LOGIN“Jadi sekali pun kamu nggak pernah pacaran?” Intan hanya tersenyum anggukan kepala menjawab pertanyaan Salsa itu.“Pantasan kamu nggak begitu respon saat cowok-cowok menghampirimu di kantin tadi, rupanya itu yang menjadi alasanmu untuk nggak menerima tawaran mereka.” ujar Salsa.“Bukan nggak mau merespon dan menerima tawaran dari mereka, hanya aku kuatir maksud dari tawaran mereka itu untuk apa. Karena aku lihat cara mereka menawarkan tadi di kantin, sepertinya ada maksud-maksud tertentu yang dapat mengikat kita jika terima tawaran mereka itu.” tutur Intan.“Iya juga sih, mereka begitu karena ingin mendekatimu dan ujung-ujungnya bakal ngajak kamu jalan.” ucap Salsa.“Nah, itu kamu tahu. Kalau kita terima tawaran mereka di kantin tadi, pasti selanjutnya mereka akan bertujuan ke sana. Kita pasti bakal nggak enak menolak ajakan mereka, karena kita sejak awal telah mau menerima tawaran seperti halnya tadi akan mentraktir kita makan di kantin itu.” tutur Intan lebih memperjelas maksud dari
Namun sejak dulu hingga sekarang ini, Intan bukanlah gadis yang mudah untuk ditaklukkan, dia sama sekali tak terpengaruh dengan rekan-rekannya yang hampir keseluruhannya memiliki pasangan di kampus, bahkan ada yang sudah sering berganti-ganti pasangan. Baginya tujuan ke ibu kota dan ke kampus itu semata-mata hanya untuk menuntut ilmu, agar yang ia cita-citakan menjadi seorang dokter terwujud nantinya.Para rekan mahasiswi banyak yang iri akan kecantikan dan semua yang ada di diri Intan, namun itu bukanlah hal yang membanggakan baginya, ia tetap bergaul seperti biasanya tanpa membedakan teman yang satu dengan yang lainnya. Saat jeda mata kuliah, ia dan beberapa rekan mahasiswi duduk disebuah kantin yang berada di kawasan kampus universitas ternama itu.Melihat kehadiran Intan para cowok-cowok yang lebih dulu tiba di kantin itu seperti berebutan menghampiri sembari menawarkan segala sesuatu yang tersedia di kantin itu, namun Intan pintar untuk menghadapi semua itu dengan tidak menerima
Sebenarnya aku tak sampai hati pula melakukan semua itu, namun aku harus mengambil langkah itu demi kebahagiaan Dola bersama Bram, aku pun berfikir di samping Bram memang benar-benar mencintai Dola dan ingin membahagiakan mantan Guru ku itu, aku pun merasa tak mungkin membiarkan Dola menunggu ku hingga selesai kuliah, karena terlalu lama dan tak pasti pula kapan aku menyelesaikan kuliah ku yang baru aku jalani.Satu semester telah aku lalui di kampus, semua biaya yang memang telah naik 3 kali lipat dari biasanya, membuat aku tak mau bergantung terus pada Eva. Aku berfikir meskipun gaji yang aku terima dari Eva itu bisa menutupi biaya kuliah ku per semester ke depan, namun Eva terlalu besar memberi ku gaji tak sesuai dengan yang aku lakukan.Ditambah lagi dengan gampangnya Eva membelikan barang-barang mahal, seperti halnya ponsel nokia 6600 yang saat itu trend dengan layar yang lebar, berwarna dan juga telah dilengkapi kamera, waktu itu Eva membelikan ponsel itu seharga Rp. 2.900.000,-
“Aku harap kamu jujur, Bram. Kamu pernah bertemu dengan Ryan, ya?” tanya Dola, hal itu tentu membuat Bram terkejut, karena ia tak menyangka jika Dola akan bertanya begitu padanya.“Ryan? Ryan itu siapa? Sepertinya aku nggak pernah kenal dengan nama itu, apalagi bertemu dengannya.” jawab Bram yang sengaja menutupi jika dia memang pernah bertemu empat mata dengan ku, saat itu ia menyuruh supirnya untuk menyelediki siapa aku dan di mana aku tinggal.“Yakin kamu nggak berbohong?” tanya Dola lagi.“Iya, aku nggak berbohong. Memangnya Ryan itu siapa?” Bram balik bertanya berusaha menunjukan kalau dia benar-benar tak kenal dengan aku, karena memang sejak aku masih berada di rumah Dola, tak sekalipun Bram bertemu dengan ku. Bram hanya mengetahui nama ku saja dan cerita kedekatan Dola dengan aku dari Bi Lastri, setelah itu barulah ia mencari tahu tentang aku dengan menyuruh supir pribadinya.“Ryan itu mantan muridku, dia aku pekerjakan di rumah ini sebelum kamu datang. Dia benar-benar mampu me
Mereka kelihatan nyaman sekali berada di sana, meskipun cafe itu tidak berada di kawasan pantai, namun di bagian belakang cafe itu terdapat kolam ikan yang lebar dan indah, hingga melahirkan kesan sejuk dan betah duduk berlama-lama di sana. Ditambah dengan alunan musik yang selalu mengema mengisi seluruh ruangan terbuka cafe yang besar dan cantik itu.“Jadi kamu kerja di sini hingga larut malam, Ryan?” tanya Fitria.“Ya nggak lah, nanti jam 6 sore aku udah pulang karena aku kan harus jalani tugas yang diberikan Tante Eva untuk menjaga dan mengawasi kos-kosan mulai dari jam 7 hingga jam 10 malam.” jawab ku.“Oh, jadi di sini kamu hanya membantu hingga jam 6 sore aja?”“Ya Anggi. Itu pun tadinya Tante Eva nggak ngebolehin, tapi aku bilang jika aku nggak ada kegiatan di kos-kosan sepulang dari kuliah bisa buat aku nggak betah dan bosan. Makanya Tante Eva ngizinin tapi hanya sampai jam 6 sore,” tutur ku.“Asyik juga tempatnya, aku merasa betah duduk di sini!” seru Puspita yang merasa nyam
Bram mengajak kedua pembantunya itu ke luar dari dalam kamar Dola, agar istrinya itu dapat istirahat dan tidur nyenyak. Bram, Bi Lastri dan Bi Sumi menuju ruangan depan, sambil duduk mereka tetap memasang telinga kalau-kalau Dola terbangun dan muntah-muntah lagi.“Apa yang terjadi, Tuan? Tak pernah Nyonya seperti itu?” tanya Bi Lastri.“Entahlah Bi, aku juga nggak tahu penyebabnya. Saat aku mengikuti Dola tadi, tiba-tiba ia membelokan mobilnya ke sebuah night club.” jawab Bram.“Night club? Tempat apaan tu, Tuan?” tanya Bi Lastri yang memang baru mendengar istilah itu.“Night club itu tempat hiburan malam, di sana banyak sekali tersedia minuman-minuman beralkohol. Dola minum banyak sekali, hingga ia mabuk berat seperti itu. Untung saja aku mengikutinya, kalau tidak entah hal apa lagi yang bakal terjadi di dirinya sebab tempat itu juga banyak pria-pria nakal yang suka memanfaatkan wanita-wanita untuk keuntungan pribadi mereka.” tutur Bram.“Wah, berbahaya sekali tempat itu Tuan!” seru
“Aku udah nggak tinggal di sana lagi, Aldo.” jawab Cindy.“Kok bisa begitu? Kamu pindah ke mana?” Cindy tak segera menjawab ia mencoba menarik napas yang seketika terasa berat, ia tak tahu harus memulai dari mana, tiba-tiba saja ia dilanda keraguan.“Loh, kok kamu diam saja Cindy? Kamu nggak mau ya
“Lele goreng Ibu benar-benar lezat! Sudah lama aku nggak pernah menikmati makanan selezat yang Ibu masak ini,” puji ku, membuat Ibu tersanjung.“Memangnya di kota nggak pernah kamu temui ikan lele yang dimasak seperti yang Ibumu masak, Ryan?” tanya Ayah.“Ada sih lele goreng, tapi lele nya bukan le
“Berangkat jam berapa tadi, Nak?” tanya Ibu yang tak dapat menyembunyikan rasa kangen pada ku putra sulungnya.“Dari terminal bus jam 8 pagi, Bu.” jawab ku yang telah duduk di ruang depan bersama kedua orang tua dan adik-adik ku.“Oh ya Bu, Ayah! Aku berhasil meraih rangking 1 di kelas dan naik ke
Siang itu kembali aku bareng dengan Dola dari sekolah menuju rumah megah milik Guru cantik itu, setelah makan siang bersama dan beristirahat sejenak, aku menuju perkarangan belakang rumah lokasi galian kolam ikan yang dikerjakan para pekerja dari toko bangunan langganan Dola, galian itu benar-benar







