
Anak Kembar yang Kau Tinggalkan
"Anak saya baru berusia enam belas tahun, dan dia hamil! Saya minta pertanggungjawaban nak Diaz!"
Seorang lelaki berumur kisaran empat puluh tahun terduduk dengan wajah kusut dan tatapan penuh luka juga kecewa. Karena anak gadisnya yang selama ini dia jaga telah terenggut kesuciannya oleh kakak kelas di sekolahnya.
"Anak saya menghamili putri, Anda?" Ibu dari Diaz tersenyum smrik dengan tatapan meremehkan. Dia tidak akan menyangkal, sebelumnya Diaz memang sudah mengakui kesalahannya yang menodai seorang gadis demi taruhan bersama teman-temannya.
Ibu Diaz menatap gadis muda yang terduduk dengan kedua tangan gemetar, saling mengait dan bertumpu di paha. wajahnya kusut dengan mata sembab. Penampilannya begitu sederhana, memakai kaus pendek dengan bawahan rok selutut. Rambutnya sebahu yang tergerai semrawut, namun tidak mengurangi aura cantik dan manisnya.
"Baik, kami akan bertanggung jawab!" Ibu Diaz mengambil sebuah amplop dari dalam tas yang sudah dia siapkan.
"Amplop ini berisi uang dengan jumlah yang tidak sedikit. Saya memberikannya secara cuma-cuma, terserah kalian akan gunakan untuk biaya menggugurkan kandungan atau untuk melahirkan anak itu! Yang jelas, Diaz tidak akan menikahi anak Anda!" tegas Ibu Diaz.
"A--apa? Bagaimana mungkin Anda tega melakukan ini? Bagaimana pun benih yang anak saya kandung adalah cucu, Anda!"
"Hey, Orang Miskin! Kamu pikir saya tidak tahu? Kalian menuntut tanggung jawab agar anak saya menikahi dia demi keuntungan kan? Jangan mimpi bisa hidup enak karena menjebak orang kaya untuk menikahi anakmu! Sekarang pergi!" usir wanita itu dengan wajah garang dia bahkan menyuruh seorang satpam untuk menyeret si gadis dan bapaknya keluar rumah.
"Pergi!" titah satpam dengan mendorong mereka sampai terjatuh di pelataran rumah.
"Bapak? Ba--pak, kenapa, Pak?" Gadis itu menangis histeris ketika melihat bapaknya tiba-tiba sesak napas lalu tak sadarkan diri.
"Bapaaak!"
Read
Chapter: Bab 77 Extra Part*** Beberapa bulan kemudian .... "Sayang, kamu baik, kan?" Tangan kiri Diaz mengusap perut Amna yang membuncit, baru lima bulan tapi sudah sebesar itu karena ada dua janin di dalamnya. "Iya, Ayah ... udah berapa kali tanya, hm?" jawab Adelia mendahului mamahnya dari belakang lalu cekikikan dengan Adelio. "Ayahmu sangat khawatir sama Mamah!" Amna ikut tertawa. "Enggak papa, kok, Mas. Kamu nyetirnya pelan banget dari tadi. Aku enggak ngerasain ada goncangan. Si utun juga anteng-anteng ajah," jawab Amna lalu menyuruh suaminya untuk kembali fokus menyetir. Setelah beberapa bulan tinggal di kampung, mereka memutuskan pindah ke kota setelah Adelia dan Adelio menyelesaikan tes kenaikkan kelas. Jalanan kampung ada beberapa yang belum teraspal, Diaz sangat hati-hati dalam menyetir karena takut ibu hamil di sampingnya akan sakit. *** Sampai di rumah, Amna merebahkan diri di sofa. Meski ditinggalkan cukup lama tapi rumah ini bersih dan terawat karena Bi Karti pembantunya Elvis, sesek
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Bab 76 Extra PartSuasana kamar pengantin baru hawanya emang beda! Amna sudah menempatkan diri di ranjang, bahkan dia sudah berbaring dan menutup mata ketika Diaz baru saja masuk. Karena gerogi, Amna memilih pura-pura tidur dan memakai selimut sampai sebatas leher. Tidak jauh beda dengan Diaz, dia mau masuk ke kamar saja berkali-kali cek baju juga ketek takutnya kurang wangi. Diaz menyugar rambutnya lalu mengetuk pintu dengan lirih membukanya pelan. Saat masuk suasana kamar sudah temaram hanya lampu tidur yang menyala. "Amna Zakia, sudah tidur?" Diaz berdiri di samping ranjang lalu membungkukkan badan untuk melihat Amna. Saking seriusnya melihat, Diaz sampai mendekatkan wajahnya begitu dekat. Amna bisa merasakan embusan napas Diaz, sontak saja dia terkaget dan buru-buru membuka mata lalu memundurkan kepalanya."Kak Diaz, mau ngapain?" Wajah Amna terlihat gugup dan salah tingkah, dia bahkan merasa konyol karena menanyakan hal konyol. Diaz jadi tertawa geli. "Kok, mau ngapain? Mau nemenin kamu tidur!
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Bab 75"Bi An ...." Amna yang berdiri di samping Andini langsung merangkul pundak bibinya yang merosot hampir saja jatuh karena syok dan lemas. "Bibi duduk dulu!" Amna memepahnya ke tempat duduk. Sementara Laila masih diam terpaku, kabar ini mungkin membuatnya juga sangat syok dan kecewa. Bagaimana mungkin mempelai lelakinya pergi di saat akad akan dimulai?"Apa Mas Jaya memang berniat mempermainkanku?" gumam Laila terduduk lesu di tepi ranjang. Air matanya langsung berjatuhan menimpa pipi yang awalnya sudah dilapisi make up. "Mereka pasti akan datang, mungkin Jaya cuma pergi sebentar. Nanti pasti ke sini!" ucap Amna untuk menenangkan mereka. Dari awal keluarga Jaya lah yang meminta Laila untuk menjadi menantu mereka, tentu saja karena miskomunikasi. Wanita yang Jaya inginkan itu Amna, tapi orang tuanya justru melamar Laila sebagai gadis yang mengembalikan kambing Moly. Jaya tidak tahu jika saat itu Laila yang mengantar, bukannya Amna. Namun karena terlanjur melamar dan kedua orang tuany
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Bab 74"Maaf ya, tapi memaksaku memang terniat. Tolong jangan lepaskan, nanti kalo kita nikah baru deh pasang ulang. Aku pengen saat kamu melihat sesuatu yang tertempel di ragamu ... kamu akan ingat aku!" Tidak heran, Diaz dan Elvis begitu mirip! Mereka sebelas dua belas dalam hal lamar melamar, Amna jadi geleng-geleng."Ayo bangun!" Diaz mengulurkan tangannya, Amna masih menunduk dengan mengusap sisa air mata di pipi lalu menerima uluran tangan dengan menarik ujung lengan baju Diaz. Kini mereka berdua berdiri bersama lalu saling tatap kemudian berjalan menyusuri jalanan di sinari cahaya bulan yang belum utuh purnama. Mereka berdua terus berjalan menuju ke rumah, hanya berdua karena si kembar sudah lebih dulu pulang bersama Laila. "Kak, aku mau jujur ... mungkin setelah kamu dengar ini, kamu akan menganggapku wanita tidak baik. Tapi setidaknya aku akan lega karena tidak membohongimu," ucap Amna dengan berjalan pelan, bersisian dengan Diaz. Sudut bibir Diaz tertarik membentuk seulas seny
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Bab 73"Amna, aku tahu ... tidak bisa menghapus semua luka di masa lalu, tapi aku janji akan berusaha memperbaiki di masa depan." Diaz berganti berjongkok di depan Amna lalu merogoh saku jaket dan mengeluarkan kotak kecil. "Kak Diaz, apa yang kamu lakukan? Jangan begini, aku jadi malu!" Amna menoleh ke sekitar, ada beberapa orang yang mulai memerhatikan. Momen melamar seperti ini sering Amna lihat di TV tapi saat mengalaminya langsung ternyata sangat deg-degan, malu, sekaligus salah tingkah. "Kak Diaz, ayo duduk saja, Please!" Amna panik sendiri dengan pipi memerah. "Tidak, Amna. Aku tidak akan bangkit atau bergeser sedikit pun sebelum kamu menerimanya." Amna menggeleng, baginya lamaran Diaz terlalu terburu dan tidak masuk akal. Dia tidak ingin kedua anaknya melihat ini, Amna belum siap. "Enggak, Kak. Tidak sekarang, cepatlah bergeser. Aku tidak mau anak-anak liat!" Amna memohon sambil menarik-narik lengan Diaz. "Baiklah!" Situasi seakan tidak mendukung, ekspresi Amna sangat jauh dari
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Bab 72"Haduh, Moly iki, kok, makin ayu ya? Wangi, seneng kamu, Mol?" Marni menggendong anak kambing kesayangan keluarga masuk. Juragan Mulyo mengikuti langkah istrinya dengan senyum semringah. Dari pintu kamar, Jaya berdiri sambil mengamati kedua orang tuanya."Moly sudah pulang, Buk?" tanyanya basa-basi. "Sudah. Nih!" Marni menunjukkan kambing berwarna putih itu. "Sama siapa, Buk?" "Loh, kan sama calon mantu? Tadi Ibuk sudah lihat pacar kamu itu," balas Marni mesem-mesem"Wah, Ibuk sudah ketemu? Cantik, Buk?" "Iyo, ayu! Kamu pinter milihnya. Piye, kamu maunya kapan Ibuk sama Bapak lamarkan?" Jaya mesem sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa panas dingin. Respon kedua orang tuanya yang terlihat pro membuat Jaya makin kepedean dan deg-degan."Secepatnya, Buk!" jawab Jaya lalu membalik badan dan kembali masuk ke kamar. Dia menutup pintu dan duduk di tepi ranjang, kedua tangannya menutupi wajah yang kini sedang tersenyum tanpa henti. "Yeeeeeesss!" ucap Jaya kemudian sambil men
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Bab 29Anara mengusap wajah kecil yang pucat itu, memastikan kondisi Zavi. Bibir Zavi bergumam, namun tidak terdengar jelas suara yang keluar. Melihat tubuh kecil yang basah Anara membopongnya keluar dari kamar mandi. Anara panik, tapi mencoba tetap tenang dengan mengganti baju Zavi yang basah lebih dulu. Anak itu butuh rasa hangat dan nyaman. ***“Nara, mau dibawa ke mana Zavi? Kalau masih demam biarkan dia istirahat di sini dulu!” tegur Sarah yang melihat Anara menggendong Zavi. “Tubuhnya sudah sangat lemas, bagaimana mungkin dibiarkan, Zavi harus ke rumah sakit!” Anara bersikeras, dia sudah memakaikan Zavi baju yang kering dan hangat, dia ingin membawa anak itu. Dia bukan ibu kandungnya, tapi sifat protektif keibuan membuatnya tidak bisa hanya diam melihat anak sekecil Zavi dibiarkan. Kemarin saat Anara melihat Zavi terakhir anak itu masih baik dan sehat, tidak ada gejala demam atau pun sakit. Jadi kondisi Zavi saat ini membuat Anara tidak bisa tenang. “Kami punya dokter keluarga.”
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 28Rey kebingungan dengan sikap putranya, padahal dia belum mengecek kondisi Zavi setelah terbangun. "Kata Dokter kondisi Zavi sudah membaik. Dia hanya perlu beristirahat lebih banyak. Kamu tidak usah cemas, Rey. Mungkin Zavi ingin sendirian sekarang," kata Sarah tidak ingin membuat Rey cemas. "Kamu bisa berangkat kerja."Rey bimbang, dia punya kerjaan penting hari ini, namun kondisi Zavi membuatnya was-was. Rey mengirim pesan untuk Anara menjemput Zavi lebih awal. Sudah hampir satu jam Rey membujuk anak itu, namun Zavi tidak luluh sama sekali. Pintu tertutup rapat tanpa ada suara yang menyahut. “Oke. Kak Nara akan datang jemput, nanti kamu bisa sarapan dengannya.” Rey menyerah. Akhirnya dia merayu dengan pura-pura pergi. Rey pikir Anara akan jadi orang terakhir yang paling Zavi tunggu kedatangannya. “Tidak mau,” tolak Zavi keras, suaranya melengking menembus pintu. Dia bahkan tidak mau meski diiming-imingi dengan bujukan Anara. “Zavi tidak mau makan–” Rey menarik napasnya, menah
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 27“Makasih, Pak Rey,” ucap Anara dengan suara tertekan. Dia tidak bisa lagi percaya diri. Respon Rey benar-benar di luar dugaannya. Anara membungkuk, Rey masih menatapnya dengan senyum miring lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Saya permisi, Pak Rey–” Anara menarik diri, niatnya ingin ke kamar karena tidak ada lagi yang perlu dia layani. Tapi saat melewati ruang tengah, dia melihat Kev yang datang. “Hai, Nara, kita bertemu lagi!” sapa Kev dengan senyum antusias. Dia mendekat, membuat Anara yang kepalang basah terlihat harus basa-basi menyapanya. “Pak Kev, cari Pak Rey? Dia sedang makan malam.” “Mmm–” Kev berdiri di hadapan Anara. “Tidak juga, niatnya kalau ada kamu sih, maunya ketemu kamu,” imbuhnya tanpa malu, ucapannya penuh gombal khas playboy. Kev memakai baju casual, wajahnya segar dengan rambut yang dibiarkan tertata agak semrawut, memiliki kesan muda dan natural. Anara tersenyum canggung, dia hendak pamit namun Kev terus berbasa-basi. “Kamu terlihat cantik, bahkan pakaia
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 26Mata Henry nyalang, dia menatap putrinya dengan emosi yang hampir meledak. “Kalau memang sejak awal Anda tidak menyukai ibuku harusnya cerai setelah menikah! Kenapa harus ada anak kedua dan ketiga!” Anara berteriak, dadanya yang sesak rasanya tidak tahan lagi. Anara mengutuk ayahnya, andai boleh, Anara juga tidak mau punya ayah seperti Henry! Orang bilang cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, namun bagi Anara sebaliknya. Ayahnya adalah lelaki brengsek yang pertama kali mengajarkannya tentang patah hati. “Anara, kau, benar-benar–” Henry menunjuk wajah Anara dengan geram, hampir saja dia kembali melayangkan tangannya. Tapi istrinya, mencegah dan lebih dulu maju. “Nara, kamu bilang saya jalang? Kamu pikir siapa yang lebih jalang? Di usiamu yang masih muda ini, kamu bahkan bekerja di club malam. Jual diri kan?” tuduh Siska dengan senyum mencibir. “Apa? Nara bekerja di club malam?” Henry yang baru tahu terlihat kaget. Matanya melotot tajam. “Nara, apa itu benar?” Gigi Anara g
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: Bab 25Anara berlari tergesa-gesa menuju ke tempat parkir setelah setelah turun dari taksi. “Kak Nara!” panggil Zavi yang sudah menunggu sejak tadi. Dia tersenyum senang, berbeda dengan wanita paruh baya di sebelah anak itu. “Hm, lama banget kamu ini. Saya sudah menunggu hampir setengah jam!” ketus Sarah melirik jam tangannya. “Maaf, Bu Sarah. Zavi mau dibawa ke mana? Apa saya harus mendampinginya?” Zavi sudah melendot pada Anara. Anak itu yang sejak tadi membuat Sarah terpaksa harus menunggu Anara karena tidak mau dibujuk. “Tidak perlu. Saya dan suami mau ada acara jadi bawa Zavi–”“Kalau begitu saya minta izin dulu ke Pak Rey.” Anara pamit untuk menelpon Rey lebih dulu, sekalipun Sarah orang tua Rey, namun Anara tidak mau mengambil resiko. Anara berjalan agak jauh hanya untuk mengkonfirmasi pada Rey. Dia sudah berusaha sebaik mungkin agar pekerjaannya lolos penilaian dan bisa mendapat gaji dua puluh juta sebulan. “Bu Sarah bilang mau bawa Zavi tanpa perlu saya ikut, Pak Rey, boleh k
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: Bab 24Anara terkekeh, dia mencolek hidung Zavi dengan gemas. “Boleh saja kalo beneran ayahmu kasih maskawin uang satu truk. Kak Nara akan menerima lamaranmu dengan senang hati.” Senyum Zavi melebar, bagi anak itu jawaban Anara adalah keseriusan. Hanya tinggal menyusun rencana, Zavi akan buat bagaimana pun caranya Nara akan jadi mamanya. ***Anara membawa buah dan makanan lezat untuk dibawa ke rumah sakit, dia sengaja membawa banyak karena Arlo bilang akan menjenguk ibunya. Setelah mengantar Zavi ke sekolah, Anara mencuri-curi waktu untuk ke rumah sakit. “Orang miskin memang bisanya cuma nyusahin!” Di ruang rawat Salma, pemilik kontrakan yang terbakar kemarin menjenguk. Namun bukannya datang memberikan dukungan agar Salma cepat pulih, dia justru mencaci maki. Weny--pemilik kontrakan tidak datang sendiri, dia bersama Tiara yang notabene masih saudara Salma. “Benar, entah kutukan atau apa yang namanya orang miskin pasti lekat dengan nasib sial!” kata Tiara pedas sambil melirik sinis pad
Last Updated: 2025-12-30
Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan
Ziana, gadis muda yang berasal dari panti, tidak berpengalaman dan tidak punya koneksi. Terlahir dengan kecantikan malah membuat Ziana lelah dijadikan objek permainan dan dimanfaatkan banyak orang.
Dia ingin menghindar dari banyak lelaki yang menawarkan manisnya cinta dengan sejuta lukanya, tapi untuk gadis rapuh sepertinya bahkan menghindar satu langkah saja tak mampu.
Dia pun berpikir untuk mendekati lelaki berkuasa, lelaki yang dingin, tegas, dan tidak pernah tergoda oleh pesonanya.
Ziana hanya ingin diselamatkan, namun siapa sangka jika lelaki itu memberikan lebih--keamanan, kenyamanan, dan rasa yang berbeda dari pesona seorang lelaki dewasa?
Sayangnya, sosok lelaki sempurna yang berhasil menjatuhkan hatinya itu justru ayah dari sahabatnya sendiri. Ketika dia dihadapkan pada suatu pilihan untuk tetap bertahan dengan cintanya atau persahabatannya, apa yang harus Ziana pilih?
Read
Chapter: Bab 139"Pak Arhan, kita pulang sekarang atau cari penginapan saja?" tanya Dafa yang tahu kondisi mereka sekarang, cukup lelah jika harus kembali ke rumah. Sekarang mereka berada di luar kota, paling tidak harus menempuh perjalanan tiga jam jika ingin pulang. Sementara besok masih ada urusan penting di kota ini. “Kamu bisa mencari hotel sendiri. Saya akan langsung pulang,” ujar Arhan datar sembari melirik jam tangannya, memperhitungkan waktu. Jika berangkat sekarang, dia akan tiba di rumah sekitar pukul sebelas.“Tapi, Pak--”“Saya bisa menyetir sendiri, tidak perlu khawatir,” potong Arhan dengan nada terkendali. “Sebagai gantinya, pastikan proposal dan seluruh berkas penting untuk rapat besok sudah dicek ulang.”Dafa tidak bisa menolak perintah bosnya, dia juga sangat lelah jadi memilih untuk menurut dan membiarkan Arhan pulang sendiri. Tidak tahu ada urusan apa di rumah, yang pasti Dafa rasa jika tidak ada hal yang penting tidak mungkin Arhan memilih sesuatu yang merepotkan dan menyita w
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 137Ziana mengangguk-anggukkan kepalanya. Wina tidak bisa tidak merasa aneh, namun dia tidak mengatakan apa pun, hanya berpikir putranya sedikit berubah. Dulu sekali pun Sandra merengek ingin memelihara bintang, Arhan dengan tegas menolak. Tapi kali ini bahkan bebek dan kucing dibolehkan, satu lagi ... Arhan yang biasanya tidak tertarik dengan tanaman ibunya, tiba-tiba mau membawa satu pot aglonema. Mungkin untuk menyenangkan Ziana? Ziana berdeham saat Wina terus menatapnya sambil menelisik seolah sedang memindai dan membuat penilaian pada gadis itu. Wina tidak bisa bohong jika Ziana memang cantik dan menarik, betah dipandang. Tapi apa iya putranya yang berusia empat puluh tahun itu mau dengan gadis muda? Sah-sah saja memang, hanya Wina kurang yakin. "Ziana--" Wina kembali menarik obrolan. "Iya, Bu?" "Sebentar lagi Arhan dan Ofi akan menikah, apa kamu pernah lihat Arhan sudah mulai menyiapkan sesuatu?" Ziana terlihat berpikir, dia lalu menggeleng tanpa mengatakan apa pun. "Menuru
Last Updated: 2026-01-03
Chapter: Bab 137Arhan sakit? Tidak mungkin, Ziana yang paling tahu. Arhan tidak terlihat pucat atau menahan sakit selama itu, yang jelas sebaliknya, Ziana yang sakit. Itu berarti Arhan sengaja bekerja di rumah hanya untuk Ziana. Diam-diam Ziana tersenyum, hatinya terasa hangat dan berbunga. Jadi, Arhan memang seperhatian itu padanya kan? "Ziana," tegur Wina yang menunggu respon Ziana sejak tadi, tapi gadis itu malah bengong. "Eh, ya? Mmm, maaf Bu Wina. Saya akan mengecek dan mengkonfirmasinya kalau Pak Arhan pulang nanti. Semoga saja bukan karena beliau sakit." Wina mengangguk, dia sedikit tenang tapi juga masih bingung karena sebelumnya Arhan tidak pernah begitu. Kantor adalah tempat utama dia menghabiskan waktunya, sementara rumah ibarat tempat kedua yang dia singgahi. Setelah menunggu beberapa waktu, masakan yang Ziana buat selesai. Gadis itu menyuguhkannya untuk Wina. Nasi lembek dengan sup hangat, Wina menyukainya. Dia suka makan dengan sesuatu yang lunak dan berkuah. "Silahkan, Bu. Kala
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 136Bab 136Bukan lagi jinak-jinak merpati, Ziana terang-terangan mengungkapkan perasannya dan menggoda Arhan. "Aku juga tidak takut untuk bersaing dengan Tante Ofi. Setelah kupikir-pikir harusnya Pak Arhan memilihku, bukan dia." Arhan menggelengkan kepalanya, dia masih saja tertawa tidak percaya dengan apa yang dia hadapi sekarang. Arhan melepas tangan Ziana yang tadi merangkul lehernya. "Masih pagi, dan kamu sudah sangat sibuk menggoda. Baiklah, saya akui kamu sangat berani," kata Arhan dengan tenang dan santai. Dia tidak lagi fokus pada Ziana, memilih untuk mengambil cangkir tehnya dan meminumnya sekarang. Ziana yang masih duduk di meja memerhatikan, dia paling suka saat Arhan menelan sesuatu lalu melihat jakunnya yang naik-turun. Itu terlihat sangat menggoda. Saat lelaki itu sudah berhenti dan menghabiskan setengah tehnya, giliran Ziana meraih cangkir di tangan Arhan. Dengan gerakan pelan dia ikut meminumnya, tepat di bekas bibir Arhan seolah sengaja ingin membuat lelaki itu te
Last Updated: 2026-01-02
Chapter: Bab 135Arhan seolah tuli, dia tidak mengindahkan keinginan Ziana, tetap menggendong gadis itu di bahu seperti karung beras. Ziana baru diturunkan saat sampai di mobil dan Arhan mendudukannya paksa. “Diam, Ziana. Kamu bukan bocah lima tahun yang hiperaktif kan?” Arhan mendorong pundak Ziana dan menahannya agar duduk dan bersandar di jok mobil. Lalu Arhan membungkukkan badannya yang setengah masuk untuk membantu memasang seatbelt. Di saat itu Ziana bisa melihat wajah Arhan dengan begitu dekat. “Pak Arhan datang begitu cepat, Pak Arhan tidak antar Tante Ofi pulang?” Ziana bicara setengah menggumam, tapi Arhan bisa mendengarnya jelas. “Kenapa saya harus mengantarkannya pulang? Dia bisa datang sendiri, itu berarti bisa pulang sendiri,” kata Arhan menolehkan wajahnya menghadap Ziana. Reflek Ziana tersenyum tanpa sadar, senyum nakal yang terlihat di mata Arhan. “Sepertinya kamu senang sekali mendengarnya. Apa kamu pikir saya melakukan itu karena kamu?” Arhan bicara dengan satu tangan menu
Last Updated: 2026-01-01
Chapter: Bab 134Ziana diam, menunggu jawaban Arhan. Jantungnya jadi berdebar-debar karena rasa penasaran. Byuuur! Ziana terlonjak ketika dia fokus menatap Arhan dari arah samping ada yang mengguyurkan segelas minuman membuat wajah dan baju Ziana basah dan ternoda. “Tante Ofi?” Ziana kaget, Ofi sudah berdiri di sampingnya dengan gelas kosong yang isinya ditumpahkan. “Ziana, beraninya kamu makan malam romantis hanya berdua dengan Pak Arhan! Apa kamu sedang menggodanya?” Ofi terlihat sangat kesal, dia sejak tadi melihat Ziana begitu sering tersenyum dan menatap Arhan penuh binar. “Ofi, apa yang kamu lakukan? Apa kamu berniat menjadi gila? Ini tempat umum, untuk apa bersikap impulsif begitu?”Arhan sampai berdiri dan menarik pundak Ofi agar menjauh dari hadapan Ziana. Dia mungkin takut tunangannya itu akan bertindak lebih bar-bar. Air mata Ofi mengucur saat dia berhadapan dengan Arhan, seolah menjadi yang sangat terluka melihat pasangannya makan malam dengan wanita lain. “Pak Arhan, kamu bisa je
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 37"Bagaimana ini, Mas? Lukamu?" Garwita menunjuk wajah Kala."Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Kala lalu merapikan penampilannya dan bersiap membuka pintu, begitu juga dengan Garwita yang berada di sampingnya. Saat pintu diketuk, kedua sejoli itu langsung membukanya. Menyambut orang tua Kala dengan senyum seramah mungkin."Pak, Bu, kok ke sini enggak bilang dulu?" ujar Kala lalu mencium tangan mereka. Juragan Jarwo tidak menolak. Dia tetap diam saat tangannya diraih oleh Kala dan Garwita. "Lah, piye? Kan siang tadi Ibu telepon! Katanya mau telepon balik. Tapi Ibu tunggu-tunggu ndak ada tuh panggilan dari kamu!" balas Ambar dengan suara merajuk. Kala terkekeh geli, dia baru ingat. "Silahkan masuk, Pak,Bu ...," kata Garwita mempersilahkan mereka untuk duduk terlebih dulu. Sementara dia berlalu ke belakang untuk membuat minuman.Juragan Jarwo tampak berdeham melihat anaknya, dia sadar akan wajah Kala yang babak belur. "Ya ampun, Le. Wajahmu kenapa?" Ambar yang langsung respek. Di
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 36"Hallo, Le? Gimana kabarmu?" tanya Ambar dari seberang telepon. Usai mendapat perintah dari juragan Jarwo, Ambar langsung menghubungi anaknya.Kala yang sedang berada di jalan melambatkan lajunya. "Baik, Bu, ada apa? Ini Kala lagi di jalan," balas Kala menyelipkan ponselnya ke helm tanpa berhenti dulu, pikirnya nanggung karena sebentar lagi sampai."Oalah, kalau lagi di jalan jangan angkat teleponnya dulu atuh!" balas Ambar khawatir dan urung mengatakan tujuannya telepon.Kala terkekeh-kekeh mendengar suara ibunya. "Ya mau gimana lagi, abis hape geter terus! Ya udah aku lanjut dulu ya, Bu. Nanti kalau sudah berhenti Kala telepon balik!" Kala kembali melanjutkan perjalanan, hari ini dia berniat untuk melamar kerja. Tadi sudah mengajukan surat lamaran ke beberapa sekolah, sementara sekarang dia ingin ke SMK yang memang ada jurusan pertanian di sana. Ya siapa tahu ada lowongan. Kala begitu bersemangat mulai merancang rencana di otaknya untuk masa depan keluarga kecilnya yang mulai dia b
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 35Sejak kejadian malam tadi, Garwita selalu menghindari kontak mata dengan Kala, apalagi jika harus berhadapan dengannya, Garwita akan bicara sambil menunduk. Bukan tanpa sebab, dia malu luar biasa juga jadi cangnggung karena ci*man itu. "Bu, Gandra mau tambah nasi!" pinta anak itu sambil menyodorkan piring. Buru-buru Garwita mengambilkan apa yang Gandra mau. "Aku juga mau!" Kala ikut menyodorkan piring. Garwita ingin meletakan secentong nasi, tapi Kala menarik piringnya dengan jail begitu terus sampai akhirnya Garwita mendongak. "Ish, mau enggak?" tanya Garwita menatap lelaki di samping Gandra dengan kesal. Kala menahan tawa lalu meraih tangan Garwita dan dan meletakan nasi itu pada piringnya. Pada saat Garwita ingin menarik tangannya Kala sedikit menahan membuat mereka saling adu tatap. Bagi Garwita tatapan Kala itu terlihat seperti menyeriangai dan membuatnya ingin selalu waspada. Sekali menatap wajah Kala, Garwita akan terfokus pada bibirnya lalu bayangan yang iya-iya mula
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 34Gandra sudah pulang dijemput oleh Topan siang tadi. Anak itu sekarang bermain di kamar Ray, Garwita sudah menahan dan tak memperbolehkannya. Namun, Ray sendiri yang meminta. Dia beralasan sakitnya akan mereda jika melihat anak kecil bermain."Om lagi sakit, ya?" tanya Gandra sambil bermain di lantai. Ray mengangguk dengan senyum ramah. "Hem, besar nanti Gandra mau jadi dokter," ucap anak itu tanpa ditanya."Kenapa?" Ray penasaran dengan alasan Gandra."Ibu bilang, aku anaknya seorang dokter. Ayahku orang yang hebat!" balasnya menirukan cerita yang Garwita buat. Mendengar itu, Ray merasa terharu sekaligus sedih. Anak yang begitu membanggakan ayahnya, nyatanya ayahnya bukanlah seseorang yang patut dibanggakan. Ray menelan ludah dengan berat setiap kali mendengar cerita polos dari Gandra, dari situ dia tahu betapa baiknya Garwita yang selalu menceritakan kelebihan Ray pada Gandra. "Lalu apa lagi, Gandra?" tanya Ray kepo. "Mmm ...." Gandra tampak berpikir. "Kayaknya, ayah itu genten
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 33Kala terdiam menatap Garwita yang begitu dekat dengan wajahnya. Ingin rasanya dia pura-pura khilaf lalu mencium dengan cepat bibir tipis kemerahan yang sekarang terasa sedang menggodanya. Tapi, Kala tak ingin gegabah dan membuat Garwita jadi takut padanya. Kala menggelengkan kepala untuk meredakan rasa nyeri yang sempat hinggap. "Aku tidak apa-apa," balas Kala mencoba terduduk, Garwita mengikuti. "Lagian, pagi-pagi dah iseng!" celetuknya masih kesal dengan candaan Kala. "Ish, siapa yang iseng! Dah ah, yuk bangun kita salat bareng?" ajak Kala kemudian. Dia tak ingin berlama-lama dekat seperti ini dan membuat sesuatu dalam tubuhnya bergejolak dan memanas. ***"Nanti kuantar kamu dulu, baru Gandra ya?" kata Kala perhatian. Garwita yang sedang menyuap makanan langsung mendongak. "Mas, kulihat di samping rumah ada sepeda, apa masih bisa dipake? Kalau bisa, aku ingin memakainya untuk berangkat kerja." Kala mengernyit, mengingat-ingat apa ada sepeda di sana. "Nanti coba ku cek dulu, ya
Last Updated: 2025-03-07
Chapter: Bab 32"Mmm, a--ku tak punya apa pun yang bisa dijadikan jaminan. Bagaimana kalau mulai besok bekerja full di sini? Pagi sampai sore?" tawar Garwita, berharap Ray mau berbaik hati.Ray menggeleng dengan senyum remeh. "Menarik!" jawab Ray singkat. "Selain itu, jemputlah Gandra ketika pulang sekolah dan bawa dia ke sini." "Gandra?" Garwita mengernyit. "Ya, saya ingin punya teman main. Gandra pasti akan jadi teman yang menyenangkan!" balas Ray dengan senyum semringah. Itu membuat Garwita lega juga tak menyangka ada yang begitu menyukai dan menginginkan anaknya."Baik, Tuan." "Oke, pulanglah. Nanti Topan yang akan mengurus semuanya. Tunggu saja kabar dari kami," jelas Ray dengan senyum tulus. Dia pun senang karena akhirnya Garwita meminta bantuan darinya. Ray sangat senang jika merasa dibutuhkan oleh Garwita dan keluagarnya. ***"Ibuuu!" panggil Gandra dari arah jalan. Rupanya Kala sudah menjemput anak itu dan membawanya bersama. Garwita langsung mendekat. "Gandra ikut bersama kita? Bagai
Last Updated: 2025-03-07