LOGINAkibat kesalahan sistem yang fatal, Rangga menjadi satu-satunya siswa laki-laki yang menerima beasiswa di Sanctuary Academy. Sebuah akademi elit khusus wanita yang telah menutup pintunya bagi pria selama lebih dari satu abad. Di tengah aturan ketat dan tekanan tinggi, hadirnya Rangga perlahan mengguncang tatanan akademi tersebut. Niat awalnya yang hanya ingin bertahan hidup demi pendidikan berubah saat ia menyadari betapa besarnya pengaruh yang ia miliki. Di balik pintu-pintu yang terkunci, Rangga bertransformasi dari sekadar murid biasa menjadi sosok yang dicari, memikat para siswi, pengajar, hingga para petinggi akademi yang mendambakan perhatiannya!
View More"Maaf, Saudara Rangga, tapi sistem kami tidak bisa membatalkan apa yang sudah disahkan oleh komputer pusat. Anda resmi menjadi mahasiswa kami," ucap petugas wanita berkacamata bingkai hitam itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor di atas meja.
BRAK! Rangga menggebrak meja kayu di depannya hingga beberapa lembar kertas kosong beterbangan. "Tapi ini benar-benar tidak masuk akal! Tolong lihat surat panggilan cetak yang saya bawa ini. Di sini tertulis jelas menggunakan tinta emas Akademi Seni Internasional. Kenapa begitu saya menyerahkan tiket dan sampai di dermaga keberangkatan ini plang besarnya berubah menjadi Akademi Seni Wanita?!" "Sistem kami menggunakan kode enkripsi otomatis untuk publikasi luar, Saudara Rangga. Yang tertulis di lembar Anda mungkin hanya nama samaran resmi untuk menjaga privasi ketat institusi kami," jawab petugas itu dengan nada datar, seolah perdebatan seperti ini adalah rutinitas paginya. "Lalu bagaimana dengan saya? Saya ini pria! Anda punya mata yang sehat, kan? Coba lihat saya baik-baik!" Rangga menepuk dadanya sendiri dengan frustrasi, menarik perhatian beberapa awak kapal wanita yang sedang menaikkan tali jangkar. "Bagaimana mungkin seorang pria bisa berkuliah di akademi yang seluruh pesertanya, dari ujung kaki sampai ujung kepala adalah wanita?" Petugas itu akhirnya mendongak. Ia membetulkan letak kacamatanya, menatap Rangga dari atas ke bawah dengan tatapan dingin yang menyelidik. "Saya tahu Anda pria. Saya tidak buta. Tapi ketahuilah, tempat yang akan Anda tuju, Pulau Sanctuary, adalah wilayah otoritas khusus yang sangat terlarang bagi pria luar. Entah keberuntungan atau kesialan apa yang Anda miliki, yang jelas nama Anda sudah lolos verifikasi tingkat tinggi dari komputer pusat kami." "Kalau begitu batalkan saja secara manual! Coret nama saya sekarang juga dari daftar itu. Saya mau pulang, saya batalkan beasiswanya, saya tidak jadi kuliah tahun ini!" tegas Rangga. Ia langsung berbalik badan, bersiap menyandang kembali ransel gunungnya yang berat. "Silakan saja jika Anda melangkah kaki dari dermaga ini," sahut petugas itu dengan senyuman tipis yang mendadak terasa begitu dingin. "Namun, sebelum Anda melangkah lebih jauh hingga ke area parkir luar, harap buka dan baca kembali klausul lembar belakang pada kontrak beasiswa yang sudah Anda tanda tangani secara digital lewat ponsel Anda kemarin malam." Langkah Rangga terhenti seketika. Ia segera merogoh kantong jaket jeans miliknya, mengambil selembar kertas bermeterai yang sempat ia cetak secara mandiri. "Klausul... pembatalan sepihak?" "Ya, tepat sekali. Lembar ketiga paragraf keempat," ucap petugas itu. "Di sana tertulis dengan sangat jelas menggunakan hukum internasional, bahwa pembatalan sepihak setelah nomor induk mahasiswa diterbitkan secara sah oleh komputer pusat, akan dikenakan denda penalti finansial." Rangga membalik kertas tersebut dengan panik, matanya menyusuri baris demi baris kalimat hukum yang rumit, hingga pandangannya terpaku pada sebuah nominal. "Lima... lima miliar rupiah?!" Suara Rangga mendadak melengking, wajahnya berubah pucat seketika. "Ini pemerasan namanya! Dari mana mahasiswa miskin seperti saya punya uang sebanyak itu?!" "Itu sama sekali bukan urusan internal kami, Saudara Rangga," jawab petugas itu, kembali mengetik di komputernya dengan santai. "Jadi, pilihan Anda saat ini hanya ada dua yang tersedia di sistem. Anda naik ke kapal feri yang sudah bersandar di ujung jembatan itu, atau Anda pulang dan tim pengacara hukum kekaisaran kami akan mengirimkan surat sita seluruh aset rumah keluarga Anda besok pagi sebelum jam delapan." Rangga mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia menatap kapal feri megah bernuansa hitam emas yang mesinnya mulai menderu keras, mengeluarkan asap tipis ke langit sore. "Kalian sengaja menjebak saya sejak awal, kan? Ini konspirasi apa?" "Ini bukan jebakan, Saudara Rangga. Di dunia kami, ini disebut sebagai takdir administrasi," potong petugas itu sambil menyodorkan sebuah gelang akses elektronik tebal berwarna perak murni. "Sekarang, pakai gelang pengenal biologis ini di pergelangan tangan kiri Anda, dan segera naik ke kapal sebelum jembatan penyeberangan diangkat. Waktu Anda sudah habis." Rangga menyambar gelang tersebut dengan perasaan dongkol, ia memakainya dengan kasar hingga terdengar bunyi klik mengunci. "Jika terjadi sesuatu yang buruk pada keselamatan saya di pulau terpencil itu, Anda adalah orang pertama yang akan saya tuntut secara hukum!" "Semoga beruntung dan selamat menikmati perjalanan Anda, Mahasiswa Baru," ujar petugas itu dengan tatapan mata yang mendadak berubah penuh arti, sebuah senyuman misterius mengembang di bibirnya. "Hanya sebuah saran gratis dari saya, di pulau itu nanti, Anda tidak akan memiliki waktu luang lagi walau hanya untuk sekadar memikirkan tuntutan hukum lama seperti itu." "Apa maksud Anda?!" tuntut Rangga, namun petugas itu sudah mengabaikannya dan menutup layar komputer portabelnya. "Kapal akan segera berangkat! Penumpang terakhir segera naik!" teriak seorang wanita kekar berseragam dari atas geladak kapal feri. Rangga tidak memiliki pilihan lain. Dengan langkah kaki yang terasa berat dan hati yang penuh amarah yang tertahan, ia melangkah cepat menyusuri jembatan kayu dermaga. Ia terpaksa melangkah meniti jalan menuju kapal feri hitam emas itu, membiarkan dirinya dibawa pergi membelah samudra luas yang asing, meninggalkan daratan utama yang semakin mengecil di belakangnya. "Hei, kau yang di sana. Jangan melamun di dekat pagar pembatas jika tidak ingin terlempar ke laut," tegur sebuah suara dingin dari arah belakang. Rangga menoleh, mendapati seorang wanita dengan seragam kapten kapal sedang memperhatikannya. Setelah beberapa jam perjalanan yang sunyi di bawah langit yang mulai menggelap, deru mesin diesel kapal raksasa itu perlahan-lahan mulai melambat secara drastis. Rangga sengaja melangkah ke dek paling depan sejak tadi, mencoba menembus pandangan untuk melihat pulau seperti apa yang akan menjadi tempat tinggal barunya. "Kita sudah hampir sampai, Kapten?" tanya Rangga, mencoba mencairkan kecanggungan di sepanjang jalan. "Ya. Bersiaplah memegang barang bawaanmu dengan erat, Mahasiswa Baru," jawab kapten wanita itu pendek. Ia tidak menoleh lagi, langsung berjalan kembali menuju ruang kemudi utama dengan langkah tegap. Kapal feri itu perlahan mulai merapat di tengah-tengah kabut putih tebal yang bergulung-gulung, menyelimuti seluruh bibir pantai dan dermaga pelabuhan pulau misterius tersebut. "Pintu gerbang pelabuhan dibuka! Turunkan jembatan darurat!" seru komando dari pengeras suara kapal. Perlahan-lahan, embusan angin laut mulai meniup dan tersibaklah kabut putih pekat yang ada di hadapan mereka, menampakkan sebuah pemandangan yang membuat jantung Rangga berdetak dua kali lebih cepat. Di depan sana, sebuah gerbang besi raksasa menjulang tinggi, membatasi area steril pelabuhan dengan kompleks bagian dalam pulau. Rangga menahan napasnya seketika, matanya membelalak tak percaya memandangi daratan di balik pagar tersebut. Di balik jeruji gerbang besi raksasa yang membatasi pandangan itu, ternyata sudah ada ratusan, bahkan mungkin ribuan wanita muda berpakaian seragam rok pendek hitam putih ketat yang berdiri berdesakan. Mereka semua langsung terdiam, tidak ada suara obrolan sedikit pun. Ribuan pasang mata wanita itu kini menatap lurus, mengunci pandangan mereka tepat ke arah dek depan kapal tempat Rangga berdiri sendirian. Tatapan yang mereka berikan bukan sekadar tatapan menyambut biasa, melainkan sebuah pandangan yang luar biasa lapar, intens, penuh selidik, dan dilingkupi rasa penasaran yang sangat mendalam terhadap satu-satunya pria yang baru saja menginjakkan kaki di dunia mereka."Kaisar Kuno di situs Gerbang Naga?" pangkas Rangga rendah, sepasang matanya menatap tajam Mei-Ling yang masih terbaring pasrah di sampingnya."Benar, Suamiku... Aagghh... Nngghh!" desah Mei-Ling melengking halus saat Rangga mendadak menarik pinggang rampingnya kembali rapat ke dalam dekapan sang kaisar."Kau pikir pengakuan singkat itu sudah cukup untuk menebus dosa dan kesombonganmu di atas dek tadi, Mei-Ling?" pangkas Rangga tersenyum, membelai lembut rahang sang jenderal."R-Rangga... Aku mohon... Tubuhku sudah sangat lemas... Nngghh...!" jerit Mei-Ling memelas dengan binar mata sayu yang dipenuhi kepasrahan.Di bawah dominasi Rangga, Mei-Ling merasakan ledakan gairah yang menghancurkan seluruh doktrin kaku The Dragon Triad dari pikirannya."Doktrin kaku para tetua itu tidak ada artinya lagi di hadapan kekuasaanku, Mei-Ling," pangkas Rangga tegas, kembali menyatukan kehangatannya dengan intensitas yang jauh lebih liar."Aaaahhh...! Rangga... Sungguh nikmat sekali... Hancurkan selu
"A-Apa yang kau lakukan pada pergelangan tanganku, Rangga... Nngghh...!" rintih Mei-Ling memelas, matanya melotot tajam berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Sang Kaisar. "Aku hanya menunjukkan padamu sejauh mana batas kekuatan seorang kaisar sejati, Jenderal Mei-Ling," pangkas Rangga rendah. "N-Tidak mungkin... Kenapa tubuhku terasa sangat panas... Aagghh!" jerit Mei-Ling melengking halus, kakinya gemetar saat aroma maskulin Rangga meresap langsung menembus indra penciumannya. Kontak fisik instan itu memicu lonjakan feromon kaisar yang telah menyatu dengan energi Atlantis dan rembulan di tubuh Rangga. "Ada apa denganmu, Jenderal Mei-Ling?" pangkas Sakura menyunggingkan senyum tipis, menyarungkan katananya kembali saat melihat sang jenderal mulai limbung. "K-Kalian... menggunakan racun apa padaku...?" bisik Mei-Ling terengah-engah dengan dada naik turun memburu. "Itu bukan racun, Kakak," pangkas Lin melangkah maju dengan tenang. "Itu adalah cahaya aura dominasi milik Suam
"Kau yakin hanya ingin membawaku dan Sakura untuk menaiki kapal induk musuh itu, Suamiku?" pangkas Lin khawatir saat melangkah mendampingi Rangga di samping perahu yang bersandar di dermaga utara. "Dua pendamping sudah lebih dari cukup untuk menghadapi negosiasi ini, Lin," pangkas Rangga santai, melangkah tenang menaiki geladak perahu tanpa keraguan sedikit pun. "Aku akan memastikan keselamatanmu dan Kaisar selama berada di atas kapal musuh, Lin," pangkas Sakura tersenyum mantap, membetulkan posisi pedang katana di pinggangnya dengan sikap sigap. "Tetap waspada, Sakura. Mei-Ling tidak pernah bermain bersih dalam negosiasi," pangkas Lin memperingatkan sambil menyandarkan tubuhnya di sisi perahu. Perahu itu meluncur membelah ombak lautan utara, menuju kapal induk raksasa berukiran naga hitam yang bersiaga di tengah samudra. Tak lama kemudian, perahu milik kekaisaran telah merapat di tangga samping kapal induk baja raksasa milik armada The Dragon Triad. Di atas dek kapal kayu hitam
"Bagaimana posisi dari seluruh armada kapal perang yang mengepung perairan utara kita, Chloe?" pangkas Rangga rendah, berdiri tegap di ruang komando utama dengan sepasang mata yang menatap tajam layar pemantau digital. "Seluruh jalur logistik laut di sektor utara telah dikunci rapat oleh formasi tempur mereka, Kaisar!" seru Chloe sigap, jemarinya menari cepat di atas panel kontrol sistem radar pelabuhan. "Berapa banyak jumlah kapal baja yang terdeteksi oleh radar utama kita pagi ini, Chloe?" pangkas Jenderal Victoria melangkah mendekati meja, seragamnya terpasang rapi dengan aura kepemimpinan yang sangat tegas. "Ada lebih dari lima puluh kapal perang raksasa berornamen naga hitam, Jenderal!" pangkas Chloe memproyeksikan data ke tengah ruangan. "Mereka sengaja menutup total akses keluar masuk logistik kita untuk memancing kekuatan utama kekaisaran," pangkas Captain Morgana yang berdiri di samping Victoria, memegang gagang pedang di pinggangnya dengan raut wajah serius. "Kita tida
"Fiona, dengarkan aku baik-baik. Berhenti menangis dan lepaskan tanganmu sekarang juga," bisik Rangga dengan nada mendesak, tangannya memegang kedua bahu mungil gadis itu untuk mendorongnya menjauh. "Tapi di luar benar-benar menakutkan, Kak... Hantu itu pasti masih menunggu di ujung koridor," bal
"Halo? Siapa di luar?" panggil Rangga dengan suara setengah berbisik, matanya menatap tajam ke arah kegelapan di balik jeruji besi jendelanya. Tidak ada jawaban yang terdengar. Hanya suara gesekan dedaunan semak-semak dan desisan halus yang samar-samar terdengar oleh indra pendengarannya. "Aku t
"Jangan melihat ke kiri atau ke kanan, Saudara Rangga. Tetap berjalan lurus di belakang saya jika Anda masih menyayangi nyawa Anda," ucap wanita berambut hitam panjang di depan Rangga dengan nada yang amat dingin dan berwibawa. Rangga mempercepat langkah kakinya, mencoba menyamai ritme sepatu hak
"Maaf, Saudara Rangga, tapi sistem kami tidak bisa membatalkan apa yang sudah disahkan oleh komputer pusat. Anda resmi menjadi mahasiswa kami," ucap petugas wanita berkacamata bingkai hitam itu tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor di atas meja.BRAK!Rangga menggebrak meja kayu di depa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews