MasukSetelah tiga debt collector pergi meninggalkan keduanya, lutut Olivia terasa begitu lemas. Alex pun segera memapahnya, lalu membawa gadis itu masuk kedalam rumah sederhananya.
"Olivia... Aku sangat berterimakasih padamu, jika tidak. Mungkin..." ungkapannya terpotong. "Alex aku hanya bisa membantumu sejauh ini... Mungkin sisanya." dia menundukan kepalanya. Karena uang $500.000 yang dia berikan pada debt colector, itu hasil menabung dari uang jajan sekolahnya. "Kau tenang saja, dua hari ini, selain aku akan melunasi hutang ayahku... Aku pasti akan mengembalikan uang jajan itu padamu, terima kasih." Gadis anggun dan cantik itu hanya mengangguk, tapi menurutnya mengumpulkan uang sebanyak itu sangat sulit. Apalagi dalam waktu dua hari. "Alex... Dua hari, itu waktu yang teramat singkat." KREEEET! Ditengah perbincangan, pintu terbuka tiba tiba, reflek Alex langsung berdiri dan memberi badan. Namun bukan tiga debt colector yang datang, melainkan pemuda dengan jaz mewah, mengenakan kacamata hitam muncul dari balik pintu. Dia adalah Agra, tubuhnya terlihat cukup bidang. Itu diartikan dia memiliki kemampuan khusus. "Dia Agra, asisten pribadi ayahku... Kamu tak perlu sesiaga itu..." Olivia bangkit, lalu menatap Alex sekilas dan akhirnya pergi. Tapi sebelum benar benar pergi. "Jaga diri baik baik..." Melihat Agra tidak mengikuti Olivia keluar dari rumahnya. Alex segera menatap pemuda itu dengan seksama. "Apa maumu?" Agra tersenyum tipis, bukan ancaman tapi seperti senyum penuh merendahkan. "Nona muda Olivia adalah pewaris resmi Perusahaan terbesar ketiga di kota Draken... Melihat rumahmu sekumuh ini, baiknya kau tahu diri... Karena kau tak pantas, mendapat perhatian darinya." Bruuuuuk! Melemparkan satu kartu hitam VIP royal keatas meja, Agra segera menjelaskan. "Didalamnya terdapat saldo lebih dari $1000, terima uangnya... Dan jauhi nona muda." Dengan gaya klasik, Alex mengibaskan tangannya. Hembusan angin keluar seketika, membuat kartu hitam itu terbang jatuh dihadapan Agra. . "Apa maksudmu?!" ungkap Agra merasa sedikit kesal. "Atau uang yang kau minta kurang?" lanjutnya cepat. "Kurang? Sepertinya kau salah duga. Karena bukan aku yang mendekati Olivia, tapi gadis itu yang selalu ingin nempel di sisiku... Agra, sepertinya Olivia sudah menunggu." sembari memberikan ejekan melalui senyum tipisnya. Wajah pemuda itu sedikit gusar, tapi benar yang dikatakan Alex. Olivia harus segera kembali ke apartemen untuk mengurus sesuatu. Setelah masalah kecil itu benar benar pergi. Alex mengamati langit langit rumah sederhana milik tubuh asli. Sejenak dia berpikir bagaimana cara membayar hutang milik ayahnya. Menatap kartu pemberian Wine Clara, sekilas Alex menimang nimang kartu hitam di tangannya. "Jalan antik Wine Grace, sepertinya satu satunya cara untuk mencari uang yang cepat, mencari barang antik ditengah barang tiruan pada zaman baru di dunia ini. Aku pasti bisa mendapat untung besar!" Memilih untuk bersikap seperti meditasi, duduk dengan kaki melipat. Kedua tangan dari Alex mulai bergerak searah jarum jam. Hal itu diikuti dengan munculnya udara hangat yang berkumpul mengitari tubuhnya. Udara hangat, dan terasa lembut itu bukan udara biasa. Melainkan energi Qi dari teknik yang dikuasai oleh Alex di kehidupan pertamanya. Satu jam setelahnya. Wuuuuuush! Menyelimuti energi Qi ke arah dua bola matanya, seketika sepasang matanya berpendar cahaya emas lembut. "Sudah saatnya beristirahat..." Pagi harinya. Membersihkan tubuhnya, lalu beranjak dari rumah sederhana mendiang ibunya. Alex berjalan dari komplek ke arah jalanan kota antik di kota Draken. Suasana pagi itu cukup ramai, dipenuhi hiruk pikuk aktivitas layaknya pada pagi hari. Tapi berbeda tujuan dengan Alex, dia tak datang ke kampus, ataupun untuk bekerja. Dia datang ke jalanan kota antik Wine Grace untuk menemukan keberuntungannya. "Bocah muda, ayo datang ke tokoku, disini banyak barang antik yang bahkan tidak dimiliki oleh toko lain! Datanglah kau pasti tidak akan menyesal." Mendengar penawaran yang terus berdatangan menyambut telinganya. Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya, hanya sekali lihat dia memang dapat menilai kualitas barang. Hingga, lima menit melihat lihat. "Ketemu..." Dia melangkah kearah penjual yang ada di pinggir jalan. Pria tua, berjanggut tebal berwarna putih itu menyeringai hangat kearahnya. "Baru kali ini, seorang pendatang tertarik pada dagangan barang antik di pinggiran jalan... Bocah, pandangan matamu sepertinya lebih baik dari orang orang kaya yang selalu menilai barang dari harganya..." ungkap kagum pria tua yang berjualan. Alex belum menjawab, sekilas pandangannya tertuju ke arah guci yang hanya terlihat terbentuk dari tanah liat. "Berapa harganya?" "$500 tanpa penawaran?!" pria tua langsung memberikan harga tingginya. Belum sempat menawar, suara pria yang sangat familiar muncul dari belakang. Dia Abel, entah karena takdir apa. Keduanya harus kembali bertemu. "Aiyaa pemuda miskin ini ternyata tidak datang ke kampus? Melainkan datang kemari untuk membeli sebongkah tanah liat tak berharga ini?!" Wajah pria tua menegang, merasa sedikit kesal. Tapi Alex sendiri mulai memberikan kartu vip royal pemberian Wine Clara kepada pria tua. "Di dalamnya ada uang senilai $1000... Kembalinya, kuanggap sebagai tips?!" Abel yang merasa tidak diperhatikan, mulai merasa kesal. Dia mencoba merebut guci tanah liat ditangan Alex secara cepat. "Kau memang bodoh, atau berpura pura bisa menilai sebuah barang? Ini hanya bongkahan tanah liat, dasar bodoh yang mudah di permainkan oleh orang lain!" "Tuan muda, untuk apa meladeni orang bodoh yang tak bisa menilai barang sepertinya? Baiknya sekarang kita pergi ke toko milik nona muda Clara. Kita harus menemukan hadiah untuk kakek anda. Biarkan sajalah pemuda ini, makan tanah liat seharga $1000 itu?!" Abel menyeringai dingin, "Kau benar... Makan saja tanah liat itu dasar sampah?!" Mereka menuju ke sebuah bangunan termewah di pusat jalanan antik kota Draken. Sekilas Alex tak merasa terpengaruh sama sekali. Tapi saat melihat ke arah pedagang tua, wajahnya berkedut seketika. "Di-di mana pria tua itu?!"Han Yi menoleh penuh ke arah VIP nomor tiga, ke arah pria bertopeng emas itu. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah atau tersinggung, tapi seperti binatang yang merasa wilayah kekuasaannya diusik.“Taruhan?” ujarnya pelan, tapi setiap suku kata terdengar jelas ke seluruh aula.Alex tidak bergeming. Posisi duduknya tetap santai, satu tangan menumpu di sandaran, seolah-olah hal paling berbahaya di dunia ini hanyalah kebosanan. Mata di balik topeng emas itu tidak menunjukkan kegelisahan sedikit pun.“Ya,” jawab Alex, ringan. “Taruhan.”Beberapa kepala langsung saling pandang. Bisik-bisik kembali menetes ke udara seperti hujan jarum.“Dia gila.”“Dengan Han Yi? Baru saja menang dua batu… Meski yang pertama sampah, yang kedua belum tentu!”“Pria bertopeng ini… Siapa sebenarnya?”Han Yi mencibir kecil. “Kau ingin bertukar kartu atm denganku?”Alex mengangguk santai. “Jika batu terakhirmu tidak mengandung giok kualitas tertinggi. Sederhana saja, kau bisa minta apapun dariku.”Pelelang menaha
Suasana aula perlahan kembali bergerak, namun bukan menuju ketenangan. Justru, hawa tegang itu berubah menjadi rasa penasaran yang semakin menebal. Semua orang tahu badai belum selesai.Alex kembali duduk, santai seolah dua puluh juta tadi bukan apa-apa baginya. Di sampingnya, Clara masih terdiam. Namun sorot matanya tak lagi bergetar; kini digantikan ketenangan aneh yang tidak dimiliki orang pada umumnya.Han Yi, di sisi lain, masih berdiri. Dadanya naik turun. Kemenangan itu membuat kepalanya terasa ringan. Namun bagian terdalam hatinya baru saja mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman, rasa dingin yang tak bisa dijelaskan.Pelelang membersihkan tenggorokannya, berusaha melanjutkan tugasnya.“Selanjutnya,” katanya dengan suara sedikit bergetar. “Batu giok ketiga.”Sebuah batu berukuran sedang dibawa naik ke atas panggung. Permukaannya kusam, garis retakan terlihat di beberapa sisi. Sekilas, tampak paling buruk dibanding dua batu sebelumnya.Seketika bisik-bisik muncul.“Yang ini
Suasana aula yang semula riuh, mendadak meredup sesaat. Beberapa kepala menoleh bersamaan ke arah ruang VIP nomor tiga. Tidak sedikit yang menelan ludah. Karena ungkapan itu memang provokasi yang jelas!Namun bagi Han Yi itu adalah tamparan telak di hadapan seluruh keluarga berpengaruh di kota Draken Wajahnya menegang, urat uratnya terlihat hingga berwarna merah padam!Ketika matanya menyipit tajam ke arah tirai VIP nomor tiga. Untuk pertama kalinya sejak awal pelelangan, ekspresinya benar-benar telah kehilangan kendali.“Apa katamu?” suara Han Yi rendah, namun mengandung tekanan dingin.Beberapa tetua keluarga Han langsung saling pandang.“Tu-tuan muda, tetap tenang, dia hanya ingin memprovokasi kita...” salah satu dari mereka berbisik, namun Han Yi mengangkat tangan, mencoba menghentikannya.Di sisi lain, bisik-bisik mulai berubah nada.“Berani sekali.”“Apakah keluarga Wine ingin memicu konflik terbuka?”Alex bersandar santai di kursinya secara santai. Di balik topeng emas, sudut b
Riuh aula pelelangan belum mereda ketika angka sepuluh juta itu menggantung di udara. Beberapa orang bahkan berdiri setengah dari kursinya, seolah tidak percaya ada pihak yang berani berjudi sejauh itu hanya untuk sebuah batu giok yang bahkan belum dibelah.Pihak lelang menelan ludah. Tangannya yang memegang palu sedikit bergetar, namun wajahnya tetap profesional.“Vip nomor tiga… menawar sepuluh juta,” ulangnya lantang. “Apakah ada yang ingin menaikkan?”Sorot mata hampir semua orang otomatis tertuju ke ruang VIP nomor satu. Siapa lagi jika bukan Han Yi.Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke kursi, jari-jarinya mengetuk pelan sandaran tangan. Senyum tipis masih menghiasi bibirnya, tapi kali ini tidak lagi santai. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya."Sepuluh juta…"Bukan jumlah kecil, bahkan bagi keluarga Han. Terlebih lagi, ini baru batu giok pertama.“Orang di vip tiga itu…” gumam salah satu tetua keluarga Han dengan suara rendah. “Apakah keluarga Wine sudah kehilangan akal?”H
Rendy menggeram marah. Suaranya menggema di area kasir, membuat beberapa tamu menoleh dengan ekspresi tidak senang.Rendy ingin mengejar, namun dua pria bertubuh besar berjas hitam sudah berdiri di hadapannya, menghadang dengan sikap profesional namun mengintimidasi. Senyum pelayan sebelumnya menghilang, digantikan wajah netral.“Tuan muda,” kata pelayan itu tenang, “silakan selesaikan pembayaran. Atau kami akan memanggil manajer keamanan.”Wajah Rendy memucat. Harga yang tertera di layar kasir membuat napasnya tercekat. Angka itu… bukan sesuatu yang bisa ia bayar dengan mudah, bahkan dengan statusnya sekarang.*Keesokan harinya.Gedung Pelelangan Langit Antik berdiri megah di pusat kota Draken. Bangunannya menjulang dengan arsitektur klasik-modern, pilar-pilar marmer putih berpadu ukiran emas yang memancarkan kemewahan dan kekuasaan. Di sinilah, kekayaan dan pengaruh diuji bukan dengan kekuatan fisik, melainkan dengan angka dan keberanian.Mobil Clara berhenti di area VIP.Begitu me
Alex perlahan mengangkat pandangannya. Di hadapannya berdiri dua orang pria dan satu wanita, semuanya berpakaian mencolok, aroma parfum mahal bercampur anggur langsung menyergap. Wajah-wajah itu terlalu familiar diingatan tubuh asli.Yang berbicara barusan adalah Rendy mantan ketua geng populer di SMA mereka. Rambutnya kini disisir klimis, jam tangan emas berkilau di pergelangan tangan. Di sampingnya, Vera, gadis yang dulu selalu menertawakan sepatu Alex yang lusuh. Dua pria lainnya tersenyum sinis, jelas menikmati momen ini.“Benar-benar kau, ya?” Rendy tertawa kecil. “Aku hampir tak mengenalimu. Ternyata sampah sepertimu masih hidup?”Tawa mereka pecah."Hahahaha!"Clara yang duduk di seberang Alex langsung berhenti menggerakkan sendoknya. Ia menatap Alex sekilas, lalu menatap kelompok itu dengan senyum tipis, senyum yang terlalu tenang untuk situasi seperti ini.Alex menghela napas pelan. “Sudah lama, Rendy.”“Hah! Masih ingat namaku?” Rendy pura-pura terkejut. “Kupikir orang seper







