LOGINIn the tenth year of my marriage to a genius pianist, I came down with a strange illness. A month ago, my husband missed my birthday party to care for his ailing sister-in-law. Night after night, I had waited for him to return home. But that night I forgot to wait at all and went to bed early. Half a month ago, he attended an important performance with his sister-in-law. I had always been petty and prone to jealousy, yet this time I didn't get angry. I simply went home in silence. Three days ago, I fell seriously ill with a burning fever. My husband rushed back from out of town in a panic—but only to tend to his sister-in-law, whose hand had been scalded. When we ran into each other at the hospital, I was strangely calm. I, who used to be fiercely jealous, felt nothing at all. I forgot the promise we had made to grow old together. I even forgot how he once fretted over me for days when I'd scraped a bit of skin. It wasn't until he said he wanted to bring his sister-in-law home and take care of her for the rest of his life that I—my memories riddled with holes—summoned the system at last. "I want to go home."
View More*
1. MALAM MENYERAMKAN.
********
Angin berhembus, menyapa kulit ketika mereka keluar dari dalam kafe. Suara hiruk pikuk kendaraan yang awalnya ramai, kini menjadi sepi. Masih ada beberapa yang lewat, dan itu pun hanya bisa dihitung jari.
Karena ini sudah waktunya orang tenggelam dalam mimpi.Melepas lelah karena kegiatan pada siang hari."Ok. Besok lagi ya ...." seru Diva"Dah semuanya?" imbuh Caca
Sedangkan Cindy, hanya melambaikan tangannya. Beriringan bersama suara Diva dan Caca.
Ketiga gadis itu melambaikan tangan, pada tiga remaja laki-laki yang berjalan berlawanan arah dengan mereka.
"Iya iya ....Dah juga ... jangan pada keluyuran, langsung pulang!" sahut Egy, "kalo udah sampe rumah pada ngabarin di grub ok." Lanjutnya."OKEE ...!" sahut ketiga gadis itu, bersamaan dari sebrang sana.Suara perpisahan yang tadinya mengisi gelapnya malam perlahan mulai hilang.
Suara-suara yang selalu mengisi keheningan di dalam hati, kini kembali tak terdengar.Ketiga remaja cowok itu, terpaksa harus pulang berpisah dengan Diva, Caca, dan Cindy.Karena letak rumah mereka, berlawanan arah.Untung saja, Rumah mereka terhitung saling berdekatan. Jadi mereka tidak harus pulang sendiri- sendiri.Mereka bertiga, pulang dari kafe dengan berjalan kaki.Sembari berjalan di malam hari yang kira-kira sudah masuk jam setengah 10 malam itu, remaja yang bernama Raizel sudah berulang kali melihat berbagai jenis sosok yang sering disebut 'Mahluk halus.'Sudah 15 menit waktu terlewat, sejak mereka pulang berjalan dari depan kafe, tidak terasa mereka bertiga telah sampai di depan jalan rumah Vano."Yah, udah sampe rumah gue nih. Kalian berdua baik-baik di jalan, ya. Gue masuk dulu, udah ngantuk, tapi jangan lupa, nanti kalo udah sampe rumah pada ngabarin di grub" kata Vano, kepada Raizel dan Egy. "Oke lah, Bro ... kita bakal kasih kabar nanti" jawab Egy, menepuk pundak kanan Vano dua kali."Ya udah, masuk gih ... udah malem" titah Raizel.Alasan Raizel menyuruh Vano untuk segera masuk adalah, karena tidak jauh dari tempat mereka bertiga mengobrol.
Ada sosok 'Mahluk hitam berbulu', yang tengah berjalan santai ke tempat mereka berdiri. Layaknya manusia.Namun, meskipun begitu. Jelas Raizel tahu sekali, itu bukan manusia.Egy dan Vano masih asik mengobrol beberapa kata. Sedangkan Raizel diam-diam tidak fokus pada apa yang temannya obrolkan, karena matanya yang terus mengawasi pergerakan mahluk astral tersebut. Saat Raizel melihat sosok mahluk itu sudah semakin dekat menghampiri mereka.Raizel kembali menyuruh Vano untuk segera masuk ke dalam rumah. "Van ... udah gih! Masuk, dingin. Kita juga mau langsung pulang nih.""Ok. Kalo gitu, gue masuk dulu ya? Baik-baik dijalan," ujar Vano berpesan.
Setelah Vano masuk, sosok hitam besar itu yang sedari tadi berjalan menghampiri mereka, saat itu juga tiba-tiba berhenti.
Raizel yang melihat makluk itu berhenti. Sejenak, Ia bisa bernafas lega.Kini tinggal Raizel dan Egy yang harus berjalan pulang meninggalkan rumah Vano, beserta mahluk hitam itu di sana.
******
Kakinya yang melangkah berjalan bersampingan dengan Egy, ditemani malam yang semakin dingin dan sunyi.
Karena sudah terlalu malam .
sehingga tidak ada orang yang lewat di jalan lagi, hanya ada dua remaja itu. Raizel dan Egy yang menyusuri jalan untuk pulang.Raizel, sesekali memutar kepala menengok ke arah belakang.
Memastikan mahluk itu berganti mengikutinya dan Egy atau tidak, dan ternyata dugaannya benar.Jarak 10 meter dari tempat Raizel dan Egy berjalan, kini mahluk itu tengah mengikuti di belakang mereka berdua.
Raizel yang mengetahui itu, tentu sungguh terkejut dan mulai merasa sedikit takut.
'Kenapa, mahluk itu ngikutin gue sama Egy sih? Mau apa dia?' tanya Raizel dalam hatinya.Raizel tidak menyadari, bahwa sedari tadi dirinya telah diperhatikan oleh Egy.
Egy juga menjadi penasaran.
Dia mulai ikut memutar kepala ke arah belakang, ingin tahu, apa yang sejak tadi Raizel lihat. Namun, Egy tidak melihat apapun."Raizel, Woy!" pekik Egy.
Egy memanggilnya dengan nada lumayan tinggi, yang membuat takut Raizel menjadi-jadi.
"Apaan sih lo, Ngagetin aja!" jawab Raizel, Ketus.
"Hahaha ... lo tuh kenapa? ngeliat ke belakang terus, lihat apa'an lo? gue panggil gitu aja kaget," jawab Egy tertawa.
Egy menganggap respon Raizel terlalu berlebihan.Raizel tentu bingung untuk menjawab, sekaligus memaklumi temannya—Egy yang sama sekali tidak merasa takut, karena Egy tidak melihat apa yang Raizel lihat.
"Enggak kok ... nggak pa-pa. Ayo lebih cepet jalannya gue ngantuk nih, Hooammhh ...," kilah Raizel.
Ia menutupi mulutnya dengan telapak tangan, mencoba berpura-pura menguap, Agar terlihat mengantuk."Hahaha .. iyaa" Egy kembali terkekeh
Beberapa menit sesudah itu, mereka berdua berjalan sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
Raizel dan Egy sengaja mengobrolkan
macam-macam hal yang tidak penting, seperti membicarakan rasa makanan di kafe. Hingga menggosip karyawan kafe, yang menurut para remaja itu cantik.Itu semua Raizel dan Egy lakukan, demi mengisi keheningan malam sambil berjalan pulang.
Saat sedang asik mengobrol, tanpa disengaja Raizel kembali menoleh ke belakang. Memastikan kembali, mahluk hitam itu masih mengikuti atau tidak.
Tetapi setelah Raizel menoleh, tanpa diduga, mahluk itu ternyata sudah berjarak dua meter dari belakang mereka berdua.
Artinya jarak antara mahluk itu, menjadi lebih dekat dengan jarak mereka berjalan.
Tiba-tiba ... tangan mahluk itu bergerak, mencoba meraih Egy. Raizel yang terkejut melihat itu dengan cepat menarik kuat baju depan Egy, sehingga membuat Egy terpelanting ke depan.
"Gyy ...!! Awaaass!!" Teriak Raizel. Dilanjut Raizel memeluk Egy dari depan.
"Rai! Apa-apa'an sih Lo! Gue hampir jatuh!" protes Egy.
"Gy ... Gy ... awas," ucapnya sekali lagi dengan posisi tubuhnya dan tubuh Egy, sudah berpelukan layaknya pasangan.
Raizel memeluk kencang tubuh Egy, tidak perduli bahwa mereka sesama jenis, ia hanya takut, Mahluk itu berusaha melukai Egy.
Itu saja.Ditambah Raizel sendiri yang melihat mahluk itu secara langsung, juga ingin bersembunyi, namun tidak bisa.
Egy yang ditarik paksa dengan cepat, ditambah juga secara tiba-tiba Raizel memeluknya sangat erat.
Sudah pasti merasa kaget, Ia juga merasa aneh dengan tingkah Raizel."Rai ... please jangan gini, takut dilihat orang" keluh Egy, sembari mendorong pundak Raizel, dengan kedua tangan.
Niatnya agar Raizel melepaskan pelukannya, namun malah menjadi lebih kuat Raizel memeluk Egy.Membuat Egy, sedikit marah."Rai!! ... lo kenapa? Ada apa? Awas apa maksud lo?" tanya Egy, keras.
"Gy, tolong lo diem dulu, Jangan banyak nanya" pinta Raizel.
"Tapi lo aneh Rai, lo lihat apa'an?"
Egy menunggu jawaban Raizel.Raizel mencoba membuka matanya perlahan, mengendorkan sedikit pelukannya pada Egy, Berharap mahluk hitam itu sudah pergi.
Lagi-lagi ia dikejutkan kembali.
Siapa sangka, ketika dia membuka mata. Bukannya melihat sosok hitam itu sudah menghilang, justru malah wajah mahluk tersebut berada tepat di depan wajahnya.Hanya meyisakan 5cm, jarak tengah antara wajah mahluk hitam itu dari depan wajah Raizel, yang artinya hampir saling menempel.
Sungguh dekat, sangat dekat, terlalu dekat.Raizel membelalakan matanya, ingin Raizel berteriak tapi tak bisa.
Ingin Raizel kembali menutup mata, tapi seakan-akan mahluk hitam itu ingin Raizel menatap wajahnya lebih lama.Dia saksikan betapa seram dan menakutannya wajah mahluk itu, berbulu, hitam dan kening yang bertanduk, berdarah, berbau busuk. Ditambah matanya yang sudah tidak utuh menjadikan wajahnya benar-benar mengerikan.
Tidak enak untuk dipandang.Karena ketakutan yang sudah melewati batasnya, Raizel kembali mengencangkan pelukan pada Egy.
Egy yang dari tadi menunggu jawaban Raizel, berharap bahwa teman-nya itu akan memberitahunya sesuatu, malah terkejut lagi karena pelukan Raizel yang kembali mengerat.
"Rai! ... jawab gue, lo kenapa?! Jangan nakutin Gue kaya gini!" Gertak Egy.
"Gy ... Gu-gu-gue-" jawab Raizel dengan gagap.
"Lo kenapa? Jawab!!" Sekali lagi, Egy menyentak dengan keras pada Raizel, belum sempat Raizel menjawab Egy.
Mahluk hitam yang wajahnya 5cm dari depan wajah Raizel, Tiba-tiba menjulurkan lidahnya.
Hingga lidahnya itu menyentuh ujung hidung Raizel.Seketika bau busuk masuk dan menyengat tenggorokan, Raizel yang tidak kuat menahan takut sekaligus bau busuk, yang dikeluarkan dari lidah mahluk hitam tersebut.
Perlahan mulai kehilangan kesadaran."Rai ... Raizel ...?" Egy mencoba melirik wajah Raizel, yang sedari tadi hanya diam. Menyembunyikan parasnya di samping telinga Egy.
"Rai ...?" panggilnya penasaran.
Suara Egy terdengar biasa karena ia merasakan pelukan Raizel yang tidak lagi erat seperti sebelumnya.
"Gy ... gue nggak kuat" keluh Raizel lirih.
"Nggak kuat kenapa?" Balas Egy
Kakinya terasa lemas, pandangan mulai hitam dan perlahan mulai menjatuhkan tubuhnya.
Sebelum Raizel sepenuhnya kehilangan kesadaran, dan tubuhnya jatuh ketanah berbalut aspal.
"Rai!!" Egy dengan sigap.
Berganti memeluk tubuh Raizel yang hendak jatuh, mencoba menahan dengan kuat tubuh temannya yang lemas karena ketakutan.kemudian, Egy perlahan menurunkan tubuh Raizel di atas jalanan aspal. sehingga Raizel pingsan dalam keadaan duduk, tak sampai di situ Egy juga menyangga punggung Raizel dengan lututnya.
"Rai!! lo aneh banget ....
Lo kanapa malah pingsan? aduh! Raizel! Bangun!" Teriak Egy.Menepuk pipi Raizel yang sudah benar-benar berat untuk membuka mata.Tidak jauh darinya, 'Mahluk hitam' yang mengikuti Raizel dan Egy sejak tadi, tanpa Egy bisa melihatnya. Mahluk itu diam di samping Egy memperhatikan mereka yang panik, juga melirik ke arah Raizel yang pingsan.
Mungkin karena sudah berhasil menakuti Raizel, maka mahluk itupun perlahan berubah menjadi kabut putih yang tipis lalu menghilang.
Sedangkan Egy yang kebingungan bercampur panik, tidak tahu temannya kenapa, memutuskan untuk menggendong Raizel.
Lalu membawa Raizel pulang bersamanya.Caleb's loud cries snapped us out of the strange, tense atmosphere. I turned in alarm and saw that he had somehow fallen into the lake, flailing and screaming, "Mom!"Action overtook thought. My heart pounding, I plunged into the water and pulled Caleb to safety, checking him over carefully.Only then did I notice Sam struggling in the lake as well—somehow, in my panic, I hadn't even realized he was calling for me.Jonathan had already rescued him.Caleb clung to my sleeve, fear etched on his face, and whispered an apology, "Mom, I'm sorry." Then, as if remembering something, he added, "Mom, you're so good at swimming."I wiped away his tears gently and smiled. "It's okay. You're my son, and I'm supposed to protect you. Once we get out of here, I'll teach you to swim properly, alright?"Caleb's eyes lit up. He nodded furiously. "Alright!"Sam, standing near his father, trembled, teeth chattering, his small face full of hurt."Mom… why didn't you save me?" he hiccupped through h
"Natalie, I'm allergic to alcohol. Back then, that deal was too important. You said you'd help me and drank your way through the entire banquet by yourself, knocking down seven or eight CEOs on the other side. "I dragged you home and only then realized your whole body was swollen and flushed. You had a fever, you were throwing up, completely drunk, yet you kept insisting you could still drink. That was when I learned you also had a mild allergy."You loved me so much back then…"As he spoke, he looked at me with expectation, as if punishing himself like this might somehow force my memories to return.He was bound to be disappointed. The system's cleansing had been thorough. I remembered nothing—and I had no desire to."You said it yourself. That was in the past. I definitely don't love you now. I don't even remember you."At my words, his tears slid down, more and more of them, mixed into bottle after bottle of alcohol that he swallowed.I watched coldly as he drank more and mo
As if provoked by my words, he became visibly agitated. Shaking his head, he grabbed my shoulders, biting down so hard on his lip that fear drew blood."Do you really not remember me at all? You said I was the devoted second male lead in a novel. You were supposed to conquer me, but you fell in love with me instead, so you begged the system to let you stay and be with me."We got married. I gave up inheriting the family conglomerate for you. You negotiated with my rivals for my career, drinking yourself senseless until your whole body was swollen and flushed. You even endured the hardship of giving birth to Sam for me. You said we would grow old together, and I planted a garden full of roses just for you."We loved each other so deeply. I replay these memories day and night. You loved me so much—so you must be lying to me now, right?"His face was deathly pale as he kept talking, trying desperately to use words to awaken my memories. Every sentence was drenched in obsessive love. Y
The boy rushed toward me, only to be blocked completely by Caleb.Caleb glared at him and demanded, "This is my mom. What do you think you're doing?"Ignoring Caleb's question, the boy bounced and jumped behind him, waving at me and shouting loudly, "Mom! I knew you weren't dead! You must have come back because you couldn't bear to leave me!"Caleb kept standing in his way, refusing to let him come closer. His face flushed red with anger as he lost his temper and shoved Caleb hard."Who are you? Why are you stopping me from hugging my mom!"Caleb stumbled from the push. I hurried to steady him and pulled him behind me. Seeing this, the boy on the other side welled up with tears and demanded through sobs, "Mom, how can you protect him? I'm your son!"I frowned. What a strange child—calling me Mom the moment he opened his mouth, when I didn't even know him."Little one," I said gently, "if your mother knew you were calling someone else 'Mom,' she'd be very sad. I'm not your mother












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.