LOGINDi sisi lain.Bu Nana tampak sedang duduk di ruang depan rumah. Mendengar suara-suara menggairahkan itu kembali bergema, membuat wanita itu merasa tubuhnya panas kembali."Ahh... Tuan Muda, batangmu emang yang terbaik! mentok di dalam Tuan Muda... Sangat sesak, ahh.." Terdengar suara racauan liar Bu Sumi.Mendengar racauan itu, membuat Bu Nana menjadi penasaran."Apa senikmat itu bercinta dengannya? Tapi... Kalau di lihat dari ukurannya sih... Itu sudah pasti nikmat," Bu Nana kembali mengingat, saat dia melihat batang Erfan.Dia menggigit bibirnya, tubuhnya terus memanas, sampai matanya menjadi sayu. Hasrat itu, mulai menguasai dirinya, perlahan memengaruhi kewarasannya.Di dalam hatinya, Bu Nana sangat ingin meninggalkan rumah itu, agar hasratnya padam kembali. Namun, tubuhnya tak mengijinkannya, yang membuat dirinya hanya terpaku di sana.Terus menerus mendengar suara-suara itu, Bu Nana tak bisa menahan lagi. Tampak sa
Ketika Bu Sumi melihat siapa wanita itu, dia menjadi sangat panik. Buru-buru dia menutup tubuhnya menggunakan selimut. Sementara itu, Erfan tampak lebih santai, namun tak do sangkal, dia pun merasa panik. "Nana... Kenapa... Kenapa kamu ada di sini?" tanya Bu Sumi dengan nada ketakutan. "Aku mau mengunjungi kakak! Tapi gak di sangka, aku akan melihat pemandangan seperti ini!" ucap wanita itu dengan nada marah. Bu Sumi tak bisa mengelak lagi. Dia hanya bisa meminta agar wanita bernama Nana itu tak memberi tahu siapapun tentang masalah ini. "Nana, kakak salah! tapi kakak mohon... Kamu jangan bilang siapapun, oke!" "Kakak! kenapa sih kakak melakukan ini?" tanya Nana, dia tak menjawab permintaan Bu Sumi. "Aku... Aku..." Bu Sumi tak bisa menjawab. "Apa kakak gak kasihan dengan suami kakak?" tanya Nana kembali, pemuja penekanan. Bu Sumi menundukkan kepalanya, dia sudah tak mampu menjawab apapun.
Erfan membiarkan Bu Sumi menikmati puncaknya selama beberapa saat. Setelah wanita itu kembali tenang, barulah dia mengajaknya memulai ke permainan inti.Bu Sumi tak keberatan, dia langsung membuka kakinya lebar-lebar. "Ayo, Tuan Muda... Masukkan batang besar mu itu," ujar Bu Sumi dengan nada penuh godaan.Erfan tersenyum tipis, ekspresi wajahnya tampak nakal dan penuh nafsu."Kalau gitu... Aku gak sungkan!" Erfan berlutut di antara kaki wanita itu, lalu memosisikan batanya di lubang apem itu. Setelah posisi di rasa pas, dia mendorongnya masuk ke dalam apem itu."Ahhh..." Desahan merdu keluar dari mulut Bu Sumi, saat di merasakan batang besar itu menerobos masuk ke dalam dirinya.Erfan memasukkan batangnya itu sampai mentok di dalam sana.Merasakan batang itu menabrak ujung terdalam apemnya, membuat Bu Sumi merasakan rasa nikmat yang tiada tara."Tuan Muda, batangmu... memang yang terbaik!" puji Bu Sum
"Aku kira, Bu Sumi gak ada di sini," ucap Erfan sambil tersenyum hangat. "Aku selalu ada, kok! Tadi aku sempat jalan-jalan, bosan kalau terus diam di rumah," balas Bu Sumi. "Tuan Muda sudah lama menunggu?" tanyanya lagi dengan nada sedikit canggung. "Enggak, kok. Aku juga baru saja sampai," jawab Erfan santai. Bu Sumi mengangguk pelan. Tanpa menanyakan alasan kedatangan Erfan, dia langsung mempersilakannya masuk ke dalam rumah. Tanpa sungkan, Erfan pun melangkah masuk. "Bu, Suamimu... apa suamimu masih lama pulangnya?" tanya Erfan, sambil duduk di lantai. "Tenang saja. Dia pulang masih lama kok," balas Bu Sumi dengan nada menggoda, ekspresi wajahnya tampak nakal. Mendengar perkataan dan ekspresi wanita itu, Erfan merasa ~ kalau wanita ini sudah tahu maksud kedatangannya. "Apa kamu sudah tahu, apa niatku datang ke sini?" tanya Erfan dengan nada main-main. "Hihi...." Bu Sumi terkikik p
Ketika batang itu sudah berada tepat di lubang apemnya, Kak Gisel menurunkan tubuhnya secara perlahan. Terlihat, batang itu menerobos masuk ke dalam apem itu. "Ahhh...." desahan indah keluar dari mulut mereka. Setelah batang itu masuk sepenuhnya, Kak Gisel langsung memulai goyangannya. Rasa nikmat itu, bisa langsung di rasakan Erfan. "Ahh... enak! ternyata... kakak iparku ini... sangat terampil bermain di atas," ucap Erfan. Ekspresi wajah nya tampak sangat menikmati. Kak Gisel tersenyum tipis, ekspresi tampak sangat nakal. Dia meningkatkan intensitas goyangannya, agar Erfan semakin merasa nikmat. "Ahhh... enak banget! sial, kak... kamu begitu hebat!" racau Erfan. Dia tak pernah menyangka, jika kakak iparnya itu sangat pandai bergoyang. Keterampilan goyangannya, hanya sedikit di bawah keterampilan Jessy. Namun itu sudah cukup, membuat Erfan gila. "Ahhh... ahhh, nikmati
Erfan bangkit, lalu duduk di samping wanita itu, sambil melap wajahnya yang terkena cipratan cairan itu. Setelah itu wanita itu cukup menikmati puncaknya, dia langsung berjongkok di bawah Erfan. Tangannya menggenggam batang besar itu, dan mulai mengocoknya perlahan."Kamu ternyata sudah tahu, apa yang aku inginkan," ucap Erfan, sambil mengelus wajah wanita itu."Bagaimana mungkin aku gak tahu," balas Kak Gisel, lalu di mulai menjilati batang Erfan.Merasakan jilatan itu, Erfan langsung mengeluarkan desahan, karena jilatan itu terasa sangat nikmat."Emm... ahh, jilatanmu, ternyata sangat nikmat!" puji Erfan.Mendapatkan pujian itu, membuat Kak Gisel lebih bersemangat. Dia memasukkan batang besar itu ke dalam mulutnya ~ mulai mengulumnya.Rasa basah, geli, dan halus itu, bisa di rasakan Erfan. "Ahhh... enak! kulum lebih cepat!" pinta Erfan.Kak Gisel menaik turunkan kepala lebih cepat lagi, sesuai dengan apa yan
Erfan dan Anne kembali duduk, di tempat mereka tadi. Semua orang disana memandang Erfan dengan ngeri. "Sayang kamu sangat galak!" ucap Anne, dengan nada sedikit takut. Erfan terkekeh, "Segitu aku tidak termasuk galak!" jawab Erfan. "Aku takut," Anne berkata dengan manja. "Apa yang perlu
Di dalam mobil, "Sial, milik Nyonya Rina sangat legit dan menggit itu sangat mantap," ucap Erfan dalam hati. "Sayang, kita mau kemana?" tanya Anne, sambil melirik Erfan. "Kita ke mall dulu, yari hadiah pernikahan teman ku!" ucap Erfan. "Nanti udah dari mall ke hotel yah! aku gak tahan nih!"
Bu Resti datang ke vila melalui pintu belakang. dia tidak langsung masuk ke dalam vila, dia berdandan cantik dulu di luar vila. Setelah selesai dia masuk ke dalam vila. Bu Resti melihat Erfan yang sedang tiduran sambil bermain ponsel di sofa, langsung menghampiri nya. "Maaf lama tuan muda," ucap
Nyonya Rina kembali membawa minuman dan makanan ringan. "Silahkan tuan muda dan nona," ucap Nyonya Rina sambil menatap erfan dengan tatapan sulit di artikan. Karena posisi wanita itu membungkuk, sehingga belahan dada itu selihat jelas di hadapan Erfan. Erfan berusaha menahan nafsunya, "Terim







