LOGINAku dimaki dan diperlakukan tidak manusiawi di rumah Om ku sendiri oleh Tante Dewi, hingga aku memutuskan untuk mencari kos-kosan dan tinggal di sana demi melanjutkan pendidikanku di kota itu. Untuk menutupi kekurangan kebutuhan sehari-hari, aku rela menjadi kuli angkat di pasar sepulang dari sekolah. Meskipun hidup pas-pasan namun aku lebih nyaman ketimbang harus tinggal di rumah Om Ramlan, namun masalah kembali datang ketika aku terjebak oleh birahi liar Bu Dola Guruku sendiri hingga membuat aku ketagihan untuk selalu melakukannya setiap kali Bu Dola mengajakku berhubungan badan. Masalah semakin runyam ketika hadir rasa nyaman di antara kami, hingga tumbuh benih-benih cinta. Akankah hubungan gelapku dengan Bu Dola terus berlanjut? Atau aku hanya sebatas pelampiasan nafsunya saja karena Bu Dola diketahui telah bersuami?
View More“Praak..! Praang..!”
Suara piring pecah yang berasal dari ruangan dapur di mana di sana terdapak rak piring dan gelas, aku hentikan sejenak menyuap dan mengunyah nasi di dalam mulutku.
“Wah..! Apa yang terjadi di dapur? Sepertinya suara piring yang pecah itu bukan karena terjatuh melainkan dibanting?” gumamku dalam hati.
Aku yang masih berada di meja makan tak jauh dari dapur itu merasa penasaran, pasalnya tadi yang ada di dapur itu hanya Bi Asih seorang pembantu di rumah mewah milik Om ku itu.
“Enak aja makan minum di rumah ini secara gratis! Apa dia kira hidup di kota gampang!” terdengar suara wanita mengomel dan itu bukan Bi Asih melainkan suara Tante Dewi.
Aku yang tadi bermaksud berdiri dan menuju ruangan dapur ingin melihat apa yang terjadi, tiba-tiba urungkan niatku itu. Selera makanku tiba-tiba hilang dan akupun menyudahi makan siang itu, lalu beranjak ke teras rumah dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
“Perasaanku jadi nggak enak, marahnya Tante Dewi tadi pasti bukan ditujukan pada Bi Asih, pasalnya hanya aku yang saat itu makan siang,” gumamku dalam hati sembari menatap kosong ke arah halaman.
Aku merasa semakin tidak nyaman duduk berlama-lama di teras itu, hingga aku memutuskan untuk ke kamarku yang berada di lantai atas. Setibanya di kamar, aku baringkan tubuhku di ranjang berharap perasaan tak nyaman itu hilang.
Namun setelah beberapa saat berbaring bahkan memejamkan mata, perasaan tak enak hati itu masih saja menyelinap di hati hingga aku memutuskan untuk bangkit duduk di ranjangku itu.
“Aku yakin amarah Tante Dewi tadi ditujukan padaku, pasalnya sejak aku datang dan tinggal di sini Tante Dewi kerap menunjukan sikap sinisnya saat berpapasan jalan atau duduk bareng di dalam rumah ini,” aku berbicara sendiri di dalam kamarku itu.
“Tapi kenapa sikap Tante Dewi itu hanya terlihat ketika Om Ramlan nggak ada di rumah? Atau Tante Dewi emang takut dengan Om hingga sikap sinisnya itu ia tunjukan setiap kali Om Ramlan nggak ada? Ah, apa yang harus aku lakukan untuk menyikapi sikap Tante Dewi itu padaku?” kepalaku jadi pusing memikirkan kejadian Tante Dewi marah-marah di dapur tadi, hingga aku kembali rebahan berharap dapat pejamkan mata dan menenangkan pikiranku.
Hari berikutnya sepulang dari sekolah, seperti biasa setelah mengganti pakaian seragam sekolah di kamar langsung turun dan menuju meja makan untuk makan siang. Sebelum duduk di salah satu kursi di sela-sela meja makan itu, aku sempatkan dulu untuk mengitari pandangan mulai ke arah ruangan depan hingga ruangan dapur.
Setelah aku tak melihat sosok yang menjadi keinginanku untuk mencari tahu mengitari pandangan di dekat meja makan itu, akupun duduk lalu membuka penutup menu makanan yang ada di atas meja.
“Astaga..!”
Aku terperanjat saat aku melihat di atas meja makan itu hanya ada sepiring nasi bercampur kerak yang telah diremas-remas sedemikian rupa hingga antara nasi dan kerak itu sudah tak dapat disisihkan lagi, lalu di dekat piring itu ada secuil sambal tanpa lauk yang ditaruh di piring kecil.
Aku ingin sekali menemui Bi Asih yang tadi aku lihat berada di ruangan belakang, untuk menanyakan kenapa di meja makan hanya ada sepiring nasi bercampur kerak dan secuil sambal tanpa lauk di atas piring kecil, akan tetapi aku urungkan karena aku tak ingin memperburuk situasi.
Akupun duduk dan memandang sepiring nasi campur kerak dan secuil sambal itu, karena perutku memang sudah lapar sejak tadi akhirnya aku makan saja. Ketika beberapa suap nasi bercampur kerak itu aku makan, tiba-tiba hatiku merasa sedih dan mataku langsung berkaca-kaca.
“Untuk pertama kalinya aku makan nasi kerak dengan secuil sambal ini, sesusah-susahnya di desa tinggal dengan kedua orang tuaku, aku nggak pernah mengalami hal seperti ini. Kalaupun nggak ada lauk pauk dan hanya makan dengan sambal serta rebusan sayur, akan tetapi nasinya nggak pernah dicampur dengan kerak seperti ini,” gumamku di sela-sela terus mengunyah nasi kerak itu agar rasa laparku segera hilang dan aku bisa menghentikan makan.
Ku sudahi makan siang itu ketika rasa lapar di perutku mulai berkurang, aku kemudian berdiri dan memutuskan untuk langsung ke lantai atas di mana di sana kamarku berada.
Ketika aku hampir tiba di tangga, tiba-tiba aku berpapasan dengan Bi Asih.
“Mas Ryan,” sapa Bi Asih.
“Ya Bi, ada apa?” tanyaku.
“Mas Ryan diminta menemui Nyonya di luar di samping kanan rumah,” jawab Bi Asih.
“Baik Bi, aku akan ke sana sekarang,” ujarku, meskipun dengan perasaan tak enak namun aku beranikan diri untuk menemui Tante Dewi di samping rumah yang dikatakan Bi Asih itu, di sana aku melihat Tante Dewi tengah berdiri berkacak pinggang sambil melihat ke arah selokan yang berada di sisi kanan di seberang pagar rumah mewah itu.
“Ada apa, Tante?” sapa ku saat aku telah berdiri di samping Tante Dewi.
“Enak sekali ya, jadi kamu! Pergi sekolah di kasih uang jajan! Pulang sekolah makan, lalu tidur-tiduran di kamar!” seru Tante Dewi dengan nada ketus, aku hanya tundukan kepala mendengar perkataannya itu.
“Hidup di kota ini nggak ada yang gratis! Semua orang harus bekerja keras agar bisa mendapatkan uang untuk makan! Nah, karena kamu udah diberi uang jajan tadi pagi oleh Mas Ramlan sekarang harus kamu bayar dengan membersihkan selokan di sepanjang perkarangan rumah ini!” tutur Tante Dewi dengan sorot mata yang tajam penuh kebencian.
“Baik Tante, sekarang juga aku akan bersihkan selokan ini.” ujarku sembari menunjuk selokan yang dimaksud Tante Dewi itu, kemudian aku mencari peralatan seperti cangkul yang terdapat di gudang di belakang rumah mewah itu.
“Dasar tak tahu diri! Enak saja tinggal di rumah ini secara gratis! Di kasih jajan lagi!” gerutu Tante Dewi sambil melangkah masuk ke dalam rumah, hal itu terdengar jelas olehku karena Tante Dewi menggerutu dengan lantang.
“Bruuuuuuk...!”
Saat hendak melangkah ke gudang, aku terkejut mendengar suara sesuatu dari dalam rumah...
“Aku udah nggak tinggal di sana lagi, Aldo.” jawab Cindy.“Kok bisa begitu? Kamu pindah ke mana?” Cindy tak segera menjawab ia mencoba menarik napas yang seketika terasa berat, ia tak tahu harus memulai dari mana, tiba-tiba saja ia dilanda keraguan.“Loh, kok kamu diam saja Cindy? Kamu nggak mau ya, memberi tahuku tempat tinggalmu yang baru?” tanya Aldo lagi.“Bukan begitu, Aldo. Aku hanya bingung saja harus memulai kata-kata dari mana, di suatu sisi aku nggak ingin menjelaskan semua ini namun di sisi lain aku juga nggak mungkin selamanya menyembunyikan ini padamu,” ujar Cindy masih dengan helaan napas berat.“Maksudmu apa, Cindy?” Aldo semakin tak mengerti dengan yang diucapkan Cindy itu kepadanya.“Begini Aldo, kamu harus berlapang dada menerima kenyataan ini. Dan sebaiknya kamu cari wanita lain saja yang tentunya lebih baik dariku.”“Aku makin nggak mengerti dengan semua yang kamu katakan ini, Cindy. Katakanlah sejujurnya, apa sebenarnya yang telah terjadi?”“Aku telah menikah, Ald
“Lele goreng Ibu benar-benar lezat! Sudah lama aku nggak pernah menikmati makanan selezat yang Ibu masak ini,” puji ku, membuat Ibu tersanjung.“Memangnya di kota nggak pernah kamu temui ikan lele yang dimasak seperti yang Ibumu masak, Ryan?” tanya Ayah.“Ada sih lele goreng, tapi lele nya bukan lele dari rawa-rawa atau hutan gambut seperti lokasi yang kita pancing tadi, Ayah. Lele-lele itu merupakan hasil ternakan di kolam, hingga rasanya sangat jauh berbeda lezatnya dibandingkan lele-lele ini,” tutur ku yang masih mengudap lele goreng yang masih tersisa beberapa ekor di piring.“Oh begitu, jadi makanan apa yang paling enak di kota yang pernah kamu makan?” kali ini Ibu yang bertanya.“Nggak ada, Bu. Semua jenis makanan yang pernah aku makan, nggak ada yang menyamai masakan Ibu. Bahkan dengan lele goreng, rebus daun singkong ditambah ulekan cabe pedas buatan Ibu ini, semua makanan-makanan kota berasa nggak ada apa-apanya,” lagi-lagi aku menyanjung Ibu.“Nanti saat kamu akan kembali ke
“Berangkat jam berapa tadi, Nak?” tanya Ibu yang tak dapat menyembunyikan rasa kangen pada ku putra sulungnya.“Dari terminal bus jam 8 pagi, Bu.” jawab ku yang telah duduk di ruang depan bersama kedua orang tua dan adik-adik ku.“Oh ya Bu, Ayah! Aku berhasil meraih rangking 1 di kelas dan naik ke kelas 2, nih rapornya!” sambung ku sembari menyerahkan rapor sekolah pada kedua orang tua ku itu.“Nah, ini yang Ayah harapkan darimu. Melanjutkan sekolah dikota besar, kamu harus bisa mempertahankan prestasimu seperti di SMP dulu didesa ini. Ayah bangga dan tak sia-sia tenaga Ayah mencari biaya sekolahmu,” tutur Ayah penuh kegembiraan setelah melihat nilai-nilai di rapor ku.“Iya, aku akan selalu mengingat pesan Ayah dan Ibu. Oh ya, ini oleh-oleh dari Guruku.” ujar ku membuka karton yang berisi buah anggur dan apel.“Wah, banyak sekali! Baik benar Gurumu itu, Ryan?” seru Ibu, aku hanya tersenyum dan angguk-anggukan kepala.“Bagaimana kabarnya Ramlan dan keluarganya? Apakah mereka baik-baik
Air di dalam kolam itu telah terisi separuhnya, aku memasukan bibit-bibit ikan beserta makanan yang juga dibeli di tempat yang sama, sementara Dola dan Bi Lastri membantu menaruh kursi-kursi besi di titik-titik yang tepat di pinggiran kolam, kemudian sambil menunggu air kolam mencapai batas yang diinginkan, aku mengangsur untuk menanam tanaman-tanaman hias di sekeliling agar kolam itu nantinya terlihat lebih cantik.Aku menargetkan hari itu pekerjaan ku membuat kolam ikan selesai, karena mulai senin depan aku harus fokus dengan ujian catur wulan ke 3 atau catur wulan akhir untuk kenaikan kelas. Dola pun mengerti dengan semua itu, hingga ia juga menyarankan aku mulai senin depan untuk tidak terlalu sibuk bekerja di rumahnya, melainkan harus fokus dengan persiapan menghadapi ujian kenaikan kelas itu.Aku bertekat catur wulan ketiga nanti akan mengejar rangking 1, karena dua catur wulan sebelumnya aku hanya mampu meraih rangking 3 dan 2 di kelas, hal itu aku maksudkan untuk membuat kedua
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.