LOGIN"Do you want to know what it feels like to kiss? You don't have to find out, I can give it to you." Erros ate his lips so wildly. He kissed her so greedily as if there would be no tomorrow. "Open your mouth, baby," his hoarse voice made Milan feel like she was going crazy. "That's my woman," he said, exploring every part of his woman's mouth. She should have stopped this kiss. This is wrong! How could she kiss her brother? "Ugh..." when the sigh was heard, she realized that she had lost her sanity. *** If there is a person who is insane, then it is her. How could she keep her love for her brother? She always went crazy whenever the thought of her brother's sexy body made her body react. What should she do, should she admit defeat with her feelings or should she immediately get as far away from her brother as possible? Because one thing she knows, her feelings will not just disappear. *** "I have gone mad from loving you." "Your body, heart, and soul can only scream my name."
View MoreAkhirnya hujan turun. Setelah hampir seminggu dinanti-nanti, hari ini kota ini basah juga. Memulai pagi diawal Oktober, mengukir senyum di wajah sebagian penduduk kota. Walau aktivitas mereka tak secara langsung bergantung pada air hujan. Entah. Mungkin beberapa dari mereka pecinta hujan. Tapi bagi Dara, hujan ini tak lain sebagai penyejuk kota, penghapus debu-debu hasil aktifitas kota seminggu terakhir. Beruntung ia sampai di halte bus lebih cepat hingga tak harus kehujanan.
Perjalanan menuju kantor Dara menggunakan bus memakan waktu sekitar 15 menit. Cukuplah untuknya melihat-lihat sekitar, menambah pengetahuannya tentang kota ini, walau dengan rute yang sama setiap hari. Namun selama setahun berada disini, Dara sudah cukup banyak mengetahui tempat-tempat wajib seperti supermarket, warung makan, mall, bahkan pasar terdekat dari kosnya.
Menjadi anak kos memang bukan hal baru bagi Andara Prima. Tapi tetap saja setiap tempat baru memerlukan adaptasi yang apabila tidak dilakukan dengan benar akan berujung pada ketidakbetahan. Sejauh ini Dara tampak berhasil, ditambah lagi aktifitasnya yang sangat padat. Tidak kurang dari 11 jam setiap hari ia habiskan di luar kos kecuali hari Minggu.
***
Dara sudah duduk dengan santai di depan meja kerjanya sambil menyeruput kopi panas dalam tumblr yang ia bawa sendiri dari kos. Karyawan yang terlihat masih satu dua orang. Matahari baru saja muncul, bercampur dengan dingin sisa hujan setengah jam yang lalu. Suasanapun masih sangat hening. Dengan menghadap jendela besar yang menampilkan langit tanpa terhalang pepohonan atau bangunan lainnya, membuat Dara melamunkan banyak hal. Pekerjaannya dulu, pilihannya atas perusahaan ini, sampai rencana hidup kedepannya. Tentu saja Dara tak bisa lama-lama memikirkan semua itu karena ia harus segera mulai bekerja.
“Dara bisa ikut sebentar?”, suara seseorang memecah lamunnya membuat Dara sedikit terkejut .
“Ya, Pak.” Dara segera mengikutinya di belakang kemudian masuk ke ruangan manajernya itu.
Tak berapa lama ia telah duduk kembali di depan meja kerjanya. Kembali menatap jendela besar tadi, dengan wajah yang lebih serius. Kemudian ia berbalik, memilih melanjutkan pekerjaannya.
Masih dengan wajah yang penuh pikiran Dara mulai mengutak-atik laptopnya. Tiba-tiba ia berhenti. Seperti ada yang memeperhatikannya. Setelah ia menoleh ke samping, benar saja. Seorang lelaki tinggi tengah menatapnya lekat-lekat dengan wajah yang sama seriusnya.
“Ada apa?” tanya Dara mencoba mencari tahu.
“Dar,” lelaki itu mulai berbicara.
“Hm?” jawab Dara sambil tersenyum.
“Tidak semua yang terlihat itu seperti yang kau bayangkan,” jawabnya lagi. Raut wajahnya telah berubah, seperti orang melamun. Matanya tak lagi menatap ke wajah Dara.
Dara kembali tersenyum. Diputarnya kursi kerjanya mencoba menghadap secara sempurna pada lelaki itu.
“I know. Lantas?” Jawab Dara sambil balas menatap lelaki itu penuh selidik.
“Ya, jika terlalu sulit untukmu memahami sesuatu, sebaiknya tak usah banyak menyimpulkan. Katakan saja pada dirimu ‘aku juga tidak tahu apa alasannya’,” jawabnya sambil bersandar di dinding menghindari tatapan Dara.
“Tapi kita diberi akal untuk berpikir, mencari tahu apa yang terjadi.” Sanggah Dara.
“Dan kita diberi mulut untuk bertanya langsung,” jawabnya cepat.
“Kalau...” Dara mencoba menyanggah lagi.
“Kalau tak mungkin ditanyakan, maka diam saja tanpa berasumsi yang tidak-tidak.” Jawabnnya lagi memotong ucapan Dara.
“Bicara apa kita pagi-pagi begini?” kata Dara sembari memutar kembali kursinya menghadap meja.
“Cuma kita yang tahu,” kata lelaki itu tersenyum manis. Iapun meninggalkan Dara yang sudah tampak tidak peduli dengan obrolan mereka tadi.
Leo Andriano—nama lelaki tadi. Kolega Dara di kantor itu. Umur mereka sebaya, lahir di tahun yang sama. Mereka sangat cocok saat mengobrol. Atau yang kita kenal dengan sebutan satu frekuensi. Entahlah, 99 persen orang yang ada di perusahaan itu memang menyukai sastra, karena memang perusahaan mereka adalah penerbitan buku. Namun sastra Dara dan Leo sangat berbeda. Seperti di antara seluruh pecinta musik, Dara dan Leo menyukai genre yang sama dan tentu saja itu sangat menyenangkan untuk keduanya. Walaupun Leo lebih banyak memulai percakapan duluan. Dara memang tidak banyak bicara. Namun dari caranya berbicara dengan Leo, terlihat jelas bahwa ia sangat menikmati pembicaraan itu.
***
Dara dan Leo menyusuri trotoar menuju halte bus. Sesekali mereka melangkah besar untuk menghindari genangan air hujan yang turun kembali sore tadi. Tak berapa lama kemudian, mereka sudah duduk manis di kursi halte bus.
“Dar, menurutmu dia tahu tidak perasaanmu waktu itu?” tanya Leo tiba-tiba.
“Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi kupikir tidak.” Jawab Dara.
“Dia tahu.”
“Kau tahu dari mana?”
“Dia yang memberitahuku.”
“Dan baru sekarang kau sampaikan?”
“Memangnya kau pernah bertanya?”
“Dia menyuruhmu?”
“Tidak. Aku hanya inisiatif.”
Beberapa detik hening.
“Dia tahu perasaanmu. Sampai terakhir kau mencoba menghubunginya dengan nomor baru, dia sangat yakin itu kau.”
“Dia juga memberitahumu tentang perasaannya?”
“Tidak.”
“Masa dia bercerita setanggung itu?”
“Ya, itulah dia. Dia bercerita seenaknya tanpa menjawab apapun yang orang lain tanyakan setelahnya. Masa kau tidak tahu. Oh iya, kau kan memang tidak terlalu mengenalnya” Jawab Leo.
“HEI!” Teriak Dara kesal. Leo hanya tersenyum jahil, senang melihat Dara marah.
***
Bekerja di penerbitan buku adalah pekerjaan yang Dara impi-impikan. Terlebih ia masuk di bidang minat dan bakatnya, divisi penerjemah. Sebagai informasi, saat kuliah Dara tidak mengambil jurusan sastra melainkan administrasi negara. Minatnya di bidang linguistik membuatnya terus-terusan belajar banyak bahasa asing hingga mengantarnya pada satu tekad untuk bekerja sebagai penerjemah. Beberapa bahasa asing yang dipelajari Dara adalah bahasa Inggris, Arab, Korea, dan Jerman. Namun, dari empat bahasa itu Dara paling fasih berbahasa Jerman. Hal itu didorong oleh keinginannya yang suatu saat ingin pergi berjalan-jalan ke Jerman.
Beruntung penerbit tempat Dara bekerja sekarang benar-benar menilai kemampuan. Kemampuan Dara memang tidak perlu diragukan lagi. Sebelum melamar di penerbit itu, Dara telah aktif sebagai penerjemah lepas bahasa Jerman.
Sama seperti pekerja baru pada umumnya, senang, gugup, bercampur semangat. Itulah yang dirasakan Dara saat hari pertama mulai bekerja. Tapi perasaan itu tak berlangsung lama setelah akhirnya ia mengetahui bahwa divisi impiannya itu dimanajeri oleh seseorang yang ia kenal. Seseorang dari sembilan tahun yang lalu. Semangat telah berganti menjadi bingung, bagaimana harus bersikap. Rasa senang juga masih ada, namun lebih karena senang mengetahui orang tersebut masih hidup setelah hampir sepuluh tahun hilang tanpa kabar.
Saat perkenalan diri di hari pertama itu, untung saja ia ditemani oleh ketua timnya—Pak Bagas, masuk ke dalam ruangan Gio—nama manajer itu. Kalau tidak, bisa-bisa Dara diam mematung tak tahu harus berucap apa.
“Dara?” Kata Gio langsung menutup buku yang ia baca.
“Bapak kenal?” kata Pak Bagas sedikit kaget.
“Adik kelas saya dulu waktu SMA, Pak.” Kata Gio lagi mencoba terdengar ramah.
“Dara?” Kata Pak Bagas sambil mengisyaratkan Dara untuk segera memperkenalkan diri.
Dara tersadar, ia mulai memperkenalkan diri, tak lupa didahului senyum. Ekspresi yang terekam jelas oleh Dara dari Gio ialah ekspresi orang pada umumnya saat bertemu kawan lama. Kaget, kemudian bertanya ini dan itu. Dara menjadi kecewa. Dara tahu bahwa sambutan yang ia dapatkan hari ini sudah lebih dari cukup. Gio mengenalinya, bahkan mengakuinya sebagai adik kelas. Tapi bukankah seharusnya orang yang pernah pergi tanpa pamit tidak bicara sesantai itu? Dara tidak menangkap rasa bersalah di wajah Gio, bahkan sedikit canggungpun tidak ada.
Benar saja, cuma aku yang terluka. Ucapnya dalah hati.
Erros returned at 1 am. He did not go straight to his room and chose to go to his sister's room. Inside his room, he saw his sister sleeping so peacefully.He noticed her slightly parted lips. His finger touched those moist lips. "Hurry Milan, I can't stand it anymore," he still felt his sister was still quite young.He had promised not to touch his sister before she turned 20. Now he just needed to make her dependent on him. "Everything you have is mine, Milan."He unbuttoned her pajama top, then kissed her upper chest. He even stuck out his tongue to brush her chest."Damn, she's not wearing a bra." he had almost unbuttoned his sister's pajamas when he suddenly realized that she wasn't wearing a bra."Are you trying to seduce me?" He noticed his sister's breasts were growing well. It fit perfectly in his hand.His body immediately reacted just by looking at her slightly exposed chest. He kissed her neck again, but left no mark there. He didn't want this woman to be suspicious the ne
You know what? They said there was a new student today. I heard he's handsome," Laura started gossiping with Milan in class."Handsome?""I only heard from the other students. We'd better wait."Milan didn't care at all about the handsome student. He was also sure that the man was not as handsome as her brother. She prefers to read her textbooks rather than waiting for the new student.And what Laura said was true. The new boy was indeed a handsome man. Even some girls in her class fell in love with his appearance at first sight.The teacher invited the man to introduce himself."Hello, I'm Felix," the man said curtly."Milan look! He is handsome," Laura forced her friend to look at the man.Milan sighed, then looked at the man. He was handsome, but not as handsome as her brother.While looking at the man, their eyes accidentally collided. He even winked at her, which she responded by rolling her eyes in boredom. The girl looks so sexy when she ignores him. With his crooked smile, he
As promised, Erros came to his sister's room."What part do you not understand?" Erros immediately asked while his sister was still preparing her textbook."Wait a minute, I'm preparing my book."Actually, Milan was trying to distract her. She was used to wearing short pajamas like this, but why did she feel embarrassed to wear them now?He glanced at her brother, who didn't care about her appearance at all. "Calm down Milan, you have to calm down," she mumbled quietly.Seeing his sister finished preparing her textbook, Erros immediately walked closer to his sister."What part do you not understand?" Erros asked from behind Milan's body.Since there was only one chair at the study table, Erros stood behind his sister to supervise her lessons.The girl felt a breath coming from her neck. She knew that her brother didn't mean to tease her at all. But her body reacted because of the breath."I-I don't understand this part," she pointed nonchalantly.Erros looked seriously and explained i
"Have you ever kissed?" Laura suddenly asked Milan in between their break.Milan is already growing up. She is already in high school. Of course, hearing Laura's question didn't surprise her. Because she also knows that her friends have often done it."I don't even have a boyfriend yet. How can I already kiss?""Who knows, you've been. Ah, I think I just want to find a boyfriend," the girl complained.Milan chuckled hearing her friend's words. Unlike Laura, who wants a lover, she doesn't need it at all. According to her, her brother is more than enough. She doesn't need another man right now."I think you should find a boyfriend," Laura knew that the only man Milan had ever been close to was her brother. According to her, her friend is old enough to start a relationship with a man."I'm not at all interested," Milan said as she continued drinking her drink.Actually, Laura had guessed that her friend would definitely say that."No, no. You can't be with your brother all the time. You






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews