Share

5. Kalung Ocean Naga Biru!

Penulis: Al_Fazza
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-07 14:49:14

Melihat sekilas ke sekelilingnya, dia sama sekali tak menemukan jejak pedagang tua barusan. Bahkan ketika menggunakan mata Dewa. Pria tua benar benar seperti lenyap dalam kehampaan.

"Di dunia baru ini... Juga ada seorang kultivator? Menarik..." Menyadari siapa sosok pria tua, langkah kakinya berlanjut ke arah toko terbaik di jalanan kota antik.

Toko itu, milik Wine Clara. Penilai barang antik terbaik di kota Draken.

Memasukinya, Abel yang tengah melihat lihat barang di setiap rak toko mulai menyapa Alex.

"Kau untuk apa menguntit kami?! Apa kamu mengira guci yang terbentuk dari tanah liat busuk itu bisa ditukar uang disini? Hahahaha! Kau pasti merasa tertipu kan?!"

"Tertipu? Sepertinya tidak, aku datang kemari setelah melihat toko ini satu satunya terbesar yang kulihat... Dan aku kemari, untuk menjual barang di dalam guci ini... Memang, apa hakmu mengomentariku?"

Melihat beberapa kali sosok yang dia kenal sebagai sampah berani berbicara. Bahkan seakan melawan membuat Abel benar benar merasa geram!

"Apa kau tahu, toko ini memiliki aturan. Siapa yang berbohong maka dia akan dihukum, mereka yang membuang waktu para pekerja maka dianggap sebagai pengganggu."

Abel menyeringai tipis, lalu melanjutkan ungkapannya, "Maka jika kau datang sebagai pengganggu... Mungkin, kau tidak akan pernah bisa datang ke kampus lagi?!"

"Aku memang tidak tahu persis nama barang yang terjebak didalam guci... Tapi aku tahu persis, mungkin nilainya lebih dari $5.000.000! Seharusnya dengan kemunculannya barang ini, kau juga tak mampu untuk membayarnya?!"

Pria paruh baya disisi Abel mengernyitkan alisnya.

"Barang antik bernilai lebih dari lima juta dolar itu harga termahal dari ribuan barang antik diseluruh dunia yang ada... Kau benar benar tak tahu apapun?! Pelayan, baiknya bawa penipu ini keluar, atau tidak kalian akan mengalami kerugian?!"

Beberapa pelayan mengangguk, mereka hendak mengeluarkan Alex secara terpaksa. Namun Wine Clara yang tengah menyiapkan barang keinginan dari Abel segera menghentikan kekacauan kecil di dalam tokonya.

"Ada apa ini?! Berani sekali membuat kerusuhan di toko kami?!"

Suara itu lembut, tapi terdengar tegas. Seperti sebuah perintah yang tak bisa dilanggar!

"Nona muda Wine Clara... Dia adalah rekan kampusku, seorang sampah yang tak berguna?! Keberaniannya datang kemari, pasti dia butuh uang, makanya dia menipu. Dan menganggap guci tanah liat di tangannya itu senilai $5.000.000!"

Sorot mata tajam Clara tertuju ke arah Alex. Dari bawah ke atas, hingga melihat wajah yang sangat familiar itu membuat Clara tertegun.

"Kau pemuda yang kutabrak itu? Kau datang kemari untuk apa? Jangan jangan, uang kompensasi untukmu itu kurang?" ungkap Clara tenang.

Alex tersenyum tipis.

"Aku bukan preman yang suka memeras uang milik para pengusaha. Kedatanganku kemari, untuk menjual guci ini."

Alex memperlihatkan jelas guci tanah liat yang ada di tangannya.

Sekilas Clara memandangi guci tanah liat, dia adalah penilai barang antik terbaik di kota Draken. Tentu dengan mata jelinya, dia langsung bisa menilai.

"Tanah liat milikmu itu memang memiliki kualitas baik... Tapi itu hanya tanah liat, tidak ada harganya sama sekali?!"

Memicingkan alisnya, Alex hanya bisa menarik nafasnya dalam dalam.

Mungkin Clara memang penilai barang antik terbaik. Tapi gadis itu tak memiliki kelebihan sepertinya–Bisa melihat tembus pandang!

"Bagaimana jika kita bertaruh?"

"Bertaruh? Waktu nona Clara sangat terbatas! Dia termasuk salah satu orang penting di kota Draken?! Alex, baiknya kau jangan ganggu urusannya."

Abel mengambil pesanan yang telah disiapkan oleh Clara. Saat ia melangkah, hingga tiba di sisi Alex. Ia menghentikan langkah, dan meninggalkan beberapa pesan untuk Alex.

"Di sini adalah wilayah kekuasaan nona Clara... Jangan sampai kau terbunuh karena kebodohanmu sendiri, karena aku masih menunggumu menjadi seekor anjing di kampus nanti?!"

Setelah itu, Abel dan pria paruh baya di sisinya keluar dari toko itu.

Sorot mata Alex berubah dingin, seperti dia ingin menelan hidup hidup Abel. Namun Clara yang tidak ingin permusuhan pribadi antar keduanya menyebabkan kerusakan di dalam toko mulai melangkah ke depan, lalu mengambil guci tanah liat di tangan Alex.

"Sepertinya kompensasi yang kuberikan memang kurang... Alex, di dalam kartu ini terdapat $5000. Tanda tangani kontrak yang akan kusiapkan, maka di masa depan nanti, kau tidak akan bisa memerasku."

"Tunggu?! Sudah kukatakan, di dalam guci ada barang yang tak ternilai harganya... Uang yang kau berikan dengan iming-iming kompensasi itu, mana pantas dibandingkan dengan harga yang ada di dalam guci?!" bantah Alex.

Salah satu pelayan toko maju, dia yang mulai tahu alasan keberanian Alex segera mencengkram kerah pemuda itu dengan satu tangan.

"Kau tak tahu diri... Kau kira, nona muda tahu niat akal busukmu? Sekarang, terima pembayaran dan tunggu kontrak datang. Maka kamu dan nona muda tidak akan memiliki hubungan lagi?!"

"Tubuh kurus begini, masih berlagak ingin memeras nona muda? Kau salah sasaran bocah!"

Sembari mendorong tubuh Alex.

Merasa diremehkan, bahkan mengira ia datang untuk memeras atau menipu. Alex segera merebut guci tanah di tangan Wine Clara.

"Apa yang kau..."

PYAAAAAAR!

Tanpa rasa ragu, Alex langsung memecahkan guci ke lantai. Hingga isi di dalam guci terlihat jelas.

Sebuah kalung permata, berwarna biru nyala, layaknya perhiasan super mewah tergeletak di antara pecahan tanah liat yang mengering.

Seketika mata para pelayan terbelalak kuat.

"Ka–kalung apa itu?! Kenapa membuat mataku merasa sedikit silau?!"

"A–apa bocah ini memang bisa melihat tembus pandang! Ada kalung di dalam guci!"

"Bahkan nona muda tak bisa melihatnya... Ini..."

Clara yang terpaku bukan karena adanya sebuah kalung di dalam guci, melainkan ia mengenal kalung yang tergeletak itu segera berjongkok.

Tubuh dan tangannya sedikit bergetar menahan rasa keterkejutan yang begitu besar!

"Ba-bagaimana bisa?! Kalung Ocean Naga Biru yang hanya ada satu di seluruh dunia ada di sini?!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   20. Pelelangan 6.

    Han Yi tertawa dingin, suaranya menggema memantul di dinding aula.“Kesepakatan?” Ia berdiri perlahan, aura arogan yang sejak awal ia tekan kini tumpah tanpa sisa. “Jangan main kata-kata denganku, pria bertopeng. Batu itu belum dibuka. Selama belum dipotong, tidak ada hasil. Maka tidak ada kemenangan.”Beberapa orang di aula mengangguk setuju. Logika Han Yi memang masuk akal, setidaknya di permukaan. Bahkan beberapa tetua yang semula condong ke arah Alex kini kembali ragu.“Benar juga…”“Kalau batu terakhir itu ternyata sampah?”“Taruhan nyawa… Ini terlalu gila.”Alex berhenti melangkah. Ia tidak berbalik, hanya memiringkan kepalanya sedikit, cukup untuk menunjukkan garis rahang di balik topeng emas itu.“Kau ingin memutar balik keadaan?” tanyanya datar.Han Yi mendengus. “Aku hanya menuntut keadilan. Kau begitu yakin dengan batu itu? Maka potong. Buktikan.”Ia menatap Clara, senyumannya tipis tapi penuh niat buruk.“Kalau ternyata batu itu merupakan kualitas super terbaik, aku ingin

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   19. Pelelangan 5.

    Han Yi menoleh penuh ke arah VIP nomor tiga, ke arah pria bertopeng emas itu. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah atau tersinggung, tapi seperti binatang yang merasa wilayah kekuasaannya diusik.“Taruhan?” ujarnya pelan, tapi setiap suku kata terdengar jelas ke seluruh aula.Alex tidak bergeming. Posisi duduknya tetap santai, satu tangan menumpu di sandaran, seolah-olah hal paling berbahaya di dunia ini hanyalah kebosanan. Mata di balik topeng emas itu tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun.“Ya,” jawab Alex, ringan. “Taruhan.”Beberapa kepala langsung saling pandang. Bisik-bisik kembali menetes ke udara seperti hujan jarum.“Dia gila.”“Dengan Han Yi? Baru saja menang dua batu… Meski yang pertama sampah, yang kedua belum tentu!”“Pria bertopeng ini… Siapa sebenarnya?”Han Yi mencibir kecil. “Kau ingin bertukar kartu atm denganku?”Alex mengangguk santai. “Jika batu terakhirmu tidak mengandung giok kualitas tertinggi. Sederhana saja, kau bisa minta apapun dariku.”Pelelang menaha

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   18. Pelelangan4.

    Suasana aula perlahan kembali bergerak, namun bukan menuju ketenangan. Justru, hawa tegang itu berubah menjadi rasa penasaran yang semakin menebal. Semua orang tahu badai belum selesai.Alex kembali duduk, santai seolah dua puluh juta tadi bukan apa-apa baginya. Di sampingnya, Clara masih terdiam. Namun sorot matanya tak lagi bergetar; kini digantikan ketenangan aneh yang tidak dimiliki orang pada umumnya.Han Yi, di sisi lain, masih berdiri. Dadanya naik turun. Kemenangan itu membuat kepalanya terasa ringan. Namun bagian terdalam hatinya baru saja mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman, rasa dingin yang tak bisa dijelaskan.Pelelang membersihkan tenggorokannya, berusaha melanjutkan tugasnya.“Selanjutnya,” katanya dengan suara sedikit bergetar. “Batu giok ketiga.”Sebuah batu berukuran sedang dibawa naik ke atas panggung. Permukaannya kusam, garis retakan terlihat di beberapa sisi. Sekilas, tampak paling buruk dibanding dua batu sebelumnya.Seketika bisik-bisik muncul.“Yang ini

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   17. Pelelangan 3.

    Suasana aula yang semula riuh, mendadak meredup sesaat. Beberapa kepala menoleh bersamaan ke arah ruang VIP nomor tiga. Tidak sedikit yang menelan ludah. Karena ungkapan itu memang provokasi yang jelas!Namun bagi Han Yi itu adalah tamparan telak di hadapan seluruh keluarga berpengaruh di kota Draken Wajahnya menegang, urat uratnya terlihat hingga berwarna merah padam!Ketika matanya menyipit tajam ke arah tirai VIP nomor tiga. Untuk pertama kalinya sejak awal pelelangan, ekspresinya benar-benar telah kehilangan kendali.“Apa katamu?” suara Han Yi rendah, namun mengandung tekanan dingin.Beberapa tetua keluarga Han langsung saling pandang.“Tu-tuan muda, tetap tenang, dia hanya ingin memprovokasi kita...” salah satu dari mereka berbisik, namun Han Yi mengangkat tangan, mencoba menghentikannya.Di sisi lain, bisik-bisik mulai berubah nada.“Berani sekali.”“Apakah keluarga Wine ingin memicu konflik terbuka?”Alex bersandar santai di kursinya secara santai. Di balik topeng emas, sudut b

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   16. Pelelangan 2.

    Riuh aula pelelangan belum mereda ketika angka sepuluh juta itu menggantung di udara. Beberapa orang bahkan berdiri setengah dari kursinya, seolah tidak percaya ada pihak yang berani berjudi sejauh itu hanya untuk sebuah batu giok yang bahkan belum dibelah.Pihak lelang menelan ludah. Tangannya yang memegang palu sedikit bergetar, namun wajahnya tetap profesional.“Vip nomor tiga… menawar sepuluh juta,” ulangnya lantang. “Apakah ada yang ingin menaikkan?”Sorot mata hampir semua orang otomatis tertuju ke ruang VIP nomor satu. Siapa lagi jika bukan Han Yi.Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke kursi, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran tangan. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya, tapi kali ini tidak lagi santai. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya."Sepuluh juta…"Bukan jumlah kecil, bahkan bagi keluarga Han. Terlebih lagi, ini baru batu giok pertama.“Orang di vip tiga itu…” gumam salah satu tetua keluarga Han dengan suara rendah. “Apakah keluarga Wine sudah kehilangan akal?”H

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   15. Pelelangan dimulai. Han Yi.

    Rendy menggeram marah. Suaranya menggema di area kasir, membuat beberapa tamu menoleh dengan ekspresi tidak senang.Rendy ingin mengejar, namun dua pria bertubuh besar berjas hitam sudah berdiri di hadapannya, menghadang dengan sikap profesional namun mengintimidasi. Senyum pelayan sebelumnya menghilang, digantikan wajah netral.“Tuan muda,” kata pelayan itu tenang, “silakan selesaikan pembayaran. Atau kami akan memanggil manajer keamanan.”Wajah Rendy memucat. Harga yang tertera di layar kasir membuat napasnya tercekat. Angka itu… bukan sesuatu yang bisa ia bayar dengan mudah, bahkan dengan statusnya sekarang.*Keesokan harinya.Gedung Pelelangan Langit Antik berdiri megah di pusat kota Draken. Bangunannya menjulang dengan arsitektur klasik-modern, pilar-pilar marmer putih berpadu ukiran emas yang memancarkan kemewahan dan kekuasaan. Di sinilah, kekayaan dan pengaruh diuji bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan angka dan keberanian.Mobil Clara berhenti di area VIP.Begitu me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status