Masuk" I think you need to be punished whore." turned around and pulled me with him, my hair still in his grasp. He pulled me up the stairs with him. My hands-on his trying to free my hair from his grip. He climbed up and stood near the last step and turned towards me. " Get ready wifey." He smirked while speaking. " I fall you fall jerk! " I whisper. He pushed me down releasing my hair. I fist both of my hands on either side of his shoulder and pull him down by pulling his coat. He stumbles because of my unexpected move and holds my waist by pulling me closer and supporting my head by placing his hand under it. I fall down with Jason on top of me.
Lihat lebih banyak# •Novel Seri 1
~ ~ ~ Bab 1: Sumpah Darah di Santa Cruz Santa Cruz, Kota Tanpa Hukum Santa Cruz, Kota Tanpa Hukum Langit di atas Santa Cruz tampak kelam, diselimuti kabut tipis yang menyatu dengan asap dari kebakaran akibat perang. Lampu jalan berpendar temaram, menciptakan bayangan panjang di trotoar yang dipenuhi noda darah yang mengering. Di Santa Cruz, setiap orang punya harga. Beberapa dibayar dengan emas. Beberapa dibayar dengan timah Panas. Kota dimana uang lebih berkuasa daripada hukum, dan peluru berbicara lebih keras daripada pengadilan. Polisi bukan penjaga keadilan, tapi pedagang nyawa. Hakim bukan pemutus hukum, tapi pelayan bagi siapa yang membayar lebih mahal. Di antara semua nama yang dikenal dalam dunia kriminal, ada satu nama yang menggetarkan siapa pun yang mendengar namanya: Rayder "Dagger" Bomb. Hanya dengan kehadirannya, udara di sekitar berubah tegang. Ia tidak perlu berteriak atau mengancam, tatapan dinginnya saja sudah cukup untuk membuat musuh berpikir dua kali sebelum bertindak bodoh. Dia bukan hanya seorang raja dalam dunia kejahatan. Dia adalah legenda. Dan malam ini, legenda itu akan membuktikan kenapa dia ditakuti. Eksekusi di Ruang Mewah Seorang pria berlutut di lantai marmer, tangannya terikat ke belakang. Wajahnya lebam, darah menetes dari hidung dan sudut bibirnya. Napasnya tersengal, matanya penuh ketakutan. Di depannya, Rayder duduk di kursi besar, menyilangkan kaki dengan santai. Tangan kirinya memegang segelas wiski, sementara tangan kanannya memainkan pistol Beretta 92FS emas yang berkilauan di bawah lampu gantung. Di sekelilingnya, beberapa orang berdiri tegap. Moya "Mago" Bomb, Killer "Ghost" Rivas, Sergio "Cazador", dan beberapa orang kepercayaannya menyaksikan dalam diam. Rayder menyesap wiski, lalu meletakkan gelasnya dengan tenang ke atas meja. Dia menatap pria yang berlutut itu dengan tatapan dingin. "Kau tahu aturannya." Suaranya dingin. "Emas atau timah panas." Pria itu menggigil. "Boss, tolong... Aku bisa memperbaikinya... Aku bisa—" BANG..!! Tembakan bergema di seluruh ruangan. Kepala pria itu terhempas ke belakang, darah dan serpihan otak menciprati lantai marmer putih. Tubuhnya jatuh ke samping, diam selamanya. Rayder berdiri. Dia mengeluarkan selembar kartu emas bertuliskan "Dagger Bomb", lalu meletakkannya di dada mayat itu. Sebuah tanda. Sebuah peringatan bagi siapa pun yang berani mengkhianatinya. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara. "kalian semua tahu aturan nya disini, Emas atau timah panas, ini adalah pesan bagi siapapun yang berani menghianatiku." dan berjalan ke arah jendela, menatap ke luar. Di luar sana, Santa Cruz terbakar oleh perang kartel dan darah. Dagger tidak selalu seperti ini. Dulu, dia hanyalah seorang anak kecil di desa kecil yang miskin. Dan semuanya berubah dalam satu malam. MALAM KETIKA DIA KEHILNGAN SEGALANYA. Beberapa Tahun Sebelumnya... (Santa Cruz, Wilayah Pedesaan, 9090) Rayder kecil duduk di depan rumah, menendang kerikil dengan bosan. Matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan jingga kemerahan. "Kemana perginya ayah 3 bulan belakangan ini?". dengan suara meratap. "Kapan Ayah pulang?" tanyanya kepada ibunya, seorang wanita dengan rambut hitam panjang dan senyum lembut. Ibunya tersenyum kecil. "Mungkin besok, Nak." TAPI BESOK TAK PERNAH DATANG. Sudah tiga bulan sejak ayahnya pergi ke kota, katanya untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi sejak saat itu, tidak ada kabar. Tidak ada surat. Tidak ada pesan. Rayder tidak tahu kalau hidupnya akan berubah selamanya malam itu. Api, Darah, dan Tangisan di Malam Hari Malam itu, Rayder terbangun oleh suara jeritan. Dia melompat dari tempat tidurnya dan berlari ke luar kamar. Ibunya berdiri di ruang depan, matanya penuh ketakutan. "Rayder, sembunyi!". Suara ibunya dengan penuh ketakutan. Tapi sebelum dia bisa bergerak, pintu rumah mereka dihantam keras. Lima pria bersenjata masuk. Mereka bukan polisi. Mereka bukan tentara. Mereka adalah orang-orang dari Kartel Gardigo. "Di mana suamimu?" salah satu pria bertanya dengan suara kasar. Ibunya menggeleng, suaranya bergetar. "Aku tidak tahu..." Salah satu pria menamparnya keras hingga dia jatuh ke lantai. Rayder berlari ke arahnya, mencoba melindungi ibunya, tapi seorang pria lain menariknya dan membantingnya ke dinding. "Jangan sakiti ibuku!" teriak Rayder, matanya penuh air mata. Tetapi mereka malah tertawa. Salah satu pria menodongkan pistol ke kepala ibunya. "Salahmu menikahi pria yang berutang pada kartel, perempuan jalang!" Rayder menjerit. "JANGAN!" BANG..!! Ibunya jatuh ke lantai, darah mengalir dari kepalanya. Dunia Rayder runtuh dalam sekejap. Rayder tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas. Hanya bisa menatap tubuh ibunya yang tak lagi bernyawa. Salah satu pria itu mengangkat pistolnya ke arah Rayder. "Bunuh bocah ini juga." Jari pria itu mulai menarik pelatuk. Dan kemudian— BANG! BANG! BANG! Darah & Peluru: Kedatangan Pamannya Para pria itu jatuh satu per satu, peluru menembus kepala dan dada mereka. Di ambang pintu, berdiri seorang pria berjas hitam. Mendoza "Sabio" Bomb, pamannya. Wajahnya tanpa ekspresi saat dia menembakkan peluru terakhir ke kepala pria yang membunuh ibu Rayder. Dia berjalan ke arah Rayder yang masih terduduk di lantai, menatap tubuh ibunya dengan kosong. "Bangun, aku terlambat, tak sempat menyelamatkan ibu mu." kata Mendoza. Rayder tidak bergerak, "Kenapa paman bisa ada disini." tanya nya dengan suara pelan. EMPAT JAM YANG LALU SEBLUM MENDOZA TIBA DI KEDIAMAN RAYDER. "Aku akan menjemput Rayder dan ibunya dan akan membawa mereka tinggal disini." kata mendoza kepada istrinya. "Siapa Rayder ayah?, kenapa dia harus tinggal disini?." tanya moya dengan datar, anak mendoza yang berusia 13 tahun. Mendoza diam sejenak, sebelum akhirnya dia menjawab. "Dia adalah sepupumu moya, anak dari paman mu yang tinggal di Cruel frost, tempat dimana ayah lahir." "Apakah Rayder akan baik-baik saja tinggal di sini?". Tanya istrinya kepada mendoza. Dengan suara datar Mendoza menjelaskan panjang. "Setelah ayah nya pergi ke sini untuk meminta bantuan dari ku 3 bulan yang lalu, aku tau dia tidak akan bertahan lama, kartel Gardigo terus mencarinya, aku harus membawa Rayder pergi dan mengajarinya banyak hal, sama seperti aku mengajari moya." (Kembali ke Mendoza yang berada di kediaman Rayder.) Mendoza menghela napas, lalu berjongkok di depan Rayder. "Dunia ini kejam, Nak. Kalau kau ingin bertahan, kau harus jadi lebih kejam dari siapapun." Dia meraih bahu Rayder dan sedikit mengguncangnya. "Bangun. Atau mati di sini." Rayder akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya yang tadinya penuh air mata kini kosong. Dia bangkit. Dan tanpa menoleh ke belakang, dia mengikuti pamannya ke dalam kegelapan malam. Malam itu, Rayder Bomb lahir kembali. ****************JASONA drop of cold sweat rolled down the back of my nape. I kept my eyes at her shivering form. Fear was evident in her eyes. I gulped trying to handle everything.My eyes met the same dark brown ones as I shift mine from her dread-crawled crystal ones.“Please don’t,” I said as sweat formed on my forehead. All he did was push her more into himself. I cringed looking at her like that. She was hurting. She tried hard not to give it out but I could read her eyes.She winced as his grip on her tightened leaving Bruises. The cops were long gone. I stood looking at her helplessly as tears rolled down her eyes. He pressed the cold metal more into her temple and she closed her eyes, gulping.“Leave her,” I almost pleaded. He made n
I sat down looking at the bouquet in my hand.White roses. I loved white roses. My favorite flowers actually. A smile adorned my face looking at the beautiful bunch of flowers. I looked up to see my reflection in the mirror. My hair was neatly wrapped in a bun. White. I stood up and looked at myself one last time. It was a princess gown. Much more beautiful than my first dress.My hand instinctively went on my three-month-old baby bump that was hidden in the layers of the dress.I was extremely excited to meet our little baby. Just six more months.“Court, ready?” I heard Lana’s voice from behind. I pushed the nervousness I was feeling away and smiled while nodding at her.She walked closer to me and looked at me, “you look gorgeous,” she said and smiled. “Now shall we?” She said, gesturing towards the door. I nodded.
Ten days had completely drained her out. She was extremely weak. Lucas had locked her up for ten days. She occasionally got any food. Even if she got any, most of the time, it would be bad. She didn't eat the majority of them because she didn't want to risk her pregnancy.He had tortured her mentally and physically. She looked nothing more than a corpse. She had lost a couple of pounds and looked extremely skinny.Jason on the other hand was searching for her everywhere.When she disappeared ten days ago, he rushed to Micheal's old place to look for her. Lizzy had called him and informed him.Both Maya and Jason looked for her everywhere in the house but they didn't find her. But they did find something else.Maya was looking in the drawers if she could find anything but she got her hands on the pregnancy test kits. She pulled all of them and looked at them.Two of them w
She walked closer to him. He laid on his stomach, exposing the welts he inflicted upon himself.Well, it was too much for Courtney in one day. She wasn't expecting him to do something like this.Her gaze assessed his wounds one by one. She cringed as she noticed how deep and scary the marks were.When Jason didn't return for long, Courtney searched the entire mansion with Maya's help. When she opened the door to the room he was in, she screamed looking at him like that.Maya on the other hand was strong enough for both of them. With Tom's help, they bought him back to his room. Later, a doctor was informed and he treated Jason.She sat down on the edge of the bed. She was holding back the tears that were threatening to spill. She slowly moved her hand to his back and traced out his wounds. When her soft fingertips contacted with his welts, he hissed in pain and she immediately retra
It was all over the TV. A dangerous young man on the run. Everyone was alerted. Description of the young man was announced and posters were also pasted.But everyone took that seriously. Courtney walked out of her house and headed to her school
Jason decided to go back a lot sooner than he thought he would. He preponed his flight to two days before when he thought it was a waste of staying back. Not waste exactly but because of her.She was a constant reminder of Courtney for him. He has always had one
InezI was late for work today. I barged into people just to get to the elevator before its door closed. I was really late. I was hoping I don’t get another warning. I was late for the second time this month. I was panting. Running in heels
COURTNEY"Thank you,"I said to the mailman while receiving the package.It was for Jason
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan