แชร์

Bab 151

ผู้เขียน: Ratu As
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-08 09:43:05

Kening Arhan mengernyit tak menyangka. Ibunya tidak bilang apa pun padanya.

"Apa Ibu mengatakan sesuatu? Atau berbuat hal yang tidak mengenakan?"

Ziana menggeleng. "Bu Wina baik. Dia sempat mencicipi masakanku dan kami mengobrol ringan."

Tidak ada raut sedih saat Ziana bicara, dia tidak terlihat bohong. Jadi benar Wina datang ke rumah?

"Boleh, ya?"

"Baiklah." Arhan tidak lagi menolak saat gadis itu memegang lengannya dan ikut berjalan ke arah mobil.

Ziana duduk anteng dengan sesekali menoleh untuk menatap Arhan, lalu tersenyum-senyum sendiri. Gadis itu bukan sedang menggoda, tapi mungkin tidak bisa menutupi rasa senangnya karena Arhan tidak lagi menolak mentah-mentah perasaannya.

***

Ziana mengerti dengan baik, meski saat berdua dia boleh dekat dengan Arhan namun di luar Ziana harus paham posisi. Dia berjalan membuntut ketika Arhan memasuki rumah ibunya.

Wina berada di kamarnya.

"Arhan, kamu datang?" Wina tersenyum lega. "Ofi juga ke sini, dia sangat mencemaskan keadaan Ibu.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 155

    Aris jelas tidak terima. Dia menatap lelaki di depannya dengan tidak suka. "Pak Arhan, Anda tidak boleh kasar pada anak kecil." "Saya tidak kasar." Arhan kembali tersenyum, tapi senyum miring yang menampakkan ketidaksukaannya. "Untuk menghadapi anak kecil yang banyak tingkah, harus lebih tegas." Arhan memang menyebalkan sejak dulu, Aris diam-diam menahan kesal. Lelaki tua itu pintar bersikap dan berbicara hingga tampak tetap berwibawa meski sebenarnya apa yang dilakukannya sangat tidak adil. Leo menangis dan Aris harus menenangkannya. Jadi, dia tidak bisa menahan Ziana. *** Di mobil, Ziana masih melihat ke belakang. "Pak Arhan, Leo masih menangis," katanya dengan ekspresi iba. "Itu bukan urusanmu, Ziana. Kamu bukan babysitter-nya." "Tapi.... " Arhan menoleh. "Kamu tahu? Kamu harus lebih berhati-hati." "Memang kenapa? Om Aris terlihat seperti orang baik." Arhan tersenyum miring. "Ziana, apa kamu tidak tahu kalo pria punya banyak trik? Apalagi seorang duda, dia akan gunaka

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 154

    Hampir Ziana tersentak, tidak percaya. Ternyata dia memang berjodoh dengan Arhan, sampai di tempat seperti ini pun takdir mempertemukan mereka. Ziana tersenyum, hampir melambaikan tangan, namun Arhan justru menatapnya makin tajam. Lelaki itu juga melihat pada si kecil Leo dengan tak suka. "Ziana, kamu mau minum?" Aris menawari minuman, suaranya membuat Ziana memalingkan wajahnya dari Arhan. "Terima kasih, Om Aris," balasnya dengan senyum senang. Senyum yang tertangkap jelas oleh Arhan. Saat Ziana menoleh lagi, lampu merah sudah berganti, mobil Arhan sudah melesat dengan cepat. Mata Ziana menatap jauh, lalu ponselnya bergetar. Ada pesan Arhan yang membuat Ziana buru-buru membukanya. [Saya tunggu di depan.] Pesan itu singkat, Ziana mengulas senyum saat kembali mendongak dan dia melihat mobil Arhan berhenti di depan. "Pak Aris berhenti," pinta Ziana. "Sampai sini saja." "Ini masih sangat jauh, Ziana?" Aris tidak mengerti, namun saat ada lelaki yang menghadang di depan, hampir A

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 153

    Wina tertegun sejenak, mungkin tidak menyangka anaknya akan jadi patokan penilaian Ziana. Sesaat kemudian wanita tua itu baru terkekeh. "Yah, tidak kurang seperti itu. Hanya saja kamu bisa dapatkan dengan versi lebih muda. Mungkin akan lebih mudah untukmu jika menjalin hubungan dengan lelaki yang jarak umurnya tidak beda jauh," ujar Wina sedikit memberi saran. Ziana juga tertawa pelan, menanggapi obrolan ini dengan candaan agar tidak terlalu tegang. "Tidak juga, aku justru suka yang dewasa. Umur bukan masalah, bahkan jika berbeda dua kali lipat dari usiaku," kata Ziana yang membuat Wina sedikit mengernyit. "Maksudku, umur bukan patokan," tambah Ziana dengan ekspresi tenang dan wajar. Wina yang tadi sempat berpikir keras, dia kembali tersenyum. Tidak menanggapi ucapan Ziana berlebihan, mungkin gadis muda itu hanya sedang mengutarakan pendapatnya? *** Ziana pulang dari rumah Wina sore hari. Dia terlalu betah sampai tidur siang di sana. Dia pulang dengan memakai tak

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 152

    Arhan tersenyum. Dia menatap ibunya dengan tenang, seolah tidak ada hal apa pun yang perlu dicemaskan. "Memang aku harus bagaimana, Bu? Kami kan sama-sama dewasa, bukannya wajar jika kami bersikap biasa saja? Tidak perlu umbar kemesraan. Itu sangat aneh." Wina menghela napas. Dia tahu putranya memang bukan tipe lelaki romantis, tapi dia merasa sikap Arhan pada Ofi bukan dingin biasa, melainkan seperti lelaki asing yang tidak punya perasaan pada Ofi. Mungkin karena mereka sedang marahan? Tapi lelaki kaku seperti Arhan bahkan tidak tahu bagaimana caranya curhat. "Kalau ada masalah bilang saja sama Ibu. Siapa tahu Ibu bisa kasih solusi? Bagaimana pun kan sebentar lagi kalian menikah?" "Ibu tidak perlu pikirkan soal ini. Lebih baik Ibu fokus dengan kesehatan Ibu saja." Arhan mulai enggan terus-terusan membahas soal Ofi. "Sudah siang, Arhan harus ke kantor. Lelaki itu memilih berpamitan, setelah memastikan kondisi ibunya baik-baik saja. *** Di dapur, Ziana masih sibuk me

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 151

    Kening Arhan mengernyit tak menyangka. Ibunya tidak bilang apa pun padanya. "Apa Ibu mengatakan sesuatu? Atau berbuat hal yang tidak mengenakan?"Ziana menggeleng. "Bu Wina baik. Dia sempat mencicipi masakanku dan kami mengobrol ringan." Tidak ada raut sedih saat Ziana bicara, dia tidak terlihat bohong. Jadi benar Wina datang ke rumah? "Boleh, ya?" "Baiklah." Arhan tidak lagi menolak saat gadis itu memegang lengannya dan ikut berjalan ke arah mobil. Ziana duduk anteng dengan sesekali menoleh untuk menatap Arhan, lalu tersenyum-senyum sendiri. Gadis itu bukan sedang menggoda, tapi mungkin tidak bisa menutupi rasa senangnya karena Arhan tidak lagi menolak mentah-mentah perasaannya. ***Ziana mengerti dengan baik, meski saat berdua dia boleh dekat dengan Arhan namun di luar Ziana harus paham posisi. Dia berjalan membuntut ketika Arhan memasuki rumah ibunya. Wina berada di kamarnya. "Arhan, kamu datang?" Wina tersenyum lega. "Ofi juga ke sini, dia sangat mencemaskan keadaan Ibu.

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 150

    "Ayah, pelan-pelan. Ini masih pagi, tapi Ayah sudah buru-buru sekali sampai tersedak!" tegur Sandra yang baru datang. Gadis itu melihat ayahnya yang menyedihkan. Masih pagi tapi sudah apes karena tersedak sampai minuman di cangkir sebagian tumpah mengenai celana kerjanya. Ups! Ziana tersenyum samar. Dia mengambil tisu lalu membantu Arhan mengelap bagian yang basah. "Celana Pak Arhan jadi basah, apa Anda ingin berganti? Aku akan siapkan?" Tangan Ziana masih menumpu di paha Arhan yang basah. Bergerak perlahan, meski ada kain yang menghalangi sentuhan itu, namun tetap saja sentuhan Ziana sukses membuat sesuatu dalam diri lelaki itu bergejolak. Sandra tidak melihatnya karena terhalang meja. Untuk sesaat Arhan dan Ziana saling pandang, Arhan tidak bisa diam saja menghadapi tingkah gadis muda yang sejak pagi sudah sangat aktif. Dia membalas dengan menangkap jemari Ziana lalu meremasnya sebentar hingga Ziana bersusah payah menarik tangan dan menjauhkan diri agar Sandra tid

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status