LOGINRuang tindakan di safe house itu tidak terlalu besar, tetapi tertata rapi. Dinding berwarna putih gading dipenuhi lemari kaca berisi peralatan medis yang tersusun berdasarkan jenis dan kegunaannya. Aroma antiseptik langsung menyambut begitu Clarissa mendorong pintu hingga terbuka.Ia meletakkan baki instrumen di atas meja stainless, lalu berbalik menghadap Adrian. "Duduk."Adrian menatap kursi pemeriksaan, kemudian menatap Clarissa lagi. "Perintah lagi?""Bukan." Clarissa mengambil sarung tangan medis. "Instruksi dokter."Adrian akhirnya duduk tanpa banyak komentar.Melihat itu, Clarissa tersenyum tipis. Entah kenapa, menghadapi pria keras kepala ini terasa jauh lebih melelahkan dibanding menangani pasien kritis."Aku mulai curiga."Clarissa mengangkat sebelah alis. "Curiga apa?""Kau sengaja mencari-cari alasan supaya bisa memarahiku."Clarissa terkekeh pelan. "Kalau kau berhenti membuka jahitanmu sendiri, mungkin aku juga akan berhenti."Adrian hanya menggeleng kecil. Senyum tipis y
Sementara itu… Di sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya monitor, seorang pria duduk tenang menghadap layar.Rekaman dari kamera jalan raya diputar berulang-ulang.Konvoi Adrian.Wajah Clarissa.Lalu gambar membeku tepat ketika perempuan itu mendorong Adrian hingga lolos dari bidikan sniper.Pria itu tersenyum tipis. "Jadi benar..." Ia mengetukkan jemarinya perlahan di atas meja. "Dia mulai mengingat naluri lamanya."Seseorang berdiri di belakangnya. "Tuan. Rio sudah menghilang.""Tidak masalah.""Bagaimana dengan Nathan?"Pria itu menatap layar tanpa berkedip. "Biarkan dia hidup.""Bukankah dia tahu terlalu banyak?""Justru karena itu." Senyumnya semakin lebar. "Orang tua yang ketakutan sering kali menjadi umpan terbaik."Ia mematikan monitor. Ruangan langsung gelap.Hanya suaranya yang terdengar jelas. "Terus awasi Clarissa. Jangan sentuh dia. Belum."Anak buahny
Di dalam bangunan, suasana jauh berbeda dengan bagian luarnya. Lorong-lorong bersih dengan penerangan terang membentang menuju beberapa ruangan berlapis pintu baja.Clarissa sempat terdiam.Tempat ini lebih menyerupai pusat komando daripada rumah persembunyian. Beberapa tenaga medis berseragam putih segera membawa Nathan menuju ruang perawatan intensif."Dokter Clarissa." Seorang perawat menghampiri. "Kami sudah menyiapkan ruang tindakan."Clarissa mengangguk. "Tolong siapkan alat jahit luka dan antibiotik intravena.""Baik."Ia berbalik. Tatapannya langsung mencari Adrian.Pria itu ternyata sudah berjalan menuju ruang briefing."Adrian."Langkahnya berhenti."Kemari.""Aku harus rapat.""Kau harus dirawat.""Ini lebih penting.""Tidak." Nada suara Clarissa kali ini jauh lebih tegas. "Kau bisa kehilangan nyawa hanya karena bersikeras."Ruangan mendadak sunyi.Beberapa anggota tim yang sedang berlalu-lalang berhenti tanpa sadar. Tak seorang pun pernah berbicara kepada Adrian dengan nad
Hujan semakin deras ketika konvoi akhirnya meninggalkan jalan utama. Lampu kendaraan tetap dimatikan. Hanya cahaya bulan yang sesekali lolos dari balik awan membantu Gavin mengarahkan mobil melewati jalan tanah yang sempit. Roda berputar perlahan, memecah genangan lumpur yang mulai terbentuk setelah hujan mengguyur hampir satu jam.Tak seorang pun berbicara melalui radio. Setelah pengkhianatan Rio, semua komunikasi menjadi jauh lebih singkat. William bahkan mematikan saluran utama dan menggantinya dengan frekuensi darurat yang hanya diketahui beberapa orang kepercayaannya.Di dalam mobil, Clarissa kembali memeriksa infus Nathan. Laju tetesannya masih stabil. Namun tekanan darah pria tua itu belum benar-benar pulih."Aku harus mengganti cairannya setelah kita sampai," gumamnya pelan.Nathan membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram. "Dokter..."Clarissa segera menoleh. "Jangan bicara dulu."Pria tua itu menggeleng lemah. "Waktu...kita tidak punya banyak waktu."Clarissa hendak me
Pria yang berdiri paling depan melangkah maju. Suaranya datar. "Subjek Tujuh." Tatapan itu langsung mengarah kepada Clarissa. "Anda diminta kembali."Clarissa menggeleng. "Aku bukan Subjek Tujuh. Kau salah."Pria itu tidak bereaksi. "Hasil identifikasi retina sesuai. DNA sesuai, status dikonfirmasi. Subjek Tujuh ditemukan."Suara itu terdengar seperti mesin. Tidak memiliki intonasi marah. Tidak pula ramah. Hanya menyampaikan fakta."Aku tidak akan ikut."Pria itu mengangguk pelan. "Kalau begitu...kami akan membawa Anda secara paksa."William langsung mengangkat pistol. "Satu langkah lagi, aku tembak."Pria itu bahkan tidak melirik senjata tersebut. "Perintah utama. Bawa Subjek Tujuh. Target lain tidak diprioritaskan."Adrian akhirnya maju selangkah. "Kau harus melewatiku dulu."Tatapan kosong pria itu beralih kepada Adrian. Beberapa detik berlalu. Lalu...untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Sangat tipis, seolah ada sesuatu yang dikenalnya."Adrian..." Ia mengucapkan nama itu pe
Embusan uap putih memenuhi ruangan di balik kaca.mSemua mata spontan tertuju pada monitor yang kini menampilkan gambar dari sebuah laboratorium lain. Kualitas rekamannya tidak sempurna, seolah berasal dari kamera pengawas tua yang masih aktif.Di tengah ruangan berdiri sebuah kapsul silinder setinggi dua meter. Cairan bening di dalamnya perlahan surut.Alarm pendek berbunyi tiga kali.Bip... Bip... Bip...Lalu penutup kapsul terbuka. Sesosok tubuh terjatuh berlutut ke lantai. Rambutnya basah menutupi wajah. Napasnya terdengar berat, seperti seseorang yang baru muncul ke permukaan setelah tenggelam sangat lama.Clarissa tanpa sadar melangkah mendekati layar. "Siapa dia...?"Tak ada jawaban.Orang itu perlahan mengangkat kepala. Wajahnya belum terlihat jelas karena kamera berada cukup jauh.Namun satu hal langsung menarik perhatian Clarissa.Di pergelangan tangan kirinya terdapat gelang logam tipis dengan ukiran yang sama persis seperti simbol phoenix di pintu Elysium.Nathan memejamkan







