MasukRama dan Nadia menjalani rumah tangga yang penuh konflik sejak awal pernikahan. Meski sudah menikah, keseimbangan antara pasangan itu selalu goyah karena perbedaan status dan tekanan keluarga. Nadia, yang datang dari keluarga berada, sering menunjukkan sikap angkuh terhadap suaminya yang bekerja serabutan. Sementara Rama, meskipun mencintai istrinya sepenuh hati, sering kali merasa kecil dan kurang dihargai di dalam hubungan yang seharusnya hangat dan penuh cinta. Konflik itu memuncak saat ibu mertua mereka tiba-tiba datang. Alya, wanita cantik dan tampak jauh lebih muda dari usia aslinya, membuat Rama terkejut sekaligus canggung. Sikap penuh pesonanya menyisakan rasa tidak nyaman sekaligus keingintahuan di hati Rama, sementara Nadia terus memaksakan tuntutan tinggi pada suaminya setiap hari. Keberadaan Alya di rumah seperti mengaburkan batas-batas normal dalam hubungan keluarga, memicu ketegangan yang tak terduga.
Lihat lebih banyak“Mas, aku berangkat dulu, ya!”
Nadia berpamitan pada suaminya. “Bukannya ini hari Minggu, Nad? Setidaknya berikan waktumu sedikit untuk aku,” pinta Rama memelas, berharap istrinya mau mengalah. Mendengar perkataan sang suami, bukannya merasa bersalah, Nadia justru menatap tajam ke arahnya. “Terus kenapa kalau Minggu? Kamu lupa siapa yang sudah membangun rumah megah ini? Mobil dan semua isinya? Aku, kan? Ya kalau aku nggak kerja, gimana hidup kita? Aku nggak mau susah lagi, Mas. Udah, ah! Jangan ajak aku debat lagi!” Suara Nadia melengking, membuat Rama tak bisa berkutik sama sekali. Rama menghela napas panjang, memandang istrinya dengan getir. Pria 28 tahun itu hanya bisa pasrah. Ia bekerja sebagai sales yang gajinya tak seberapa. Sementara istrinya, Nadia, 25 tahun, cantik dan muda, bekerja sebagai sekretaris di sebuah kantor ternama di Indonesia. Awalnya Rama keberatan, tapi melihat keadaan rumah tangga mereka yang benar-benar pas-pasan, ia akhirnya mengizinkan—setidaknya sampai ia mendapat pekerjaan yang lebih layak. Saat Rama bersiap berangkat kerja, ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk. Tanpa menunda, Rama langsung menyambar ponselnya. Nama istrinya tertera di sana. “Mas, mamaku akan datang. Tolong siapkan kamar tamu, ya.” “Iya, Sayang.” Rama membalas tanpa penolakan. Lagi-lagi ia menghela napas, meratapi nasibnya yang terasa tak berpihak padanya. “Kapan ya aku punya pekerjaan yang layak?” gumamnya pelan sebelum akhir nya turun ke lantai bawah untuk membersihkan kamar tamu. Ting-tong. Bel berbunyi tepat ketika Rama selesai menata kamar tamu. Ia belum pernah bertemu ibu Nadia sebelumnya, karena saat mereka menikah, mertua perempuannya tak datang—katanya sedang menjalani pengobatan di Malaysia. Ceklek. Rama membuka pintu. Seketika matanya terpaku melihat perempuan muda dan cantik yang berdiri di depannya. “Maaf, siapa?” tanya Rama ragu. Perempuan itu tersenyum manis. Wajahnya kencang seperti gadis 25 tahun. “Kamu suami anak saya?” Rama mengerutkan dahi. Apa mungkin ia salah orang? “Perkenalkan, nama ibu Alya. ibu Nadia.” Tangannya terulur pada Rama. Mata Rama membulat. Ia benar-benar tak percaya. Bagaimana mungkin perempuan secantik itu adalah ibu istrinya? Kulitnya kencang, tubuhnya ideal—bahkan lebih sintal dari tubuh Nadia sendiri. “Ibu… ibu mertuaku?” Rama tergagap. Alya terkekeh pelan. “Iya, Nak. Memang kenapa? Ada yang salah?” Rama menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Bukan begitu, Bu… tapi Ibu kelihatan seperti anak gadis, nggak kelihatan seperti ibu-ibu.” Mendengar itu, Alya tertawa kecil, merasa terhibur. “Ah, kamu ada-ada saja, Rama,” balas nya,sambil menepuk kecil pundak rama. “Masuk, Bu. Oh iya… maaf, Rama nggak bisa nemenin Ibu. Rama harus segera berangkat kerja. Masuk saja, anggap rumah sendiri.” Setelah menyalami mertuanya yang masih muda dan cantik itu, Rama buru-buru pamit mengendarai motor bututnya. Ia memilih tetap bekerja—bisa saja ia libur, tapi ia merasa kecil di hadapan istrinya. Ia ingin bekerja keras agar suatu hari bisa memberi hadiah mewah untuk Nadia. Lagi pula, dengan adanya ibu mertua di rumah, ia merasa canggung. Lebih baik cepat berangkat. “Mertuaku mengandung Nadia umur berapa ya? Kok kayak kakak-adik, bukan ibu dan anak,” gumam Rama sepanjang jalan. Sesampainya di kantor, ponselnya kembali berdering—lagi-lagi Nadia. “Iya, Nad?” Rama menjawab cepat, karena kalau telat sedikit saja, Nadia biasanya langsung mengomel dan menuduhnya tak sayang lagi. Sejak saat itu, Rama selalu mengutamakan panggilan Nadia. “Mas, aku lupa beli bahan makanan lagi. Ibu sudah datang? Tolong beliin makanan, ya. Makanan jadi pun nggak apa-apa.” “Maaf, Sayang. Mas sedang di kantor, nant—” “Apa? Kamu berangkat kerja saat mamaku datang? Mas? Kok tega sih? Ngapain juga kerja di hari Minggu! Gajinya juga dikit! Mending libur aja sekalian!” Nadia langsung menyela dengan nada khasnya. Rama spontan menjauhkan ponsel dari telinganya. “Kamu juga kerja di hari libur, Nad…” “Ya aku beda, Mas! Bonusku bahkan lebih besar dari bonus kamu! Seminggu kamu kerja itu bonus sehari aku kerja, Mas!” Nada Nadia begitu angkuh, seolah semua pencapaian itu hanya dari dirinya. Rama mengepalkan tangan, menahan kekesalan. Namun ia tetap diam—karena ia mencintai istrinya. Ia hanyalah pria biasa yang bekerja serabutan sejak kecil. Sementara Nadia berasal dari keluarga berada—dibiayai kuliah oleh Alya, seorang janda kaya raya. Kenapa Nadia mau dengan Rama? Karena Rama tampan, gagah, dan berjiwa lembut. “Ya sudah, nanti Mas belikan pas pulang kerja, ya,” balas Rama lembut, berusaha menahan semuanya. “Ck! Udahlah, Mas! Gausah! Biar Mama aku suruh pesan makanan online aja!” Belum sempat Rama bicara, Nadia sudah menutup telepon sepihak. Rama hanya bisa menatap ponselnya sambil geleng-geleng kepala. Ia mengusap dada beberapa kali, berusaha menguatkan diri menghadapi Nadia—perempuan yang begitu ia cintai. Rama kemudian mengambil beberapa lembar brosur di kantor untuk ia bagikan di jalanan. Hari Minggu selalu ramai, maka ia ditempatkan untuk membagikan brosur. Ia memilih taman sebagai lokasi. Dengan ratusan brosur di tangan kirinya, ia mulai membagikan pada orang-orang. “Bapak, Ibu, bisa dilihat dulu,” ucapnya ramah. Tak sedikit gadis diam-diam mencuri pandang, terpesona oleh kegagahannya. “Pria itu kayak pemain film action Bollywood, ya?” bisik para gadis. Rama hanya menggeleng, geli melihat anak sekolah memandangnya penuh birahi. Saat sedang membagikan brosur, tiba-tiba matanya tertuju pada ujung seberang jalan. Ia menyipitkan mata, mencoba memastikan. “Astaga… Nadia?” ucapnya kaget. “Sama siapa dia?” Rama berjalan tergesa-gesa mengikuti sosok perempuan yang mirip Nadia. Namun ia kehilangan jejak. Bruk! “Duh!” Semua brosur berhamburan ke mana-mana, terbang terbawa angin. Rama terkejut,hampir terjatuh bersama seorang gadis yang tak sengaja ia tabrak.Ia mengambil foto itu, menyingkirkan pecahan kaca yang menghalangi gambarnya. Ia menatapnya kembali, menelisik dengan saksama. "Tapi ini sangat mirip dengan Ibu? Apa ini keluarganya juga? Tapi kenapa aku enggak pernah tahu?" ucapnya lagi. Keningnya menyengrit, merasakan kebingungan yang luar biasa. "Ah, sudahlah!" Akhirnya ia bangkit, meninggalkan foto itu tergeletak begitu saja di lantai. Setelah selesai mengeruk semua uang yang ada di lemari, Nadia melangkah keluar dengan senyum yang merekah. "Bi, tolong bersihkan pecahan kaca itu ya. Buang ke tong sampah, semuanya!" titah Nadia tanpa menatap sang bibi yang sedang mengepel lantai di lantai bawah. "Iya, Non!" Setelah selesai mengepel lantai yang luasnya minta ampun, Nunu langsung bergegas ke atas membawa sapu beserta pengki. Ia masuk ke dalam kamar Alya sambil menggeleng kecil. "Non Nadia ini sifatnya sangat jauh berbeda dengan Nyonya Alya," bisiknya sambil berjongkok memunguti beling ke dalam pengki. Ia sempa
Waktu seolah mengecil. Masa-masa mengunjungi toko bunga mendiang ibu Rama telah usai. Alya adalah orang yang paling berat melepaskan kenangan di sana. Ia menatap bangunan tua itu berkali-kali dengan pandangan berat, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil jemputan yang dikirim oleh Tansri. Di dalam mobil, keheningan menyelimuti. Alya menatap lurus ke arah jalanan Eropa yang mulai menjauh, hingga ia merasakan tangan hangat dan kekar Rama menyelusup masuk, menggenggam jemarinya erat. Alya menoleh, mendapati wajah Rama yang tampak gelisah. "Kenapa, Bu? Apa Ibu keberatan jika kita lanjut ke Malaysia?" tanya Rama pelan. Alya menggeleng pelan, namun kemudian mengangguk tipis. Rama mengernyit bingung. "Maksud Ibu?" "Sepertinya Ibu harus pulang duluan, Ram. Terlalu lama Ibu meninggalkan Nadia sendirian di rumah," ucap Alya lirih. "Ibu juga takut... bagaimana perasaan ibu tiri dan saudara tirimu nanti jika melihatmu datang bersama mertuamu, bukan istrimu?" Rama terdiam. Ia ingin m
"Ram, ah! Kamu ini kebiasaan!" desah Alya mencoba protes. Namun, alih-alih mendengarkan, Rama justru dengan sigap membopong tubuh sintal mertuanya itu. Alya kembali memekik kaget, jantungnya berdegup kencang antara takut dan gairah yang meluap. Rama melangkah mantap, seolah sudah hafal setiap sudut dan celah di dalam toko bunga peninggalan ibunya itu. Ia hendak membawa Alya masuk ke sebuah ruangan pribadi di bagian belakang, namun langkahnya terhenti seketika. Ting! Suara lonceng pintu depan berbunyi nyaring, menandakan ada pelanggan yang masuk. Alya mendesah kesal, segera merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Rama menurunkan tubuh Alya dengan berat hati, lalu menggandeng tangannya menuju bagian depan toko. Ternyata, sosok yang datang adalah Lucia. "Ram, halo..." sapanya dengan suara bergetar. Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi sisa-sian keangkuhan yang ia tunjukkan beberapa hari lalu. Alya, yang pada dasarnya tidak pernah benar-benar bisa membenci seseorang, langsun
Dua hari telah berlalu. Kondisi Rama membaik dengan cepat hingga ia diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Anehnya, sejak Lucia dipanggil oleh Tansri hari itu, wanita bule tersebut tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Bahkan saat Rama dan Alya mengunjungi toko bunga peninggalan mendiang ibu Rama, Lucia tetap tidak terlihat. Alya sempat ingin bertanya, namun rasa sungkan menahannya. Di hotel pun, Lucia seolah hilang ditelan bumi. Alya berusaha menepis prasangka buruk; ia tidak ingin memikirkan hal negatif tentang apa yang mungkin dilakukan besannya terhadap asisten tersebut. "Kenapa, Bu?" tanya Rama yang rupanya menyadari raut gelisah di wajah mertuanya. Alya menggeleng pelan, lalu jemarinya menyentuh satu tangkai bunga lili yang putih bersih. "gak apa-apa, Ram. Bunga ini cantik sekali..." "Bawa saja, Bu. Jika Ibu mau, aku akan memenuhi seluruh mansion kita dengan bunga lili seperti ini," sahut Rama sungguh-sungguh. Alya terkekeh, namun ia menyimpan kembali bunga
"Biasa saja dong natapnya, jangan begitu banget," ujar Alya pelan sembari menunduk. Pipinya terasa panas, bersemu merah karena malu. Menantunya itu menatapnya tanpa kedip, bahkan sampai melongo dengan bibir sedikit terbuka. "Tutup mulutmu, Rama!" ucapnya lagi. Ia masih tak berani membalas tatap
Rama duduk dengan tenang di sebuah restoran mewah, menikmati suasana yang sengaja ia ciptakan sendiri.. Sebuah ruang VIP di lantai atas sudah ia pesan—ruangan yang terhubung langsung dengan balkon luas, tempat langit malam terbentang dengan bintang dan bulan yang tampak begitu sempurna. Di sisi l
Rama menggeleng pelan. Ia menggenggam jemari Alya dengan lembut, menghapus bulir air mata yang jatuh di atas pipi mulus mertuanya itu. "Enggak, Bu. Tapi aku gak enak kalau harus selalu pakai black card beliau. Aku juga mau membuktikan semuanya bu. mau Sampai kapan aku harus diam saat terus-mener
"Mas, perusahaan pusat tahu soal dana itu! Dan Alex... Alex brengsek itu malah menghilang sekarang! Gimana ini, Mas? Aku bisa dipecat, bahkan bisa dipolisikan!" racau Nadia dengan suara melengking yang hampir memenuhi seisi kamar. Rama hanya menatap Nadia dengan pandangan dingin. Rasa kantuknya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak