LOGINWarning! Konten dewasa, penuh adegan 21++ Harap bijak membaca^^🔞 *** Bagaskara atau yang lebih dikenal sebagai Lingga—rela menjalani profesi sebagai gigolo bayaran hanya untuk menjerat Maudy—jalang sialan yang sudah mencuri miliknya serta membalas dendam atas kehancuran keluarganya di masa lalu. Namun Bagas tak pernah menyangka bahwa pilihannya justru menyeretnya ke dalam skandal panas dengan putri tiri wanita itu. Di tengah permainan rahasia dan godaan para wanita yang mulai menginginkannya, seberapa jauh Bagaskara bisa bermain sebelum semuanya lepas kendali? ***
View More"Lingga …." Desahan bernada putus asa itu lolos dari bibir wanita cantik, yang saat ini sedang berada di dalam kendali berondong bayarannya. "tante udah gak tahan." Wanita bernama Maudy itu melenguh, menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.
Jari-jari milik Maudy, yang dihias kuku-kuku akrilik berwarna merah meremat rambut Bagaskara —pemuda yang dikenalnya sebagai Lingga, sementara kedua paha miliknya makin terentang lebar, seolah memberi akses pada sang pemuas di bawah sana. "Euhh …." Maudy mendesah lagi, kali ini dia benar-benar tidak bisa mengendalikan diri. "Ini enak banget, Lingga," erangnya seraya mendongak, dengan satu tangannya bertumpu pada tepi kitchen island. Ruangan yang seharusnya untuk memasak itu kini telah berubah menjadi area panas, karena ulah dua manusia tanpa sehelai benang, yang saat ini sedang beradegan intim. Bagas— gigolo bayaran Maudy menyeringai puas menyaksikan salah satu pelanggan tetapnya hampir mencapai puncak klimaks. "Lepasin, Tan," ucapnya, yang makin memperdalam permainan lidahnya di lembah basah milik Maudy. "Lingga, kamu … Na-kal!" Inti milik Maudy semakin basah dan mengetat saat Bagas terus memainkannya. Hingga sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan lepas tanpa kendali, membuat tubuh polosnya menggelinjang. "Lingga …." Erangan panjang meluncur erotis, menggema di seluruh area pantry. Napas Maudy putus-putus, seiring dadanya yang memiliki ukuran cukup besar naik turun. Seluruh tubuhnya terasa ringan dalam sekejap karena dia telah mencapai puncak kenikmatan, yang luar biasa. Melihat pelanggannya puas, Bagas tentu merasa senang. "Gimana, Tan?" Pemuda itu berdiri, mengusap pipi Maudy yang masih merah dan terasa hangat. Sisa-sisa kepuasan masih berjejak di sepasang matanya yang sayu. "Enak, Lingga," sahut Maudy yang napasnya berangsur teratur. Punggung Maudy menegak, menatap ketampanan wajah Bagas, yang telah membuatnya tergila-gila dengan sorot mendamba. Wanita berambut panjang lurus itu lantas meraba dada polos Lingga, sambil menggigit bibirnya dengan sensual. Dan Bagas tahu persis akan berlabuh ke mana tangan lembut itu. Maudy menyusuri setiap jengkal tubuh polosnya yang begitu maskulin, dengan otot-otot yang terbentuk sempurna di bagian-bagian yang seharusnya. Berkat latihan fisik yang sering dia kerjakan dengan rutin. Hanya menyentuh saja membuat darah Maudy kembali berdesir panas. Hasratnya masih belum terpenuhi secara tuntas, karena dia masih belum berkesempatan untuk menikmati milik Bagas yang masih menegak di bawah sana. Keras dan panas. "Tapi, Tante masih pengen icip ini." Maudy merengek manja bak anak kecil yang meminta mainan. "Lingga gak pengen apa masukin tante?" Dia mengurut milik Bagas dengan gerakan maju mundur, membuat pemuda itu mengerang singkat. Namun erangan itu berubah menjadi kekehan saat melihat Maudy yang merengek padanya seperti anak kecil. Dan rengekan ini tak sekali dua kali dia dengar dari para pelanggannya, yang menginginkan lebih dari sekadar sentuhan lidah. Sebab, Bagas tak pernah bahkan sama sekali tidak mengizinkan siapa pun menikmati benda pusakanya. Aneh? Memang terdengar cukup aneh. Karena hal itu terdengar sangat kontradiktif dengan profesi yang dijalani Bagas selama ini. Mana ada seorang gigolo pemuas wanita kesepian tidak pernah sekalipun memasuki lobang-lobang surgawi milik pelanggannya? Ada. Bagas contohnya. Dan hal itu menjadi daya pikat tersendiri bagi Lingga yang bukan nama sebenarnya. Nama asli Lingga adalah Bagaskara Saputra. Namun, para pelanggannya mengenalnya sebagai Lingga. Gigolo berwajah oriental dan bermata sayu. Buat jaga-jaga aja, sih... dan tentunya menghindari masalah. Soalnya sering kejadian, suami-suami para pelanggannya mukulin Bagas kalo pas gak sengaja ketemu.. Resikonya, muka cakepnya babak belur. "Kenapa, sih, kamu gak mau masukin tante?" Maudy tak menyerah dalam merayu Bagas agar mau mengiyakan permintaannya. "Kita udah main puluhan kali, loh. Masa tante gak boleh icip ini." Dia sengaja menekan sentuhannya pada milik Bagas yang membuatnya penasaran. Bagas mengusap dada Maudy yang ujungnya mengetat, lalu berkata, "Kan, gak harus masuk, Tan. Ada banyak cara buat nyenengin Tante. Seks itu gak melulu harus masuk." Dia membungkuk, menggigit ujung dada Maudy dan mengisapnya sekilas. Gelenyar aneh kembali menyerang tubuh Maudy, sementara tangannya belum mau melepas milik Bagas. "Geli, Lingga," protesnya, tetapi juga menikmatinya. "kamu curang!" "Kalo Lingga curang, gak mungkin Tante bisa sampe berkali-kali klimaks," sahut Bagas disela-sela memainkan puncak dada Maudy. "Kenapa, sih, Lingga gak mau masukin?" Maudy protes lagi di sisa kesadarannya yang hampir menipis karena saat ini dia menginginkan lagi. Bagas menyudahi isapannya, lalu menegak. Sambil membelai rambut Maudy, dia menjawab, "Karena Lingga cuma mau ngelakuin pengalaman pertama itu sama istri Lingga, Tan." Jawaban itu masih bisa dikatakan masuk akal 'kan? Agar si Maudy ini gak curiga. "Istri?" Manik Maudy menatap lekat-lekat wajah Lingga yang nampak serius. "Lingga mau nikah?" Tuh, kan... Maudy langsung penasaran. "Hmm." Telapak tangan Bagas berpindah di pipi Maudy. "Aku perhatiin Tante makin cantik. Kayak Kim Kardashian," katanya, yang mulai melancarkan aksinya, kemudian memerhatikan bentuk hidung Maudy yang makin mancung. "kayak … Ada yang diubah lagi." "Jeli juga mata kamu, ya," kata Maudy, menyentuh ujung hidung Bagas sambil mengerling. "Tante emang abis oplas kemarin waktu di Thailand. Bagus, gak hasilnya?" Empat bulan yang lalu dia sengaja terbang ke Bangkok untuk operasi plastik. "Bagus, Tan. Makin cantik," puji Bagas, lantas menyentuh dada Maudy dan meremasnya. "Ini kayaknya juga tambah gede, Tan. Ditambahin lemak mana lagi?" Remasan di dadanya, membuat Maudy mengerang. "Tante tambahin lemak paha. Biar kamu makin betah di sini." Maudy menyodorkan dadanya agar Bagas bisa lebih leluasa menjelajahinya. "Pantes paha Tante makin ramping dan kenceng," ucap Bagas. "aku suka ini, Tan." Dia mengisap lagi puncak dada Maudy. "Geli, Lingga." Maudy kegelian, dan makin gelisah. "Lingga, kamu mau nikah?" Maudy nampaknya masih penasaran, hingga tidak sadar bertanya demikian. Bagas sontak menghentikan isapannya, seringai licik terbit di sudut bibir. Punggungnya menegak, dan dia pun menjawab ambigu, "Hmm … Bisa iya bisa enggak." Sorot matanya berubah dingin, tetapi nampaknya Maudy tidak menyadarinya. Bila diperhatikan dengan saksama, nampaknya perempuan di hadapannya ini sedang menimbang-nimbang. Bagas tentu bisa membaca isi pikiran Maudy saat ini. Selama hampir mengenalnya, Maudy ini tipe perempuan yang harus bisa memiliki apa yang diinginkannya. Apalagi selama hampir kurang lebih setahun dia dan Maudy bersama. Bagas yakin seratus persen jika perempuan ini sangat menginginkannya. Mengingat, jika Maudy selama ini kesepian dan haus belaian. 'Bagus. Kena 'kan, lo?' Bagas membatin senang ketika melihat Maudy yang nampaknya mulai masuk ke dalam perangkapnya. 'Dasar jalang!' Ini semua memang sudah direncanakan Bagas sejak lama. Memancing Maudy agar makin penasaran. Pernikahan? Mungkin itu hanyalah satu-satunya cara agar Bagas bisa menjerat Maudy lebih erat. Mengendalikan hidup wanita jalang ini. "Tan?" Bagas mengusap pipi Maudy. Maudy terhenyak, menatap Bagas dengan tatapan penuh damba. "Lingga yakin mau nikah?" tanyanya tiba-tiba. Kening Bagas mengernyit. "Maksudnya?" Ah, Bagas cuma pura-pura tidak paham maksud Maudy. "Nikah." Maudy memainkan telunjuknya di dada polos Bagas. "nikah sama tante." Bolehkah Bagas berjingkrak sekarang? "Nikah sama Tante?" "Hmm." Maudy mengangguk. Raut Bagas pura-pura terkejut, dan ada seringai licik yang terulas tipis di sudut bibir. 'Yes, akhirnya jalang ini masuk juga ke perangkap gue.' *** Bersambung....Dari kantor Maudy, Bagas langsung menuju Rumah Sakit. Namun, sebelum itu dia mampir ke toko bunga yang kebetulan berjejer tepat di depan Rumah Sakit. Wah.. Bagas sama sekali tidak memerhatikan selama ini—jika ada banyak toko bunga di dekat Rumah Sakit. "Kenapa gue gak ngeh, ya?" Bagas merutuk dirinya, sambil melihat-lihat bunga-bunga yang ditata rapi dan warnanya sangat cantik. Hidungnya mencium setiap aroma yang menguar dari beberapa bunga yang memiliki wangi yang cukup tajam. Contohnya bunga sedap malam. Dan pilihan Bagas tentunya jatuh pada bunga mawar merah, sesuai permintaan Vanila. "Mbak, saya mau mawar merah ini. Tolong dirangkai yang bagus, ya," ucap Bagas pada perempuan pemilik toko bunga tersebut. "Baik, Mas. Silakan ditunggu sebentar." Selagi menunggu, Bagas pun berinisiatif untuk pergi ke toko kue yang jaraknya tidak terlalu jauh dari toko bunga. Entah mengapa, tiba-tiba dia ingin makan cake yang manis-manis. Di toko kue, Bagas membeli cheese cake y
"Eum ... Sebenernya suami tante ...." Maudy nampak tengah berpikir keras—antara ingin bicara sekaligus ragu. Bila Bagas perhatikan, perempuan itu agaknya ingin mengatakan sesuatu yang menyangkut soal Roy Darmawan. Namun, entah mengapa Bagas melihat keraguan dari sorot mata Maudy. 'Semoga dia mau cerita soal Roy sama gue.' Kalau Maudy mau cerita tentang Roy, tentunya sangat menguntungkan bagi Bagas. Masalahnya, perempuan ini nampak begitu hati-hati. Maudy mengulas senyum tipis, kemudian mengangkat cangkir kopinya lagi. Disesapnya lagi capucino buatan Bagas, sedikit demi sedikit sambil berpikir keras. Bagas menghela panjang, dan terlihat tak sabar. Pemuda itu masih menatap Maudy, yang bersikap tenang, tetapi sedikit mencurigakan. "Begini, Lingga." Maudy meletakkan cangkir ke atas meja. Menjilat bibir, lalu, "hmm ... Sebenernya ada yang mau tante kasih tau ke kamu." Rautnya berubah serius, dan tatapannya nampak sangat yakin, seolah-olah dia sudah siap bicara. Sedangka
Beberapa saat setelah bercinta di dalam mobil~ Raut Bagas terlihat semringah saat keluar dari pantry dengan membawa nampan berisi secangkir kopi, yang dibuatnya khusus untuk Maudy. Langkah Bagas begitu mantap saat berjalan melewati meja Susan, yang menatapnya keheranan. "Kamu bikin kopi buat Ibu?" tanya Susan, melirik sekilas pada cangkir kopi yang asapnya mengepul ke atas. Bagas berhenti sebentar di depan meja Susan, lalu mengangguk. "Biar keliatan ada kerjaan, Mbak," sahutnya, yang kemudian meringis. "Kan tadi udah kerja? Ikut Ibu meeting di luar, ke sana kemari." "Iya, sih... Anggep aja ini sebagai penutup sebelum saya pulang." "Ooh..." Susan menatap Bagas dengan raut penuh makna. Dan Bagas yang paham, buru-buru kabur. "Ya udah, Mbak. Aku ke ruangan Bu Maudy dulu. Keburu kopinya adem." Sebelum Susan menjawab, Bagas lebih dulu pergi dari hadapan perempuan itu. Selama beberapa hari bekerja di perusahaan Maudy, dan sering berinteraksi dengan beberapa staf perempuan t
Matahari mulai beranjak saat Bagas memarkir mobilnya di basement kantor. Dia lantas membuka pengait sabuk pengaman. Sejurus kemudian dia beringsut maju mendekat pada Maudy. Bagas membantu perempuan itu— membukakan sabuk pengaman. Hal yang sudah terbiasa dia lakukan semenjak bersama Maudy. Bagas memainkan perannya dengan apik selama ini. Bersikap manis dan memberi perhatian kecil, yang sering dia berikan untuk para tante-tante penyewa jasanya. Hati perempuan mana yang tidak akan meleleh dan menghangat, apabila terus diperlakukan sedemikian rupa. Tak terkecuali Maudy, yang semakin hari semakin mengaguminya. Bagas bisa menjamin seribu persen. Terbukti, saat ini Maudy menatapnya dengan tatapan kagum. Dan tak ragu mengecup pipinya. Bagas mengulas senyum ketika Maudy memujinya, "Makasih ganteng." Perempuan itu menyeringai nakal, seraya mengusap pipi Bagas. Tatapan matanya pun tak lepas dari bibir Bagas. "Sama-sama, Cantik." Bagas membelai pipi Maudy dengan punggung tangan.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore