MasukKotak kecil di saku dalam jasku terasa sangat berat, seolah terbuat dari timah panas yang membakar kulit dada di atas jantungku. Aroma samar darah dan besi dari potongan jari itu sepertinya hanya tercium olehku, tapi bagiku, bau itu sudah cukup untuk memicu insting membunuh yang kucoba tahan sekuat tenaga."Kita mau ke mana, Rey?" tanya Amanda saat aku menuntunnya menaiki tangga melingkar menuju lantai dua Grand Hall."Ke tempat yang lebih tenang," jawabku singkat. "Ayah menunggu di atas."Kami melangkah melewati penjaga bertubuh kekar yang berjaga di akses tangga. Begitu kami sampai di balkon lantai dua, atmosfer pesta di bawah sana, suara musik, tawa, dan denting gelas, mendadak terasa jauh.Di sini, di area VVIP, keheningan adalah simbol kekuasaan.Tidak ada musik bising. Hanya ada aroma cerutu kelas satu, wangi scotch berusia puluhan tahun, dan gumaman rendah dari orang-orang yang mengendalikan nasib negara ini.Amanda meremas lenganku lebih erat. Matanya menyapu sekeliling dan ak
"Minumlah," kataku sambil menyodorkan segelas air mineral dingin yang baru saja kuambil dari pelayan yang lewat.Amanda menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia meneguknya cepat, mencoba membasuh sisa ketegangan yang masih mencekik tenggorokannya."Rey..." bisiknya setelah meletakkan gelas yang kosong. "Tiga orang tadi... mereka benar-benar pingsan?""Mereka sedang tidur nyenyak di ruang keamanan sekarang," jawabku menenangkan, merapikan anak rambut yang jatuh di pipinya. "Jangan pikirkan mereka lagi. Mereka cuma tikus-tikus kecil yang sepertinya tersesat."Aku berdiri membelakangi pilar, membiarkan Amanda bersandar di sana sementara mataku terus memindai seluruh penjuru Grand Hall. Hector memang sudah lari seperti pengecut, tapi aura bahaya di ruangan ini belum hilang. Justru, rasanya semakin pekat dan dingin.Dan benar saja.Dari arah pintu masuk VVIP, seseorang sedang berjalan lurus ke arah kami.Pria itu masih muda, mungkin seumuran denganku. Wajahnya sangat tamp
Musik Waltz klasik mulai mengalun, memenuhi setiap sudut Verdansk Grand Hall dengan nada-nada yang anggun dan membuai.Aku menuntun Amanda menuju tengah lantai dansa. Cahaya lampu kristal raksasa di langit-langit menyorot kami berdua, menjadikan kami pusat gravitasi di ruangan ini. Setelah insiden dengan Clara tadi, tidak ada satu pun pasangan lain yang berani naik ke lantai dansa bersama kami. Mereka semua berdiri di pinggir, membentuk lingkaran penonton, menatap kami dengan campuran rasa takut dan kekaguman.Amanda meletakkan satu tangannya di bahuku, sementara tangan lainnya kugenggam erat."Aku nggak bisa berdansa sebaik kamu, Rey," bisiknya cemas, matanya menatap kakiku, takut menginjak sepatu mahalku."Ikutin aku aja," jawabku lembut, menatap manik matanya dalam-dalam. "Fokus padaku. Abaikan dunia di sekitarmu."Kami mulai bergerak. Satu langkah ke depan, dua langkah ke samping, berputar. Gaun Crimson Empress yang dikenakan Amanda mengembang indah setiap kali kami berputar, menc
Sosok Lucas Morales memang memiliki gravitasi tersendiri. Namun, begitu "Matahari Verdansk" itu ditarik oleh beberapa Menteri dan Jenderal menuju area VVIP di lantai dua, atmosfer di sekeliling kami berubah drastis dalam hitungan detik.Sebelum menaiki tangga, Ayah sempat menoleh ke belakang. Dia menatapku sekilas, memberikan kode mata yang sangat kupahami: Jaga Benteng.Aku mengangguk kecil.Begitu punggung tegap Ayah menghilang di balik balkon VIP, perisai tak kasat mata yang melindungi kami seolah runtuh.Tamu-tamu yang tadi menunduk hormat dengan tubuh gemetar, kini mulai mengangkat kepala mereka. Tatapan takut itu lenyap, digantikan oleh tatapan menilai, penuh perhitungan, dan tentu saja... rasa iri yang menjijikkan."Aku ambilkan minum sebentar," bisikku pada Amanda."Jangan lama-lama," jawabnya pelan, matanya menyapu sekeliling dengan waspada.Aku melangkah menuju meja bar terdekat, mengambil dua gelas champagne. Namun, saat aku berbalik, darahku langsung mendidih.Di tengah la
Konvoi sepuluh mobil baja hitam kami akhirnya berhenti tepat di depan lobi Verdansk Grand Hall.Di luar sana, suasana sudah kacau balau. Ribuan kilatan cahaya blitz kamera menyala tanpa henti, mengubah malam yang gelap menjadi siang yang menyilaukan. Teriakan wartawan saling bersahutan, memanggil nama Ayah dan Ibu seperti umat memanggil nabi mereka."Siap?" tanyaku pada wanita di sampingku.Amanda menarik napas panjang, tangannya yang dingin meremas tanganku. "Siap."Pintu mobil dibuka oleh pengawal. Aku turun lebih dulu, merapikan jas, lalu berbalik dan mengulurkan tangan ke dalam kabin.Detik berikutnya, sebuah kaki jenjang yang indah menapak karpet merah.Kain gaun Crimson Empress yang memiliki belahan tinggi itu tersingkap sedikit, memperlihatkan kulit putih mulus Amanda, dan tentu saja, garter belt hitam yang menyembunyikan senjata mematikan di sana.Amanda keluar sepenuhnya. Dia berdiri tegak di sampingku, dagunya terangkat angkuh sesuai instruksi Ibu. Gaun merah darah itu menya
Bunyi es batu beradu dengan dinding gelas kristal memecah keheningan di ruang kerja Ayah. Ruangan ini jauh berbeda dari bagian rumah yang lain.Lucas Morales menyodorkan segelas scotch berusia tiga puluh tahun ke arahku."Minumlah," perintahnya pendek. "Kamu akan membutuhkannya."Aku menerima gelas itu dan menyesap cairan amber yang terasa membakar tenggorokan. Hangat, namun menenangkan.Ayah berjalan memutari meja kerjanya yang besar, lalu menyandarkan tubuh kekarnya di sana. Dia menatapku lurus, tatapan seorang jenderal kepada letnannya."Malam ini istrimu akan melihat wajah asli Verdansk. Wajah yang penuh darah dan kemunafikan," ujar Lucas. "Ruben akan ada di sana. Dia pasti membawa para 'monster' dari Dominus Noctis. Kalau mental istrimu nggak siap, dia bisa hancur hanya dengan melihat aura mereka."Aku mengangkat wajah, menatap mata Ayah dengan keyakinan penuh."Kalau begitu, aku yang akan menutup matanya. Aku akan menjadi perisainya. Dan kalau perlu... aku akan membakar siapa pu







