LOGINSiapa sangka pemuda miskin yang setiap hari dihina warga desa tiba-tiba menjadi pria yang diperebutkan banyak wanita cantik? Semua bermula dari sebuah benda kuno misterius yang menyatu dengan tubuhnya.
View MoreBugh! Bugh! Bugh!
Beberapa bogem mentah mendarat bertubi-tubi di wajah dan perut Maman. Pemuda 21 tahun itu tersungkur ke tanah di tengah hiruk pikuk pasar yang mendadak hening. Maman hanya bisa meringkuk pasrah di bawah hujan pukulan dan tendangan yang membabi buta, sementara suara makian bersahutan di sekelilingnya. "Dasar nggak tau diri! Sudah yatim piatu, miskin, berani-beraninya nyuri di toko Juragan Surya!" teriak salah seorang warga. Juragan Surya berdiri menjulang di depan Maman. Di tangannya, ia memamerkan sebuah kalung emas yang katanya baru saja dicuri Maman. "Lihat! Ini buktinya! Anak ini memang sampah masyarakat!" "Saya nggak nyuri, Juragan! Sumpah!" Maman menjerit di tengah hujan pukulan. "Saya cuma lewat, nggak pernah masuk ke tokonya Juragan!" Warga dan pedagang yang berkerumun tak memedulikan rintihan Maman. Statusnya sebagai pemuda sebatang kara yang selama ini hanya menyambung hidup dari hasil memancing ikan di sungai membuat orang-orang dengan mudah menghakiminya. "Pasti dia mau jual kalung itu buat bayar hutang bapaknya!" seru salah seorang warga. Tepat saat seorang warga bersiap kembali melayangkan pukulan, tiba-tiba... "Ayah!!! Berhenti!!!" Seorang gadis cantik seumuran Maman menerobos kerumunan dengan napas terengah. Gadis itu adalah Lisa, anak semata wayang Juragan Surya. Dengan sigap, ia berdiri di sisi Maman, memposisikan dirinya sebagai perisai. "Ayah, cukup! Maman nggak mungkin ngelakuin itu!" seru Lisa dengan mata berkaca-kaca. Juragan Surya tertegun, lalu wajahnya berubah menjadi murka. "Lisa, minggir! Anak ini sudah bikin ulah di toko kita!" "Enggak, Yah! Aku tau gimana Maman. Dia memang miskin, tapi dia nggak mungkin nyuri. Pasti ada kesalahpahaman!" bela Lisa bersikeras, meski tubuhnya gemetar ketakutan. "Kamu nggak usah ikut campur!" Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lisa, meninggalkan bekas merah. Gadis itu terisak, namun ia tetap bersikukuh menahan bahu Maman, enggan beranjak. Melihat pemandangan itu, warga dan pedagang mulai merasa tidak enak. Perlahan, kerumunan itu bubar dengan sendirinya, meninggalkan Maman yang gemetar dan Lisa yang terus menangis di sampingnya. Setelah suasana mereda, Maman merangkak pergi dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia menyeret langkah menuju rumahnya, membiarkan rasa sakit di sekujur tubuh menjadi pengingat betapa tidak berdayanya ia di desa ini. Setibanya di rumah, Maman membanting pintu dan bersandar di sana dengan napas memburu. Kehidupan sebagai pemuda miskin yang dipandang sebelah mata memang sudah biasa, namun kejadian hari ini benar-benar menghancurkan sisa harga dirinya. Baru saja ia merebahkan diri di atas kasur untuk memulihkan tubuhnya yang remuk, suara menggelegar dari depan rumah membuyarkan lamunannya. Brak! Brak! Brak! Maman tersentak. Jantungnya berdegup kencang. Dengan tertatih, ia bergegas bangkit menuju pintu. Klek! Di sana, Pak Tigor, pria bertubuh besar dengan wajah sangar, berdiri berkacak pinggang. "Mana uangnya, Man?" tanya Pak Tigor dingin. Glek! Maman menelan ludah dalam-dalam. "Ma-maaf, Pak. Saya belum punya uang sama sekali." Pak Tigor mendengus, matanya menatap tajam. "Kamu kira saya main-main? Ini sudah keberapa kalinya saya datang ke sini?" "Ta-tau, Pak. Tapi saya benar-benar nggak punya uang," jawab Maman, tubuhnya gemetaran. "Gimana sih kamu ini!" Pak Tigor membentak, membuat Maman menciut. "Hutang ayahmu sudah nunggak lama. Sekarang totalnya sudah tiga puluh juta!" Mata Maman membelalak. "Ti-tiga puluh juta?!" "Iya, sudah termasuk bunga," tegas Pak Tigor. "Rumah ini jaminannya. Kalau bulan depan nggak lunas, saya sita. Ngerti?!" "Tapi Pak... ini rumah satu-satunya yang saya punya," lirih Maman memohon. Pak Tigor tertawa sinis. "Kamu pikir saya peduli? Jangan mentang-mentang ayahmu sudah mati, terus saya harus kasihan. Kalau nggak bisa bayar, keluar! Satu bulan, Man. Kalau lewat, saya bawa orang buat kosongin rumah ini." Pria itu berbalik tanpa menoleh lagi, meninggalkan Maman yang mematung di ambang pintu. Ia kembali masuk ke dalam untuk menenangkan diri. Namun, baru beberapa langkah menuju kamarnya, ketukan pintu kembali terdengar. Tok! Tok! Tok! Maman kembali tersentak, pikirannya langsung tertuju pada rentenir lain atau semacamnya. Dengan kaki gemetar, ia membuka pintu. Klek! "Ma-maaf, Mas," ucap Maman hati-hati. "Ada apa, ya?" Pria di depannya tersenyum ramah, berbeda jauh dengan Pak Tigor tadi. "Apa benar ini rumahnya Maman?" Maman menelan ludah. "Be-benar, saya sendiri, Mas. Tapi... saya belum punya uang. Nanti kalau sudah ada, saya pasti bayar kok." Pria itu tertawa kecil. "Nggak masalah kok, Mas. Ini bukan COD. Paketnya sudah dibayar sama yang ngirim." "Eh?!" Maman mengerjap bingung. "Bukan soal hutang, ya?" "Bukan," jawab kurir itu seraya menyerahkan sebuah kotak. "Saya kurir paket. Tadi sempat muter-muter nyari alamatnya." "Oh, iya. Makasih, Mas," ujar Maman canggung. Setelah motor kurir itu menjauh, Maman membawa kotak itu ke dalam dengan dahi berkerut. Ia membuka paket tersebut dengan rasa penasaran yang memuncak. Srett! Lapisannya terbuka, namun Maman justru menghela napas kecewa. "Yaelah... kirain duit, taunya cuma ginian." Di dalam kotak itu hanya tersimpan sebuah koin kuno berwarna putih yang tampak kusam, tergeletak di atas alas kain hitam. Maman mengambil koin itu, lalu menyadari ada secarik kertas kecil yang terselip tepat di bawahnya. KAMU ADALAH PEWARIS SELANJUTNYA. JIKA KOIN INI MENYATU DENGAN TELAPAK TANGANMU, MAKA HIDUPMU AKAN BERUBAH. "Hah?!" Maman membaca ulang tulisan itu beberapa kali. "Serius? Mana mungkin." Ia mendecak. "Palingan juga prank nggak jelas." Namun setelah beberapa saat, pikirannya beralih ke tunggakan hutang ayahnya, tagihan listrik, dan uang makan yang hampir habis. "Huft..." Maman menghela napas panjang. "Kalau beneran bisa ngubah hidup, gue coba aja kali, ya?" Ia mengambil kembali koin tersebut. "Tapi... gimana caranya?" Sesuai petunjuk di surat, Maman meletakkan koin itu di telapak tangannya. Beberapa detik berlalu, tidak terjadi apa-apa. "Tuh, kan?" Maman mendengus. "Mana? Nih koin kagak masuk-masuk ke tangan gue." Ia membolak-balik koin itu. "Apa iya gue harus bedah tangan gue buat masukin ini koin? Yang bener aja!" Semakin dipikirkan, semakin kesal rasanya. "Aarrrggghh!" Dengan emosi meluap, Maman membanting koin itu ke dinding. Ting! Koin tersebut memantul, menggelinding di lantai, lalu berhenti tepat di depan kakinya. Maman terdiam. "...Lah?" Ia mengerutkan kening. Karena kesal sekaligus merasa dipermainkan, ia langsung menghantam koin itu dengan tinjunya. Brak! "Sialan!" Maman meringis saat darah segar mulai menetes dari buku-buku jarinya yang sobek. Darah itu membasahi permukaan koin, dan seketika, cahaya putih redup berkilau dari benda kuno tersebut. "Eh?!" Maman terbelalak. Ia segera memungut koin itu kembali. Namun saat berada di telapak tangannya, tiba-tiba... Koin itu perlahan tenggelam ke dalam kulit tangannya. "Apa-apaan ini?!" Maman panik, mencoba menariknya keluar, namun rasa nyeri hebat menghujam tangannya. "Aarrrggghh!" Dalam hitungan detik, koin itu lenyap sepenuhnya ke dalam kulit. Ia memegangi kepalanya. Penglihatan di sekelilingnya mulai berputar. Dinding rumah tampak bergetar. Lantai terasa bergelombang. Perlahan, pandangannya buram, lalu gelap hilang seketika."Ihh! Apaan sih, nempel-nempel! Lepasin!" bentak Ririn, wajahnya cukup merah karena rasa malu yang membuncah.Ia buru-buru bangkit dari posisi yang sangat canggung, di mana bukit kembarnya sempat menekan wajah Maman selama beberapa detik.Maman, yang masih agak linglung akibat benturan ringan di kepalanya, mengerjapkan mata beberapa kali. Ia masih bisa merasakan betapa empuk dan harumnya aset kenyal yang dimiliki Ririn."Lah? Kok buru-buru amat?" gumamnya pelan, batinnya protes karena momen keberuntungan itu harus berakhir cepat.Maman bangkit, lalu dengan sigap membantu mendirikan motor Ririn yang masih tergeletak."Sini, biar aku aja yang bawa," ucap Ririn ketus. Ia segera naik ke jok depan, wajahnya masih membelakangi Maman.Maman mendengus pelan, menepuk celananya yang kotor karena debu tanah."Nah, gitu kek dari tadi. Kan enak kalau kamu yang bawa," sindirnya tipis.Ririn menoleh sedikit, memberi tatapan tajam dari balik bahunya. "Satu syarat lagi. Kamu duduk di belakang.""Ya em
"Anjir! Hampir aja... Kalau nggak cepet-cepet kabur, bisa berabe jadinya!" gumam Maman.Pintu rumahnya baru saja tertutup rapat, menyisakan napas Maman yang memburu. Ia masih terbayang kejadian sepuluh menit yang lalu di rumah Tante Zara.Kejadian canggung yang sempat memperlihatkan tonjolan kecil pada bukit kembar Tante Zara masih membekas di benak Maman. Ia memutuskan undur diri karena timunnya yang sudah sangat mendesak.Hingga sampai saat ini, timunnya masih berdiri tegak, seolah menolak tunduk."Yaelah... ngapa masih bangun, sih?!" bentak Maman pada celananya sendiri.Perlahan, ia membuka sedikit bagian pinggang celananya, bermaksud mengintip."Alamak!" Maman tersentak kaget.Urat-urat timunnya menonjol drastis, lebih tebal dan lebih panjang. Maman sempat mengira bahwa itu bukanlah miliknya.Plak!Maman menamparnya dengan kesal, berharap rasa sakit bisa membuatnya lemas. Namun, bukannya mereda, timunnya justru terasa semakin berdenyut kuat."Huft..."Maman akhirnya menyerah. Ia m
"Man!""Eh? Tante tanya apa tadi?" Maman tersadar, pipinya memerah."Ihh, kamu ini... Emang tadi bengong mikir apaan? Ngebayangin Tante ya? Hihi..." Tante Zara tertawa genit, lalu mengedipkan matanya.Maman merasa wajahnya panas. Ia buru-buru mengalihkan pandangan."Gimana, Man? Gede ya?" tanya Tante Zara kembali.Maman tersentak kaget. "Hah?! Apanya, Tante?""Loh? Ya ikannya, lah. Emang kamu mikir apaan?" Tante Zara tertawa renyah, membuat bahunya yang mulus berguncang."Eh, anu... bukan, enggak..." Maman gelagapan, gugup bukan main."Udah, santai aja kali, Man. Nggak usah canggung gitu sama Tante. Sini, Tante mau liat ikannya, gede apa enggak."Dengan tangan gemetar, Maman mendekatkan keranjangnya. Begitu tutupnya dibuka, mata Tante Zara membelalak."Wah... gede banget! Ini asli Man? Nila beneran? Bukan AI, kan?""Ah, Tante bisa aja. Mana ada ikan nyata begini dibikin dari AI, hehe..."Maman menjawab apa adanya. Namun, raut wajah Tante Zara masih menyiratkan ketidakpercayaan melihat
Maman terbangun saat matahari pagi menyusup lewat celah-celah dinding rumahnya. Ia mengerjap, mencoba mengingat kejadian semalam. Terasa seperti mimpi buruk yang panjang. Namun, saat ia mencoba bangkit, tidak ada rasa sakit sama sekali. Memar di wajah dan perutnya masih sedikit terlihat, tapi rasa nyeri sudah hilang sepenuhnya. Ia menatap telapak tangan kanannya. Di sana, tepat di tengah, ada bekas bulat yang samar, seperti bekas luka bakar ringan berbentuk koin. "Bukan mimpi rupanya..." gumamnya pelan. Ia menggenggam tangannya, merasakan denyut aneh yang samar. "Apa benar koin itu...?" Tok! Tok! Tok! Ketukan pintu yang tiba-tiba, membuyarkan lamunannya. Dengan langkah masih sedikit tertatih, Maman membuka pintu. Klek! Togel, sahabat karibnya, sudah berdiri di sana dengan senyum lebar dan joran pancing di bahunya. "Eh, Man! Baru bangun lu? Yuk lah, gas mancing! Mumpung air lagi bagus!" serunya antusias. Senyum Togel seketika lenyap begitu menyadari kondisi wajah Maman yang
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.