pulled back, his hands on either side of her face. “Look at me, sugar.” She opened her eyes. “I’m not a gentle man, Reena, but I can be. I’ll be gentle with you, I promise.” He ran the tip of his finger along her full lower lip, over the tiny scar that Simon’s violence had left there. “I’m not like – like him. I’d never hurt you. Not ever.” “I know.” “Let me take you to my bed and show you, babe. Let me love you.” **** Reena Mackay has been taken advantage of one time too many. This latest betrayal leaves her broke, betrayed, and possibly homeless. So when she’s offered a chance to split rent with Mitch Corrigan – a pro fighter desperate to escape a roach-infested hotel – she takes it. Survival leaves little room for caution. Mitch is dangerous by trade and forged by a brutal past. He expects to want women who look fearless. Instead, he’s blindsided by his attraction to Reena: soft-spoken, blue-eyed, and far stronger than she appears. He wants to protect her. Claim her. Keep her safe from a world that keeps hurting her. But Mitch knows fairy tales aren’t real... and women like Reena don’t choose men like him. He’s wrong. Reena understands violence better than he ever will, and her faith in people is hard-won courage. When a so-called Prince Charming shatters her trust, Mitch is the one who stands between her and the dark. The question is whether she’ll risk her heart one more time... and whether Mitch can be her forever, or at least her now.
Voir plusAda yang mengatakan bahwa kita tidak bisa melawan takdir, baik itu takdir baik atau pun buruk, bertemu dengan seseorang yang kita cintai atau benci, dan juga takdir untuk mendapatkan kesempatan hidup kedua atau harus mati meninggalkan dunia. Dan aku percaya bahwa takdir seseorang tidak selalu buruk, karna Tuhan memang maha adil, Tuhan akan adil dalam menuliskan takdir seseorang.
***
Kriiiiiiing, tepat pukul 06.30, alarm membangunkan Rina dari istirahat nya, mencoba meregangkan badan untuk menghilangkan lelah ketika seminggu yang lalu harus berkutat dengan ujian kelulusannya, dan hari ini keputusan besarnya telah ia tetapkan, ia akan melanjutkan pendidikan ke negera tetangga.
Penerbangan pukul 9 membuat Rina harus segera bersiap-siap jika tidak ingin ketinggalan pesawat, kemacetan kota membuat ia harus bangun lebih pagi. Setelah kedua koper dan tas lainnya telah siap, ia menyantap roti panggang dengan selai stroberi dan segelas susu kesukaannya.
“Benar, inilah akhirnya, aku akan keluar dari zona nyaman ini, meninggalkan ruangan kesayangan ku, dan akan kembali setelah beberapa tahun pastinya.”
Dengan helan napas yang dalam, Rina menutup pintu apartemen nya, untuk sementara ruangan itu akan dihuni oleh penyewa lain, Rina tidak bisa meninggalkan apartemen itu begitu saja, bukan hanya untuk merawat tapi ia juga butuh uang untuk bisa melanjutkan hidup di luar negeri, setidaknya uang dari sewa apartemen bisa membuatnya bertahan di luar sana, walaupun warisan kekayaan orang tuanya akan tetap menjamin hidupnya hingga tua, tapi memang dasarnya Rina yang adalah seorang pekerja keras, ingin selalu berusaha mandiri tanpa harus memanjakan diri dari uang orang tuanya yang telah 5 tahun meninggalkan dirinya sebatang kara itu, untungnya orang tua Rina adalah pemegang saham di beberapa perusahaan besar, di kelilingi oleh orang-orang berbakat dalam dunia bisnis membuat Rina tidak canggung untuk melanjutkan saham tersebut, bahkan ia bisa mempertahankan saham orang tua nya tetap stabil di beberapa perusahaan.
Dalam perjalanan menuju bandara, Rina memikirkan apa yang harus ia lakukan sesampainya di Malaysia, jadwal masuk sekolahnya masih berkisar 1 bulan lagi, ia harus bisa menyibukkan diri dengan hal-hal produktif, namun sampai sekarang ia belum tau apa saja hal produktif yang bisa ia lakukan disana, dan pada akhirnya gadis itu menyerah dan membuka ponselnya untuk melihat bagaimana pergerakan saham minggu ini, seperti biasa itu tetap stabil, kalaupun ada penurunan itu tidak akan signifikan dan akan kembali naik seperti biasa.
Sebelum memasuki ruang tunggu, Rina memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di sebuah toko buku, ia rasa mengahabiskan waktu untuk membaca buku bukanlah hal yang buruk, walaupun buku yang akhirnya ia beli adalah buku resep masakan karna ia yakin nantinya ini akan sangat berguna ketika ia harus hidup sendiri.
Pemanggilan dari pengeras suara telah menginformasikan bahwa penumpang dengan tujuan Negeri Jiran tersebut harus segera memasuki pesawat.
“Akhirnya, keputusanku untuk mencari suasana baru benar-benar akan terwujud, selamat tinggal untuk negara ini,” Rina bergumam kecil sambil membawa salah satu tas nya untuk segera menaiki pesawat.
***
Tepat pukul 11 gadis itu keluar dari ruang kedatangan Bandara Kuala Lumpur, setelah melihat sekitar, ia segera memesan taksi online untuk menghantarkan Rina ke apartemen yang telah ia putuskan untuk ditinggali selama ia berada di Malaysia. Tidak lebih dari 20 menit ia sampai di sebuah gedung yang cukup tinggi, gadis itu akan tinggal di lantai 5 untuk beberapa tahun ke depan.
Setelah mengucapkan terima kasih, Rina langsung membawa barang-barang ke kamarnya, walaupun faktanya perjalanan dari negaranya menuju Malaysia bisa dibilang cukup dekat, tapi dengan waktu 2 jam dalam posisi duduk membuat Rina merasa sangat lelah, apa yang salah sebenarnya? Kenapa ia merasakan lelah yang berlebihan hari ini, dan ternyata setelah memeriksa ponsel, didapatkan bahwa seharusnya ia mendapatkan siklus bulanan hari ini, tapi sepertinya itu agak tertunda, mungkin dikarenakan kesibukan dan tingkat stress Rina belakangan ini.
“Pantas saja aku merasa semua nya melelahkan, baiklah mungkin aku akan beres-beres nanti saja.” Gadis itu langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur queen sizenya. Dan tak berapa lama ia terlelap tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Rina terbangun ketika mendengar suara ponselnya berbunyi keras, dengan malas gadis itu mengambil hp yang berada di nakas tersebut, terpampang dua belas panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak dikenal dan satu pesan masuk. Rina bingung kenapa nomor tersebut meneleponnya hingga dua belas kali, apakah ada sesuatu yang penting? Tapi Rina merasa tidak mengenali nomor tersebut, akhirnya Rina mencoba untuk membuka pesan dari nomor yang sama.
aku tahu kau sangat mencintai uang, datang lah dan kau akan dapatkan pekerjaan yang cocok dengan latar belakang mu Rina dan tentu saja dengan imbalan yang setimpal. Dan dibawahnya terdapat alamat web yang menunjukkan lokasi tersebut dengan G****e Maps.
Rina bingung, kenapa pesan tersebut dikirim oleh orang yang seolah-olah seperti mengenal dirinya, memang fakta bahwa gadis ini sangat mencintai uang, dan itu merupakan salah satu alasan mengapa ia selalu bisa memilih perusahaan yang tepat untuk berinvestasi. Awalnya ia hanya akan mengabaikan pesan itu, namun pada kenyataannya ia benar-benar sangat penasaran dengan pesan tersebut. Padahal sangat banyak modus penipuan dengan iming-iming uang, hanya saja pesan tersebut terasa seperti lebih nyata, bahkan kalimatnya pun tidak mengandung unsur penipuan karena seperti benar-benar mengerti tentang pribadi gadis itu.
Sebelum memutuskan untuk mengikuti pesan itu atau tidak, Rina terlebih dahulu menyelesaikan pekerjaan menata segala barangnya dan tentunya mandi dan berganti pakaian, tidur dengan pakaian yang telah ia gunakan selama perjalanan mebuat badannya terasa lengket dan tentu saja itu merisihkan.
Rina baru ingat bahwa tidak ada yang bisa ia konsumsi untuk makan malamnya, dan akhirnya menjadikan Rina harus keluar untuk berburu makanan, bukan tidak mungkin untuk melakukan pemesanan makanan melalui aplikasi, hanya saja ia sekalian ingin berkeliling dan melihat-lihat lingkungan di sekitarnya sekaligus menghilangkan lelah perjalanannya hari ini.
Dan tujuan akhirnya jatuh kepada sebuah warung makan Padang yang ada cukup jauh dari apartemennya, membayangkan pedasnya rendang dan juga sayur daun singkong membuat cacing-cacing di perut Rina memberontak untuk segera diberi asupan. Pilihannya tidak pernah salah, nasi Padang memang yang terbaik, tidak perlu menunggu waktu lama, Rina menyelesaikan makan malamnya dengan damai, walaupun tempat makan itu dalam keadaan ramai, Rina tetap merasa kesepian selalu mengikutinya, sejak ditinggal oleh kedua orang tuanya, Rina selalu makan sendiri, bahkan di sekolahpun ia selalu makan sendiri ketika jam istirahat siang, bukan tidak memiliki teman, tapi Rina lah yang memutuskan untuk menjaga jarak dari orang-orang yang akan mendekatinya hanya karna uang dan kekayaan Rina, ia hanya akan berteman dengan sewajarnya, dan itulah yang membuat gadis itu terkesan lebih misterius.
Hidup sendiri memang bukan perkara mudah, apalagi tidak ada yang akan menjaga Rina sebagai seorang gadis remaja, namun pengalaman taekwondo yang cukup lama serta beberapa ilmu bela diri lainnya membuat Rina tidak terlalu canggung untuk tinggal sendiri bahkan untuk berjalan keluar di malam hari. Ia sangat beruntung, hobi nya akan ilmu bela diri menjadikannya gadis yang cukup tangguh di usianya yang masih muda.
Setelah selesai menikmati makan malam, Rina memutuskan untuk kembali ke apartemennya, dalam perjalanan menuju lantai 5, ia tidak sengaja bertemu dengan seorang ibu yang dengan kesusahan membawa beberapa tas belanjaan ditangannya. Karena merasa wanita itu memerlukan bantuan, Rina bertanya tujuan ibu tersebut.
“Maaf anda ingin ke lantai berapa?” sapa Rina dengan ramah.
“Lantai 5,” ternyata mereka tinggal di lantai yang sama. “Oh, saya juga akan ke lantai 5, mari saya bantu membawakan beberapa barang bawaan anda.” Wanita tersebut tersenyum kepada Rina sembari mengucapkan terimakasih.
“Apakah kau baru pindah ke sini? Aku sebelumnya tidak pernah melihatmu.”
“Ah, benar, saya baru pindah hari ini ke apartemen 502, mungkin ke depannya kita akan lebih sering bertemu, mohon bantuannya,” Rina berusaha memberikan kesan pertama sebaik mungkin sebagai tetangga, karna bagaimanapun tetangga adalah satu-satunya orang yang bisa kita harapkan bantuan ketika mengalami kesusahan.
“Oh benarkah? Saya tinggal persis di depan apartemenmu, di 504.” Terlihat kegembiran pada wajah wanita itu. “Mampirlah untuk sekedar makan malam gadis muda.”
“Terimakasih tawarannya, tapi saya baru saja selesai makan, mungkin kapan-kapan saya akan berkunjung,” Rina tidak ingin usaha menjaga tubuh idealnya di rusak dengan makan malam yang lewat dari jam yang telah ditentukan.
“Baiklah kalau begitu, siapa namamu? Saya Song Yehyun.” Rina sedikit bingung mendengar pernyataan wanita tersebut.
“Song? Apakah anda orang Korea? Saya Rina,” dan benar dugaan Rina, Nyonya Song adalah orang Korea yang berdomisili di Malaysia karena anak sulungnya sedang menempuh pendidikan di negara tersebut.
“Baiklah kalau begitu, saya pamit dahulu nyonya, senang berkenalan dengan Anda.” Setelah pamit, Nyonya Song lebih dahulu menghilang di balik pintu apartemennya. Sebenarnya Rina cukup canggung untuk berbicara dengan orang lain, ia tidak terlalu fasih menggunakan bahasa negara ini, namun karna negaranya masih satu rumpun dengan negara ini, maka ada beberapa perbedaan dalam bahasa, memang tidak sulit, hanya saja Rina masih merasa aneh dengan lingkungan barunya. Dan gadis itu akhirnya juga memutuskan untuk mengistirahatkan kembali tubuhnya malam ini.
A few hours later, Mitch rolled over and reached for Reena. His hand touched the mattress of her bed and he opened his eyes. She was gone, and he knew where he’d find her.He padded next door to her studio and stood in the doorway watching her. She was intent on what she was doing, totally focused, and he waited quietly for her to notice him, not wanting to disturb her if she was in some kind of artistic zen world. She dabbed some paint, stepped back, cocked her head. She looked up then and saw him standing there. At the sight of his huge chest and gorgeous face, her whole body heated up, yearning for him.“Hi,” she said. “How long have you been standing there?”“Less than a minute.”“You move quietly for such a big guy. It’s rather ninja-esque of you.”“Yeah, I’ve heard that before.” He hesitated. “Can I see? Can I see some of your paintings?”Reena looked up at him in surprise. He’d never expressed any interest in her work before, beyond asking how it was going, and she had just as
Two days later, Reena came home from a day of meetings at three different art galleries and then shopping. She stood for a minute, trying to recall the new door code that Mitch had insisted from his hospital bed that she set, then she punched it in. She opened the door, precariously juggling two bags of groceries with her laptop bag and a cup of takeaway coffee.From behind her, large hands appeared out of nowhere and grabbed the groceries. She gave a small scream and turned. “Shhhh. It’s OK, sugar. It’s me.”Mitch was standing there in the hallway. She stared at him, took in the bruising and damage on his cheek, the stitches on his temple.“What are you doing here?” she said, astonished. “You’re supposed to be in the hospital for two more days!”He smiled. “And I’m happy to see you, too.” “But…”“Hush, babe. Let’s get inside and we’ll talk, OK?”She followed him in, torn between being thrilled to see him and worried about him not being in the hospital. Mitch deposited the groceries
Simon’s hot, excited breath was on his cheek now; it was almost a caress. “Your front door code, Corrigan. After I choke you out and stomp on your fucking head, I’m going to go over to your place and visit Reena. Finish what I started, and bring a few friends with me. The next time you see that bitch’s face, she’ll look like a goddamn Picasso. All in pieces and every color under the sun. Oh, and of course, her cunt will be ripped wide open. That’s a given, right?”Reena’s face appeared in front of Mitch now, and a surge of love just washed over him as he realized that his reasons for fighting Simon had completely changed. It wasn’t for Mitch to get out from under Kirk’s thumb; it wasn’t about any lingering doubts that Al may have about Bridget’s debt being settled; it wasn’t even about revenge for Simon hurting Reena. Not anymore. What he was really doing in this fucking warehouse at midnight, rolling around on a cement floor, was all about getting Simon to stay the fuck away from Ree
Mitch sat on the stool, staring across the concrete floor at Simon. He was gratified to see that the fucker looked about as bad as Mitch felt. They were just going into round three, and Mitch couldn’t believe the amount of damage they had inflicted on each other after just six minutes of fighting: to the delight of the howling, jostling crowd, both men were hitting harder than he ever thought possible. His hands were already swollen and burning under the tape, and it barely helped that Nick was holding the chilled enswell against his knuckles. Adam leaned over him now, holding a cotton swab liberally soaked in epinephrine to stop the bleeding around Mitch’s eye and on his temple. “How you doing?”“Good.” Mitch blinked hard, trying to clear his vision. “How am I looking, cutman?”Adam grinned briefly. “Yeah, you do know that cutmen usually have way more medical training that an ex-boxer, right? I’m still not sure that I was your best choice for this job, Corrigan.”“I didn’t want any
Kirk Jensen narrowed his eyes as Mitch handed over a huge stack of cash. “How’d you manage to pull it together so fast, Corrigan?”Mitch met his stare. “My first quarterly sponsorship payment came through. So if you take into account this, plus the smaller payments I’ve been making on the interest
That Saturday night, Mitch was woken from a restless sleep. He sat up in bed, wondering what had disturbed him. He listened intently, then heard noise in the kitchen. He glanced at the clock, saw that it was just after 1 a.m.He got to his feet and quietly opened the door. Reena was in the kitchen,
A few days later, Mitch came home from the tattoo parlour. He was carrying containers of Chinese food, and all he wanted to do was get eyes on Reena, to make sure that she was OK.He punched in the new security code for the apartment door and walked in. He set the food on the kitchen counter, then
The first thing that Reena felt was pain. Her head and cheekbone ached terribly and she groaned. She raised her hand to touch her face, but something stopped her. She forced her eyes open and blinked in surprise. Mitch was lying down next to her, and he was holding her hand gently.“Don’t touch it,












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.