Masuk"Asal Abang tau, jika eneng tuh disuruh bercerai dari Abang, karena Abang dianggap miskin." Risma, seorang perempuan desa yang menikah dengan Riswan, pemuda dari luar desanya yang mengaku sebagai yatim piatu dan tidak punya sanak saudara. Rumah tangga mereka selalu dihina dan direndahkan oleh saudara-saudaranya, termasuk oleh bapaknya sendiri, Juragan Hasyim, karena kehidupan mereka yang miskin.Risma selalu membela suaminya, tidak mempermasalahkan kehidupannya yang susah karena merasa tidak pernah menyusahkan keluarga besarnya. Riswan yang penyabar walaupun selalu dihina membuat Risma merasa kesal. Risma tidak mempermasalahkan hidupnya yang susah, tetapi dia tidak terima jika orang miskin dianggap tidak punya harga diri.Riswan pada akhirnya mengetahui jika istrinya itu dipaksa untuk bercerai dengannya, hingga akhirnya dia pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya, dan kembali lagi dengan menunjukkan siapa diri dia yang sebenarnya.
Lihat lebih banyakDli, Aku mau ijin ke kamar kecil sebentar?" ucap Irma langsung berdiri dari tempat duduknya. "Lurus saja, Ma. Pintu kedua di sebelah kanan, kamar mandi buat tamu," jawab Fadli, wajahnya mengarah ke lorong dalam rumah. "Saya permisi sebentar, Tante." Si nyonya besar hanya mengangguk saja, dan Irma pun langsung berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Fadli.Sebenarnya, Irma tidak ingin buang air kecil ataupun besar. Dia hanya ingin menghindar sebentar. Ucapan dan pertanyaan dari ibunya Fadli dan Fadlan sungguh membuatnya sangat tidak nyaman. Dirinya merasa direndahkan dan tidak dihargai hanya karena seragam dan pekerjaannya yang sekarang. Irma sangat mencintai pekerjaannya, karena dari hasil kerjanya dia bisa membantu perekonomian keluarganya. Biaya sekolah ketiga adiknya, juga untuk merenovasi rumah. Walaupun tidak sekaya jika dibandingkan dengan Fadli, tetapi Irma adalah wanita yang mandiri. Kekayaan atau harta yang dimiliki pria bukanlah prioritasnya sekarang ini dalam mencari pas
Irma bisa melihat, jika tatapan Fadli yang berdiri di sampingnya banyak menyimpan kemarahan terhadap saudara kembarnya, Fadlan. Kegeraman terlihat jelas pada wajahnya. Irma sungguh tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak dia inginkan, ditambah lagi ada ibu dari mereka berdua.Irma berucap pelan kepada Fadli, dan tidak ingin Fadlan ikut mendengarkan."Jika kamu sampai berkelahi dengan Fadlan, jangan harap aku akan sudi bertemu denganmu lagi, Dli? ucapnya tegas, lalu tersenyum manis kepada Fadli. Sesaat Fadli diam tertegun, lalu dia mengangguk."Yuk, masuk, Ma," ajaknya lagi kepada Irma, sambil tangan kanannya menuntun Niken sang keponakan. Fadli langsung masuk ke dalam rumah tanpa menegur Fadlan, berpura-pura sibuk berbicara dengan Niken sambil berjalan. Sementara Irma berhenti tepat di depan Fadlan, menegur terlebih dahulu."Bagaimana kabarmu, Fad?" tegur Irma, dan entah kenapa, hatinya mulai merasakan tidak nyaman dengan Fadlan. Mungkin penyebab utamanya karena fitnah yang dia lak
Siapa yang sudah berbohong terhadap dirinya, Fadli ataukah Fadlan? Siapa pula yang harus dia percaya di antara keduanya? Jika memang Fadlan yang sudah berbohong, apa maksud dan tujuannya? Irma benar-benar dibuat bingung setelah mendengarkan penjelasan versi Fadli. Namun, jika ternyata Fadlan yang sudah berbohong dan sengaja untuk menjelekkan juga memfitnah saudara kembarnya tersebut, betapa Irma akan sangat kecewa terhadapnya. Fadlan bilang jika Fadli sudah berkeluarga dan juga memiliki satu anak perempuan yang seumuran dengan putrinya, namun Fadli bilang jika istri sudah meninggal dunia, bahkan menjelaskannya dengan mata yang berkaca-kaca. "Istrimu sudah meninggal, Dli?" tanya Irma, dia memutuskan untuk tidak lagi membahas tentang perbedaan keterangan antara Fadli dan Fadlan. Siapa yang sudah berbohong dan siapa yang sudah berbicara jujur di antara mereka. Fadli mengangguk, membenarkan pertanyaan Irma. "Meninggal bersama dengan anakku di dalam kandungan," jelas Fadli, raut kesedi
Fadli malah terlihat seperti orang bingung, macam tidak paham apa yang sudah diucapkan oleh Irma. "Kamu sebenarnya bicara apa sih, Ma? Beneran, aku nggak paham," jawab Fadli, menatap wajah Irma dalam. Kembali dia lanjut bicara. "Benci? Musuhan? Sama siapa? Aku musuhan dan benci sama Fadlan gitu maksudnya, kamu?" tanyanya ke Irma. "Maaf, jika aku salah dan dianggap kegeeran, tapi menurut Fadlan seperti itu."Fadli menatap Irma dalam, bukan maksudnya untuk tidak mengakui, tapi itu peristiwa sudah beberapa tahun yang lalu, yang bahkan usia mereka waktu itu masih berumur belasan. "Dulu saat kita masih satu sekolah, iya, Korma. Aku memang sempat marah dengan Fadlan, karena aku yang dekat denganmu dari kelas satu, Tiba-tiba saat kelas tiga, dia main serobot aja." Fadli tertawa, ingatannya seperti sedang kembali ke masa lalu. Kembali dia bicara. "Saat dulu itu memang bukan salah kamu, bukan juga salah Fadlan. Aku saja yang dulu tidak punya keberanian untuk bicara langsung terhadapmu. "
Tubuh kurus dan wajah tirus Tasya, putriku satu-satunya mendekap erat badanku. Kain batik lusuh milik ibu, yang kubawa saat kabur dari rumah dulu, itu yang kupakai untuk mengendongnya.Bukannya aku tidak ingin membahagiakan atau pun menyenangkan hati Tasya, tetapi, sikap keji suamiku Burhan terhadap
Apa lebih baik kuhabisi saja nyawanya.' Seperti ada yang berbisik di telingaku, layaknya bisikan gaib. Dan kupikir, memang itu yang ingin kulakukan. Namun, kupikir lagi, terlalu enak rasanya jika si Burhan ini langsung mati dan tidak lagi merasakan penderitaan dan rasa sakit sebagaimana yang sudah d
Sekali lagi aku menjelaskan, jika saat ini sedang mendapatkan tamu bulanan, dan justru cubitan yang keras yang kudapatkan dari emak hingga aku mengaduh kesakitan. Kembali raut kekhawatiran terpancar jelas dari wajah emak, bapak, dan Kang Wawan, ketakutan jika si juragan dari kota besar ini akan memb
Pagi menjelang, hatiku benar-benar gelisah. Mimpi yang sama selama dua malam berturut-turut, juga tentang jawaban Teh Niken menyangkut penyakit yang dideritanya, membuat hati ini menjadi risau. Takut, jika penyakit yang menimpa Teh Niken juga akan mengenaiku. Di bangku depan teras rumah ini aku meny












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak