เข้าสู่ระบบAt Stanton University, power is currency and morality is optional. Juhoon Choi aka Trunks sits at the top of the Diamond Board — heir to an empire, untouchable, and emotionally unreadable. Park Suhee stands beside him as his lifelong protector, confidante, and silent lover, hiding years of devotion behind loyalty and restraint. Then Angelique Rochefort transfers in. Elegant. Calculated. Dangerous. She arrives with one purpose: to kill Trunks. She seduces her way into his life, manipulating his trust, isolating him from Suhee, and turning Stanton’s elite against each other. What begins as a carefully executed revenge scheme soon spirals into something far more dangerous when real emotions surface — love, jealousy, and obsession. As scandals erupt, alliances fracture, and lies are weaponized, Suhee becomes collateral damage in a war she never chose. Betrayal cuts deep, intimacy becomes a weapon, and the line between victim and villain blurs beyond recognition. But vengeance has a price and when the truth finally emerges, redemption may come only through sacrifice. In a world ruled by power, love is the most dangerous gamble of all. Because in a world ruled by power, love is the most dangerous weakness of all, and at Stanton University, every heart hides a motive—and every kiss can kill.
ดูเพิ่มเติม“Saya terima nikah dan kawinnya Bella Ariyanti binti alm. Muhammad Nuh dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Dalam satu tarikan nafas Burhan berhasil menghalalkan gadis muda disampingnya.
Gadis belia yang mengenakan gamis dan khimar putih, wajahnya ditutupi niqab menunjukkan betapa terhormatnya dia. Sedang Burhan mengenakan setelan kemeja senada menambah kesan serasi pada pasangan pengantin baru saja diresmikan. Semua didominasi warna putih, putih melambangkan kesucian. Putih seolah menunjukkan acara ini sangatlah sakral. Putih adalah lambang sebuah ketulusan dan kemurnian. “Bagaimana saksi, sah.” Penghulu bertanya pada seorang wanita yang duduk tepat belakang Burhan. Wanita itu mengangguk dan disambut tepuk tangan meriah dari para undangan. “Sah.” “Sah.” “Sah.” Kata itu menggema di seluruh penjuru ruangan. Semua yang hadir turut merasa bahagia atas momen paling berharga untuk kedua mempelai. Tapi tidak bagi wanita muda yang ditanya tadi, semburat kesedihan terpancar jelas di wajah tirusnya. Wajah cantiknya terlihat suram dan menyedihkan namun dia tetap memaksakan untuk tersenyum pada siapa saja yang menatap padanya. Menyembunyikan kesedihan yang membuncah karena ini semua terjadi atas kehendaknya. Berdiam diri mematung menatap punggung pengantin pria, yang tengah sibuk menandatangani berkas. Pertanda bahwa pernikahan itu sah dimata hukum dan agama. Dia terus meremas ujung kebaya jingga yang melekat pada tubuh langsingnya, dipadukan dengan rok batik khas Jambi. Rambut lurus sebahu miliknya dibiarkan tergerai hanya dijepit bagian samping membuat dia semakin mempesona. Wanita itu bernama Nayla Rahmawati, merupakan istri pertama laki-laki yang baru saja mengikrarkan janji suci pada wanita bercadar di samping sang suami. Dia semakin kuat meremas ujung kebayanya dan, mendadak berdiri hingga kursi plastik yang didudukinya terjatuh kebelakang. Setengah berlari meninggalkan tempat itu. Dia sudah tidak sanggup lagi menyaksikan rentetan acara yang akan merubah dunianya setelah ini. Entah berapa kali dia menabrak tamu undangan membuatnya tersungkur. Terdengar cacian dan makian untuknya. Dia kembali berlari dan terus berlari keluar dari tempat itu dan pergi menjauh. Keadaanya benar-benar kacau saat ini. Entah berapa kali dia jatuh bangun namun, dia tetap tidak menyerah untuk menjauh dari sana. Hatinya hancur tak beraturan, luluh lantak dan takkan pernah bisa pulih sekalipun dia yang menginginkannya. Apalagi saat dia menyaksikan suami yang teramat dicintainya mengecup dahi wanita yang beberapa menit lalu resmi menjadi madunya. Selama ini dialah yang selalu berada di posisi wanita itu. Mendapatkan ribuan kecupan dari si pria setiap harinya kala mereka bersama. Dan kini? Ah, membayangkannya saja tak sanggup. Sungguh dia tak mampu membayangkan harus berbagi kasih sayang dan juga ranjang dengan wanita lain. Berlari dan terus berlari tanpa tujuan. Air matanya tak henti mengalir deras. Jika itu sungai mungkin akan terjadi banjir bandang. Memang pernikahan ini dia yang menginginkannya, tapi tidak terbayang akan sesakit ini. Ternyata kenyataan jauh lebih menyakitkan dari yang dikhayalkan selama ini. Hidup berdampingan bersama adik madu tanpa cemburu. Bersama mengarungi lautan dengan satu kapal dan nahkoda yang sama. Dari jauh hari dia telah menyiapkan mental untuk hari ini namun, tetap tergores perih dan berdarah. Teringat seminggu yang lalu Burhan memohon untuk membatalkan pernikahan yang sama sekali tidak harus terjadi. “Tidak bisakah dibatalkan saja, dik. Abang tidak bisa, abang tidak bisa melihatmu sakit hati,” ujar Burhan memelas. Berharap Nana merubah keinginan gilanya. Mereka duduk di balkon menunggu waktu magrib. Ditemani secangkir teh hangat dan nastar buatan nana sebagai cemilan. “Jangan Bang, Abang harus menikahi Bella,” balas Nana penuh penekanan diikuti tatapan tajam yang kerap membuat Burhan tak mampu membantah lagi. “Lupakan Abang yang tidak menyukai Bella. Abang takut kau terluka, Dik,” bujuk Burhan mengusap pucuk kepala wanita yang telah mendampinginya hampir sewindu. Jantungnya berdegup sangat kencang. “Tidak,” bentak Nana menepis tangan Burhan yang terus mengusap rambut hitam tebalnya. “Kau berani meninggikan suaramu pada suamimu ini, Dik. Atas ambisi gilamu itu.” Burhan sedikit menaikan nada suaranya. “Aku ingin anak, Bang." Nana menundukan wajahnya netranya menatap lantai. Matanya mulai berembun, tidak pernah mendengar nada suara Burhan meninggi membuat hatinya iba. “Tapi tidak seperti ini caranya, Dik," ujar Burhan pelan tahu istrinya tengah ketakutan karna bentakannya. “Tidak ada jalan lain. Aku tidak bisa hamil, Bang. Aku tak memiliki rahim dan sampai kapan pun tak akan pernah ada janin yang tumbuh dalam diri ini.” Nana mulai terisak. “Tapi Abang tidak butuh anak. Kita bisa terus bersama itu sudah cukup, Dik." kedua tangannya mengusap bahu sang istri. “Aku selalu memimpikan tangis bayi di rumah ini, Bang. Rumah ini terlalu sunyi" Nana berhambur dalam dekapan Burhan tangisnya semakin terdengar. “Kita adopsi anak saja." Burhan mengusap punggung nana. Dia juga bersedih tapi tidak bisa untuk meneteskan air mata. “Aku mau anak itu dari benihmu. Dia akan jadi anak yang paling beruntung karna memiliki dua orang ibu." Nana mendongakan wajahnya menatap tajam mata elang milik sang suami. “Kamu wanita, ini sangat tidak mudah. Abang takut menjadi bumerang untuk rumah tangga kita." Burhan mengalihkan pandangan sungguh dia tidak sanggup terlalu lama beradu pandang dengan wanita yang rela menerimanya yang miskin. Wanita yang mengangkatnya dari kubangan lumpur lalu menjadikannya permata yang dihargai. Burhan tidak lupa siapa dia dulu, walau kini bergelimangan harga.Trunks woke up with a splitting headache, his temples throbbing as the pale London light filtered through the curtains. “Hey… how are you feeling?” Angelique asked softly from the edge of the bed. “Bad,” he groaned, pressing his hand to his forehead. “My head hurts so much.” “I’m sorry, babe. You fell asleep so fast last night—we didn’t even get to enjoy our evening together.” He squinted at the clock. “What time is it?” “Almost midday,” she replied. “Ugh… I don’t think we’re going anywhere today. I feel terrible.” “Then rest,” Angelique said gently. “I’ll make you some tea.” A few minutes later, she returned with a steaming cup. “Here,” she murmured, handing it to him. As he took a careful sip, Angelique hesitated for a moment. Then, with the calm tone of someone trying to sound casual, she said, “Babe… I know you’re not feeling well, but there’s something I need to ask you.” “Yeah?” Trunks mumbled. “I’m listening.” “Promise you won’t get m
When Trunks was completely asleep, Angelique quietly slipped out of their suite and made her way down the hall to Ryan’s room. “It was about time,” Ryan said from the couch, a lazy smirk on his face. “I was getting impatient.” “You don’t make things easy for me, I’ll have you know,” she muttered, sitting across from him. He handed her a glass of whiskey and a cigarette. “So… what’s up?” he asked, leaning forward. “I had to give him a sleeping substance so he wouldn’t wake up too soon,” she said, handing him a USB stick. “I got this from his computer. It’s about H Holdings and Sash Conglomerate.” Ryan smiled, swirling his drink. “I knew your goal wasn’t just the head of Stanton.” “I want to transfer all his shares to my name,” she said coldly. “And you think it’ll be that easy?” Ryan raised a brow. “Trunks has a powerful and strategic ally behind him.” “Not that strategic,” she retorted. “He shares all the updates with Trunks, and Trunks doesn’t even know how to hide th
The next morning they went out for breakfast. Angelique seemed particularly bright — a soft, secret smile she couldn’t quite hide. Flashes of the previous night returned to her in small, heated images: the way he’d touched her, the way he’d moved, the faint, intimate sounds she had never expected from him. For someone who claimed to be inexperienced, he had been unexpectedly confident. The memory left her flushed and quietly curious about how far things might go. “What are you thinking about?” Trunks asked. She took a sip of hot chocolate to hide the rose in her cheeks. “Nothing,” she said, and he laughed. “What’s so funny?” she asked. He reached out and wiped a smudge of foam from her lip with his finger, smiling. “So… how’s your dad?” he asked suddenly. Angelique blinked. “Huh?” “You said you called him yesterday.” He watched her carefully. “Oh—he’s fine,” she answered, casual on the surface. Inside, she let the ease of the lie settle. “We’re not very close. He’s alway
Two days had passed since the concert. Trunks hadn’t left his room—or eaten. He refused calls and wouldn’t see anyone except Angelique or Grandma Yuna. Depressed and withdrawn, he’d shut out the world, and Angelique took advantage of the moment. She planned their Christmas break herself, determined to make Trunks forget his pain and see her as his refuge. But deep down, she had another plan: to learn more about H Holdings, Sash Conglomerate, and the mysterious person behind Trunks’ fortune. And slowly, she was succeeding. Trunks, too broken to notice, gave her access to his accounts. She discreetly transferred funds into an offshore account shared with her secret accomplice. Meanwhile, she arranged an extravagant trip to London—five-star hotel, skating at Somerset House, Christmas shopping on Oxford Street, a West End show, Winter Wonderland at Hyde Park, and dinner in a gingerbread house. Grandma Yuna wasn’t pleased. She wanted Trunks to stay home for the holidays, to heal quietly
Trunks stumbled into his penthouse, completely shattered. The moment the door shut behind him, he collapsed to the floor, his body trembling as sobs tore through his chest. All the pain he had ever buried—every wound, every shadow—rushed out of him at once. His cries echoed through the vast apartme
The Velvet Gem teaser exploded across campus. Within hours, Velvet Gem was all anyone talked about. The three backup members — Raye, Cherry, and Lx-A — became instant campus stars, while Suhee and Cornelia’s fame soared even higher. Each member’s individual photoshoot captured their symbol, color
The tournaments and competitions had begun, and campus life pulsed with excitement. Angelique trained every day for the swimming contest, her determination unwavering. Trunks was always there—timing her laps, watching her glide through the water with admiration that bordered on devotion. Wh
“So, you mean Trunks is now officially dating that dumbass?” Cornelia asked, her jaw dropping. “Yes,” Suhee replied quietly, disappointment lacing her voice. “Actually,” Cornelia continued, twirling a strand of her hair, “we can’t really blame him. She’s prettier… and rich.” “Connie, you’re












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.