Mag-log in"Tiduri istriku sampai hamil! Bukan hanya pinjaman 50 juta yang akan kau dapatkan, tapi 500 juta pun akan kuberikan!" Demi menyelamatkan putrinya, Atta menerima syarat gila dari bosnya: menghamili Felly, istri sang bos. Yang awalnya hanya sebuah perjanjian berubah menjadi hubungan terlarang. Felly justru ketagihan pada belaian Atta, sementara Atta perlahan jatuh cinta padanya. Di balik itu, satu per satu rahasia gelap Rizwan mulai terungkap. Saat cinta lahir dari pengkhianatan, siapa yang akan bertahan... dan siapa yang akan hancur?
view more"Tiduri istriku sampai hamil! Bukan hanya pinjaman 50 juta yang akan kau dapatkan, tapi 500 juta pun akan kuberikan!"
Mata Atta terbelalak lebar, napasnya seakan tertahan di kerongkongan saat mendengar kalimat yang keluar begitu saja dari mulut Rizwan—atasannya, orang yang sudah dia layani setia sebagai sopir pribadi selama tujuh tahun lamanya. Rasanya seperti sedang mendengar hal yang mustahil, persis seperti terjebak di dalam mimpi buruk yang terlalu nyata. Bagaimana mungkin ada seorang suami yang dengan sadar meminta pria lain—bahkan orang yang sudah lama dipercaya—untuk meniduri apalagi menghamili istrinya sendiri? Selama tujuh tahun bekerja di sini, Atta selalu menganggap bosnya ini sebagai satu-satunya sandaran yang bisa diandalkan. Sebelumnya, dengan hati yang hancur dan penuh harap, dia baru saja memohon kepada pria ini agar mau memberikan pinjaman sebesar 50 juta rupiah. Uang itu sangat dibutuhkan untuk biaya operasi kedua kaki anak semata wayangnya yang baru saja mengalami kecelakaan parah. Rumah sakit dengan tegas menolak pelayanan jika hanya menggunakan kartu BPJS, dan waktu yang tersisa terasa semakin sempit. Karena sama sekali tidak memiliki tabungan atau kerabat yang bisa dimintai pertolongan, Atta akhirnya memberanikan diri datang ke sini—berpikir bahwa setelah sekian tahun mengabdi, pastilah bosnya akan mau menolong. Namun, jauh di dalam benaknya, dia tak pernah menyangka bahwa pertolongan itu dibalut dengan permintaan yang begitu di luar nalar dan melanggar segala akal sehat. "Kenapa diam? Aku nggak ada waktu untuk menunggumu berpikir. Oh atau kau sudah nggak mau kerja denganku lagi, Atta? Kalau begitu mulai sekarang aku akan memecatmu!!" "Jangan, jangan pecat saya, Pak!" Atta menggelengkan kepala dengan gerakan cepat dan panik, wajahnya pucat pasi terlihat jelas rasa takut yang melanda. Kehilangan pekerjaan ini setelah tujuh tahun mengabdi sama artinya dengan menutup satu-satunya jalan penghidupan keluarganya. "Tapi, Pak, kenapa Bapak memberikan syarat seperti itu kepada saya? Ini terdengar—" "Apapun syaratnya, itu terserah aku!" potong Rizwan dengan suara berat dan tegas, tak memberi ruang sedikit pun untuk pembantahan. "Apa Bapak nggak cemburu nantinya? Dan bagaimana dengan Bu Felly? Pasti beliau —" "Nggak perlu banyak bertanya!" sela Rizwan lagi dengan nada tidak sabar, tampak sama sekali tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Secara tiba-tiba, dia mengangkat tangan dan melemparkan sebuah map berwarna cokelat beserta sebatang pulpen tepat ke arah meja di hadapan Atta. "Buka dan tanda tangani, setelah itu aku akan langsung mentransfer uang padamu dan malam ini kau harus tidur dengan istriku!" Atta menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering seketika. Tangannya mulai gemetar hebat saat perlahan meraih dan membuka isi map itu—lembaran yang mengubah arti kepercayaan yang dibangun selama tujuh tahun ini. Di dalamnya sudah tertata rapi lembaran perjanjian bermaterai. Di benaknya bergemuruh segala pertanyaan dan penolakan, namun dia sadar sepenuhnya: saat ini dia nyaris tak memiliki pilihan lain. Di matanya, sepertinya hanya inilah satu-satunya jalan yang tersisa demi menyelamatkan nyawa anaknya. Begitu tanda tangan diletakkan di tempat yang ditentukan, tak butuh waktu lama hingga notifikasi masuk ke ponselnya—jumlah yang disebutkan Rizwan, lima ratus juta rupiah, sudah masuk sepenuhnya ke dalam rekeningnya. "Sudah masuk, kan? Ingat, ini berarti kita sudah sepakat, ya, Atta. Dan rahasiakan hal ini kepada siapapun. Hanya aku, kamu dan istriku saja yang tau soal ini." "Baik, Pak." Atta menjawab pelan sambil mengangguk cepat, hatinya terasa berat dan penuh kegelisahan, namun dia tak berani lagi menanyakan hal apa pun. Setelah pembicaraan yang berat itu selesai, Atta pun berpamitan dengan langkah yang terasa berat, lalu segera kembali ke rumah sakit untuk mengurus segala hal yang berkaitan dengan biaya operasi anaknya. Di bangku tunggu tepat di depan ruang operasi, dia duduk termenung sendirian. Matanya tak lepas menatap layar ponsel yang menampilkan wajah ceria Jihan—anak semata wayangnya yang baru berusia tujuh tahun. 'Ya Allah, tolong lancarkan jalannya operasi anakku. Jangan biarkan dia kehilangan kedua kakinya, dia masih terlalu kecil untuk menderita hal seberat ini. Masa depannya masih sangat panjang, aku hanya ingin melihatnya tumbuh bahagia dan utuh kembali.' Ting!! Suara notifikasi pesan tiba-tiba memecah kesunyian di hatinya. Itu dari Rizwan. Di layar tertulis pesan sekaligus tautan lokasi sebuah hotel berbintang lima yang cukup mewah di kota itu. [Datanglah ke hotel ini jam 7 malam. Lantai 5 nomor kamar C503, istriku sudah menunggu di sana.] Atta kembali menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya terasa kembali kering. Tangannya yang baru saja tenang kini kembali gemetar hebat saat mengetik balasan singkat itu. [Baik, Pak.] "Atta!!" Suara panggilan tiba-tiba terdengar, membuatnya tersentak dan segera menoleh ke sumber suara. Ternyata itu adalah Ammar—ayah kandungnya yang baru saja datang. "Bagaimana keadaan Jihan? Bagaimana persiapan operasinya?" tanya leluhur itu dengan raut wajah yang penuh kecemasan sekaligus rasa tidak berdaya. "Apa kamu sudah mendapatkan uangnya? Kalau belum juga... bagaimana kalau ginjal Papa saja yang kita jual di sini? Satu ginjal Papa masih cukup sehat, bisa kita gunakan untuk biaya pengobatan cucu Papa." Mata Atta sontak terbelalak lebar, hatinya terasa teriris mendengar pengorbanan yang begitu besar itu. "Nggak perlu sampai jual ginjal segala, Pa. Tolong jangan berpikir sejauh itu. Dan Papa jangan khawatir... biaya operasi Jihan sudah lengkap dan sudah aku bayar lunas." Atta sangat paham betul kondisi keuangan ayahnya yang serba sederhana dan terbatas. Sebagai anak yang belum mampu memberikan kehidupan yang lebih baik atau kemewahan bagi orang tuanya, dia sama sekali tak ingin menambah beban di pundaknya, apalagi membiarkan ayahnya berkorban lebih jauh lagi demi masalah yang sedang dia hadapi. "Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu? Kamu nggak ngerampok 'kan, Ta?" "Ya Allah nggaklah, Pa!" Atta menggelengkan kepala dengan cepat dan sedikit pasrah. Dia sudah sangat hafal sifat ayahnya yang memang cenderung cemas berlebihan dan sering kali langsung memikirkan hal-hal yang di luar akal sehat. "Aku pinjam sama bosku." "Syukurlah kalau begitu." Papa Ammar menghela napas lega, sambil menepuk lembut pundak kanan Atta. "Papa sempat takut dan mengira kamu sampai nekat merampok bank demi mendapatkan uang secepat itu." "Tenang aja, otakku nggak sekriminal itu, Pa," jawab Atta sedikit tersenyum tipis untuk mencairkan suasana, meski hatinya tetap terasa berat. "Oh ya, ada satu hal lagi... malam ini aku harus bekerja lembur sampai larut malam. Boleh nggak aku minta tolong Papa untuk menjaga dan menunggu Jihan?" "Nggak perlu minta tolong, karena Papa pasti akan menjaga dan menemani Jihan. Kamu nggak perlu cemas, serahkan semuanya sama Papa," jawabnya mantap tanpa ragu sedikit pun. Kedatangannya ke rumah sakit memang semata-mata dengan tujuan ingin menemani dan menjaga cucu semata wayangnya itu. "Ya sudah kalau begitu, aku pamit dulu ya, Pa." "Hati-hati di jalan, Ta." "Iya." Atta melangkah pergi, di luar tampak tenang namun di dalam dada, rasa berat dan bimbang itu semakin menekan setiap langkahnya menuju takdir yang sudah ditandatanganinya. * * * Kaki Atta kini sudah tegak berdiri tepat di depan pintu kamar hotel sesuai nomor dan lokasi yang diberikan Rizwan. Dia juga sebelumnya sudah mandi dan berganti pakaian. Namun, jari-jarinya terasa berat dan ragu saat hendak menekan tombol bel di depannya. 'Sebaiknya aku telepon Bu Felly dulu saja, ya? Benar juga, takutnya jadi nggak sopan kalau tiba-tiba memanggil dari luar begitu aja.' Atta pun mencoba menghubungi nomor itu lebih dulu, namun nada sambungnya terus berbunyi tanpa pernah diangkat. Sekali... dua kali... hingga tiga kali percobaan, tetap tak ada jawaban dari seberang. Perasaan cemas mulai menguasai dirinya. Akhirnya, dengan napas yang ditarik panjang untuk mengumpulkan keberanian, dia menekan bel pintu itu. Tak lama berselang, daun pintu perlahan terbuka dari dalam. "Permisi, Bu. Ini Atta. Boleh saya masuk?" "Masuk saja, Mas Atta." Suara itu terdengar samar dan bergetar halus, seolah pemiliknya sedang berusaha keras menahan sesuatu yang berat di dalam dada. Dengan langkah yang masih penuh keraguan, Atta melangkah masuk perlahan, lalu menutup pintu di belakangnya. Jantungnya seketika berdegup jauh lebih kencang dari sebelumnya saat pandangannya jatuh pada sosok istri atasannya itu—penampilannya sangat jauh berbeda dari apa yang biasa dia lihat selama bertahun-tahun melayani keluarga itu. Biasanya, perempuan cantik ini selalu tampil dengan pakaian yang sangat sopan dan tertutup: rok yang panjang menutupi kaki serta baju yang menutup lengan dan dada dengan rapi. Namun malam ini, penampilannya berubah drastis; dia mengenakan lingerie berwarna putih yang sangat tipis, hingga lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas terbayang di balik kain itu. Sebagai seorang pria normal, terlebih lagi yang sudah lama hidup sendiri sebagai duda, Atta tak bisa menampik adanya getaran yang terasa. Bahkan miliknya sudah mengencang di dalam celana. Namun di balik pemandangan yang menggoda itu, rasa kaget dan cemas jauh lebih cepat mendominasi saat dia menyadari satu hal penting: Felly menangis. Air mata mengalir deras membasahi kedua pipinya yang mulus. "Ibu menangis??"“Baru kemarin, Fel. Tante juga udah meminta pengacara pribadi Tante untuk mengajukan permohonan ke pengadilan terkait rencana Tante mengangkat Atta sebagai anak.”Alis Felly langsung bertaut rapat, dahinya berkerut samar."Memangnya bisa begitu ya, Tan?" suaranya terdengar bingung. "Maksudnya, memangnya bisa seusia Mas Atta diangkat sebagai anak? Mas Atta 'kan sudah bukan anak kecil lagi.""Mudah-mudahan sih bisa.""Tapi kenapa Mas Atta?? Kenapa nggak Jihan aja yang Tante angkat anak?" tanyanya lagi, matanya berkedip pelan.Logikanya begitu jelas — dari segi umur, Jihan jauh lebih cocok dibandingkan ayahnya. Apalagi gadis kecil itu sudah tidak memiliki ibu."Tante merasa Atta cocok jadi anak Tante. Dia pria yang baik hati dan bertanggung jawab.""Apa ada hal lain selain Mas Atta pria yang baik dan bertanggung jawab, Tan?" Felly sendiri setuju dengan jawaban Bu Anne, tapi dia merasa ada hal lain dari alasan sesederhana itu."Kayaknya nggak perlu Tante jelasin pasti kamu udah paham.""W
"Sedangkan Bapak Ammar Al-Fatih... kondisinya paling berat. Beliau mengalami luka bakar cukup luas di bagian punggung dan kaki, serta menghirup banyak asap sehingga saluran pernapasannya terganggu cukup dalam. Saat ini kami akan memindahkan beliau ke ruang perawatan intensif untuk pemantauan ketat."Mendengar hal itu, hati Felly langsung mencelos. Dia tahu betapa hancurnya Atta saat mendengar kabar tentang Jihan yang kecelakaan sampai kakinya harus diamputasi — dan sekarang, ayah yang paling dicintainya mengalami hal serupa, meski kejadiannya berbeda."Dokter, tolong selamatkan Pak Ammar," pintanya dengan mata berkaca-kaca, suaranya bergetar penuh harap. "Apapun yang terjadi... tolong jangan sampai kakinya diamputasi.""Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk pasien, Bu." Dokter itu mengangguk singkat, penuh pengertian.Bu Anne menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. "Dokter, bolehkah saya bertemu dengan Atta? Katanya Nak Atta sudah sadar, kan?""Boleh, Bu. Silakan masuk ...
"Mereka baik-baik saja, kan?"Bukan hanya Felly, Bu Anne juga merasakan firasat buruk menyergap hatinya, dingin dan menyesakkan.Sejak tadi dia sendiri duduk gelisah di kamar, tak bisa memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada Atta, seakan ada sesuatu yang memanggil-manggil namanya. Dia sudah mencoba menelepon, namun nomor Atta tidak aktif sama sekali.Rasa khawatir itu perlahan tumbuh, memuncak, tak bisa lagi diredam. Akhirnya Bu Annw menghubungi Pak Jajang, memintanya mengantar ke rumah Atta. Dan inilah yang dia temukan — rumah itu dilalap api, mobilnya hangus, dan kerumunan orang memenuhi halaman."Tiga korban dilarikan ke rumah sakit, Bu. Baru saja tadi mobil ambulan datang membawa mereka," jawab pria itu pelan."Di rumah sakit mana?" tanya Felly cepat, suaranya bergetar."Di Rumah Sakit Umum Daerah Ujung Berung, Bu."Mendengar itu, Bu Anne langsung berbalik bergegas menuju mobil. Felly pun segera melangkah menyusul, mendekat ke arahnya."Tante mau lihat keadaan Mas Atta, kan
"Ini di mana?"Di tengah gelap yang memeluk sepi, Felly berjalan menyusuri lorong sebuah bangunan namun terasa tak berujung.Udara terasa panas, menyengat, dan di kejauhan, cahaya merah menyala bergoyang-goyang, semakin terang seiring langkahnya. Di sana, di tengah kobaran api yang menjulur tinggi, berdiri Atta. Tubuhnya dikelilingi lidah api yang melahap segalanya, asap tebal mengepul di sekelilingnya. Wajahnya tampak pucat, matanya mencari-cari dengan panik, lalu menatap lurus ke arahnya. "Sayang ...." suaranya terdengar lemah, tercekik oleh asap, namun begitu jelas di telinganya. "Tolong aku... Sayang ...." Jantung Felly mencelos seketika. Kakinya melangkah secepat mungkin, namun terasa berat tertahan. "Mas Atta!! Kamu kenapa ada di situ, Mas??!" "Aku juga nggak tau kenapa aku ada di sini, tapi aku nggak bisa keluar, Sayang ...." Atta mengulurkan tangan ke arahnya, jemarinya gemetar. Apinya semakin tinggi, semakin ganas, p
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore