LOGINMatured content. "Why...are.. you looking at me that way?" Emily stuttered. "I want to kiss you so bad." "I.I...me..." Have you ever been lied to? Have you ever tried to change someone? Have you ever thought you knew someone but found out things were not how it seemed? Emily Riverstone finds out that her new boyfriend happens to be the owner of a multi billionaire company and had been hiding his indentity from the world and even from her. Will she be able to overcome the consequences that comes with knowing the truth or will it be the death of her.
View MoreSilvana tidak yakin jam berapa saat itu, tapi yang pasti sudah masuk tengah malam nampaknya. Silvana merasa kelelahan, kakinya bahkan terasa seperti jelly yang menumpu pada jalanan aspal yang dia tapaki saat dirinya berjalan pulang menuju ke rumahnya. Tiba-tiba Silvana mendengar suara yang datang dari arah kanannya. Kedengaran seperti napas berat.
Dengan lugu, Silvana berpikir bahwa barangkali itu adalah suara orang yang terluka. Sebab suara itu terdengar seperti seseorang yang berjuang melawan rasa sakit.
Sampai tiba-tiba suara itu berubah menjadi erangan keras. Kaget, wajah Silvana jelas langsung memerah. Dia tidak bodoh, dia cukup tahu tentang hubungan pria dan wanita sehingga mudah baginya untuk menebak suara apa itu.Tanpa dia sadar, tubuhnya malah mendekat kearah sumber suara. Di sebelah kanannya memang kebetulan ada bar. Bar yang sebelumnya tidak pernah menarik perhatiannya sama sekali. Tapi suara itu justru berasal dari arah gang sempit diantara bangunan bar dengan pertokoan yang sudah tutup malam itu. Suara erangannya makin mengecil, dan terdengar seperti suara seorang wanita. Rasa penasaran menguasai dirinya, seberapa bagusnya permainan si pria sampai bisa mampu membuat suara erangan seperti itu?
Silvana tahu bahwa dia sudah melakukan hal yang tidak terlalu bagus sekarang. Dia yang mengendap dan merayap mendekati gang tersebut dan mengintipnya adalah hal random yang seumur hidup tidak pernah dia pikirkan.Dan dia melihatnya, dua siluet yang terkena cahaya bulan. Bersandar pada dinding dan mereka terlihat begitu liar.
Si wanita terlihat makin merapat ke dinding, napas mereka memburu, erangan si wanita semakin keras lagi namun bibir wanita itu ditutup rapat oleh satu tangan si pria. Meredam suaranya agar tidak terdengar, tapi mereka tidak tahu bahwa aksi keduanya telah disaksikan oleh Silvana.
“Fuck….” Suara baritone si pria mengerang. Silvana kontan merasa menggigil, rasanya suara itu seperti merayap naik dan juga turun dari sekitar tulang punggungnya. Dia mengenal suara itu.
Wanita yang sibuk dia gagahi terus mendesis, tapi Silvana tidak peduli sedikitpun padanya. Dia lebih tertarik memastikan pria yang membuat tubuhnya terasa membeku ditempat. Gadis itu merayap lebih dekat, sedekat yang memungkinkan untuk tidak dapat disadari kedua orang itu, namun cukup untuk menuntaskan kecurigaannya. Pria itu punya kulit sewarna perunggu dengan kedua kakinya yang berotot. Silvana melihat tas selempang yang terlempar dibawah kakinya, itu milik Sir Leon. Seratus persen Silvana bisa memastikannya karena dia selalu memperhatikan dosen tampannya itu dan menganalisa penampilannya setiap hari.
Ini tidak benar! Seorang pria yang terhormat di kampus mereka sebagai seorang pengajar melakukan hal seperti ini di muka umum. Dia bertaruh bahkan bila dia menceritakannya pada Jiyya gadis itu pasti akan memukulnya dibandingkan mau percaya. Ini moment pribadi, dia harusnya segera pergi sekarang sebelum mereka berdua tahu bahwa ada seorang gadis muda menonton kegiatan mereka seperti ini. Tapi meski punya pikiran sewaras itu, Silvana malah tidak bisa beranjak dari sana.
Sebaliknya, gadis itu malah meneliti tubuh sang dosen saat dia sibuk dengan wanita-nya malam ini. Silvana tertegun akan setiap lekukan ototnya yang tidak terhalang kemeja sialan yang dia kenakan setiap kali mengajar. Khusus malam itu Sir Leon menggulung kemejanya hingga ke siku dan tidak dia duga bahwa ada bekas luka yang tersebar disana, anehnya itu malah membuat pria itu tambah terlihat seksi. Silvana terpesona, dan tergelitik untuk tahu lebih banyak. Sebab meski pasangannya sudah berantakan, Sir Leon masih tetap berpakaian utuh kecuali bagian celananya yang sedikit melorot.
Sensasi aneh muncul diperut Silvana. Rasa panas malah menjalar kebagian bawah tubuhnya. Sial, dia malah terbawa suasana. Ini menjijikan, pikirnya. Gadis itu memutuskan untuk beranjak darisana. Tapi baru beberapa langkah dia malah mendengar suara tubuh yang melekat dan saling menampar, menggema di udara.
“Kau begitu panas,” ujar pria itu.
Wajah Silvana merah padam mendengar suara Sir Leon dari balik gang sempit itu. Lagi, dia malah melakukan kesalahan dengan berbalik menyaksikan mereka berdua disana. Suara Sir Leon seolah menyuruhnya untuk tetap berada disana dan menyaksikan semuanya hingga tuntas.“Kau sempurna, aku tahu sejak aku melihatmu. Ah!” Wanita itu berteriak, Silvana tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya tapi yang jelas gesture tubuh wanita itu benar-benar menandakan bahwa dia telah dimabuk oleh kenikmatan. Mereka terlihat saling terpuaskan satu sama lain dalam puncak gelombang yang diraih bersamaan.
Seluruh tubuh Silvana tergelitik lagi melihat adegan panas itu. Silvana tidak tahu siapa perempuan itu, tapi gadis itu iri mengingat betapa beruntungnya dia mendapatkan Sir Leon pada dirinya.
Sebelumnya Silvana memang tertarik pada dosennya dan sempat mengubur keinginannya mendekati pria yang lebih dewasa darinya itu. Tapi setelah ini sepertinya dia harus menarik kembali ucapannya untuk melupakan Sir Leon. Bahkan detik ini juga, Silvana merasakan adanya gelombang kecemburuan yang menerpa dirinya.
“Sangat hebat,” komentar si wanita. Ada sedikit desahan yang dibuat-buat disana.
“Aku hanya melakukan apa yang biasa aku lakukan,” balas Sir Leon. Suaranya lebih serak daripada biasanya, sekali lagi Silvana merasa perutnya melilit.
Silvana masih mengamati mereka, terutama Sir Leon yang kini sudah merayap mengambil sesuatu dari tas selempangnya yang ada dibawah kakinya. Mengeluarkan sebatang rokok dan juga pematiknya sekaligus.
Pria itu menyalakan rokoknya. Wajah wanita yang menjadi teman mainnya sedikit buram karena penerangan yang minim. Tapi Silvana optimis bahwa wanita itu tidak lebih cantik darinya. Kenapa harus dia yang punya kesempatan seperti itu dengan Sir Leon yang dia kagumi?Tapi perhatiannya teralihkan pada Sir Leon yang sedang mengulum rokoknya. Lalu menggerakan tangannya untuk mengambil rokok yang dia hisap dari mulutnya. Anehnya pergerakan kasual itu jadi terlihat sensual sekarang. Kenapa Silvana baru menyadari semua itu sekarang?
Belum lama kekaguman merajai, rasa panas oleh amarah mematiknya lagi. Terjadi tepat ketika Sir Leon dengan lembut meletakan rokok bekas mulutnya kepada wanita itu sembari menepuk kepalanya dengan penuh sayang. Seperti perlakuan yang pernah Sir Leon lakukan pada Silvana saat dia berhasil mendapatkan nilai sempurna dalam ujiannya yang super sulit.
“Kita akan bertemu lagi?” Wanita itu bertanya penuh harap, menghisap rokok yang diberikan oleh Sir Leon seolah takut rokok itu akan diambil kembali olehnya.
“Entahlah,” balas Sir Leon, pria itu menyelempangkan tasnya lagi ketubuh tegapnya dan kemudian berjalan kearah sebaliknya. Meninggalkan si wanita begitu saja. Silvana cukup beruntung dosen tampannya itu tidak mengambil jalan menuju kearahnya.
Tapi selepas dia pergi dan melihat wanita itu terkulai di gang sempit sambil menghisap rokok bekas Sir Leon membuat Silvana marah padanya tanpa alasan.
Dia merasa punya dorongan gila untuk mencabut rokok itu dari si wanita asing tersebut. Namun dia tahu, dia tidak mungkin melakukannya. Setelah semua adegan itu berakhir, pada akhirnya dia benar-benar memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulangnya yang tertunda.
Ini hari yang gila. Meski kakinya melangkah menuju kerumah, tapi pikirannya masih tetap berkelana pada setiap adegan yang dia lihat. Bahkan pada saat dia sampai didepan pintu rumahnya, masuk kedalam kamarnya. Gadis itu malah membayangkan dirinya yang ada diposisi wanita itu dan melakukannya dengan sang dosen.
Silvana sudah tidak waras, dia tahu. Baru siang tadi dia bilang bahwa Sir Leon menarik, malamnya dia malah mendapatkan pembuktian konkret. Padahal pagi tadi dia hanya senang membercandai Jiyya, dengan mengatakan pria yang lebih dewasa lebih berpengalaman. Pendapatnya tidak salah.
“Tontonan macam apa yang aku lihat barusan? Dia benar-benar sangat hebat!"Riverstone gritted his teeth as he stared at Emily, he had not expected Emily to slap him hard across the face, he was tempted to slap her right back but he refrained from doing it because he knew his actions would come with consequences as everyone in the room seemed to be looking at him in annoyance and disappointment.Well, what did they all expect? They carried on with their life like he didn't exist, like he wasn't part of the family or that he didn't contribute one bit to them being where they were right now. He had tried to get on with his life but by the time he was back things had changed, his house rent had expired and he was forced to live on the street for days, he tried to reach out to his wife Rose but each time she turned him down. Eventually, he had to look for an alternative, one that could give him money and take him back to his comfortable lifestyle."Alright young man, let's go inside and check on the new toy Dada bought for you," Chloe smiled at Nathan as she hel
"What the hell is he doing here?" Chloe barked staring at her mother in annoyance, she didn't even want to look at Riverstone again, the sight of him brought back memories into her head that she had started to forget about because she hadn't seen him or heard from him for a very long time.How could her mother do something like this? What was she thinking about bringing this man here? Emily was not aware of this, neither was Leonard because if Emily was, she would have had him kicked out the moment she set her eyes on him.After everything he had done to them, especially her mother, her mother was still able to bring him here."Calm down Chloe, I was going to discuss it with you and Emily, I just hadn't figured out how to put it to you both that me and your father are....""Don't call him my father," Chloe interrupted angrily. "After everything he has done to you...even if you wanted to see him so bad why did it have to be in this house... how did you even get him into this house?""Ch
Bella walked down the stairs to the dining as she noticed the dining was set with all sorts of delicacies Matilda and Cam were sited waiting for her to take a seat. Cam stood up when she was close by and helped her with her seat."Thank you," she appreciated him sitting down. She didn't know why but of late she was becoming selective about what she ate and the cooks just had to make different dishes and hope she at least picked one.It was so bad that the last time she told Matilda to make her rice and when the rice was eventually brought to her she refused to eat it.Sometimes she would cry for no reason at all, it was comforting to her that Cam was now with her and keeping a close eye on her and when he wasn't Matilda was there. She wanted to ask him what had happened to Gary or what was the nitwit's name but she decided not to bother about it as she didn't want to upset him more. He seemed angry at himself about the whole situation.She still couldn't believe her father would do s
"Hey, careful," Stone motioned Chloe slowly holding her as they stepped into the house. He stepped in staring at Emily and Cam discussing, it seemed they were aware he had stepped into the compound but decided to not leave what they were doing until they noticed Chloe was in serious pain.Emily rushed to Chloe's side realizing the bandage on her waist, what the hell happened to her? They had been gone for over two weeks and she is back worse than ever."What the hell happened to you?""Kyle stabbed me," Chloe cried."Kyle?" Emily said not believing any of it"let's get her to her room."Emily said to Stone as they held on to her leaving Cam alone, when they got to Chloe's room, Emily informed them that there was a party going on as regards the partnership between Dark Age and Klar and that Chloe and Stone might be home alone but first she had to inform Leonard."I won't be staying over," Stone announced."Okay," Emily replied."No, stay here. Please.." Chloe said not letting go of his
- LEONARD'S MANSION -- LEONARD'S OFFICE -"Dark Age are willing to accept the partnership deal," Mark informed Leonard in his office. He had driven here immediately after he got the paper work.Leonard stared at the paperwork they had mailed to the company, and it was well-detailed. Whoever wrote it t
"Hey!" Astrid yelled at Chloe as they pushed her into the ward. Where the fuck was Stone, and why wasn't he answering his darn phone? Hopefully, nothing will happen to Chloe, she thought. As she paced around in the reception with her blood-stain gown, she could see someone staring at her."What?" she
"Kyle," Chloe said, staring at him as they swayed around the dance floor swiftly. She kept her eyes fixed on him, but the young man didn't say anything, or was she wrong? She was not wrong because she knew what she was feeling right now, and only someone had that effect on her. How is he here now? S
Chloe, Astrid, and Stone walked into a masked ball, both ladies holding on to his side as they scanned the environment."Are you sure you are a size 8? This gown is fucking annoying," Astrid snapped. Despite her insistence to go home and change, Stone told her they didn't have time. He asked Chloe to












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews