Beranda / Young Adult / Gejolak Berbahaya Anak Bos. / Bab 9. Apa kamu punya wanita lain?

Share

Bab 9. Apa kamu punya wanita lain?

Penulis: Bulandari f
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-13 22:32:15

Bab 9.

Gelora mencondongkan tubuhnya ke arah dalam rumah Delon, bahkan bersiap untuk masuk ke dalam, tapi Delon segera mencegah. "Ada apa lagi sih?"

Gelora masih menatap penasaran ke arah dalam. "Sepertinya aku mendengar suara wanita, siapa itu?"

Tidak ingin Gelora mengetahui yang sebenarnya, sehingga Delon menarik tangan Gelora keluar, tidak ketinggalan dengan dia yang menutup rapat pintu rumahnya. "Bukan siapa-siapa."

Jawaban Delon begitu dingin, membuat Gelora sedikit tidak suka. "Jangan mac
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 51 Cahaya Setelah Badai

    Bab 51Cahaya Setelah BadaiHujan belum benar-benar reda ketika malam itu mereka duduk berhadapan di ruang kerja yang selama ini terasa seperti batas tak kasatmata di antara mereka.Meja kayu besar memisahkan Delon dan Gelora—seperti simbol dari pernikahan mereka selama dua tahun terakhir.Tanpa cinta.Tanpa kejujuran sepenuhnya.Dan penuh perhitungan.Kini, tidak ada lagi yang tersisa untuk disembunyikan.“Apa lagi yang belum kamu ceritakan padaku?” tanya Delon tenang, tetapi suaranya mengandung tekanan.Gelora mengusap wajahnya yang basah air mata.“Aku bertemu Andre satu bulan setelah kontrak pernikahan kita ditandatangani,” ucapnya pelan. “Dia bilang dia tidak akan mengganggu kalau aku memberinya akses proyek ekspansi luar negeri. Aku menolak.”“Lalu?”“Dia menunjukkan bukti transaksi lama Papa yang hampir bermasalah pajak. Itu belum diproses hukum, tapi cukup untuk menjatuhkan reputasi perusahaan.”Delon terdiam.Jadi ini bukan sekadar ambisi.Ini pemerasan berlapis.“Aku pikir k

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 50 Bayangan di Balik Hujan

    Bab 50Bayangan di Balik HujanHujan turun semakin deras ketika mobil Delon melaju membelah malam.Wiper bergerak cepat, tetapi pandangan di kepalanya jauh lebih kabur daripada kaca depan yang terus disapu air. Di sampingnya, Gelora duduk kaku. Ia bersikeras ikut, meski Delon sempat menolaknya.“Aku harus tahu kondisi Ibu,” kata Gelora pelan tadi sebelum mereka berangkat. “Dan… kalau ini memang ada hubungannya dengan Andre… aku tidak akan bersembunyi lagi.”Delon tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu mobil untuknya.Kini, keheningan di antara mereka terasa seperti retakan yang membentang panjang—tidak terlihat, tetapi jelas memisahkan.Pak Rahman tidak ikut. Ia memilih tinggal untuk menghubungi tim hukum secara diam-diam, seperti rencana yang mereka sepakati. Namun sebelum Delon pergi, pria itu sempat menahan lengannya.“Jangan ambil keputusan gegabah,” ucap Pak Rahman tegas. “Kalau ini benar ulah Andre, berarti dia ingin memancing emosi.”Delon hanya mengangguk.Emosi.Itulah satu-s

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 49 Retakan yang Tak Terlihat

    Bab 49Retakan yang Tak TerlihatKeheningan setelah pertanyaan Delon terasa jauh lebih mencekam daripada bentakan apa pun.Tatapan pria itu tajam menembus Gelora, seolah ingin menguliti semua dinding yang selama ini ia bangun rapat. Tidak ada lagi nada dingin yang biasa ia gunakan sebagai pelindung. Kali ini yang muncul adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya—ketegasan bercampur luka.Gelora menelan ludah. Dadanya terasa berat seperti ditindih batu.“Kalau begitu… coba kamu ceritakan sekarang… sebenarnya rahasia apa lagi yang kamu sembunyikan dariku, Gelora?”Suara Delon tenang. Terlalu tenang.Pak Rahman berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajah pria paruh baya itu masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya reda, tetapi kini sorot matanya berubah menjadi waspada—seolah ia juga takut dengan jawaban yang mungkin keluar.Gelora menunduk. Jemarinya saling mengunci erat.“Aku…” suaranya serak.Delon menunggu. Tidak menyela. Tidak mendesak. Namun justru itu membuat tekanan terasa lebih

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 47. Rahasia yang Terbuka

    Bab 48 Badai yang Mulai Meledak Suasana kamar masih terasa pengap setelah telepon dari Andre berakhir. Tidak ada yang berbicara. Hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara tiga orang yang berdiri dalam ketegangan. Gelora menatap lantai, jemarinya saling mencengkeram hingga buku jarinya memutih. Sementara Delon berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya keras, tetapi matanya jelas dipenuhi pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Pak Rahman akhirnya memecah keheningan. “Apa maksud Andre dengan permainan belum selesai?” Gelora langsung mengangkat wajah. “Aku tidak tahu, Pa.” Pak Rahman mendengus. “Kamu yakin?” “Aku bilang aku tidak tahu!” suara Gelora meninggi, emosinya mulai meledak. Delon menoleh pelan ke arahnya. “Gelora… kamu masih berhubungan dengan dia?” “Tidak!” jawab Gelora cepat. “Jangan jawab cepat. Jawab jujur,” suara Delon datar, tapi tajam seperti pisau. Gelora terdiam sesaat. Matanya mulai memerah. “Aku… sudah memutuskan semuanya sejak aku menik

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 46

    Bab 46Peran yang Terlalu Nyata**Kalimat Gelora terhenti di udara.“Tapi Delon, apa kamu…?”Ia tidak menyelesaikannya. Bibirnya bergetar, dadanya naik turun. Pertanyaan itu terlalu berat untuk diucapkan penuh, seolah jika diteruskan, sesuatu yang rapuh akan runtuh selamanya.Delon menatapnya. Lama. Tatapan itu bukan tatapan marah, bukan pula dingin. Ada kelelahan yang dalam di sana—lelaki yang terlalu lama menahan beban, terlalu sering menjadi kuat padahal hatinya tidak pernah benar-benar pulih.“Apa?” tanya Delon akhirnya, suaranya pelan tapi waspada.Gelora mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan hanya karena tangis, tapi karena luka yang belum pernah benar-benar sembuh.“Apa kamu akan benar-benar pergi… kalau suatu hari aku berhenti pura-pura kuat?” tanyanya lirih.Delon terdiam.Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam lebih keras dari tuduhan apa pun.Ia memalingkan wajah sesaat, lalu kembali menatap Gelora. “Showing weakness isn’t the problem, Gel,” katanya pelan. “Yang aku

  • Gejolak Berbahaya Anak Bos.   Bab 45

    Bab 45Sunyi menyelimuti kamar itu setelah pintu tertutup keras. Hanya isak Gelora yang tersisa, memantul di dinding-dinding dingin yang selama ini menjadi saksi pernikahan tanpa cinta.Gelora masih terduduk di lantai, memeluk lututnya. Dadanya naik turun, napasnya tidak teratur. Amarah, kecewa, dan harga diri yang tercabik bercampur jadi satu.Beberapa menit berlalu.Pintu kamar terbuka kembali.Gelora mendongak cepat. Delon berdiri di ambang pintu. Wajahnya lelah, matanya merah, namun langkahnya mantap saat mendekat.“Apa lagi?” suara Gelora serak, dingin, penuh pertahanan.Delon berhenti di hadapannya. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk sedikit agar sejajar dengan tatapan Gelora.“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Aku minta maaf… kalau aku salah di matamu.”Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Gelora terdiam.Amarah yang sejak tadi membara seolah kehilangan bahan bakarnya. Gelora menelan ludah, matanya berkedip beberapa kali, berus

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status