เข้าสู่ระบบHujan semakin deras ketika konvoi akhirnya meninggalkan jalan utama. Lampu kendaraan tetap dimatikan. Hanya cahaya bulan yang sesekali lolos dari balik awan membantu Gavin mengarahkan mobil melewati jalan tanah yang sempit. Roda berputar perlahan, memecah genangan lumpur yang mulai terbentuk setelah hujan mengguyur hampir satu jam.Tak seorang pun berbicara melalui radio. Setelah pengkhianatan Rio, semua komunikasi menjadi jauh lebih singkat. William bahkan mematikan saluran utama dan menggantinya dengan frekuensi darurat yang hanya diketahui beberapa orang kepercayaannya.Di dalam mobil, Clarissa kembali memeriksa infus Nathan. Laju tetesannya masih stabil. Namun tekanan darah pria tua itu belum benar-benar pulih."Aku harus mengganti cairannya setelah kita sampai," gumamnya pelan.Nathan membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram. "Dokter..."Clarissa segera menoleh. "Jangan bicara dulu."Pria tua itu menggeleng lemah. "Waktu...kita tidak punya banyak waktu."Clarissa hendak me
Pria yang berdiri paling depan melangkah maju. Suaranya datar. "Subjek Tujuh." Tatapan itu langsung mengarah kepada Clarissa. "Anda diminta kembali."Clarissa menggeleng. "Aku bukan Subjek Tujuh. Kau salah."Pria itu tidak bereaksi. "Hasil identifikasi retina sesuai. DNA sesuai, status dikonfirmasi. Subjek Tujuh ditemukan."Suara itu terdengar seperti mesin. Tidak memiliki intonasi marah. Tidak pula ramah. Hanya menyampaikan fakta."Aku tidak akan ikut."Pria itu mengangguk pelan. "Kalau begitu...kami akan membawa Anda secara paksa."William langsung mengangkat pistol. "Satu langkah lagi, aku tembak."Pria itu bahkan tidak melirik senjata tersebut. "Perintah utama. Bawa Subjek Tujuh. Target lain tidak diprioritaskan."Adrian akhirnya maju selangkah. "Kau harus melewatiku dulu."Tatapan kosong pria itu beralih kepada Adrian. Beberapa detik berlalu. Lalu...untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Sangat tipis, seolah ada sesuatu yang dikenalnya."Adrian..." Ia mengucapkan nama itu pe
Embusan uap putih memenuhi ruangan di balik kaca.mSemua mata spontan tertuju pada monitor yang kini menampilkan gambar dari sebuah laboratorium lain. Kualitas rekamannya tidak sempurna, seolah berasal dari kamera pengawas tua yang masih aktif.Di tengah ruangan berdiri sebuah kapsul silinder setinggi dua meter. Cairan bening di dalamnya perlahan surut.Alarm pendek berbunyi tiga kali.Bip... Bip... Bip...Lalu penutup kapsul terbuka. Sesosok tubuh terjatuh berlutut ke lantai. Rambutnya basah menutupi wajah. Napasnya terdengar berat, seperti seseorang yang baru muncul ke permukaan setelah tenggelam sangat lama.Clarissa tanpa sadar melangkah mendekati layar. "Siapa dia...?"Tak ada jawaban.Orang itu perlahan mengangkat kepala. Wajahnya belum terlihat jelas karena kamera berada cukup jauh.Namun satu hal langsung menarik perhatian Clarissa.Di pergelangan tangan kirinya terdapat gelang logam tipis dengan ukiran yang sama persis seperti simbol phoenix di pintu Elysium.Nathan memejamkan
Kenangan terus berlanjut, ledakan besar mengguncang bangunan.Brak!Sebagian langit-langit runtuh tepat di belakang perempuan yang menggendong Aqeela.Ia nyaris terjatuh. Namun tetap melindungi tubuh kecil itu dengan kedua lengannya."Lari ke pintu belakang!" teriak seorang pria dari kejauhan.Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup asap. Hanya bayangannya yang tampak samar.Perempuan itu mengangguk. Namun baru beberapa langkah...Dor!Suara tembakan memecah malam.Tubuh perempuan itu tersentak.Aqeela merasakan cairan hangat menetes mengenai pipinya. "Ibu..."Perempuan itu masih tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Tidak apa-apa. Kita hampir sampai."Padahal darah terus mengalir dari punggungnya. Ia tertembak. Namun tetap memeluk putrinya seerat mungkin.Di lorong Elysium...Clarissa tiba-tiba menjerit. "Tidak!" Suara itu menggema hingga memantul ke seluruh koridor.William dan Gavin saling berpandangan cemas.Nathan hanya mampu menundukkan kepala.Ia tahu...bagian paling menyak
Suara roda-roda baja bergesekan memenuhi lorong sempit.Grrrkk...Pintu bundar perlahan bergeser, memperlihatkan celah gelap yang dipenuhi embusan udara dingin dari dalam. Aroma antiseptik yang tajam langsung menyergap penciuman Clarissa, bercampur dengan bau logam dan sesuatu yang telah lama terkurung.Tak seorang pun bergerak.Moncong senjata Gavin dan dua anggota tim lainnya telah terangkat, mengarah tepat ke celah pintu yang semakin lebar.Adrian berdiri setengah langkah di depan Clarissa, menjadi tameng tanpa perlu diminta. Satu tangannya menggenggam pistol, sementara tangan satunya sedikit terbuka ke samping, seolah memberi isyarat agar Clarissa tetap berada di belakangnya."Jangan terlalu dekat," ucapnya tanpa menoleh.Clarissa ingin membantah, tetapi urung. Dari nada suara Adrian, ia tahu pria itu sedang benar-benar waspada.Begitu pintu terbuka sekitar satu meter, suasana kembali sunyi. Tidak ada seorang pun keluar.Hanya lorong panjang yang diterangi lampu putih redup."Loro
Suasana kembali hening. Clarissa merasakan tenggorokannya mengering. Ia mencoba menyusun semua informasi yang didengarnya sejak beberapa hari terakhir.Microchip.The Shadow Syndicate.Rumah perlindungan.Aqeela.Kini Elysium.Semakin banyak jawaban yang muncul, semakin banyak pula pertanyaan baru yang lahir."Apa hubungannya denganku?"Nathan menoleh kepadanya. "Kau berbeda.""Dalam hal apa?""Kau satu-satunya anak...yang tetap bertahan. Kau tidak pernah kehilangan kesadaran selama proses itu."Clarissa mengernyit. "Proses apa?"Nathan tampak hendak menjawab.Namun tiba-tiba layar utama berkedip sendiri.Semua monitor mati selama beberapa detik.Lalu menyala kembali.Kali ini bukan denah bunker yang muncul. Melainkan rekaman kamera keamanan.Seorang pria bertopeng hitam kembali terlihat. Namun kali ini ia tidak berada di sektor arsip.Ia berdiri di lorong yang sangat dikenali Nathan.Wajah pria tua itu langsung kehilangan warna. "Tidak...bukan itu..."William menatap layar. "Dia di m







