LOGINRama dan Nadia menjalani rumah tangga yang penuh konflik sejak awal pernikahan. Meski sudah menikah, keseimbangan antara pasangan itu selalu goyah karena perbedaan status dan tekanan keluarga. Nadia, yang datang dari keluarga berada, sering menunjukkan sikap angkuh terhadap suaminya yang bekerja serabutan. Sementara Rama, meskipun mencintai istrinya sepenuh hati, sering kali merasa kecil dan kurang dihargai di dalam hubungan yang seharusnya hangat dan penuh cinta. Konflik itu memuncak saat ibu mertua mereka tiba-tiba datang. Alya, wanita cantik dan tampak jauh lebih muda dari usia aslinya, membuat Rama terkejut sekaligus canggung. Sikap penuh pesonanya menyisakan rasa tidak nyaman sekaligus keingintahuan di hati Rama, sementara Nadia terus memaksakan tuntutan tinggi pada suaminya setiap hari. Keberadaan Alya di rumah seperti mengaburkan batas-batas normal dalam hubungan keluarga, memicu ketegangan yang tak terduga.
View MoreSetelah makan malam yang hangat, aku berniat membantunya mencuci piring. Ia melarang dengan kelembutan yang khas, jadi aku hanya berdiri di dekat wastafel, sekadar menemaninya. Sesaat, segalanya terasa indah. Seperti pasangan biasa di dapur kecil yang sunyi. Kami seolah lupa pada realita yang menjerat; lupa bahwa kami adalah mertua dan menantu. Namun, fatamorgana itu pecah saat aku melihat Nadia pulang. Langkahnya tergesa, kedua tangannya penuh dengan jinjingan belanjaan bermerek. Banyak. Terlalu banyak untuk sekadar kebutuhan. “Kamu baru pulang?” tanyaku spontan. Ia melangkah masuk tanpa sedikit pun menoleh, seolah aku dan Alya hanyalah perabot tak bernyawa di ruangan itu. “Ya, kelihatannya?” jawabnya sinis. Nada suaranya sedingin es, menusuk tepat di ulu hati. Aku menarik napas panjang, mencoba memilin sabar yang mulai menipis. Alya yang berdiri di sampingku tampak gelisah, auranya berubah tegang. “Kamu kenapa, Nad?” tanya Alya hati-hati. Ia jelas terusik melihat s
Sementara itu, di Kuala Lumpur, udara di dalam ruang kerja megah itu terasa berat. Tan Sri pria dengan kharisma yang biasanya tak tergoyahkan kini tampak gelisah. Ia mondar-mandir di balik meja besarnya, ponsel digenggam erat. Setelah beberapa kali panggilan tak terjawab, akhirnya sambungan itu tersambung. “I-iya, Tuan. Suatu kehormatan bagi saya menerima telepon dari Tuan,” suara di seberang terdengar kaku, penuh kehati-hatian. Tan Sri mengembuskan napas kasar, amarahnya tertahan di ujung suara. “Ke mana saja Anda?” katanya dingin. “Saya menelepon berkali-kali, tapi Anda memilih diam. Dan ini balasan setelah saya mempercayakan pengadaan unit motor kami kepada perusahaan Anda?” "Maaf, maaf seribu maaf, Tuan. Saya sedang berada di Singapura mengurus cabang lain. Ada yang bisa saya bantu? Apa pegawai yang saya utus ke sana melakukan kesalahan fatal sehingga Tuan menelepon saya secara pribadi?" Yuda, bos Rama, menjawab dengan suara tergagap. Jantungnya berdegup kencang karena
Alya mencoba sekuat tenaga untuk tetap pada pendiriannya. Ia membuang muka, berusaha mengabaikan debaran jantungnya yang mulai tak beraturan. Namun, Rama yang sekarang benar-benar berbeda. Ia seolah ingin menebus dua hari diamnya Alya dengan serangan kasih sayang yang bertubi-tubi. Rama tidak melepaskan genggamannya. Ia justru menarik tangan Alya perlahan, lalu mengecup punggung tangan mertuanya itu dengan lembut dan lama. Matanya tetap mengunci pandangan Alya, memberikan tatapan teduh yang bercampur dengan bumbu kenakalan. "Katanya Ibu suka kalau Rama jadi laki-laki yang tegas? Sekarang Rama sedang tegas meminta maaf," bisik Rama, suaranya rendah dan serak, membuat bulu kuduk Alya meremang. Alya menarik tangannya, mencoba ingin terlihat galak. "Tegas bukan berarti boleh kurang ajar, Rama. Lepas, Ibu mau masak." "Masak apa? Masak air biar matang?" goda Rama sambil terkekeh pelan. Ia justru melangkah maju lebih dekat lagi, membuat jarak di antara mereka hilang. Rama me
Setelah pertengkaran hebat malam itu, Rama memutuskan untuk tak tidur di kamar utama. Ia memilih merebahkan tubuhnya di kamar tamu karena merasa terlalu muak dengan sikap Nadia yang semakin hari semakin membuat kepalanya berdenyut. "Dia benar-benar menyebalkan," batinnya geram sebelum akhirnya kelelahan menyeretnya masuk ke alam mimpi. Dua hari telah berlalu, dan roda kehidupan kembali berputar seperti biasanya. Rama sudah kembali masuk kerja, namun hatinya sama sekali tidak tenang. Ia dirundung rasa bersalah yang mendalam karena sejak bentakan malam itu, Alya terus bungkam. Mertuanya itu mendadak menjadi sosok pendiam dan menjaga jarak dari seisi rumah. Nadia, seperti biasa, bersikap acuh tak acuh. Saat melihat Rama tampak lesu dan gelisah memikirkan sikap ibunya, Nadia hanya berkomentar ringan tanpa beban. "Biarin aja, Mas. Nanti juga bicara sendiri. Ibu emang suka gitu, kok, marah sendiri terus nanti biasa lagi dengan sendirinya," ucap Nadia santai sambil terus fokus p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews