MasukDi lantai paling atas ternyata tempat kejutan utama, karena di ruangan itu terdapat meja-meja dan kursi layaknya tempat pesta orang-orang berduit, di sana juga telah tersedia berbagai macam makanan dan minuman serta dilengkapi dengan hiburan musik. Bram mengajak Dola duduk di bangku yang mirip panggung rendah seperti pelaminan, dan tak beselang lama terdengarlah alunan musik yang menuntun orang-orang yang hadir di sana untuk berdansa berpasang-pasangan.Ternyata sejak kedatangan Bram kembali ke kantornya itu, telah ia susun rencana sedemikian rupa untuk menarik simpati Dola, karena Bram memang telah siap untuk berjuang mendapatkan hati Guru cantik yang telah menjadi istrinya itu. Meskipun perlakuan Dola sejak hari pertama di rumahnya, belum ada sedikitpun menunjukan keakraban apalagi kemesraan, tapi bagi Bram itu tak jadi soal karena ia sadar harus banyak berkorban agar tujuannya tercapai.Selama berada di rumah Dola, Bram benar-benar tak seperti seorang suami atau Tuan di rumah itu.
Malam itu Bram makan malam hanya ditemani Bi Sumi, sehabis dari meja makan ia duduk kembali diruang tengah yang disana juga ada Bi Lastri dan Bi Sumi.“Sebaiknya Tuan Bram saja yang sampaikan langsung pada Nyonya Dola!” ucap Bi Sumi.“Aku masih ragu Bi, untuk bicara sama dia! Sejak sekembalinya dari Kota R, sikapnya masih saja dingin padaku. Aku kuatir dia nggak bakalan mau aku ajak ke kantor,” tutur Bram.“Coba Tuan bicara dulu! Siapa tahu dia mau,” ucap Bi Sumi lagi.“Ya nantilah Bi, soalnya dia baru pulang.” ujar Bram yang masih ragu untuk menemui Dola guna menyampaikan sesuatu padanya.Sejam kemudian Bram berusaha nekad untuk menghampiri Dola di kamar, meskipun rasa ragu di hatinya belum hilang, karena bisa saja Dola akan marah karena merasa diganggu.“Dola, boleh aku minta waktunya sebentar? Ada yang perlu aku sampaikan,” sapa Bram ketika telah berada di dalam kamar, Dola yang saat itu berbaring sambil membaca buku seketika duduk dan meletakan buku yang ia baca itu di atas ranjan
“Untuk Tante ketahui, sampai kapan pun jua aku nggak akan pernah benci pada Tante. Justru aku berterima kasih sekali atas kebaikan Tante selama ini, kalau nggak karena kesediaan Tante menerimaku bekerja di rumah dan memberiku uang dari hasil kerja ku itu, mungkin aku udah menemui kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan sekolah dari sejak awal. Jadi kalau aku menolak uang pemberian Tante yang sekarang, itu nggak lain karena aku nggak mau berhutang budi terlalu besar lagi pada Tante.” tutur ku, Dola hanya diam tertunduk menahan sesak yang semakin terasa di dadanya.“Sudah cukup lah kebaikan yang Tante berikan selama ini padaku, hingga aku akan segera tamat dari SMEA dan moga saja hasil akhir nanti nggak mengecewakan kedua orang tuaku di desa.” sambung ku.“Ryan, apakah di hatimu saat ini nggak ada sedikitpun lagi rasa sayang padaku? Apakah rasa cinta yang kamu miliki selama ini begitu cepatnya musnah, oleh karena kejadian yang menimpa hidupku? Kamu mungkin nggak tah
Minggu siang aku benar-benar tepati kata-kata ku mengajak Desy nonton di bioskop, inisiatif itu aku ambil terlebih dahulu sebagai penghilang rasa suntuk jika aku harus memaksakan berdiam diri di rumah, karena terlalu berat aku rasakan jika untuk melupakan masalah hanya dengan berdiam diri tanpa ada kegiatan apapun.Kalaupun Desy mengetahui masalah yang tengah aku hadapi, sepertinya tak bakal berpengaruh pada wanita cantik berkaca mata itu, yang terpenting saat itu aku yang ia cintai berada di dekatnya. Mungkin sepintas bisa dikatakan Desy hanya sebagai pelarian oleh ku, namun aku tak sebegitu buruknya juga memperlakukan teman wanita ku.Tujuan ku menonton di bioskop hari minggu itu hanya ingin melupakan kepenatan pikiran ku dalam beberapa hari ini, aku hanya tak mau masalah ku dengan Dola mengganggu aktifitas belajar di sekolah, seperti yang aku alami saat hari pertama masuk setelah masalah itu tiba, hampir tak ada sedikitpun konsentrasi ku mengikuti mata pelajaran di kelas.Kekuatira
Tiba di sekolah aku pun terlambat 10 menitan waktu pelajaran pertama dimulai, karena hal itu baru pertama kalinya aku lakukan, Guru yang mengajar di jam itu pun mengizinkan ku masuk ke kelas. Selama mengikuti pelajaran hingga jam istirahat tiba, aku kurang konsentrasi seperti biasanya, pikiran ku masih saja berkecamuk seperti halnya saat aku berada di kos.Di perpustakaan sekolah pun Desy yang senantiasa menemani juga merasa heran akan sikap ku yang cenderung lebih pendiam dari hari-hari biasanya, tentu hal itu menimbulkan keinginannya untuk bertanya pada aku yang duduk di sampingnya itu.“Kamu kenapa Ryan? Kok dari tadi diam saja? Kamu lagi nggak enak badan?” tanya Desy.“Aku nggak kenapa-kenapa kok, Desy. Mungkin karena kemarin pulang dari sekolah aku kehujanan, jadi badan sedikit nggak enak. Mungkin juga bakal flu ringan, tapi nggak akan sampai sakit kok,” jawab ku tersenyum tapi tetap menatap ke arah buku yang ada di genggaman ku.“Loh, kok sampai kehujanan?”“Aku buru-buru pulang
“Tapi...!” belum selesai Dola berucap, aku melepaskan lengan ku dari genggaman Dola, kemudian melangkah ke halaman rumah.Petir tiba-tiba hadir seiring kilat lalu disusul dengan hujan lebat, aku yang berjalan di halaman rumah itu otomatis basah kuyup diguyur hujan, aku berusaha melindungi tas sekolah ku yang berisi pakaian seragam dan buku-buku dengan mendekapnya di dada sambil berjalan agak membungkuk ke depan.“Ryan............!” teriak Dola di sela petir dan hujan lebat, aku menoleh ke belakang sejenak, lalu kembali melanjutkan langkah meninggalkan halaman dan pintu pagar rumah mewah itu.Dola pun jatuh pingsan dan beruntung Bi Lastri dan Bi Sumi juga ada di beranda rumah itu, hingga tubuh Dola keburu mereka sambut dan tak terjatuh ke lantai. Dola dibawa masuk dan direbahkan di dalam kamar, kedua pembantu itu secara bergantian menjaganya hingga Nyonya rumah itu kembali siuman.Dengan pakaian yang basah kuyup aku naik ke angkot menuju kos, aku tak peduli dengan tubuh ku yang terpent
“Hemmm... Aku nggak pernah ingin berkata yang nggak sejalan dengan hatiku, Tante. Apa yang aku lihat dan nilai, akan aku katakan apa adanya.” Dola menatap lekat ke wajah ku seolah-olah mencari kebenaran atas semua yang aku ucapkan, Dola kemudian tersenyum dan merasa yakin kalau aku benar-benar berk
“Baru juga hidung belum dicubit yang lainnya!” seru Aldo diiringi tawa kecil mereka.“Aku kira kamu nggak ada di rumah hari ini seperti biasanya,” sambung Aldo.“Ya nggaklah, aku kan udah janji sama kamu kalau malam minggu ini akan penuhi ajakanmu, meskipun sayangnya malam minggu ini hujan lebat.”
Sepulang dari sekolah kembali aku dibawa Dola ke rumahnya, rencana ku saat itu akan melanjutkan pekerjaan yang kemarin siang terbengkalai membuat saluran pembuangan air.“Ryan, sebelum melanjutkan pekerjaanmu yang kemarin ada baiknya kita makan siang dulu!” ujar Dola.“Ya Tante,” ulas ku yang baru
“Bagaimana dengan saluran pembuangan airnya, apakah udah benar-benar selesai dan siap digunakan?” tanya Dola sembari meneguk jus jeruk di tangannya.“Sudah Tante, barusan aku coba saat mandi di kamar mandi saluran pembuangan airnya sangat lancar,” jawab ku yang merasa cukup puas akan keberhasilan p







