LOGIN“Hanya segitu kemampuanmu, dr. Bagas?!” desah wanita itu terengah, jemarinya mencengkeram seprai. “Ta–tapi ini salah, Nyonya… aku seharusnya tidak—” Dipecat karena tuduhan malpraktik dan dihancurkan oleh pengkhianatan tunangannya, dr. Bagaskara kehilangan segalanya dalam semalam. Saat hidupnya berada di titik terendah, sebuah tawaran misterius datang: menjadi terapis di klinik khusus wanita milik Madame Renata—tempat yang konon mampu menyembuhkan luka… dengan cara yang tak lazim. Namun, dari balik aroma terapi dan cahaya temaram ruang perawatan, Bagas justru terseret dalam dunia yang menggoda dan berbahaya. Setiap sentuhan menjadi ujian, setiap pasien menyimpan rahasia, dan setiap sesi terapi bisa saja membuatnya kehilangan kendali—baik sebagai dokter, maupun sebagai pria.
View MoreMalam itu di ruang praktik, Bagas benar-benar merasa hampa. Desahan dan erangan Helena yang terdengar setiap kali ia memberi hentakan hanya sebatas angin lalu di telinga Bagas. Ia mulai merasa, saat ini nafsu dan hasrat bukanlah yang utama. Ia mulai merasa kosong, walau Helena terus saja mendesah nikmat di bawahnya.Di bawah temaram lampu ruang praktik yang sengaja diredupkan, suara kulit yang beradu dan napas yang memburu terdengar begitu dominan. Helena mencengkeram bahu Bagas, kuku-kuku merahnya menancap di kulit pria itu, sementara kepalanya mendongak dengan mata terpejam, menikmati setiap inci gairah yang Bagas berikan."Ahhh... Bagas... lebih dalam... shhh..." desah Helena, suaranya serak oleh kepuasan.Namun, di atas tubuh Helena, Bagas bergerak cepat memberi hentakan demi hentakan yang membuat Helena terbang ke angkasa. Namun Bagas, ia benar-benar kosong. Matanya tidak menatap Helena, ia justru menatap langit-langit ruangan yang gelap. Bagas tidak merasakan lonjakan adrenalin,
Malam harinya, Bagas baru selesai mandi. Ia masih mengenakan jubah mandinya dan berdiri di balkon menatap kerlap kerlip kota di malam hari. Bagas sama sekali tidak mendatangi Mayra, yang kamarnya terletak tepat di sebelah kamarnya di lantai tiga. Pikirannya cukup kacau malam ini.Bagas menarik napas panjang, matanya menatap kosong ke depan.“Apa aku sudah terlalu jauh?” gumamnya. “Apa seperti ini kehidupan yang aku inginkan?”Bagas benar-benar dilema. Dulu ia terpuruk karena pengkhianatan Tania dan Yanuar. Sekarang di saat ia berada di atas dan bisa gonta-ganti perempuan sesukanya, ia malam merasa hampa.Bagas termenung menatap tangannya sendiri. Tangan ini dulunya ia gunakan untuk menyembuhkan trauma para pasiennya, tapi sekarang… malah tangan ini yang memberi trauma berat pada mereka.Bagas benar-benar merasa kehilangan dirinya sendiri. Ia seperti terjebak di dalam lingkaran yang telah ia garis sendiri.Dan di saat itu pula bayangan Tania kembali melintas—membuat dadanya semakin ses
Tidak butuh waktu lama, akhirnya Tania tiba di lantai atas. Ia segera menghampiri Mayra yang masih duduk di balik meja kerjanya. Melihat Tania yang mendekat, Mayra langsung bangkit. Entah mengapa setiap kali ia melihat gurat kelelahan dan kesedihan di mantan tunangan Bagas itu, Mayra selalu saja merasa sesak. Sisi manusiawinya benar-benar diuji di sini. Ia menghela napas berat. “Tania, sekarang kamu masuk ke dalam. Dokter Bagas sudah menunggu di sana. Terkait apa yang harus kamu lakukan di dalam nanti, bisa langsung ditanyakan pada Dokter saj.” Mayra berusaha bersikap profesional layaknya seorang atasan yang sedang memberi arahan pada bawahannya. “Baik, Sus.” Tania mengangguk patuh. Mayra langsung menghubungi Bagas melalui interkom. “Dok, Tania sudah sampai. Apa saya suruh masuk sekarang?” “Iya, suruh masuk saja. Pintunya tidak terkunci,” jawab Bagas di seberang. “Baik, Dok.” Setelah mendapat keputusan dari Bagas, Mayra langsung kembali menatap Tania. “Kamu boleh masuk se
Begitu pintu lift tertutup dan Bagas menghilang dari pandangan, suasana di lobi lantai dua mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menyesakkan. Mayra kembali duduk di kursinya, namun ia merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran Tania yang masih berdiri mematung di depannya.Mayra berdehem, mencoba mengembalikan otoritasnya sebagai ‘atasan’. "Jadi... kamu mantan tunangannya?" tanya Mayra dengan suara yang berusaha dikeraskan, meski tangannya di bawah meja meremas rok seragamnya.Tania perlahan mendongak. Ia menatap Mayra bukan dengan kemarahan, melainkan dengan tatapan iba yang aneh. "Iya. Tapi itu sudah sangat lama sekali, Suster.""Dokter Bagas bilang kamu di sini hanya untuk bersih-bersih," lanjut Mayra, matanya menyapu seragam abu-abu Tania yang kusam. "Tugasmu berat. Lantai dua ini harus steril, dan area privat Dokter... itu sangat sensitif."Tania hanya mengangguk pelan. "Saya mengerti."Mayra kemudian bangkit. Rasa cemburu di hatinya sedikit terobati melihat betapa rendahny
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore