Keturunan Untuk CEO Dingin

Keturunan Untuk CEO Dingin

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-11-05
Oleh:  AkinaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
6Bab
8Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Hari ulang tahun Celia seharusnya menjadi awal masa depannya, bukan malam di mana ia diseret ke dalam dunia hitam Sean Reynald Wijaya. Terjebak dalam surat wasiat penuh tipu muslihat dan lilitan utang bernilai miliaran rupiah, Celia dipaksa menjadi istri sang pengusaha muda yang dingin dan kejam, seorang pria yang menganggap pernikahan ini tak lebih dari sekadar permainan perbudakan dan balas dendam. Di balik tembok benteng mewah dan puluhan pengawal bersenjata, Celia harus bertahan hidup di antara ancaman kematian dan tekanan mental yang menyesakkan. Akankah ia berhasil membebaskan diri dari sangkar emas itu, atau justru tenggelam dalam pesona iblis suaminya sendiri?

Lihat lebih banyak

Bab 1

1

"Lepaskan aku! Brengsek!" teriak Celia sambil meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua orang lelaki bertubuh tegap.

Namun, usaha putus asanya itu sia-sia belaka. Pegangan tangan kedua pria itu bagaikan belenggu baja yang menancap kuat di kedua lengannya, meninggalkan rasa nyeri luar biasa setiap kali ia berontak. Sendi-sendinya terasa seperti mau copot, namun para pengawal itu sama sekali tidak menunjukkan rasa belas kasihan.

Tanpa memedulikan ringisan ataupun isakan tangis yang lolos dari bibirnya, kedua pria itu terus menyeret Celia menelusuri lorong.

Sebelum ia sempat berpikir jernih mengenai cara menyelamatkan diri, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke lantai marmer yang dingin.

Bruk!

Tubuh Celia menghantam permukaan keras itu dengan kasar. Lututnya membentur lantai tanpa ampun, menciptakan rasa sakit berdenyut yang langsung membuatnya meringis tertahan. Air mata mendesak naik ke pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahnya. Ia mendongak dengan napas terengah-engah, mendapati salah seorang lelaki itu berdiri tegak di hadapannya.

"Simpan tenagamu," ucap lelaki itu dengan nada datar yang mengintimidasi. "Jangan coba-coba kabur atau melakukan hal bodoh jika kamu masih peduli pada keselamatan ibu tiri dan saudaramu di rumah. Tuan Sean akan datang untuk menemuimu nanti."

Sebelum Celia sempat membalas makian atau melayangkan protes, Erwin berbalik dan membanting pintu kamar itu dengan keras.

Klek!

Suara kunci berputar dari luar, mengurungnya dalam kesunyian yang pekat dan menyesakkan.

Celia bangkit dengan tergesa, mengabaikan rasa ngilu di lututnya, lalu menerjang pintu kayu jati yang kokoh itu. Ia memukul-mukul permukaannya dengan panik sambil berteriak histeris. "Buka! Sebenarnya apa salah ayahku?! Berapa banyak hutangnya sampai aku harus diseret seperti penjahat ke tempat terkutuk ini?!"

Tidak ada sahutan. Rumah mewah ini bagaikan benteng mati yang kedap suara. Tidak ada satu pun orang yang peduli pada teriakannya yang mulai serak. Ia menendang daun pintu itu berulang kali hingga tenaganya terkuras habis.

Lututnya perlahan melemah, tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Celia melorot, terduduk bersandar pada daun pintu dengan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipinya yang pucat.

"Ayah... tega sekali Ayah menjadikanku jaminan hutang," bisiknya parau di antara isakan tertahan, memeluk lututnya erat-erat untuk mencari kehangatan semu. "Di hari ulang tahunku... Ayah justru memberikan surat warisan yang menjadi tiket kematianku. Apa sebenci itu Ayah padaku?"

Ia teringat kembali bagaimana surat wasiat itu dibacakan tepat di hari jadinya yang ke-dua puluh dua. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan atau ucapan selamat, ia justru mendapati dirinya diserahkan begitu saja untuk melunasi utang peninggalan ayahnya. Utang yang tidak pernah ia ketahui nominalnya, tetapi kini harus dibayar dengan seluruh kebebasan hidupnya.

Waktu terus bergulir tanpa henti. Jarum jam dinding yang tergantung megah di sudut kamar telah menunjuk angka dua belas malam. Kesunyian malam menyelimuti kediaman megah tersebut.

Ia berpindah meringkuk di atas tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra lembut, berusaha meredakan ngilu di kakinya. Hari ini seharusnya menjadi hari perayaan usianya yang bertambah bahagia, bukan malam mencekam di mana ia diculik atas suruhan orang asing bernama Sean Reynald.

Pikiran Celia melayang pada desas-desus kelam yang sempat ia dengar dari Shella, kakak tirinya, beberapa minggu lalu. Sean dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang kejam, dingin, dan berdarah dingin. Pria itu dikabarkan pernah menghabisi nyawa mantan kekasihnya sendiri karena sebuah pengkhianatan, meski pihak keluarga berhasil meredam kasus tersebut dari sorotan hukum berkat kekuasaan dan kekayaan melimpah yang mereka miliki.

Membayangkan pria berdarah dingin semacam itu akan menjadi suaminya membuat darah Celia mendidih sekaligus membeku karena ngeri. Celia tahu betul, di dunia ini, hukum bisa dibeli dengan uang, dan keluarga Sean adalah penguasa tertinggi dalam hal itu.

Keluarga mereka pasti menyuap banyak aparat penegak hukum untuk menutupi semua kejahatan itu, batin Celia gemetar ketakutan, merinding membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu kepadanya esok hari.

Ia bangkit dari ranjang, berjalan pelan ke arah jendela besar yang tertutup tirai beludru tebal berwarna merah marun. Dengan jemari yang bergetar, ia sedikit menggeser tirai tersebut untuk mengintip keadaan di luar.

Pemandangan yang tersaji di balik kaca jendela membuatnya terkesiap hebat. Puluhan pria berjas hitam dengan postur tubuh tegap tampak berjaga ketat di setiap sudut halaman yang luas. Mereka berpatroli dengan disiplin tinggi, membuat tempat ini tampak seperti markas sindikat kriminal internasional alih-alih kediaman pribadi orang kaya biasa.

Tidak ada celah untuk kabur, pikirnya putus asa, menyadari bahwa melarikan diri dari tempat ini sama saja dengan mencari mati.

Tiba-tiba, suara putaran kunci terdengar dari arah pintu kamar.

Cklek.

Celia seketika menegang. Jantungnya berdegup kencang. Ia buru-buru melangkah mundur, mencari tempat bersembunyi di balik pilar dinding kamar sambil menahan napasnya, berharap malam ini bukanlah akhir dari hidupnya.

Pintu perlahan terbuka lebar. Sosok yang melangkah masuk bukanlah pelayan ataupun wanita paruh baya yang ia bayangkan, melainkan seorang pria tinggi tegap dengan aura dominan yang langsung memenuhi seluruh ruangan.

Itu adalah Sean Reynald.

Pria itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam menghujam. Di bawah temaram lampu kamar, wajah Sean tampak begitu sempurna namun memancarkan aura kegelapan yang mengerikan. Bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai tipis, sebuah senyuman sinis yang membuat wajahnya terlihat bagaikan sesosok iblis yang baru saja keluar dari kegelapan neraka.

Sepasang matanya menatap ke arah tempat tidur dan sudut ruangan, memindai keberadaan Celia dengan tatapan lapar, persis seperti seekor serigala buas yang kelaparan, siap menerkam mangsanya kapan saja tanpa ampun.

Celia yang bersembunyi di balik pilar merasa sekujur tubuhnya membeku. 

Sean melangkah masuk perlahan. Suara pantulan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi Celia. Pria itu melepas jas hitamnya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa, lalu mulai menyusuri ruangan dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari tempat Celia bersembunyi.

"Keluar, atau aku sendiri yang menyeretmu keluar dari persembunyianmu, Nona Celia!" Suara Sean terdengar rendah, tetapi sangat tajam menusuk gendang telinga. Suara itu tidak bernada tinggi, tetapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

Menyadari dirinya sudah ketahuan, Celia dengan terpaksa keluar dari balik pilar. Ia berdiri dengan tubuh gemetar hebat, berusaha menegakkan dagunya meski lututnya terasa lemas. Ia menatap pria di hadapannya dengan campuran antara rasa takut dan amarah yang meluap-luap.

Sean berhenti tepat beberapa langkah di depan Celia. Jarak yang begitu dekat membuat Celia bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur wewangian mewah yang menguar dari tubuh pria itu. Sean menundukkan sedikit wajahnya untuk menatap mata Celia lekat-lekat, menikmati ekspresi ketakutan yang terpancar jelas di wajah mungil gadis itu.

"Jadi... kau wanita pembawa sial yang diwariskan oleh mendiang ayahmu untuk melunasi seluruh utangnya padaku?" tanya Sean dengan nada meremehkan, seringainya semakin melebar memperlihatkan sisi gelap yang membuat bulu kuduk Celia merinding hebat.

"Aku bukan barang jaminan!" balas Celia dengan suara bergetar namun berusaha keras untuk tetap tegas. "Apa hak kalian memperlakukanku seperti ini? Lepaskan aku!"

Sean tertawa kecil, sebuah tawa dingin yang sama sekali tidak mencerminkan kebahagiaan, melainkan sebuah ejekan telak. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu dengan gerakan cepat mencengkeram dagu Celia menggunakan ibu jari dan telunjuknya, memaksa gadis itu mendongak menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam.

Celia meringis pelan saat cengkeraman di dagunya terasa begitu kuat, namun ia menolak untuk menunjukkan kelemahannya lebih jauh. Ia menggertakkan giginya, menatap tajam mata pria di hadapannya meskipun air mata ketakutan kembali menggenang di sudut matanya.

"Hakku?" Sean mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Celia dengan suara yang penuh ancaman mematikan. "Ayahmu menyerahkanmu secara sah melalui surat wasiat dan perjanjian utang piutang yang tidak bisa kau batalkan dengan air mata murahmu itu. Mulai detik ini, hidupmu, kebebasanmu, bahkan napas yang kau hirup adalah milikku."

Celia terkesiap, napasnya semakin memburu mendengar pernyataan mutlak yang keluar dari bibir pria itu. Ia mencoba melepaskan dagunya dari cengkeraman Sean, namun tenaga pria itu terlalu besar untuk dilawannya.

"Kau pikir kau bisa melawan takdir yang sudah digariskan ini?" lanjut Sean dengan tatapan penuh teror yang menghujam jiwa Celia. "Kau pikir dengan meronta atau berteriak di kamar ini akan membuatku iba? Kau salah besar, Celia. Di dunia yang aku kuasai, belas kasihan adalah hal yang tidak pernah ada."

Sean melepaskan cengkeramannya pada dagu Celia dengan sedikit dorongan kasar, membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan dan mundur dua langkah ke belakang. Pria itu merapikan lengan kemejanya yang sedikit terlipat, lalu menatap Celia untuk terakhir kalinya dengan sorot mata tajam.

"Nikmati malam terakhirmu sebagai orang bebas di kamar ini," ucap Sean dingin seraya berbalik melangkah menuju pintu keluar. "Jangan pernah coba-coba untuk kabur, Nona Celia!"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
6 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status