LOGINYeni diculik, dan dijadikan bayangan wanita yang tidak pernah bisa dimiliki oleh Saga. Dia dipaksa patuh, dijerat ancaman, dan dikurung dalam ranjang seorang penguasa ibukota yang kejam, pria yang kehilangan kewarasan. Keluarganya hidup di surga. Yeni hidup di neraka. Saat cinta sejatinya direnggut, pengkhianatan sahabat terungkap, dan kehamilan menjadi akhir segalanya—Yeni memilih melompat ke laut daripada harus kembali pada penjara bernama Saga. Kepergiannya merubah hidup seluruh orang-orang yang terlibat dengannya dan melahirkan kegilaan serius Tuan Saga. Namun, penyesalan Saga datang terlambat. Dua tahun kemudian, pria paling kejam di ibukota menemukan satu kenyataan yang menghantam remuk jiwanya: Wanita yang ia hancurkan… masih hidup. tetapi dalam keadaan buta. Apakah dosa itu bisa ditebus… atau cinta mereka memang ditakdirkan lahir dari kegelapan?
View MoreMalam pukul 00.20.
Yeni digendong masuk ke dalam mobil oleh Saga. Mobil itu kecil, sempit, dan dipenuhi bau alkohol yang menyengat. Yeni sangat takut pada Saga. Begitu mendengar namanya saja, tubuhnya langsung gemetar. Saga tidak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan. Tapi Yeni tahu jelas, pria itu sedang marah. Tidak ada amarah yang pria itu tunjukkan secara terang-terangan, juga tidak ada bentakan. Wajahnya tetap datar, tetapi justru itu yang paling menakutkan. Saga adalah sosok dingin yang sulit ditebak, tidak berperasaan, dan ketika diam, dia lebih menyeramkan daripada ketika marah. Setelah mobil berhenti, Saga langsung turun tanpa menoleh dan masuk ke dalam vila. Yeni berdiri di depan pintu gerbang. Vila itu megah seperti istana, namun baginya… itu seperti penjara. Penjara yang sangat menyiksanya. Lampu-lampunya terang seperti siang hari, tidak ada sudut gelap. Tetapi justru itulah yang membuatnya terasa seperti neraka. Kaki Yeni terasa berat, seolah berakar di tanah. Dia benar-benar tidak ingin membuka pintu itu. Pintu villa ini baginya adalah batas antara dunia luar… dan neraka tempat Saga menunggunya. Sepuluh menit ia berdiri di sana, menggigit bibir hingga berdarah karena rasa takut. Dia menarik napas panjang, menelan rasa gentar, dan akhirnya mendorong pintu dengan tangan gemetar. Di ruang tamu, Saga duduk santai di sofa kulit, tubuh tegapnya tampak jelas dalam pencahayaan ruangan. Di meja, ada sebotol anggur merah kelas atas dari Paris Marrior. Cairan merah gelap itu bergetar pelan di ujung jarinya yang ramping, terlihat seperti mandala yang mekar di neraka. Punggung Yeni terasa dingin. Namun dia tetap melangkah maju, meskipun langkahnya begitu berat dan kakinya gemetar. Saga memiliki garis wajah yang sempurna, seperti diukir dengan tangan yang teliti. Alisnya tegas, mata dalam bagai sumur gelap, bibir tipis seksi, dan wajah tanpa cela. Aura penindasnya begitu kuat, bahkan tanpa berkata-kata pun, dia bisa membuat orang kehilangan napas. Saat berdiri di hadapannya, udara seolah hilang dari paru-paru. Itulah yang selalu Yeni rasakan. Di hadapan Saga, dia selalu gemetar. Seolah nyawanya tersedot sedikit demi sedikit. Saga mengangkat pandangan. Hanya gerakan kecil, namun tatapannya dingin, tanpa perasaan. Tubuh Yeni kembali gemetar tanpa bisa dikendalikan. “Kamu terlambat lima jam,” katanya datar. Aturannya jelas: Yeni harus kembali ke villa sebelum pukul 7 malam setiap hari. Yeni berdiri di depannya, seperti murid SD yang ketahuan melakukan kesalahan. Suaranya kecil dan bergetar. “... Maaf, tadi teman sekelas memaksa-ku ikut perayaan ulang tahunnya.” Saga mengangkat wajah. Hanya satu tatapan saja sudah membuat tubuh Yeni gemetar semakin hebat. Lalu pria itu perlahan menuangkan anggur merah ke gelas kosong. Setelah itu, Saga mengeluarkan botol obat dari sakunya. Begitu Yeni melihat botol obat itu, wajahnya langsung memucat. Kakinya melemah, tubuhnya gemetar tanpa kendali. Satu butir. Dua butir… Saat Saga masih memasukkan pil ketiga ke dalam anggur merah, lutut Yeni goyah. Dia jatuh ke sofa di belakangnya. Darahnya seperti berhenti mengalir, wajah pucatnya kehilangan seluruh warna. Saga memasukkan tiga pil merah muda, lalu menggoyang perlahan gelas anggur itu. Suara pil yang meleleh terdengar samar. Kemudian dia berdiri. Tubuh tingginya menciptakan bayangan besar yang menelan Yeni. Sofa di sebelahnya tenggelam saat Saga duduk. Gelas anggur merah itu ia sodorkan tepat di depan wajah Yeni. “Minum,” suaranya rendah, dingin, tanpa emosi. “... Tidak.” Yeni reflek menolak. Aroma kuat anggur merah memenuhi udara bersama aura berbahaya pria itu. Tiga pil. Jika dia minum, dia tahu apa konsekuensinya. Yeni ragu, tapi suara dingin Saga terdengar tepat di telinganya. “Apa kamu ingin aku menyuapimu?” Bibir Saga sudah menyentuh bibir gelas. “Tidak mau!” Yeni buru-buru menggenggam tangan pria itu untuk menghentikannya. Air mata memenuhi matanya. “Aku minta maaf… aku tahu aku salah… Aku janji akan pulang sebelum jam tujuh. Aku tidak akan ikut ulang tahun teman sekelas lagi. Kumohon…” Saga adalah pria yang kuat, keras, dan selalu ingin mengendalikan segala hal. Termasuk tubuh Yeni. Dalam hal itu, ia tak pernah kompromi. Saga memiliki kekuatan besar, sementara Yeni lembut dan rapuh. Sekali diajak begitu… ia bisa tumbang hanya dalam satu malam. Dua kali saja sudah membuatnya tidak bisa bangun berhari-hari. Jika Saga tidak puas, dia akan mengambil obat itu obat merah muda yang paling ditakuti Yeni. Satu pil saja sudah cukup membuat Saga bertahan semalaman. Tiga pil… dia bisa menyeret Yeni sampai tiga hari tiga malam. Hanya memikirkannya saja membuat Yeni masih merinding. Yang paling ia takuti adalah obat itu. “Ku—kumohon… aku tidak bisa minum anggur ini,” gumam Yeni parau. “Ini… bisa membunuhku.” Saga tidak menjawab. Ekspresinya dingin seperti batu. Dia menuang pil lain dari botol, memasukkannya ke mulutnya sendiri… dan menelannya di depan Yeni. Yeni membeku. Ia tahu ini adalah ultimatum. Satu atau tiga. Tidak ada opsi lain. Dengan tubuh gemetar, Yeni mengambil gelas itu. Di bawah tekanan, dia menelan obat itu dengan nyaris mati rasa. Aroma manis obat memenuhi mulutnya, tapi kenyataannya sangat pahit. Saga langsung menggendongnya naik ke lantai atas. Dan malam itu… seperti biasa… Yeni kelelahan. Suara tangisnya habis, tenggorokannya serak, matanya bengkak. Hidupnya… benar-benar seperti dineraka. Sementara iblis yang tinggal di rumah itu… terlihat sangat puas. Kendali dan hasratnya mencekik Yeni hingga putus asa. Pukul 22.30 malam. Untuk mahasiswa pada umumnya, malam adalah waktu paling menyenangkan: Pacaran dengan kekasih, Bernyanyi di kafe, membaca buku favorit di perpustakaan, atau sekadar nongkrong bersama sahabat. Itu semua adalah hal yang Yeni bayangkan sebelum masuk universitas. Dan benar, dia pernah merasakannya. Sayangnya, dia hanya merasakan kebebasan itu selama satu bulan. Setelah itu… hidupnya berubah menjadi neraka. Dia bahkan tidak mengerti bagaimana semuanya bisa terjadi. Yang ia ingat hanyalah malam itu, klub komik mengadakan acara barbekyu di rumah seorang senior kaya. Rumah itu besar, taman belakangnya lebih luas daripada lapangan sekolah. Yeni tidak ikut karena sedang demam. Ia hanya berbaring di sofa klub dan tertidur. Ketika sadar, dia sudah berada di atas tempat tidur besar dan empuk. Awalnya dia mengira senior klub membawanya untuk istirahat. Namun kenyataannya… dia berada di rumah Saga. Malam itu, kamar gelap. Saga duduk di samping tempat tidur, menatapnya dengan mata sedalam malam. Tangan dinginnya membelai pipi Yeni berulang-ulang. Yeni ketakutan sampai menahan napas. Tidak berani bergerak sedikit pun. Tidak ada lampu. Dia tidak bisa melihat wajah Saga jelas. Yang ia rasakan hanya ketakutan yang menusuk. Tekanan tak terlihat dari pria itu seperti jaring yang membelit tubuhnya. Dia tidak bisa lari. Reaksi pertama Yeni saat itu adalah— Takut. Lalu ketakutan itu mengalir terus tanpa henti. “Apa… aku diculik?” pikirnya waktu itu. --Saga menyentuh pipi itu, merasa tak ingin mencuci wajahnya seumur hidup.Ia memeluknya erat, hatinya penuh kehangatan.Kini, cinta mereka tenang dan murni.Tidak lagi dipenuhi obsesi dan ekstremitas seperti dulu.Cinta yang mengalir perlahan, hangat setiap hari.Saga menyelimuti tubuh Yeni dengan mantelnya.“Kita lihat sebentar saja, lalu pulang. Kamu tidak boleh terlalu lama kena angin. Kalau kamu sakit lagi, siapa yang akan merawat putra kita?”Anak Yeni benar-benar dingin.Padahal usianya baru sembilan bulan, tapi sikapnya seperti orang tua berumur sembilan puluh tahun.Sungguh.Seharian penuh Yeni menggodanya, namun bocah itu hampir tidak pernah menunjukkan ekspresi apa pun.Karena Yeni tidak sadarkan diri setelah melahirkan, ia tidak punya kesempatan untuk menyusui. Saat akhirnya sadar, kondisinya sudah tidak memungkinkan.Paling-paling, saat diberi susu botol, jika
Tak lama kemudian, seorang pengasuh datang membawa seorang bayi mungil. Bayi itu diletakkan di pelukan Saga. Yeni menunduk, jantungnya berdebar kencang.Zinnia menyentuh pipi bayi itu dengan jari kecilnya.“Ibu, adik cantik, kan?”Saga tertawa kecil dan berkata, “Zinnia, bilang tampan. Adikmu ini laki-laki.”“Ah iya. Tapi dia cantik.” Zinnia tertawa.Air mata Yeni kembali jatuh.Sudah delapan bulan sejak dia pingsan. Dan anak itu… sudah delapan bulan hidup di dunia ini. Wajahnya sehat, tenang, dan sangat mirip Saga.Bayi itu tidur dengan damai, tanpa rewel.Patuh… seperti doa yang akhirnya terkabul.Hati Yeni terasa lembut, tapi juga kacau.“Dia benar-benar mirip denganmu.”Saga melirik ke arah bayi yang terbaring di ranjang kecil itu.Hanya sekilas.Itu adalah pandangan pertamanya pada putranya.
“Delapan bulan.”“Delapan… bulan?”Yeni terdiam, lalu tersenyum kecil.“…Berarti aku masih hidup.”Saga memeluknya erat, telapak tangannya bergetar.“Aku tidak akan membiarkanmu mati. Aku tahu… kamu pasti bangun.”Dia menunggu terlalu lama. Menggunakan terlalu banyak dokter, terlalu banyak obat, hanya untuk hari ini.Yeni adalah nyawanya.Saat kesadarannya mulai jernih, ingatan pertama yang muncul di benaknya adalah satu hal.Zinnia.Dia langsung menggenggam tangan Saga dengan panik.“…Zinnia?”Saga cepat menenangkannya.“Dia sekolah. Setiap hari datang menjengukmu. Kalau dia pulang dan tahu kamu bangun, dia pasti sangat senang.”Yeni menghela napas lega.Tubuhnya kembali melemas.“Aku capek… tidak punya tenaga.”Saga tersenyum lembut.“Wajar. Selama ini kamu hidup dari infus. Pelan-pelan saja, kamu akan membaik.”
Saga menunduk, dahinya menyentuh punggung tangan Yeni.“Kalau dia pulang dan tidak melihatmu, dia tidak akan bicara sepanjang hari… bangunlah…”Napasnya tersengal.“Aku tahu aku terlalu kejam… aku salah… tapi bangunlah.”“Aku lepaskan kamu. Aku tidak akan mengurungmu lagi. Tidak akan mengikatmu. Kamu mau pergi ke mana pun, silakan. Kamu mau meninggalkanku… tidak apa-apa.”Suaranya berubah lirih, nyaris seperti bisikan putus asa.“Asal kamu bangun.”Dia tidak akan meminta apa pun lagi.Asal wanita dengan mata terpejam ini bisa membuka matanya.Bisa kembali melihat dunia.Bisa menghirup udara segar.Bisa berjalan… berlari… tertawa… bermain…Apa pun.Asal dia membuka matanya.Namun tubuh itu tetap diam. Seperti tertidur terlalu dalam, seolah jiwanya telah pergi terlalu jauh untuk kembali.Hanya bercak merah darah di balik selimut, bekas perjuangan hidup












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews