Share

Masih Ada Perhatian

Author: Lucyana
last update publish date: 2026-10-02 07:10:58

HARI terasa nyaman di luar, namun tidak dengan hati Kushaira. Sejak dia pulang dari rumah sakit siang kemarin, dia masih belum bertemu muka dengan Puan Asnah. Entah, wanita itu tahu atau tidak bahwa dia sudah pulang ke rumah.

Mungkin trauma dikurung oleh Puan Asnah masih bergelora di dadanya. Siapa pula yang tidak mengalami trauma? Sampai demam tinggi pun dia dikurung di dalam kamar tidurnya sendiri.

Bahkan, sejak dia bangun tadi hingga sekarang. Dia masih gemetar di depan cermin, dada terasa b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Kelas Batal

    “KAMI... tidak melakukan sesuatu yang melanggar peraturan kampus, pun.” Kushaira menjawab pertanyaan Profesor Akma tentang ‘hubungan romantis’ di kampus mereka.“Jadi, apa yang sedang beredar saat ini... kalian berdua mau mengatakan bahwa itu sebuah kebohongan?” Profesor Akma kembali menekankan nada suaranya sambil menunjuk layar ponsel yang sedang menyala kepada Kushaira.“Ya! Saya difitnah. Sejak kapan saya berpacaran dengan dosen sendiri? Dan lagi, Pak Zareef ini calon kakak ipar saya. Bisa mati saya dipukuli keluarga kalau sampai mencoba menggoda calon kakak ipar sendiri. Plus, Profesor Akma mengira ini seperti cerita Ipar Adalah Maut? Saya bukan seperti itu!”Zareef dan Profesor Akma terkedu. Mereka saling berpandangan sejenak sebelum kembali memusatkan perhatian kepada Kushaira.“Saya tidak mengatakan seperti itu, hanya saja saya tidak suka gosip seperti ini menyebar di area kampus. Kamu tahu, mahasiswa seharusnya belajar dan dosen seharusnya mengajar. Bukan berpacaran.” Profeso

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Rindu

    "KUSHAIRA!"Dari jauh, sosok dua orang teman dekat Kushaira sedang berlari kecil untuk mendekati gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Marina dan Suraya.Kushaira pula sudah tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Bagaimana tidak, seorang sedang memimpin tangan seorang lagi sambil mencoba memaksa berlari. Walaupun tahu Suraya tinggal menunggu waktu untuk melahirkan, Marina peduli apa? Dia tidak sabar hendak mendapatkan Kushaira, bahkan Suraya juga sama. Hanya saja, tidak mungkin dia mau meninggalkan ibu hamil itu di belakang pula? Nanti dikatakan pula, teman meninggalkan teman."Aduh, aduh... Megahlah aku ini, Marina. Capek aku mengejar langkah panjangmu itu." Rengek Suraya sambil menekan-nekan pinggangnya. Aduh, kasihan Kushaira melihat sahabatnya seperti itu."Itulah, aku mau meninggalkanmu saja tadi. Tapi khawatir pula kamu bilang aku lupa teman. Jadi, ya berlarilah sekali walaupun seperti tidak berlari haha." Marina tertawa sendiri. Lucu juga ket

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Masih Ada Perhatian

    HARI terasa nyaman di luar, namun tidak dengan hati Kushaira. Sejak dia pulang dari rumah sakit siang kemarin, dia masih belum bertemu muka dengan Puan Asnah. Entah, wanita itu tahu atau tidak bahwa dia sudah pulang ke rumah.Mungkin trauma dikurung oleh Puan Asnah masih bergelora di dadanya. Siapa pula yang tidak mengalami trauma? Sampai demam tinggi pun dia dikurung di dalam kamar tidurnya sendiri.Bahkan, sejak dia bangun tadi hingga sekarang. Dia masih gemetar di depan cermin, dada terasa berombak, keringat juga turut bercucuran di dahinya."Haruskah aku keluar hari ini? Ke kampus?" Kushaira tidak tenang. Dia ingin pergi ke kampus bertemu teman-teman yang sudah mulai dia rindukan.Marina dan Suraya, bagaimana kabar mereka berdua. Namun, di waktu yang sama dia takut untuk berhadapan dengan ibunya sendiri.Ibu yang selama ini, tidak pernah ada untuk suka dan duka, susah maupun senangnya."Adik." Suara Kushaima di depan pintu terdengar sedang memanggil sambil pintu diketuk perlahan.

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Tutor Tidak Berbayar

    SEPANJANG perjalanan pulang ke rumah, Kushaira duduk di tempat duduk belakang hanya diam. Begitu juga dengan kakaknya yang duduk di sebelah Zareef di bagian depan.Sejak mengemudi keluar dari halaman rumah sakit tadi, Zareef tidak henti-hentinya melirik ke arah Kushaira di belakang. Hingga membuat gadis itu tidak nyaman diperhatikan seperti itu. Dahi Kushaira berkerut-kerut memikirkan tatapan Zareef itu.Ada apa-apa di wajahnya atau ada kotoran hidung yang menempel di pipi? Mau mengorek hidung di dalam mobil, khawatir pula diperhatikan lebih dari dua tiga kali oleh lelaki itu.Hampir satu jam juga mereka terjebak di jalan raya karena sedang jam sibuk dengan anak-anak pulang sekolah, para pekerja beristirahat.Kushaira hanya membuang pandang ke luar jendela mobil. Tidak mau memandang ke depan. Setiap kali dia melihat, pasti terlihat wajah Zareef di kaca spion sedang memandang. Tidak pasti dia memandang ke mana, tetapi hal itu benar-benar membuat Kushaira tidak nyaman.Setelah lama mere

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Hati Bercampur-Baur

    ZAREEF bangkit dari kursi. “Dokter bilang tadi, kamu sudah boleh keluar hari ini. Kakakmu pulang mengambilkan pakaian bersih. Nanti dia datang lagi. Saya mau menemui dokter sebentar.”Usai berbicara, Zareef langsung meninggalkan kamar rawat. Sementara Kushaira masih duduk bersandar di kepala tempat tidur. Hanya melihat gerak langkah lelaki itu hingga menghilang dari pandangan matanya.Setelah Zareef benar-benar tidak ada lagi di sana, barulah Kushaira mengembuskan napas kuat melalui mulut. Sejak tadi dia menahan napas. Khawatir jika dia salah bicara atau memberikan reaksi wajah. Gugup juga sama, ya, bagaimana tidak calon kakak iparnya terus menatapnya dari kursi di sisi tempat tidur itu.Mau melakukan apa pun terasa tidak nyaman. Untung saja dia sudah keluar dari kamar rawat itu. Tidak perlu lagi Kushaira khawatir salah tingkah.Cepat-cepat dia meraih air putih lalu meneguknya dengan rakus. Sebenarnya sejak tadi dia benar-benar haus. Ingin meminta bantuan terasa sulit, malu dengan Zar

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Ingin Menjaga Kamu

    KUSHAIRA terbangun ketika bahunya ditepuk oleh seorang perawat. Entah tiada angin, tiada ribut seorang perawat muncul di sisi ranjang pasien lalu menepuk bahunya dengan kasar.“Bangun, pergi kencing.”Kushaira terpinga-pinga. Terkejut pun ada, sebelum dia tidur tadi. Memang ada salah seorang perawat datang ke kamar rawat itu lalu memberikan sebuah botol kecil kepadanya untuk diambil sampel urine. Namun, sudah diberitahu bahwa sampel itu diambil sebelum jam enam pagi.Sekarang, dia merasa belum lagi pukul enam pagi. Dalam keadaan mengantuk, Kushaira bangun dari ranjang lalu menggapai botol kecil itu. Terasa aneh ketika melihat ke arah jam yang ada di dinding luar kamar rawat itu baru pukul tiga pagi.“Awalnya dia menyuruh ambil sampel? Bukannya sebelum pukul enam?” Kushaira bergumam sendiri sambil melangkah masuk ke toilet.Botol itu digunakan untuk menyimpan sampel urine. Setelah selesai segala aktivitas di toilet, dia pun melangkah keluar. Saat itu, dia terpaksa berjalan perlahan kar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status