Mag-log inBab 40 “Ini semua karena salah Ibu!” suara Gelora meninggi, tajam seperti pisau. “Kenapa Ibu bawa wanita itu ke rumah saya?!”Bu Patimah terisak. Tubuhnya bergetar, matanya sembab. “Gelora… ibu cuma rindu Delon. Ibu tidak berniat—”“Cukup!” Gelora memotong kasar. “Ibu sudah keterlaluan. Mulai hari ini, Ibu tidak punya urusan apa pun di rumah ini!”Delon tersentak. “Gelora, kamu sadar nggak sih apa yang kamu ucapkan?! Itu ibuku!”“Dan ini rumahku!” Gelora membalas tanpa ragu. “Aku tidak mau ada orang yang merusak rumah tanggaku di sini. Termasuk ibu mertua yang datang membawa masa lalu suamiku!”Gaby menelan ludah. Dadanya sesak melihat Bu Patimah semakin menangis. “Mbak Gelora, jangan seperti itu. Ibu tidak salah apa-apa. Kalau memang harus pergi, biar aku saja—”“Kamu diam!” Gelora menunjuk Gaby dengan mata menyala. “Kamu sumber masalahnya!”Delon melangkah maju, wajahnya memerah. “Kalau kamu terus begini, aku nggak akan diam!”“Teriak saja sekencang mungkin,” sindir Gelora. “Aku te
bab 39Kedatangan Bu Patimah dengan Gaby ke kediaman Gelora tidak terasa hangat, tidak ada sambutan atau sekedar basa-basi dari Gelora. Yang ada ucapan sedikit kasar yang keluar dari mulutnya. "Tanpa kamu bilang, ibu ini sudah tau kalau aku ini menantunya."Gaby yang malu menundukkan kepalanya, dan Delon yang langsung mengalihkan ucapan. "Bu, kenapa ibu gak bilang mau ke sini?""Itu Nak ...." sebelum menjawab lebih lanjut, Bu Patimah menyempatkan diri menoleh ke arah Gaby. "Anu Nak ...." Bu Patimah bermain jarinya sendiri. "Ibu kesepian di rumah."Gelora sendiri menatap angkuh ke arah keduanya, sampai ia melipat kedua tangannya di dada. "Ibu bisa telepon Delon, Delon bakalan datang Bu.""Mas Delon." Gaby tiba-tiba memanggil. "Ibu katanya ...." karena di pandang Gelora, membuat Gaby sedikit takut untuk bicara, Delon tahu itu. Sampai-sampai Delon berkata, "Ibu bilang apa, Gaby?""Ibu katanya ...."Bu Patimah langsung memotong ucapan Gaby. "Ibu mau tinggal sendiri aja, Nak."Gaby terke
Bab 38Delon masih kesal atas ucapan mengancam Gelora, dan sayangnya Gelora sedikitpun tidak merasa bersalah. Ia bahkan dengan sengaja membuka pakaiannya di hadapan Delon, membiarkan Delon melihat body mulusnya. "Kita lihat, seberapa kuat kamu tahan?" katanya di dalam hati, tindakan itu sengaja Gelora lakukan. Apalagi ia sedang tidak baikkan dengan Andre, bahkan sekarang lebih jarang keluar. Bukan karena Gelora tobat, melainkan karena sang papa yang memperingatkan Gelora agar tidak keluyuran dulu beberapa hari ini. Suntuk sih bagi Gelora, sampai ia melakukan hal gila seperti saat ini. Dengan sengaja mengikat rambutnya ke atas, menunjukkan jenjang lehernya yang mulus. Delon sampai menelan ludah, antara menahan dan ingin mengacuhkan. "Kenapa sih dia, ah," geram nya kesal. Sekarang, Gelora mengoleskan hand body ke sekujur tubuhnya, dan di situ Delon yang tidak tahan berdiri dan berjalan ke arah luar. Gelora tersenyum kecut, ia tidak mengerti kenapa Delon bisa sekuat ini menahan d
Bab 37"Sebenarnya papa kamu mau ketemu aku atau tidak sih?!"Delon tiba-tiba bersuara lantang, sehingga Gelora melotot menatapnya. "Tadi kamu memintaku untuk buru-buru karena papamu ada, tapi di mana sekarang ha!?"Gelora langsung berdiri, bahkan menunjukkan sikap tidak sukanya ke Delon. "Sudah berani kamu membentak ku!?"Delon sedikit terdiam, kata-kata itu cukup memberikan peringatan ke Delon. "Atau kamu marah karena tidak puas bertemu dengan wanita itu?"Deg Delon terkejut, dan di dalam hatinya ia berkata, "Kenapa dia tahu kalau aku bertemu dengan Gaby?"Tapi bibirnya justru berkata, "Kamu mengikuti ku lagi yah!?" Gelora menampilkan senyum sinis. "Kamu jangan lupa, kalau kamu menikah dengan keluarga terhormat."Delon tahu itu, tapi bukan berarti pergerakan nya di awasi. "Selagi kamu berstatus suamiku, jadi ... jangan macam-macam."Itu bukan lagi peringatan, tapi ancaman bagi Delon. "Aku tidak suka, dan berulang kali sudah aku bilang. Jangan pernah bertemu dengan wanita itu l
Bab 36.Bu Patimah seakan bingung dengan apa yang terjadi, sebab kata Gaby padanya. Delon ingin ketemu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit, tapi Delon tidak bisa jemput Bu Patimah makanya minta tolong ke Gaby. Walaupun ada keraguan di mimik wajah Bu Patimah. "Kenapa Delon suruh Gaby, bukan jemput sendiri. Apa Delon takut istrinya tidak boleh?"Segala kemungkinan kecil muncul di benak Bu Patimah, tapi Bu Patimah tidaa mau menyakiti perasaan Gaby, sehingga ia mau saja saat Gaby mengajaknya ke rumah sakit. "Bukankah tadi nak Gaby bilang kalau Delon ingin membawa ibu untuk melakukan pemeriksaan?" tanya Bu Patimah yang penasaran. "Anu Bu, sebenarnya ...."Gaby ragu untuk jujur ke Bu Patimah. "Bagaimana kalau kita melakukan pemeriksaan nya besok saja, Bu?" Gaby lebih memilih mengalihkan pembicaraan. "Iya gak apa sih, lagian ibu bilang kan gak perlu. Karena kondisi ibu juga sudah membaik."Demi mengambil hati, sampai membuat Gaby merangkul kedua tangan Bu Patimah. "Maaf
Bab 35.Pertemuan itu berlangsung di sekitar rumah sakit, tepat di tempat Bu Patimah, ibunya Delon dirawat. Dengan dalih ingin menjenguk ibunya yang kembali masuk rumah sakit. Delon ternyata menyempatkan diri bertemu dengan Gaby. Apalagi Gaby yang membawa ibunya Delon ke rumah sakit, membuat Delon merasa berhutang Budi, sehingga menyetujui pertemuannya dengan Gaby. "Aku gak tau lagi kalau kamu gak ada, Gab," ujar Delon membuka obrolan. "Gak apa-apa Delon, apalagi ibumu sudah aku anggap ibuku sendiri."Di situ Delon merasa bersalah sendiri, apalagi dia tahu kalau Gaby begitu dekat dengan ibunya. "Oh iya Delon, terima kasih yah."Delon mengangkat kepalanya, menatap penasaran ke Gaby. "Terima kasih, untuk?"Dengan senyum kecil menghiasi wajahnya, Gaby menjawab. "Terima kasih sudah mau menemui ku."Delon mengerutkan keningnya, karena itu bukan tujuan awalnya. Melainkan panggilan satu jam yang lalu. dari Gaby."Oh iya Gab, aku gak bisa lama. Karena aku harus menemani ibu."Gaby dengan


![Memantai [Tamat]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




