LOGINBeing a Cinderella, I was forced to marry a rich man who was crippled. But I was shocked when I met him. He made me realize that I deserved nothing but him. Now I don't care about his health situation. All I want is him by my side. That's all, I felt when I fall in love with him slowly, desperately and hopelessly. Until on the honeymoon, I finally found out, my husband who loves me dearly , met his first love who supposed to be dead. Will he leave me for her?
View More"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
Sometimes, An unpredictable incident can bring something blissful in someone's life. Some nightmares can show you the road to the dream, a beautiful dream when miracles happen. When her eyes met him, she didn't know that the love she had in her heart well-protected for Brian, would fade away. She never felt attracted toward anyone else after loving Brian. But when her eyes met his, she felt something different. Different than loving Brian, and waiting for him to come back to her and marry her.There was trust, a feeling of faithfulness, and love. Her heart screamed, she looked at the right one who will love her no matter what.Her heart accepted him, mentally, although she had a shock to see the person who was in front of her in the wheelchair.Something crossed her mind. It was, she is going to be the best wife. She doesn't care about his physical appearance.Probably, because her fate was connected with her, she was meant to love him, despite everything. Bad or Good. Worst or best.
“ Keep investigating the truth between Shayne's parents and Charlotte's parents. How did they kill themselves? Don't make another mistake." Having a cup of coffee only as his breakfast, he keeps pushing himself to learn about the truth. Shayne's words don't make sense. The way, she lied, he can't believe that Charlotte's parents would kill them. There has another story that is still folded. He needs to know about it.After all, he knows Charlotte in every aspect. He knows how much she can overthink everything. She won't feel better until she doesn't learn about the truth. She will force herself to believe or accept that her parents did something.And, Edward will never let it happen. He will be the one who will think about her past, her present, and her future. He will love all of her problems so that she can live the life, she deserves. “ Edward!" he turned back when he hears a masculine voice behind him.” Joshua!" ” Good morning. How is Charlotte?" He sat next to him and asked i
“ She is still sleeping?" Mrs. Rodriguez places the food containers on the low table before sitting next to Edward. Edward has been here with her since last night. She hasn't woken up yet because of her weak body.” Mmm.." “ Let's have breakfast. You should stay strong!" “ I don't have an appetite. I will have it later, Mom!" “ You didn't have your dinner last night. It's not good for your health. Son. You need to be strong for her.” “ I know! I will have breakfast later! Don't worry about it." Mrs. Rodriguez has nothing but to sigh. Police have taken the case seriously after Andrew and his father talked to them. Lisa has been arrested and Shayne is still on the run. She will be arrested anytime soon.And that's it. Shayne could do nothing or, but surely left a fear, a scar on his heart that if she is around, Charlotte will always be in danger.He can't let her do anything until he sees her behind the bar, rotting, dying with regret. His rough and dry lips touch her cold hand,
” Please! Edward! You can't do something like this no matter what! Think about Charlotte. What if she wakes up and learns that you have done something unforgivable? I beg you! Stay calm for a second. She needs you now!" Seeing how, Edward ordered his guards to bring Shayne, Mrs. Rodriguez couldn't help stopping her son with her might. The enraged Edward can even kill someone, she is aware of this. And no matter what she doesn't want to see him repeat himself with the same anger that he did when he was in high school. The calm, quiet Edward can cross his limit and it can bring disaster, she is perfectly aware of this.“ Mom! I beg you. Don't stop. You don't know what I am feeling now. I have lost her once, I thought maybe I would have to end up dying without her. That's why I trained those Stupid people, I spent millions of dollars to get an advanced security system. Yet, they failed. And everything happened because of that bitch. Mom! Everything is moving, fading inward, making me br
It is probably for the best... Charlotte gazes at Edward, who sleeps soundly with her nestled in his embrace. The early morning light transforms into a vivid, refreshing scene, amplified by the sight of her husband upon waking. His face, the first thing she sees each morning, sends her heart racing.
“Hello, Mrs. Charlotte Rodriguez!” Lauren waves as she steps away from a group of distinguished guests. Charlotte feels uneasy amidst the crowd, aware that her status as the daughter-in-law of the illustrious Rodriguez family makes her a focal point of interest. Lauren’s familiar face brings her com
“ Oh! You two are here.” Shayne approaches Edward and Charlotte, who are still debating their lunch options. The vibrant energy of the bustling restaurant contrasts with the intimate moment between the three. Charlotte’s face lights up as she spots Shayne. She stands up from her seat, her warm smile
“Charlotte! Wake up!” Her eyelids flutter as Edward's soft but insistent voice pulls her from sleep. She stirs beside him, having spent the entire night taking care of him. “Mm? Are you okay? What's wrong?” she gasps, panic setting in as she scans the dimly lit room, her vision still blurry from sle






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore