Suami Pengganti: Petarung Jalanan di Ranjang Nyonya Besar

Suami Pengganti: Petarung Jalanan di Ranjang Nyonya Besar

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-06-12
Oleh:  Nama Pena AnarBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
7Bab
11Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Bumi Ganendra mengira wanita anggun yang menginjak wajah hancurnya di sebuah gang kumuh, sedang menginginkan nyawa seseorang. Namun, tawaran yang dilemparkan Vania Valerine jauh lebih gila: menjadi suami pengganti di ranjangnya! . Demi menyelamatkan nyawa adiknya, Bumi terpaksa membuang identitasnya sebagai petarung jalanan, dan menjelma menjadi Aksa Valerine—konglomerat paling kejam di Jakarta—dengan satu tugas: menghamili Sang Nyonya Besar, dalam waktu satu tahun! . Bumi tak pernah mengira, di malam pertama sandiwara dimulai, ia akan menemukan rahasia mengejutkan: Wanita itu masih perawan! . Saat transaksi fisik berubah menjadi obsesi yang membakar, seseorang justru mengintai dari balik bayang-bayang, memastikan rahim Vania tidak akan pernah melahirkan seorang pewaris! . Ketika konspirasi berdarah mulai terkelupas, apakah Bumi—Aksa Valerine palsu—dapat keluar hidup-hidup dari kediaman Valerine?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1: "Hamili Aku."

Suara monitor jantung itu terdengar seperti lonceng kematian yang berdetak konstan di telinga Bumi Ganendra.

Pip... Pip... Pip...

Setiap bunyi yang keluar terasa seperti jarum yang menusuk kesadarannya. Di balik kaca ruang ICU yang dingin, seorang gadis remaja terbaring pucat dengan berbagai selang menancap di tubuhnya yang ringkih.

Laras. Satu-satunya alasan Bumi masih sudi menghirup udara Jakarta yang menyesakkan.

"Pak Bumi, ini peringatan terakhir," suara administrasi rumah sakit terdengar dingin di belakangnya, tanpa empati. "Jika deposit dua ratus juta rupiah tidak dibayarkan sebelum jam delapan pagi besok, kami terpaksa menghentikan bantuan alat pernapasan. Ada pasien lain di daftar tunggu yang lebih mampu membiayai fasilitas ini."

Bumi tidak menoleh. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Dua ratus juta. Bagi orang seperti dia, jumlah itu jauh di atas kesanggupannya.

"Jangan sentuh alat itu sedikit pun," desis Bumi, suaranya rendah dan penuh ancaman yang membuat petugas itu mundur selangkah. "Aku akan membawa uangnya malam ini. Sampai sepeser terakhir."

Bumi berbalik, meninggalkan lorong rumah sakit yang beraroma antiseptik, menuju satu-satunya tempat di mana nyawa bisa ditukar dengan kepingan rupiah: The Pit, arena tinju bawah tanah yang gelap dan bau keringat. Ia bertarung seperti kesetanan malam itu. Tiga lawan bertubuh raksasa ia tumbangkan dalam satu ronde masing-masing. Darah menghias wajahnya, namun otaknya hanya menghitung rupiah demi rupiah yang akan ia dapat.

Namun, saat ia turun dari ring dengan tubuh remuk, sang promotor hanya melemparkan seikat uang ke arahnya. "Ini bagianmu. Sepuluh juta."

"Hanya sepuluh juta?!" Bumi mencengkeram kerah baju si promotor. "Aku menumbangkan tiga orang!"

"Taruhan sedang sepi, Bumi. Ambil atau tidak sama sekali."

Bumi mengepalkan tinjunya, ingin sekali menghantam wajah licik itu, tapi ia tahu itu sia-sia. Dengan hati hancur, ia melangkah keluar dari arena. Sepuluh juta. Masih kurang seratus sembilan puluh juta lagi. Dan… Laras akan mati dalam beberapa jam jika dia tidak mendapatkan sisanya!

Tuhan... Kalau kau benar-benar ada.. Kumohon bantu aku!

........................

Malam mulai larut. Bumi keluar gedung arena tinju sambil mendongak.

Hujan turun tidak merata, hanya rintik-rintik tipis yang membawa aroma aspal basah dan sampah yang menggunung di gang sempit daerah Jakarta Utara.

Saat ia melewati gang gelap menuju parkiran tua, langkah Bumi terhenti. Bulu kuduknya meremang saat menyadari kesunyian di sana terasa tidak wajar.

Dari balik bayang-bayang kontainer berkarat, sesosok pria muncul, disusul kepulan asap rokok yang memuakkan. Kemudian satu lagi muncul di sisi kiri, dan tiga lainnya menutup jalan di belakangnya.

Mereka tidak bergerak seperti preman pasar yang gaduh; mereka berdiri diam, membentuk barisan yang rapat, menyisakan celah sempit yang bahkan tidak bisa dilewati kucing tanpa tersenggol.

"Apa mau kalian?" Tanya Bumi dingin. Tidak gentar sedikit pun.

Seorang pria yang berdiri paling depan melangkah ke bawah temaram lampu jalan yang berkedip sekarat. Ia menarik napas dalam dari rokoknya, memperlihatkan tato seekor macan yang merayap dari balik kerah baju hingga ke rahangnya. Pria itu menyeringai, menunjukkan deretan gigi yang tidak beraturan.

"Tidak perlu banyak bicara. Kemari, kau!" Teriak pria macan itu sembari membuang puntung rokoknya dan menerjang maju dengan sebuah pukulan mentah yang mengarah tepat ke pelipis Bumi. Namun, Bumi jauh lebih cepat.

Bugh!

Satu hantaman keras mendarat di rahang pria bertato macan. Pria itu terjungkal, giginya tanggal satu, menghantam tumpukan kayu bekas. Bumi menarik napas panjang, melepas kemejanya yang sempat terkoyak ke tanah, memperlihatkan otot-otot yang liat dan bekas luka yang malang melintang.

Dua orang lainnya, kemudian menerjang bersamaan, namun Bumi adalah predator di jalanan ini. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia merunduk, menangkap kaki salah satu lawan, dan menghantamkan sikunya ke punggung lawan lainnya hingga terdengar bunyi derak tulang yang mengerikan.

Setiap kali tinjunya menghujam lawan, ia membayangkan sedang menghantam takdir yang dengan kejamnya hampir merenggut satu-satunya orang yang ia cintai, hanya karena ratusan lembar rupiah. Dalam hitungan menit, tiga orang telah tumbang, menyisakan dua orang di hadapannya.

"Hanya ini?" tantang Bumi dengan suara serak.

Ia meludah ke samping, cairan merah kental keluar dari mulutnya, tapi ia yakin tidak akan mati malam ini. Tidak, di saat adiknya masih membutuhkannya.

Namun, senyum getirnya memudar. Dari balik bayang-bayang gedung tua, muncul sepuluh orang lagi. Mereka bukan lagi petarung jalanan biasa; mereka adalah algojo yang disewa khusus.

Balok kayu, rantai besi, dan pisau lipat berkilauan tertimpa cahaya lampu.

Bumi tahu, kali ini ia tidak akan keluar dengan mudah. Tubuhnya yang sudah kelelahan karena kurang tidur dan tekanan batin, mulai mencapai batas.

"Hajar dia sampai tidak bisa merangkak!" teriak salah satu dari mereka.

Pertarungan itu dalam sekejap menjadi brutal. Bumi dikeroyok dari segala arah. Ia berhasil menumbangkan empat orang lagi—mematahkan hidung satu orang dan meremukkan pergelangan tangan yang lain—namun jumlah mereka terlalu banyak.

Sebuah balok kayu menghantam punggungnya, disusul tendangan keras di perutnya yang membuatnya tertekuk.

Bumi jatuh berlutut. Rantai besi segera melilit lehernya, menariknya ke belakang hingga wajahnya menghantam aspal yang kasar.

Ia menyerah pada rasa sakit, bukan karena lemah, tapi karena jiwanya sudah terlalu lelah bertarung sendirian.

Bumi diseret tanpa ampun. Tubuhnya yang penuh memar dan luka robek dipaksa menyerah pada gravitasi. Pandangannya mulai kabur, dunianya berputar di antara rasa sakit yang menusuk dan bayangan wajah pucat Laras di rumah sakit.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah yang halus membelah keheningan gang. Sebuah Rolls-Royce Ghost berwarna hitam legam berhenti tepat di depan kerumunan itu. Pintu belakang terbuka perlahan, mengeluarkan wangi bunga yang sangat kontras dengan udara pengap dan amis, di gang itu.

Seorang wanita turun, dan seorang pengawal dengan sigap memayunginya dengan payung hitam besar, meski hujan hanya rintik kecil.

Wanita itu mengenakan gaun cocktail hitam yang elegan namun memiliki potongan rendah di bagian dada, yang membalut tubuhnya yang ramping. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan leher jenjang yang dihiasi kalung berlian yang harganya mungkin bisa membeli seluruh blok gang ini. Kehadirannya adalah anomali di gang kumuh ini.

Klik. Klik. Klik.

Suara stiletto hitam setinggi sepuluh sentimeter itu beradu dengan aspal, mendekat ke arah Bumi yang masih terkapar.

Wanita itu berhenti tepat di depan wajah Bumi. Tanpa ragu, ujung heels tajamnya menyentuh pipi Bumi yang berlumuran darah, sedikit menekannya hingga Bumi terpaksa mendongak.

"Apa yang kalian lakukan?" Suara wanita itu rendah, dingin, namun memiliki nada otoritas yang mutlak. Matanya yang tajam menatap para preman itu dengan jijik. "Kenapa kalian menghancurkan wajahnya? Betapa sulitnya aku mencari wajah yang semirip ini, postur semirip ini... tapi kalian malah menyentuh wajahnya. Dasar orang-orang bodoh."

Para preman itu mundur dengan wajah pucat, seolah-olah wanita di depan mereka adalah penguasa maut yang agung.

Dengan satu lirikan matanya, wanita itu memberi perintah tanpa kata. Dua pengawal berbadan tegap segera menarik Bumi, memaksanya berdiri meski lututnya gemetar hebat.

Bumi menatap wanita itu dengan mata setengah terbuka. Wangi parfum mawar yang sangat mahal menyergap indra penciumannya, menggantikan bau anyir darah.

Wanita itu—Vania Valerine—mengulurkan tangannya yang halus. Jemarinya yang dingin mengelus rahang Bumi yang kotor oleh debu aspal, lalu jempolnya mengusap bibir Bumi yang pecah.

"Hanya butuh sedikit perubahan, dan kau akan menjadi tiruan yang sempurna," bisik Vania pelan, hampir seperti desahan yang menggairahkan sekaligus mematikan.

Bumi terbatuk, mencoba mengumpulkan sisa tenaganya. "Siapa... kau? Kalau kau mau menagih hutang, aku butuh... waktu seminggu lagi."

Vania tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti denting gelas kristal. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga tubuhnya yang harum hampir menempel pada tubuh Bumi yang kotor dan bersimbah darah.

"Aku tidak butuh uangmu, Bumi," bisik Vania. "Aku justru malaikat yang akan memberimu uang. Uang yang sangat banyak!"

Bumi menyeringai getir, menatap mata elang di depannya. "Malaikat?! Jangan membuatku tertawa. Malaikat tidak akan muncul dengan tinju, dan makian, kan?"

Vania tidak memedulikan sindiran itu. Wajahnya tiba-tiba berubah sangat serius, menatap lurus ke dalam manik mata Bumi. "Aku tahu kau butuh uang yang sangat besar malam ini juga—jumlah yang tidak akan pernah bisa kau dapatkan, bahkan jika kau memilih mati di dalam ring busuk itu, Bumi..."

Seketika, rahang Bumi mengeras seiring dengan denyut kemarahan yang beradu dengan keputusasaan di dadanya. Ia tidak punya waktu untuk menebak bagaimana wanita kaya ini tahu kondisinya.

"Bangsat..." Bumi tertawa getir, suara yang terdengar lebih seperti geraman hewan terluka. Ia menegakkan bahunya yang ringsek, mencoba mengikis dominasi mutlak dari wanita bergaun mewah di hadapannya.

"Langsung saja, Nyonya Besar. Tidak perlu bertele-tele," desis Bumi parau. "Apa yang harus kulakukan?"

Vania tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah maju satu milimeter lagi, membiarkan aroma mawar mahalnya menginvasi sisa napas Bumi yang memburu.

Dengan seulas senyuman dingin yang teramat seksi sekaligus mematikan, Vania berbisik tepat di depan bibir Bumi yang pecah,

​"Hamili aku."

……………………..

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Nabil Crb
Nabil Crb
Kk anar pindah goodnovrl ya? Semangat kk anar. Selalu suka buku kk
2026-06-12 12:42:41
0
0
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status