LOGINHan Yi menoleh penuh ke arah VIP nomor tiga, ke arah pria bertopeng emas itu. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah atau tersinggung, tapi seperti binatang yang merasa wilayah kekuasaannya diusik.“Taruhan?” ujarnya pelan, tapi setiap suku kata terdengar jelas ke seluruh aula.Alex tidak bergeming. Posisi duduknya tetap santai, satu tangan menumpu di sandaran, seolah-olah hal paling berbahaya di dunia ini hanyalah kebosanan. Mata di balik topeng emas itu tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun.“Ya,” jawab Alex, ringan. “Taruhan.”Beberapa kepala langsung saling pandang. Bisik-bisik kembali menetes ke udara seperti hujan jarum.“Dia gila.”“Dengan Han Yi? Baru saja menang dua batu… Meski yang pertama sampah, yang kedua belum tentu!”“Pria bertopeng ini… Siapa sebenarnya?”Han Yi mencibir kecil. “Kau ingin bertukar kartu atm denganku?”Alex mengangguk santai. “Jika batu terakhirmu tidak mengandung giok kualitas tertinggi. Sederhana saja, kau bisa minta apapun dariku.”Pelelang menaha
Suasana aula perlahan kembali bergerak, namun bukan menuju ketenangan. Justru, hawa tegang itu berubah menjadi rasa penasaran yang semakin menebal. Semua orang tahu badai belum selesai.Alex kembali duduk, santai seolah dua puluh juta tadi bukan apa-apa baginya. Di sampingnya, Clara masih terdiam. Namun sorot matanya tak lagi bergetar; kini digantikan ketenangan aneh yang tidak dimiliki orang pada umumnya.Han Yi, di sisi lain, masih berdiri. Dadanya naik turun. Kemenangan itu membuat kepalanya terasa ringan. Namun bagian terdalam hatinya baru saja mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman, rasa dingin yang tak bisa dijelaskan.Pelelang membersihkan tenggorokannya, berusaha melanjutkan tugasnya.“Selanjutnya,” katanya dengan suara sedikit bergetar. “Batu giok ketiga.”Sebuah batu berukuran sedang dibawa naik ke atas panggung. Permukaannya kusam, garis retakan terlihat di beberapa sisi. Sekilas, tampak paling buruk dibanding dua batu sebelumnya.Seketika bisik-bisik muncul.“Yang ini
Suasana aula yang semula riuh, mendadak meredup sesaat. Beberapa kepala menoleh bersamaan ke arah ruang VIP nomor tiga. Tidak sedikit yang menelan ludah. Karena ungkapan itu memang provokasi yang jelas!Namun bagi Han Yi itu adalah tamparan telak di hadapan seluruh keluarga berpengaruh di kota Draken Wajahnya menegang, urat uratnya terlihat hingga berwarna merah padam!Ketika matanya menyipit tajam ke arah tirai VIP nomor tiga. Untuk pertama kalinya sejak awal pelelangan, ekspresinya benar-benar telah kehilangan kendali.“Apa katamu?” suara Han Yi rendah, namun mengandung tekanan dingin.Beberapa tetua keluarga Han langsung saling pandang.“Tu-tuan muda, tetap tenang, dia hanya ingin memprovokasi kita...” salah satu dari mereka berbisik, namun Han Yi mengangkat tangan, mencoba menghentikannya.Di sisi lain, bisik-bisik mulai berubah nada.“Berani sekali.”“Apakah keluarga Wine ingin memicu konflik terbuka?”Alex bersandar santai di kursinya secara santai. Di balik topeng emas, sudut b
Riuh aula pelelangan belum mereda ketika angka sepuluh juta itu menggantung di udara. Beberapa orang bahkan berdiri setengah dari kursinya, seolah tidak percaya ada pihak yang berani berjudi sejauh itu hanya untuk sebuah batu giok yang bahkan belum dibelah.Pihak lelang menelan ludah. Tangannya yang memegang palu sedikit bergetar, namun wajahnya tetap profesional.“Vip nomor tiga… menawar sepuluh juta,” ulangnya lantang. “Apakah ada yang ingin menaikkan?”Sorot mata hampir semua orang otomatis tertuju ke ruang VIP nomor satu. Siapa lagi jika bukan Han Yi.Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke kursi, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran tangan. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya, tapi kali ini tidak lagi santai. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya."Sepuluh juta…"Bukan jumlah kecil, bahkan bagi keluarga Han. Terlebih lagi, ini baru batu giok pertama.“Orang di vip tiga itu…” gumam salah satu tetua keluarga Han dengan suara rendah. “Apakah keluarga Wine sudah kehilangan akal?”H
Rendy menggeram marah. Suaranya menggema di area kasir, membuat beberapa tamu menoleh dengan ekspresi tidak senang.Rendy ingin mengejar, namun dua pria bertubuh besar berjas hitam sudah berdiri di hadapannya, menghadang dengan sikap profesional namun mengintimidasi. Senyum pelayan sebelumnya menghilang, digantikan wajah netral.“Tuan muda,” kata pelayan itu tenang, “silakan selesaikan pembayaran. Atau kami akan memanggil manajer keamanan.”Wajah Rendy memucat. Harga yang tertera di layar kasir membuat napasnya tercekat. Angka itu… bukan sesuatu yang bisa ia bayar dengan mudah, bahkan dengan statusnya sekarang.*Keesokan harinya.Gedung Pelelangan Langit Antik berdiri megah di pusat kota Draken. Bangunannya menjulang dengan arsitektur klasik-modern, pilar-pilar marmer putih berpadu ukiran emas yang memancarkan kemewahan dan kekuasaan. Di sinilah, kekayaan dan pengaruh diuji bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan angka dan keberanian.Mobil Clara berhenti di area VIP.Begitu me
Alex perlahan mengangkat pandangannya. Di hadapannya berdiri dua orang pria dan satu wanita, semuanya berpakaian mencolok, aroma parfum mahal bercampur anggur langsung menyergap. Wajah-wajah itu terlalu familiar diingatan tubuh asli.Yang berbicara barusan adalah Rendy mantan ketua geng populer di SMA mereka. Rambutnya kini disisir klimis, jam tangan emas berkilau di pergelangan tangan. Di sampingnya, Vera, gadis yang dulu selalu menertawakan sepatu Alex yang lusuh. Dua pria lainnya tersenyum sinis, jelas menikmati momen ini.“Benar-benar kau, ya?” Rendy tertawa kecil. “Aku hampir tak mengenalimu. Ternyata sampah sepertimu masih hidup?”Tawa mereka pecah."Hahahaha!"Clara yang duduk di seberang Alex langsung berhenti menggerakkan sendoknya. Ia menatap Alex sekilas, lalu menatap kelompok itu dengan senyum tipis, senyum yang terlalu tenang untuk situasi seperti ini.Alex menghela napas pelan. “Sudah lama, Rendy.”“Hah! Masih ingat namaku?” Rendy pura-pura terkejut. “Kupikir orang seper







