author-banner
Tristar
Tristar
Author

Novels by Tristar

Hasrat Wanita Desa

Hasrat Wanita Desa

Seorang pemuda bernama Erfan, di tugaskan oleh keluarga nya untuk memimpin perusahaan yang terletak di sebuah desa. Erfan tidak pernah menduga bahwa desa tersebut, banyak sekali wanita cantik dan menggoda yang membuat Erfan tidak tahan.
Read
Chapter: Bab 540 Tambahan
Setahun berlalu. Desa yang dahulu sunyi dan terpencil kini telah berubah drastis. Deretan bangunan modern berdiri megah di sepanjang jalan, menghapus hampir seluruh jejak suasana pedesaan yang dulu begitu kental. Arus kendaraan tak pernah sepi, silih berganti memenuhi jalan raya yang kini lebar dan mulus. Tak hanya itu, jalur kereta api yang membentang membelah tebing telah beroperasi sepenuhnya. Sesekali, kereta berkecepatan tinggi melintas, menjadi simbol kemajuan yang tak pernah terbayangkan oleh penduduk setempat. Kawasan wisata mewah beserta berbagai proyek bisnis yang dibangun Erfan akhirnya rampung dan telah resmi beroperasi. Dalam waktu yang relatif singkat, desa yang dulunya nyaris tak dikenal itu menjelma menjadi destinasi wisata kelas dunia. Keindahan alam yang dipadukan dengan fasilitas modern menarik jutaan pengunjung, menjadikan kawasan tersebut sebagai sorotan media internasional dan salah satu ikon wisata paling bergengsi di dunia. === Erfan, sebagai orang yang
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Bab 539 Selesai
Sampai di rumah, Erfan dan semua wanitanya berkumpul di ruang tamu. Tanpa basa basi, Erfan langsung saja memberitahukan rencananya. "Aku akan menikahi kalian semua!" Mata semua wanita itu berbinar terang. Pertanda, mereka semua sangat gembira. "Kamu... kamu serius?" tanya Anne. "Tentu saja. Semuanya sudah selesai, sudah saatnya aku memberikan status untuk kalian semua!" balas Erfan. Air mata kebahagiaan menggenang di pelupuk mata para wanita itu. Penantian yang selama ini mereka tunggu, akhirnya tiba. "Mari kita tentukan waktunya! Oh iya. Tempatnya juga ayo kita tentukan!" lanjut Erfan. "Sayang, sebelum itu... kamu harus pikirkan dulu sesuatu," ucap Ayu. "Apa itu?" tanya Erfan sambil mengangkat alisnya. Ayu menatap Tesa dan Frisa. "Tesa sama Frisa masih SMA. Apa kamu akan menikahinya juga? Kalau iya, berarti mereka gak bisa lanjut sekolah lagi." "Ibu, aku gak apa-apa kok putus sekolah," ucap Tesa buru-buru. "Iya. Aku mau menikah saja, gak apa-apa kalau gak lan
Last Updated: 2026-07-31
Chapter: Bab 538 Kepulangan
Tak terasa tiga hari telah berlalu. Pesawat khusus yang membawa Pemimpin Negara A akhirnya mendarat mulus di bandara internasional ibu kota Negara Chine. Tak lama kemudian, pintu pesawat terbuka. Tuan Edward turun lebih dulu sambil menggandeng tangan Nyonya Rosalie. Keduanya melangkah dengan tenang dan penuh wibawa. Di belakang mereka, Erfan beserta para wanitanya mengikuti dengan santai. Di bawah tangga pesawat, lautan manusia telah menanti. Seluruh petinggi Negara Chine hadir untuk menyambut kedatangan rombongan tersebut. Tak hanya itu, Tuan Wijaya, Nyonya Kartika, serta seluruh wanita Erfan juga tampak berdiri di barisan penyambutan. Bahkan, para sahabat Erfan ikut datang untuk menyaksikan momen penting itu. Pengamanan di lokasi berlangsung sangat ketat. Polisi dan tentara bersenjata lengkap berjajar mengelilingi area bandara, membentuk lapisan keamanan yang rapat. Tak seorang pun diizinkan mendekat tanpa izin, menciptakan suasana yang megah sekaligus penuh kewaspadaan.
Last Updated: 2026-07-30
Chapter: Bab 537 Berita Yang Mengguncang Dunia
Keesokan harinya, berita tentang kehancuran Keluarga Rex menyebar luas di ke seluruh dunia. Semua orang yang mengenal Keluarga Rex tentu saja sangat terkejut. Apalagi, berita itu secara langsung di umumkan oleh Tuan Edward, sebagai pemimpin dari Negara A. Jadi, itu bisa di pastikan sebuah kebenaran.Tuan Edward tidak gegabah. Dia menyertakan banyak bukti kejahatan Keluarga Rex ke berita tersebut. Langkahnya itu, tentu saja untuk menjaganya martabat Negara A.Banyak orang yang pernah di rugikan oleh Keluarga Rex merasa sangat gembira dan puas. Namun, bagi orang yang memiliki hubungan dengan Keluarga Rex merasa sangat tertekan sekaligus khawatir. Apalagi, beredar rumor dari para pengamat ~ bahwa Keluarga Purnama lah yang berada di balik kehancuran Keluarga Rex. Meski hanya tebakan para pengamat, tapi mereka punya alasannya. Karena tepatnya hari ini, beredar foto Paris bersama Erfan di media sosial pribadi milik Paris.Paris tidak menyembunyikan sama sekali hubungannya dengan Erfan. Bah
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Bab 536 Kehancuran
Erfan menatap Pemimpin Keluarga Rex. "Orang tua, istrimu ini terlalu cantik! Gak cocok kalau jari istri pria tua sepertimu! Jadi buat aku saja yah," ucapnya dengan nada main-main sambil memeluk tubuh Clara dengan erat. "Suami, maaf yah... aku sudah mendapatkan pria yang aku cintai! Dia juga jauh lebih hebat dari kamu," ucap Clara dengan nada main-main. Setiap perkataan Clara itu seperti pukulan telak untuk Pemimpin Keluarga Rex. "Clara... Clara, kau jalang! Kau... kau..." sebelum perkataannya selesai, seteguk darah segar menyembur dari mulut pria tua itu. "Uhukk... uhuk..." Tubuh Pemimpin Keluarga Rex goyang dan dia langsung terduduk di kursi. Beberapa anggota keluarga di sebelahnya, buru-buru memastikan kondisi pria tua itu. "Clara, dasar jalang! Kau berani sekali mengkhianati ku!" teriak Pemimpin Keluarga Rex menggunakan seluruh tenangnya sampai urat di leher dan pelipisnya menonjol. "Tentu saja aku berani, pria tersayang ku ini akan melindungiku. Lagi pula, kalian sudah buk
Last Updated: 2026-07-29
Chapter: Bab 535 Kemarahan
Wajah semua anggota Keluarga Rex terasa sangat panas. Terutama Tuan Muda Keluarga Rex. Wajah pemuda itu sangat merah matang. Nafasnya berpacu cepat karena amarah yang sudah sangat memuncak. "Kau... kau siapa kau!" teriak Tuan Muda Rex sambil menunjuk Erfan. "Menjauhlah dari Nona Paris, atau kau... atau kau akan menyesal!" Paris menatap tajam pemuda itu. "Kau lancang sekali, berani mengancam priaku di depanku," ucapnya dengan suara dingin. "Di-dia... priamu? Kamu pasti bercanda kan?" tanya Tuan Muda Rex sambil bangkit berdiri. "Tuan Edward, sebenarnya apa maksudnya ini? Siapa sebenarnya pria ini?" tanya Pemimpin Keluarga Rex. "Orang tua, apa kau tuli?" tanya Paris dengan ekspresi sinis. "Bukannya tadi aku sudah bilang, dia priaku!" Meski mendapatkan sedikit hinaan, tapi Pemimpin Keluarga Rex berusaha menekan rasa marahnya. "Nona, anda pasti bercanda kan?" tanya Pemimpin Keluarga Rex. "Iya. Pasti Nona Paris lagi bercanda," ucap Tuan Muda Rex. "Buat apa aku bercanda.
Last Updated: 2026-07-28
Pemuda Pemikat Gadis Desa

Pemuda Pemikat Gadis Desa

(21+)Joko adalah pemuda tampan bertubuh gagah yang bekerja sebagai tukang ojek di sebuah desa. Wajahnya yang rupawan, tubuh atletis, dan sikapnya yang penuh percaya diri membuat banyak wanita terpikat padanya ~ mulai dari gadis muda hingga wanita yang sudah bersuami. Di balik pekerjaannya yang sederhana, Joko tahu betul bagaimana memanfaatkan pesonanya. Dengan senyum nakal dan kata-kata manis, ia sering membuat para wanita luluh. Banyak dari mereka yang dengan sukarela memberinya uang, barang, bahkan perhatian yang lebih dari sekadar penumpang biasa. Bagi Joko, ketampanan adalah modal. Ia menikmati bagaimana para wanita memandangnya dengan penuh hasrat, sementara dirinya perlahan mengambil keuntungan dari setiap godaan, rayuan, dan kedekatan yang tercipta di antara mereka. Desa itu pun dipenuhi bisik-bisik tentang Joko ~ tukang ojek tampan yang selalu dikelilingi wanita dan cerita-cerita panas di baliknya.
Read
Chapter: Bab 406 Rapat Malam Di Vila
Pukul tujuh malam, Joko melangkah masuk ke ruang tengah Vila Bintang. Semua kepala langsung menoleh. Para wanita duduk berkumpul di sofa dan karpet, seperti sudah menunggu sejak lama. Nyonya Desi berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat di dada. "Macet tiga jam," ucap Nyonya Desi datar. "Jalanan Ibu Kota memang kejam." Joko menggaruk tengkuknya. "Namanya juga kota besar, Nyonya." Lana bangkit lebih dulu. Matanya langsung menyapu perban di pipi dan lengan Joko. Wajahnya berubah. "Sayang... ini apa lagi?" "Cuma tergores," jawab Joko sambil tersenyum tipis. "Tergores?" Ayu ikut berdiri, lalu meraih lengan Joko dengan hati-hati. Dia memeriksa perban itu seperti sedang memeriksa barang pecah belah. "Nyonya Desi bilang kamu bertarung sama pembunuh. Dua orang." Joko melirik Nyonya Desi. Wanita itu hanya mengangkat bahu. "Mereka berhak tahu," ucap Nyo
Last Updated: 2026-10-30
Chapter: Bab 405 Bidak Yang Belum Mati-matian
Ciuman Verona tidak ragu sedikit pun. Dia mendorong Joko mundur sampai punggungnya menyentuh dinding kaca. Lidah mereka saling melilit, napasnya memburu, jemarinya mencengkeram kaus Joko seolah takut pria itu kabur. Joko terkekeh di sela ciuman. "Nona Muda Keluarga Lintang ternyata gak sabaran." "Diam." Verona menggigit bibir bawahnya pelan. "Aku sudah menunggu terlalu lama." "Pelan-pelan. Aku masih terluka." "Kamu bertarung melawan pembunuh dengan luka begitu. Ini gak seberapa," gerutu Verona dengan ekspresi sedikit cemberut. Joko tertawa, lalu membalik posisi mereka. Kini Verona yang bersandar di dinding kaca, dengan seluruh Ibu Kota terbentang di belakangnya. Dia membuka kancing blus sutra putih itu satu per satu. Verona tidak menunduk malu. Dia menatap mata Joko lurus, dagunya sedikit terangkat, seperti sedang menantang dalam rapat dewan direksi. Blus itu jatuh
Last Updated: 2026-10-30
Chapter: Bab 404 Satu Jam Saja
Verona berdiri di samping mobil hitamnya di depan gerbang. Begitu melihat Joko keluar, dia langsung melangkah cepat menghampirinya. Matanya menyapu perban di lengan dan pipi Joko. Wajahnya mengeras. "Kakek bilang kamu cuma 'sedikit tergores'," ucapnya ketus. "Ini yang namanya sedikit?" "Lukanya sudah mulai menutup." "Belum dua minggu lalu kamu hampir mati di jalan layang. Sekarang ini." Verona menatapnya tajam. "Kenapa gak ada yang memberi tahu aku?" "Aku gak mau kamu khawatir." "Terlambat!" bentak Verona. Joko tersenyum tipis. "Kamu ke sini cuma mau memarahiku?" "Aku ke sini mau mengantarmu pulang," jawab Verona. "Kakek bilang kamu mau kembali ke vila hari ini. Jadi aku yang antar." "Pengawalmu?" tanya Joko. "Aku suruh pulang duluan." === Joko kembali ke dalam untuk berpamitan. Tuan Tua Wan
Last Updated: 2026-10-30
Chapter: Bab 403 Nama Di Balik Bayangan
"Delapan bulan lalu, Ruan Feng datang ke kantorku," ucap Tuan Haris. "Dia menawarkan untuk membeli konsesi Lembah Sunyi. Aku menolak. Dia datang lagi dua kali dengan harga yang semakin tinggi. Aku tetap menolak." "Sama seperti yang dia tawarkan tiga hari lalu," ucap Tuan Tua Wangsa. "Yang ketiga kalinya berbeda." Tuan Haris menatap tangannya yang kurus di pangkuan. "Ruan Feng gak datang sendiri. Dia membawa seorang pria. Usianya mungkin lima puluhan. Rapi, sopan, bicaranya halus sekali. Dia gak memperkenalkan namanya." "Apa yang dia katakan?" tanya Joko. "Dia gak menyebut harga. Dia cuma bertanya satu hal." Tuan Haris mengangkat wajahnya. "Dia bertanya, sampai lapisan keberapa Keluarga Permata sudah menggali di Lembah Sunyi." Ruangan itu langsung sunyi. Tuan Tua Wangsa mencengkeram tongkatnya. "Aturan itu cuma diketahui keluarga inti. Gak pernah ditulis di dokumen tambang mana pun."
Last Updated: 2026-10-30
Chapter: Bab 402 Kepergok Nadya
"Nadya, Tante bisa jelaskan..." "Jangan di sini, Tante." Suara Nadya pelan, tapi dingin. Dia meletakkan kedua cangkir cokelat di meja kecil di lorong, lalu menatap tantenya. "Tante kembali ke kamar. Besok pagi kita bicara." Tante Ratih membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia melirik Joko sekilas, lalu berjalan cepat melewati Nadya tanpa berani menatap wajahnya. Begitu langkah Tante Ratih menghilang di tikungan lorong, Nadya menoleh ke arah Joko. "Kamu. Masuk." === Nadya menutup pintu kamar tamu di belakangnya, lalu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Joko duduk di tepi ranjang. Dia tidak mencoba membela diri. "Sejak kapan?" tanya Nadya. "Malam pertama setelah aku mulai mengobati Ayahmu." "Siapa yang mulai?" Joko terdiam sejenak. "Itu gak penting. Aku bisa menolak, tapi aku gak men
Last Updated: 2026-10-29
Chapter: Bab 401 Terimakasih Yang Berbahaya
Tepat tengah malam, pintu kamar tamu terbuka pelan. Tante Ratih masuk dengan gaun tidur satin berwarna biru tua dan kardigan tipis. Rambutnya tergerai. Dia menutup pintu, lalu menyandarkan punggungnya di sana. "Kamu gak tidur," ucapnya. "Ada yang bilang mau berterima kasih," balas Joko dari tepi ranjang. "Mana bisa aku tidur." "Kamu sudah hapus pesanku?" "Sudah." "Bagus." Tante Ratih menghela napas. "Tadi sore aku menangis di depan semua orang waktu Kak Haris menyebut namaku. Untung semua orang juga menangis." "Aku lihat." "Kamu memperhatikanku?" "Aku selalu lihat Tante," jawab Joko santai. "Itu kalimat yang berbahaya, Joko." "Kenapa?" "Karena aku bisa percaya." Tante Ratih melirik ke arah langit-langit. "Lampu kamar Nadya masih menyala waktu aku lewat tadi." "Tengah malam begini? Sebentar l
Last Updated: 2026-10-29
Pemuda Kota, Taklukkan Wanita Desa

Pemuda Kota, Taklukkan Wanita Desa

Pandu, pemuda berusia 25 tahun. Setelah kehilangan pekerjaan di kota, dia memutuskan berlibur ke rumah pamannya yang berada di desa terpencil. Niatnya cuma berlibur sambil menenangkan diri beberapa hari. Tapi di desa itu, wanita-wanitanya sangat berbeda. Awalnya dia hanya ingin beristirahat beberapa hari, tetapi kehidupan desa dan orang-orang yang ditemuinya membuatnya berubah pikiran, terutama pesona mereka. Saat godaan-godaan itu mulai datang, Pandu mulai membangun perkebunan sendiri hingga perlahan menjadi sosok yang diandalkan warga.
Read
Chapter: Bab 110 Panen Kopi
Tiga hari kemudian, musim panen kopi akhirnya tiba. Desa itu seolah berubah dalam semalam. Sejak subuh, jalan-jalan tanah sudah ramai oleh warga yang berangkat ke kebun. Pria dan wanita, tua dan muda, semuanya membawa keranjang, karung, dan tali. Suara obrolan dan tawa terdengar dari balik pohon-pohon kopi yang buahnya sudah memerah. Warung Nenek Hartini yang biasanya ramai, kini sepi. Hanya ada satu dua orang tua yang duduk di teras, menyeruput kopi sambil menatap jalan. "Kalau sudah musim kopi, ya begini, Pan," ucap Nenek Hartini saat Pandu mampir membeli rokok pagi itu. "Gak ada yang jualan apa-apa. Semua orang di kebun. Yoga juga dari subuh sudah di suruh ngangkut kopi warga." "Iya, Nek. Aku juga mau ke kebun Bibi." "Oalah, bagus itu. Kasihan Maya kalau metik sendirian." Nenek Hartini menurunkan kacamatanya sedikit. "Pamanmu belum pulang toh?" Pandu menggeleng. "Belum, Nek."
Last Updated: 2026-10-30
Chapter: Bab 109 Giliran Ibu Yang Atur
Dua hari berlalu sejak Pandu datang ke rumah. Selama dua hari itu, Bu Lena nyaris tak bicara. Dia memasak, mencuci, menjemur pakaian di halaman, lalu mengurung diri di kamar. Pak Agung tak menyadari apa pun. Seni hanya mengira ibunya sedang tak enak badan. Sore itu, langit di atas bukit menghitam. Petir menyambar di kejauhan, di susul hujan deras yang turun tanpa ampun. Dan di tengah hujan itu, sebuah motor merah berhenti di depan rumah. Bu Lena yang sedang mengangkat jemuran di teras, membeku. Beni turun dari motornya, basah kuyup, lalu tersenyum ke arahnya seolah tak pernah terjadi apa pun. "Sore, Bu. Bapak ada?" === Pak Agung menyambut Beni di ruang tamu. Seni buru-buru mengambilkan handuk, wajahnya berseri-seri. Bu Lena menyajikan kopi tanpa sekali pun menatap ke arah tamunya. "Bapak titip salam, Pak," ucap Beni sambil mengeringkan rambutnya. "Ba
Last Updated: 2026-10-30
Chapter: Bab 108 Bu Lena Gak Jadi Jual Ke Pandu
Keesokan paginya, motor merah itu kembali berhenti di depan rumah. Bu Lena yang sedang mencuci piring di dapur, langsung menghentikan gerakan tangannya. Dia tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. "Seni! Beni jemput nih!" seru Pak Agung dari teras. Pria itu sudah memakai sepatu bot dan menenteng parang, bersiap ke kebun. "Iya, Yah! Sebentar, aku ganti baju dulu!" sahut Seni dari kamarnya. Pak Agung berangkat. Langkah kakinya menjauh, lalu menghilang di balik pohon-pohon kopi. Tak lama, terdengar langkah lain. Lebih pelan. Mendekat ke arah dapur. "Pagi, Bu." Bu Lena tak menjawab. Dia terus menggosok piring di tangannya, walau piring itu sudah bersih sejak tadi. Beni bersandar di kusen pintu dapur. Matanya melirik ke arah kamar Seni yang masih tertutup, lalu kembali ke punggung calon mertuanya. "Aku cuma mau ngobrol sebentar, Bu. Soal kopi."
Last Updated: 2026-10-30
Chapter: Bab 107 Bu Lena Terpaksa Melayani Beni
Lama sekali Bu Lena terdiam. Lalu, perlahan, dia membuka matanya. Air mata masih mengalir di pipinya, tapi sorot matanya sudah berubah. Bukan lagi takut. Dingin. Kosong. "Sekali," ucapnya serak. "Cuma sekali. Habis itu, kamu hapus rekaman itu di depan mataku." Beni menyeringai. "Kita lihat nanti, Bu." "Beni." "Iya, iya. Sekali." Bu Lena memalingkan wajahnya ke arah dinding. Tangannya meremas sprei kuat-kuat, sampai buku-buku jarinya memutih. Beni menutup pintu kamar itu di belakangnya. Klik. Dia melepaskan pakaiannya, lalu menekan tubuh Bu Lena. Tangannya meraih semangka besar Bu Lena lalu meremasnya. "Mmm..." desahan lembut keluar dari mulut Bu Lena. "Bu, punyamu ini besar banget!" ucap Beni dengan nada main-main. "Jangan banyak omong! Cepat selesaikan!" Bu Lena tidak sedikit menatap ke arah Beni.
Last Updated: 2026-10-30
Chapter: Bab 106 Beni Mengintip Bu Lena
"Aku pulang dulu, Sen!" seru Beni dari ruang tengah. Tak ada jawaban dari kamar Seni. Hanya suara isakan kecil yang samar. Beni mendengus, lalu menoleh ke arah dapur. Bu Lena masih berdiri di depan kompor, membelakanginya. "Mari, Bu." "Hm," jawab Bu Lena tanpa menoleh. Beni keluar, menyalakan motor merahnya dengan suara keras, lalu melaju meninggalkan halaman. Bu Lena menghela nafas panjang. Tangannya yang sejak tadi menggenggam bra hitam di balik punggung, akhirnya melemas. === Setengah jam kemudian, Seni keluar dari kamarnya dengan mata sembab dan wajah cemberut. Dia sudah berganti pakaian. "Bu, aku ke rumah Lia. Pulangnya sore." "Iya." Seni pergi tanpa menoleh lagi. Rumah itu pun kembali sepi. Bu Lena berdiri sendirian di dapur. Tub
Last Updated: 2026-10-29
Chapter: Bab 105 Pandu Dan Bu Lena Panik, Seni Dan Beni Datang
Seminggu berlalu dengan cepat. Jamur dari warga terus mengalir setiap sore. Dalam seminggu itu, Pandu dua kali bolak-balik ke Ibu Kota, membawa empat ratusan kilo jamur setiap kali berangkat. Yoga semakin cekatan menimbang, dan Bi Maya tetap setia mencatat di buku kecilnya, walau sorot matanya masih sering tajam saat setiap kali Pandu keluar rumah. Setiap kali melewati Bukit Bunga, Pandu selalu mampir. Bu Clara menyambutnya seperti biasa, genit dan manja. Truk si gendut tak pernah terlihat lagi di sana. "Dia sudah gak lewat jalur ini lagi," ucap Bu Clara saat Pandu bertanya. Senyumnya manis, tapi matanya dingin. Pandu tak bertanya lebih jauh. Di Ibu Kota, hubungannya dengan Nyonya Amara perlahan berubah. Dua kali bertemu dalam seminggu, obrolan mereka semakin bebas. Nyonya Amara tak lagi sekaku dulu. Dia mulai bercerita soal gudangnya, soal suaminya yang jarang pulang, bahkan sesekali tertawa lepas mendengar
Last Updated: 2026-10-29
Ampun Tuan, Aku Lemas!

Ampun Tuan, Aku Lemas!

Ares adalah seorang pemuda yatim piatu. Saat bayi Ares di temukan dihutan oleh seorang petapa tua, lalu ares dibesarkan oleh petapa tersebut. Ares sangat jenius dalam kultivasi, di masa remaja dia sudah menjadi pemimpin sebuah organisasi besar di negara barat. Pada usia 21 tahun, gurunya mengutusnya ke negeri Chine untuk mencari delapan wanita yang memiliki kondisi tubuh istimewa, kunci menuju tingkat kultivasi tertinggi. Namun, mampukah Ares menjalankan misi itu dan mengungkap rahasia di balik kekuatan mereka?
Read
Chapter: Bab 124 Selesai
Sampai di luar, Ares pergi ke parkiran mobil, masuk ke dalam mobil, lalu melajukan mobilnya keluar dari tempat tersebut. Suara deru mesin mobil sport yang menggelegar bergema di sepanjang jalan yang di lewati mobil Ares. Ares kembali ke vila. Sampai di sana, Ares melihat ~ mobil milik Stevani sudah terparkir di garasi vila, tandanya wanita itu sudah pulang.Ketika dia masuk ke dalam vila, dia melihat wanita sudah berkumpul di ruang tamu. Bahkan, Tante Siska ada di sana."Sayang, kamu dari mana?" tanya Stevani dengan nada riang."Kepo banget sih..." balas Ares dengan nada main-main, lalu dia duduk di samping Stevani. Tangannya langsung melingkar di pinggang wanita itu."Ih, kok gitu sih!" Stevani cemberut lucu. Melihat ekspresi Stevani, semua wanita tertawa karena merasa geli."Tante, kamu ikut ke sini lagi," ujar Ares sambil menatap Tante Siska."Emangnya gak boleh kalau aku ikut ke sini?" tanya Tante Siska, ada sedikit keluhan di ekspresi wajahnya."Eh, enggak gitu kok tante! bole
Last Updated: 2026-03-13
Chapter: Bab 123 Lanjut Yuk Tante
"Tante... kamu malah menertawakanku," gerutu Ares dengan nada tak berdaya. "Hihi, maaf... Tante hanya merasa lucu saja!" ucap Tante Yuna. "Oh iya, kenapa Sandra gak bisa ikut?" tanya Tante Yuna. "Dia lagi sibuk! sama kayak tante," balas Ares. "Huh, sayang sekali! kalau janda itu bisa ikut, pasti kamu bisa mencicipinya," ucap Tante Yuna dengan nada main-main. "Tadi siang aku ke kantornya, dia memintaku membantunya menilai barang antik. Tadi, aku hampir saja bisa menidurinya... tapi sayangnya dia ada urusan mendesak," ucap Ares dengan nada lesu. Tante Yuna sedikit terkejut. "Benarkah? walaupun begitu... pasti kamu sudah berhasil dong mendapatkan beberapa keuntungan darinya?" tanya Tante Yuna ingin tahu. Ares menyeringai bangga, lalu dia berkata, "Tentu saja, aku sudah mencicipi tubuh bagian atasnya!" "Aku gak nyangka ~ dia akan semudah itu di taklukkan olehmu," ucap Tante Yuna dengan nada takjub. Setahu dia, temannya itu sulit di taklukkan pria. Setelah dia jadi janda,
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Bab 122 Gak Kalah Dari Yang Muda++
Tante Yuna menatap Ares dengan tatapan panas. Senyuman genit itu terlukis jelas di bibir seksinya. "Mau langsung... apa mau di kulum dulu?" tanya Tante Yuna dengan nada menggoda. "Terserah mertua saja," balas Ares sambil memeluk wanita itu, sehingga batangnya bergesekan langsung dengan apem wanita itu. "Langsung aja yah! kalau kelamaan, takutnya... ada yang datang," ucap Tante Yuna menyarankan. "Boleh... gak masalah," Ares langsung setuju. "Tante nungguin yah, aku main dari belakang," lanjutnya dengan nada nakal. Tante Yuna mengangguk setuju. Dia membalikkan tubuhnya, lalu sedikit membungkuk. Tante Yuna menopangkan tangannya di meja untuk menyeimbangkan tubuhnya. "Ayo.. masukin!" udang Tante Yuna dengan penuh godaan. "Oke. Aku masukin yah." Ares memosisikan batangnya di lubang apem wanita itu. Setelah posisinya pas, dia mendorongnya masuk ke dalam sana. "Ahhh... masuk!" Tante Yuna seketika mendesah keras sambil mendongakkan kepalanya saat merasakan benda besar itu me
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Bab 121 Imbalan Satu Ronde
Ares terkekeh pelan. "Hehe, aku bercanda! aku kesini mau kasih Tante sesuatu!" "Apa itu?" tanya Tante Yuna ingin tahu. Ekspresinya menjadi serius. Ares mengepalkan tangannya di hadapan Tante Yuna, saat tangannya di buka kembali, terlihat sebuah cincin dan gelang tergeletak di telapak tangannya. Mata Tante Yuna membelalak karena kaget. "Ares... cincin dan kalung ini sangat indah! gak kalah indah dari milik Keysha," ucap Tante Yuna. "Hey, ini kalung dan cincin yang sama kayak milik Keysha, hanya saja... desainnya aku ubah sedikit," balas Ares dengan santai. "Jadi... kalung dan cincin yang Keysha pakai, pemberian kamu?" "Iya. Itu pemberianku! cincin dan kalung ini bukan barang biasa... cincin ini sebuah cincin penyimpanan dan kalung ini sebuah kalung perlindungan!" ucap Ares menjelaskan. Mendengar itu, Tante Yuna sangat terkejut dan ragu. "Ares... bukannya... cincin menyimpan sudah langka, kenapa kamu me
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: Bab 120 Untuk Tante Sandra
Ares mengeluarkan beberapa bahan langka yang akan digunakan untuk membuat kalung dan cincin penyimpanan. Potongan logam spiritual dan batu inti kecil tersusun rapi di hadapannya. Pertama, Ares membuat cincin penyimpanan terlebih dahulu. Semua bahan yang di butuhkan dia panaskan dengan api miliknya. Saat bahan tersebut sudah menyatu dan menggumpal menjadi cairan kental, Ares membentuknya menjadi bentuk cincin yang sangat indah. Setelah cincin terbentuk, Ares memberikan menerapkan beberapa susunan formasi di cincin tersebut. Tak lama kemudian, cincin tersebut telah selesai di jadikan cincin penyimpanan. Ares lanjut meleleh bahan untuk membuat kerangka kalung. Beberapa rapa menit kemudian, sebuah kalung indah selesai di buat oleh Ares. Ares meletakkan kalung tersebut, lalu dia mengambil sebuah batu berwarna biru gelap seukuran telapak tangan. Batu tersebut merupakan batu giok yang sangat langka. Ares ingin menggunakan batu tersebut untuk di jadik
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: Ban 119 Janji Desi
Ares menatap Meli dan Sisil, lalu menjelaskan. "Kalau pakai cara biasa, akan membuang sia-sia bakatnya. Desi memiliki hal pendukung kultivasi yang sangat baik, bisa di bilang, sangat mirip dengan kalian berdua," Meli dan Sisil mengangguk paham. "Aku gak nyangka, ternyata Saudari Desi calon jenius," ucap Meli dengan antusias. "Iya... perkembangannya mungkin akan sangat cepat," tambah Sisil. "Kalau dia di bimbing sedari dulu, mungkin sekarang, dia sudah setara kalian," ucap Ares dengan santai. Meli dan Sisil mengangguk setuju. "Sangat banyak orang jenius, tapi sayangnya terpendam di kehidupan fana," ucap Meli dengan nada prihatin. Ucapan wanita itu di beri anggukan setuju oleh Ares dan Meli. === Beberapa menit kemudian, Desi membuka matanya. Dia telah selesai berkultivasi awal dan menyerap semua pengetahuan kultivasi yang di berikan oleh Ares. Desi bangkit berdiri, lalu menghampiri Ares dan langsung memeluk pria itu. Ekspresi wajahnya tampak sangat gembira. "Tuan muda, aku
Last Updated: 2026-03-07
You May Also Like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status