Home / Urban / Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas / 6. Aku ingin mencari masalah denganmu?!

Share

6. Aku ingin mencari masalah denganmu?!

Author: Al_Fazza
last update Last Updated: 2025-12-09 18:18:33

Sekilas menatap wajah Alex yang tanpa ekspresi. Beberapa pelayan Clara seketika langsung berkomentar.

"Ka-kalung yang menyimbolkan kekuasaan itu!"

"Benar, konon harga kalung ini tembus lebih dari $10.000.000, tapi karena sebuah keserakahan tiba tiba kalung ini lenyap tak berjejak?! Seluruh penguasa negara sampai kini masih mencari simbol Ocean Naga Biru!"

Clara meraih kalung itu secara berhati hati. Penilaiannya tak mungkin salah, namun dia yang curiga mulai berkata.

"Dari mana kamu mendapatkan kalung ini?"

"Aku sepertimu, mampu menilai sebuah barang hanya dengan dua mata... Apa yang membuatmu begitu curiga? Sekarang kebetulan aku butuh uang, kalung ini berapa harganya?"

Clara terdiam sejenak, harga dimasalalu saja mencapai $10.000.000, setelah bertahun tahun kalung Ocean Naga Biru hilang, dan akan muncul kepermukaan. Maka nilainya pasti akan bertambah berkali kali lipat.

"Sesuai tebakan dari pelayan tokoku. Aku hanya bisa membelinya dengan harga $8.000.000, menurutmu bagaimana?"

Menggelengkan kepalanya pelan, mungkin Alex bisa dikatakan baru hidup di dunia baru ini. Tapi sebuah bisnis, dia juga memiliki ribuan toko sumber daya di dunia kultivator?!

"Melihat reaksi kalian, kalung itu pasti bisa bernilai lebih dari harga dimasalalu... Harga $20.000.000 aku akan melepasnya?!"

DEEEEEEEGH!

Beberapa pelayan toko itu merasa jantung mereka berhenti berdetak!

Jumlah harga yang disebutkan, itu total dari semua keuntungan pedagang di kota jalanan antik Wine Grace selama satu tahun?! 

"Setuju?!"

"Nona muda?!" para pelayan membantah.

Tapi keputusan pada akhirnya tetap dimiliki Clara. Dia mengeluarkan kartu vip Royal berwarna hitam. 

"Transaksi selesai di harga yang kau minta... Semua uangnya, ada didalam kartu ini... Pin angka 6666. Sekarang kau bisa menikmati hasil dari keberuntunganmu?!"

Dengan raut wajah sedikit kecewa, Alex yang menduga harga kalung melebihi nilai yang ia sebutkan mulai menarik nafas secara pasrah.

"Hanya sebuah kalung, dia bahkan tidak berpikir untuk membelinya... Dunia baru ini, sepertinya mudah untuk ku kendalikan dengan genggaman tanganku sendiri." Berkata dalam hati.

Sebelum ia pergi untuk ke kampus. Suara Clara menghentikan langkahnya.

"Transaksi kita begitu besar, dan kamu juga memberi keuntungan yang besar untuk tokoku, tidak berkenalan... Bukankah itu terlalu lancang? Siapa namamu? Kelak, jika ada masalah kau bisa cari aku... Wine Clara."

Melihat gadis itu memberikan jabatan tangan. Alex langsung menerimanya, dia tahu membangun hubungan ini merupakan jalan mudah untuknya dalam memperkuat posisinya hidup ditengah gelimpangan harta.

"Alex... Jika kelak, anda membutuhkan penglihatanku yang jeli, kau juga bisa cari aku..."

Berjalan keluar dari jalanan antik Wine Grace. Tak lama setelah lima belas menit menuju kearah kampus, seketika emosi Alex sedikit meledak?!

'RIP ALEX MENIPU DI JALANAN KOTA ANTIK, DARI TEMAN TERCINTA ABEL?!'

Tulisan itu terpampang jelas dipintu masuk kampus ternama di kota Draken. 

"Lihat itu Alex?! Kenapa dia masih hidup?"

"Sepertinya Abel salah menebak?! Sampah kampus kita kini tengah berdiri memperlihatkan urat urat kemarahannya loh?!"

KREEEEET!

Menarik papan spanduk itu. Alex yang tahu Abel lah pelakunya mulai berjalan membawa spanduk untuk meminta pertanggung jawaban.

"Menarik sekali?! Sudah tiga tahun lebih dia di tindas?! Melihat munculnya keberanian amarah di wajahnya, sepertinya dia akan melawan Abel?!"

"Keberanian dari mana dia ingin melawan Abel? Tidak memiliki latar belakang, melawan hanya akan menjadi petaka!"

Para mahasiswa mulai berkomentar. Tapi rasa gentar Alex menuju ke ruangan kelas.

BRAAAAAAK?!

Pintu ia dobrak sorot matanya yang tajam tertuju kearah Abel yang tengah berbincang dengan Djanu dan Ruyan!

"Eh lihatlah ekspresi sampah kelas kita?! Apa yang membuatnya datang dengan langkah semeriah ini?!"

"Alex?! Berani sekali kau menghancurkan pintu kelas! Apa kamu sadar, pintu kelas kita ini terbuat dari besi terbaik di kota Draken?! Menghancurkannya kau harus menggantinya!"

Beberapa pasang mata merasa kesal. Tapi Alex menyeringai dingin.

"Hanya pintu besi, berapa harganya?"

Pfffft!

Satu ruangan kelas, seketika menahan tawa mendengar ungkapan penuh kepercayaan diri dari Alex!

"Hahahaha! Bahkan kau membayar SPP selama satu semester saja tak mampu! Masih ngide ingin mengganti kerusakan pintu kelas? Alex kau sudah gila ya?!"

Berbeda dengan Abel, dia menyipitkan matanya melihat kemunculan Alex yang ia kira. Pemuda itu mungkin telah dihajar habis habisan oleh anak buah Clara.

"Kukira, kau sudah mati dihajar oleh anak buah nona muda Clara setelah menipu ditokonya... Ternyata nyawamu cukup tebal juga ya?" 

Abel berdiri dari atas meja, dia berjalan kearah Alex sembari menepuk bahunya.

"Sekarang, kenapa datang marah marah? Apalagi datang dengan cara merusak pintu. Apa kau tahu, dengan caramu ini, kau bisa dikeluarkan dari kelas?"

Berdecak kesal, Alex mulai menyingkirkan tangan Abel diatas bahunya dengan cepat.

"Persetan dengan harga pintu itu yang tak seberapa... Kau yang menciptakan spanduk ini kan?"

Abel mengangguk santai tanpa rasa bersalah.

"Lalu?"

"Tentu aku datang untuk mencari masalah denganmu?!" suara Alex dipenuhi nada tinggi.

Mendengar tantangan itu. Abel, bahkan seluruh mahasiswa didalam kelas mulai tertawa geli.

"HAHAHAHA!"

"Dia memiliki keberanian dari mana ingin mencari masalah dengan tuan muda Abel? Apa Alex tak sadar diri siapa dia?!"

"Dengar tidak, dia ingin mencari masalah denganku? Sepertinya kau memang harus kuhajar..." suara Abel terdengar dingin.

Hingga, Djanu dan Ruyan yang selalu ada disisi Abel mulai berdiri dari kursi. Tubuh keduanya yang kekar mulai berjalan kearah Alex.

"Sepertinya ada pertunjukan yang menarik?!"

Suasana semakin tegang, bahkan beberapa mahasiswa yang ingin melihat Alex dihajar, dan dipermalukan seperti sebelum belumnya langsung memperbaiki kerusakan pintu. Dan menguncinya rapat rapat!

"Kudengar nona muda Olivia tengah sibuk urusan bisnis keluarganya... Alex sekarang kau ingin mencari perlindungan kemana hah?"

Djanu mulai merenggangkan otot ototnya. Sama halnya dengan Ruyan yang tak sabar untuk menghajar wajah dari Alex.

Namun tanpa rasa gentar. Alex tak mundur satu langkahpun dari pijakannya.

"Kau kira, aku masih mudah ditindas seperti sebelumnya? Sekarang, minta maaf atas apa yang telah kalian lakukan padaku..."

"Minta maaf?! Hahaha! Kalian dengar sampah ini bicara tadi?" Suara tawa di kelas itu pun menggema, membuat telinga Alex seketika panas.

"Baiklah kalau itu mau kalian," ucap Alex sambil merenggangkan ototnya, "Jadi, siapa di antara kalian yang ingin aku patahkan tulangnya lebih dulu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   19. Pelelangan 5.

    Han Yi menoleh penuh ke arah VIP nomor tiga, ke arah pria bertopeng emas itu. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah atau tersinggung, tapi seperti binatang yang merasa wilayah kekuasaannya diusik.“Taruhan?” ujarnya pelan, tapi setiap suku kata terdengar jelas ke seluruh aula.Alex tidak bergeming. Posisi duduknya tetap santai, satu tangan menumpu di sandaran, seolah-olah hal paling berbahaya di dunia ini hanyalah kebosanan. Mata di balik topeng emas itu tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun.“Ya,” jawab Alex, ringan. “Taruhan.”Beberapa kepala langsung saling pandang. Bisik-bisik kembali menetes ke udara seperti hujan jarum.“Dia gila.”“Dengan Han Yi? Baru saja menang dua batu… Meski yang pertama sampah, yang kedua belum tentu!”“Pria bertopeng ini… Siapa sebenarnya?”Han Yi mencibir kecil. “Kau ingin bertukar kartu atm denganku?”Alex mengangguk santai. “Jika batu terakhirmu tidak mengandung giok kualitas tertinggi. Sederhana saja, kau bisa minta apapun dariku.”Pelelang menaha

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   18. Pelelangan4.

    Suasana aula perlahan kembali bergerak, namun bukan menuju ketenangan. Justru, hawa tegang itu berubah menjadi rasa penasaran yang semakin menebal. Semua orang tahu badai belum selesai.Alex kembali duduk, santai seolah dua puluh juta tadi bukan apa-apa baginya. Di sampingnya, Clara masih terdiam. Namun sorot matanya tak lagi bergetar; kini digantikan ketenangan aneh yang tidak dimiliki orang pada umumnya.Han Yi, di sisi lain, masih berdiri. Dadanya naik turun. Kemenangan itu membuat kepalanya terasa ringan. Namun bagian terdalam hatinya baru saja mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman, rasa dingin yang tak bisa dijelaskan.Pelelang membersihkan tenggorokannya, berusaha melanjutkan tugasnya.“Selanjutnya,” katanya dengan suara sedikit bergetar. “Batu giok ketiga.”Sebuah batu berukuran sedang dibawa naik ke atas panggung. Permukaannya kusam, garis retakan terlihat di beberapa sisi. Sekilas, tampak paling buruk dibanding dua batu sebelumnya.Seketika bisik-bisik muncul.“Yang ini

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   17. Pelelangan 3.

    Suasana aula yang semula riuh, mendadak meredup sesaat. Beberapa kepala menoleh bersamaan ke arah ruang VIP nomor tiga. Tidak sedikit yang menelan ludah. Karena ungkapan itu memang provokasi yang jelas!Namun bagi Han Yi itu adalah tamparan telak di hadapan seluruh keluarga berpengaruh di kota Draken Wajahnya menegang, urat uratnya terlihat hingga berwarna merah padam!Ketika matanya menyipit tajam ke arah tirai VIP nomor tiga. Untuk pertama kalinya sejak awal pelelangan, ekspresinya benar-benar telah kehilangan kendali.“Apa katamu?” suara Han Yi rendah, namun mengandung tekanan dingin.Beberapa tetua keluarga Han langsung saling pandang.“Tu-tuan muda, tetap tenang, dia hanya ingin memprovokasi kita...” salah satu dari mereka berbisik, namun Han Yi mengangkat tangan, mencoba menghentikannya.Di sisi lain, bisik-bisik mulai berubah nada.“Berani sekali.”“Apakah keluarga Wine ingin memicu konflik terbuka?”Alex bersandar santai di kursinya secara santai. Di balik topeng emas, sudut b

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   16. Pelelangan 2.

    Riuh aula pelelangan belum mereda ketika angka sepuluh juta itu menggantung di udara. Beberapa orang bahkan berdiri setengah dari kursinya, seolah tidak percaya ada pihak yang berani berjudi sejauh itu hanya untuk sebuah batu giok yang bahkan belum dibelah.Pihak lelang menelan ludah. Tangannya yang memegang palu sedikit bergetar, namun wajahnya tetap profesional.“Vip nomor tiga… menawar sepuluh juta,” ulangnya lantang. “Apakah ada yang ingin menaikkan?”Sorot mata hampir semua orang otomatis tertuju ke ruang VIP nomor satu. Siapa lagi jika bukan Han Yi.Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke kursi, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran tangan. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya, tapi kali ini tidak lagi santai. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya."Sepuluh juta…"Bukan jumlah kecil, bahkan bagi keluarga Han. Terlebih lagi, ini baru batu giok pertama.“Orang di vip tiga itu…” gumam salah satu tetua keluarga Han dengan suara rendah. “Apakah keluarga Wine sudah kehilangan akal?”H

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   15. Pelelangan dimulai. Han Yi.

    Rendy menggeram marah. Suaranya menggema di area kasir, membuat beberapa tamu menoleh dengan ekspresi tidak senang.Rendy ingin mengejar, namun dua pria bertubuh besar berjas hitam sudah berdiri di hadapannya, menghadang dengan sikap profesional namun mengintimidasi. Senyum pelayan sebelumnya menghilang, digantikan wajah netral.“Tuan muda,” kata pelayan itu tenang, “silakan selesaikan pembayaran. Atau kami akan memanggil manajer keamanan.”Wajah Rendy memucat. Harga yang tertera di layar kasir membuat napasnya tercekat. Angka itu… bukan sesuatu yang bisa ia bayar dengan mudah, bahkan dengan statusnya sekarang.*Keesokan harinya.Gedung Pelelangan Langit Antik berdiri megah di pusat kota Draken. Bangunannya menjulang dengan arsitektur klasik-modern, pilar-pilar marmer putih berpadu ukiran emas yang memancarkan kemewahan dan kekuasaan. Di sinilah, kekayaan dan pengaruh diuji bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan angka dan keberanian.Mobil Clara berhenti di area VIP.Begitu me

  • Hidup Penuh Godaan Milik Alex Sang Penindas   14. Rendy yang arogan!

    Alex perlahan mengangkat pandangannya. Di hadapannya berdiri dua orang pria dan satu wanita, semuanya berpakaian mencolok, aroma parfum mahal bercampur anggur langsung menyergap. Wajah-wajah itu terlalu familiar diingatan tubuh asli.Yang berbicara barusan adalah Rendy mantan ketua geng populer di SMA mereka. Rambutnya kini disisir klimis, jam tangan emas berkilau di pergelangan tangan. Di sampingnya, Vera, gadis yang dulu selalu menertawakan sepatu Alex yang lusuh. Dua pria lainnya tersenyum sinis, jelas menikmati momen ini.“Benar-benar kau, ya?” Rendy tertawa kecil. “Aku hampir tak mengenalimu. Ternyata sampah sepertimu masih hidup?”Tawa mereka pecah."Hahahaha!"Clara yang duduk di seberang Alex langsung berhenti menggerakkan sendoknya. Ia menatap Alex sekilas, lalu menatap kelompok itu dengan senyum tipis, senyum yang terlalu tenang untuk situasi seperti ini.Alex menghela napas pelan. “Sudah lama, Rendy.”“Hah! Masih ingat namaku?” Rendy pura-pura terkejut. “Kupikir orang seper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status