MasukBumi Ganendra mengira wanita anggun yang menginjak wajahnya di gang kumuh itu datang untuk membunuhnya. Namun, tawaran yang dilemparkan Vania Valerine jauh lebih gila: menjadi "alat" pemuas sekaligus suami pengganti di ranjangnya! . Demi menyelamatkan nyawa adiknya, Bumi terpaksa membuang identitasnya sebagai petarung jalanan, dan menjelma menjadi Aksa Valerine—konglomerat paling kejam di Jakarta—dengan satu tugas: menghamili Sang Nyonya Besar, dalam waktu satu tahun. . Bumi tak pernah mengira, di malam pertama sandiwara dimulai, ia akan menemukan rahasia mengejutkan: Wanita itu masih perawan, dan dirinya... hanyalah binatang buas yang baru saja menemukan mangsa terlezatnya. "Boleh aku coba gaya lain, Nyonya? Aku ingin kau merintih memanggil namaku, sampai fajar tiba." "Kau pikir kau bisa menggunakanku sebagai bidak?! Jangan bercanda. Kau yang memintaku masuk, dan sekarang, kau tidak akan pernah bisa menghentikanku semudah itu." "Jadi, katakan.. siapa yang kau inginkan di dalam tubuhmu sekarang? Suamimu, atau bajingan jalanan yang sedang menghancurkanmu ini?" . Saat transaksi fisik berubah menjadi obsesi yang membakar, seseorang justru mengintai dari balik bayang-bayang, memastikan rahim Vania tidak akan pernah melahirkan seorang pewaris! . Ketika konspirasi berdarah mulai terkelupas, apakah Bumi—Aksa Valerine palsu—dapat keluar hidup-hidup dari kediaman Valerine?
Lihat lebih banyakVROOOMMM!Mesin V8 berkapasitas besar dari SUV hitam itu menderum garang saat Bumi menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban-ban besar berpenggerak empat roda itu mencengkeram jalanan tanah becek dengan perkasa, memuntahkan cipratan lumpur ke belakang saat mobil melesat keluar dari pekarangan rumah panggung Mak Uti.Di dalam kabin mobil yang kedap udara dan harum aroma interior kulit mahal, suasana terasa begitu kontras.Di kursi belakang, Mak Uti tanpa rasa bersalah sudah menyender santai sambil mengunyah renyah rangginang bawaannya. Kriuk! Kriuk! Suara kunyahan nenek tua itu memecah ketegangan, ditemani Bi Sumi yang sibuk menunduk, merasa tak pantas dan berhak, diselamatkan."Aduh, enak betul mobil preman ini," celetuk Mak Uti sambil mengamati interior mobil yang dipenuhi lampu-lampu LED remang yang elegan. Vania yang duduk di kursi penumpang depan tak tahan untuk tidak tersenyum tipis. Rasa cemas yang sempat mencengkeram dadanya perlahan terangkat. Ia menoleh ke arah Bumi yang sedan
"BUMI!" jerit Vania panik, refleks mundur menyudutkan punggungnya ke dinding!Insting liar Bumi sebagai mantan pangeran jalanan meledak seketika! Tanpa membuang waktu untuk berlari, Bumi mengayunkan tangan kirinya dengan presisi mematikan—melemparkan pisau lipat taktisnya membelah udara!JLEB!"AGHHH! TANGANKU!"Jeritan melengking pria pertama memecah keheningan dapur. Pisau lipat milik Bumi tertancap presisi menembus telapak tangan pria itu, tepat beberapa senti sebelum jemarinya sempat menyentuh bahu Vania! Darah segar menyembur keluar, membuat serangan kejutan musuh pecah seketika.Memanfaatkan kekacauan singkat itu, Bumi melompat menerjang bagaikan harimau kelaparan. Ia melintasi jarak beberapa meter dalam satu kedipan mata, mencengkeram bagian belakang kepala pria kedua yang siap menyerang, lalu menghantamkan wajah orang itu secara brutal ke tiang kayu utama rumah panggung!BRAK!Darah segar menyembur membasahi tiang kayu. Pria kedua itu bahkan tak sempat berteriak—bola matany
BRAK!Pintu depan yang terbuat dari papan kayu tipis itu nyaris copot dari engselnya setelah ditendang dengan sangat kasar dari luar. Tiga orang pria berjas hitam dengan postur tubuh kekar bagaikan lemari dua pintu langsung mendesak masuk, membawa aura intimidasi yang pekat dan bau parfum murahan.Pemimpin gerombolan itu, seorang pria bertubuh gempal berkacamata hitam tebal—meskipun di dalam ruangan yang remang-remang—meludah ke lantai papan sambil membawa linggis kecil di tangan kanannya."Heh, keluar kalian! Jangan coba-coba sembunyi! Serahkan perempuan tua itu sekarang, atau kami ratakan rumah reot ini dengan tanah!" bentak sang pemimpin dengan suara menggelegar.Ucapan si pemimpin berjas hitam terputus mendadak. Bukannya mendapati warga desa yang berlutut ketakutan, mereka justru melihat Bumi berdiri tegak di tengah ruangan dapur dengan sebelah tangan merangkul pinggang Vania yang berjaga di belakangnya. Di tangan kiri Bumi, sebuah pisau lipat kecil berkilau dingin.Tapi bukan i
Dapur panggung kayu itu serasa mendadak kehabisan udara. Keheningan yang menyergap terasa begitu pekat, ditimpa oleh gema tangis sesenggukan Bi Sumi yang masih menyungkur di atas papan kayu.Vania meremas kuat dada sweaternya, bernapas patah-patah. BRUK!Lutut Vania lemas seketika. Tubuhnya meluruh jatuh, namun dengan cepat ditangkap oleh sepasang lengan kekar Bumi dari belakang. Bumi mendekap erat tubuh istrinya yang gemetar hebat, menyandarkan kepala Vania ke dadanya."Anak kita... mati karena dia... Kenapa, Bumi?? Dia cuma sekretaris... Apa Sofia yang menyuruhnya?! Atau apa yang sebenarnya pria itu incar dari keluarga kita?!"Rasa heran dan murka berkecamuk di dada Vania. Selama ini mereka memang kerap mencurigai gerak-gerik Rey yang mencurigakan, tapi tidak pernah terbayang kalau pria itu nekat bertindak sejauh ini. Apakah Sofia yang mengendalikannya dari belakang, atau Rey sendiri yang memiliki agenda busuk tersembunyi?"Ssst... Tenang, Sayang. Aku tahu," bisik Bumi di dekat
Atmosfer di sekitar mereka mendadak membeku. Rey merasakan peluh dingin mulai merembes di balik kerah kemeja mahalnya. Tekanan yang diberikan pria di depannya ini, entah mengapa terasa jauh lebih pekat daripada Aksa yang ia kenal."M-maafkan kelancangan saya, Tuan. Saya hanya mencemaskan kesehatan
Bab 6: Bagaimana Aku Harus Menyikapimu? Dua minggu kemudian. Keheningan malam itu terasa begitu mencekam. Lampu-lampu jalanan ibu kota berkelebat cepat, menampilkan garis-garis cahaya gemerlap samar pada kaca jendela yang memantulkan semaraknya kehidupan malam kota Jakarta. Namun, di dalam kabin
Keheningan yang dingin kembali menyergap ruangan itu begitu riak gairah perlahan surut. Di atas meja operasi logam yang kini ternoda oleh bercak merah kesucian, Vania Valerine bergerak turun dengan tubuh yang masih sedikit gemetar. Ia merapikan gaun sutra hitamnya yang kusut dengan terburu-buru, m
Lampu operasi di atas mereka seolah memancarkan pendar panas yang mendidihkan udara steril di ruangan itu. Keheningan klinik pribadi ini mendadak terasa begitu tipis, digantikan oleh deru napas dua anak manusia yang beradu dalam jarak satu milimeter.Vania masih mencoba mempertahankan kendali. Deng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak