LOGINShe wants nothing to do with him... He would be miserable without her. **** Meet Sophie Franklin, a fiercely independent fashion designer who lives in New York, and then there's Marcus Beadoux, a dashing prince with a secret. The two meet on an exotic island, sharing a passionate one-night stand, after which Sophie leaves without so much as a goodbye, unaware of each other's true identities. When they reunite in New York six months later, Marcus is engaged to another, and Sophie is tasked with designing his bride's dress. Sparks fly as they navigate the risky waters of forbidden love, keeping their past a secret from Marcus's fiancée, Sophie's family, and the ever-watchful eyes of the media. But what happens when they can no longer keep their relationship a secret anymore? When a heartbreaking revelation pushes Sophie into hiding, an unexpected discovery sets off a chain of events that will test their love to its limit. Will they triumph and overcome these challenges, or will it result in their downfall? Book 2 in the Franklin Sister Series.
View MorePintu besar rumah itu terbuka pelan, mengeluarkan suara decitan samar yang biasanya tak pernah mengganggu ketenangan malam. Rayhan yang tengah bersandar di sofa ruang tengah menoleh perlahan saat mendengar langkah ringan masuk ke dalam rumah.
Di ambang pintu berdiri Alesha. Wajahnya masih muda, polos, tapi Rayhan tak bisa mengabaikan perubahan yang jelas terlihat: gadis kecil yang dulu cerewet dan riang itu kini telah menjadi wanita muda dengan pesona yang tak terelakkan.
Dia membawa kantong plastik berisi bubur hangat dan obat-obatan. “Om Rayhan?” sapanya lembut, suara itu mengisi ruang hening dengan kehangatan yang aneh.
Rayhan menghela napas panjang. Tubuhnya masih terasa lemah, demam yang menghantui dua hari terakhir ini belum sepenuhnya pergi. Tapi tatapannya tak bisa lepas dari sosok Alesha yang berdiri di hadapannya.
Kaos putih tipis yang dikenakannya menempel pada lekuk tubuhnya, memperlihatkan garis halus yang tak bisa dipandang sebelah mata. Celana jeans robeknya membuat Rayhan sadar betapa gadis itu sudah tumbuh jauh dari masa kecilnya.
Dia berusaha mengalihkan pandangan, tapi pikirannya berontak, membawa dia ke tempat-tempat yang tak pantas.
“Lesha ... kamu?” suara Rayhan serak, setengah tak percaya.
Alesha tersenyum, senyum yang dulu sering dia lihat saat kecil, tapi kini terasa berbeda. “Om Rayhan, aku bawain bubur. Kata Zira Om sakit?”
Rayhan mengangguk pelan, berusaha menghilangkan rasa malu yang tiba-tiba muncul di dadanya. Wajahnya memang pucat, tubuhnya lemah, dan bukan hanya karena sakit—ada sesuatu yang jauh lebih berat bersemayam di dalam dada.
Saat Alesha duduk di sebelahnya dan mulai membuka bungkus bubur, Rayhan tak bisa mengalihkan pandangannya. Wajah polos itu, rambut yang dikuncir rapi, lengan yang tertutup kaos tipis. Namun, keindahan tubuhnya sudah tak bisa disangkal.
Rayhan menghela napas, lalu lirih berkata, “Lidah aku … terasa pahit, Lesha.”
Alesha menatapnya penuh perhatian, lalu tersenyum lembut. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sendok dan mulai menyuapi bubur ayam hangat itu ke mulut Rayhan.
Jarak wajah mereka begitu dekat, hanya sejengkal. Rayhan menahan napas, berusaha mengendalikan gemuruh yang menggelegar di dadanya.
Rayhan menutup mata sejenak, merasakan hangatnya bubur yang perlahan mengusir pahit di lidahnya. Sentuhan lembut Alesha saat menyuapi membuat dadanya berdebar. Ia berusaha menenangkan diri, berulang kali mengingatkan diri bahwa ini hanya perhatian seorang gadis muda pada pria yang sedang sakit.
Namun, tiap kali pandangannya bertemu dengan mata jernih Alesha, ada sesuatu yang tak bisa ia bendung—campuran antara rasa rindu lama dan gejolak yang tak seharusnya ada.
“Alesha ....” Suaranya pelan, hampir tak terdengar.
“Ada apa, Om?” tanyanya dengan penuh kepedulian.
Rayhan menggeleng, menarik napas panjang. “Tidak apa-apa. Hanya … aku sudah lama tidak merasa sebegini lemah.”
Alesha menggenggam tangan Rayhan sejenak, memberi kekuatan tanpa kata-kata.
Suasana seketika terasa hening, namun hangat.
Di tengah keheningan itu, Rayhan merasa ada jarak yang harus dijaga, namun sulit untuk tidak merasakan kehadiran Alesha yang semakin dekat.
Rayhan menunduk, mencoba menyembunyikan wajah yang memerah.
Dia pria kepala empat, ayah dari sahabat Alesha. Seharusnya perasaannya tak boleh sampai sedalam ini.
Tapi entah mengapa, kehadiran gadis itu mengacaukan segalanya.
Saat dia menatap ke bawah, terpeleset pandangannya pada bagian dada Alesha yang samar terlihat lewat leher kaosnya yang sedikit melorot. Mata Rayhan langsung menutup, jantungnya berdegup kencang.
“Apa ini ...?” gumamnya dalam hati.
Ia tahu ini salah. Sangat salah.
Namun tubuh dan pikirannya seperti sedang bertarung, antara apa yang benar dan apa yang diinginkan.
“Om, kamu sudah minum obat?” tanya Alesha polos, mengembalikan Rayhan ke kenyataan.
Rayhan menggeleng pelan. Ia tidak sanggup menjawab lebih banyak.
Alesha menuntunnya duduk kembali di sofa, merapikan selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Perhatian gadis itu membuat dada Rayhan terasa sesak.
“Besok aku datang lagi, ya, Om. Aku janji,” ucap Alesha, suara lembut penuh ketulusan.
Rayhan mengangguk, tanpa mampu berkata apa-apa.
Ketika pintu rumah itu tertutup dan suara langkah Alesha menjauh, keheningan melingkupi rumah mewah itu.
Tapi dalam keheningan itu, pikirannya malah bertambah gaduh.
Bayangan Alesha—kaus putih tipis, jeans ketat yang memperlihatkan lekuk pinggulnya, aroma vanila lembut yang masih tercium samar di udara—menghantui setiap sudut pikirannya.
Dia mencoba menarik napas dalam-dalam, meremas tangan sendiri, berusaha mengusir gelombang rasa yang membingungkan itu.
“Lo harus waras, Rayhan,” ia bergumam pelan.
Tapi, bagaimana bisa waras jika gadis itu datang lagi besok, dan lusa, dan entah sampai kapan?
***
Keesokan Harinya,
Rayhan duduk di sofa ruang keluarga, tubuhnya masih lemah, wajahnya yang biasanya tegas tampak pucat dan penuh ketidakberdayaan.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya meski suhu ruangan cukup sejuk. Pagi itu, suasana rumah terasa hening, hanya suara jam dinding dan hembusan angin kecil di jendela.
Ketukan pintu pelan terdengar. Rayhan menoleh, melihat Alesha berdiri di ambang pintu dengan wajah cerah.
“Selamat pagi, Om. Pasti belum sarapan, ya?” sapanya ceria.
Dia membawa sebungkus bubur hangat dan nampan kecil berisi teh manis. Gerakannya lincah dan ringan, hampir seperti menari saat ia melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan.
Rayhan mengamati Alesha dari balik sofa, hatinya sedikit tergerak oleh kehangatan yang berbeda di udara pagi itu.
Saat Alesha selesai menata meja, Rayhan memberanikan diri bertanya, “Lesha, kamu ... kok pagi-pagi sudah datang? Bukannya pagi ini kamu ada kuliah?”
Alesha tersenyum kecil, sedikit ragu, lalu menatap Rayhan dengan mata teduhnya. “Aku kan cuma ada kuliah dua hari dalam seminggu, Om. Hari ini aku sengaja datang lebih pagi, aku pengen jagain Om, biar gak sendirian.”
Rayhan mengangguk pelan, tapi dalam hatinya bertanya-tanya.
Beberapa saat kemudian, saat mereka selesai makan, Rayhan mencoba membuka pembicaraan yang sudah lama mengganjal.
“Kamu ... nginep di sini?”
Alesha tertawa kecil, menatapnya serius. “Iya, Om. Aku janji sama Zira buat jagain Om sampai Om sembuh. Aku juga kasihan Om sendirian di rumah besar ini.”
Rayhan menelan ludah, dadanya tiba-tiba sesak.
Dua hari.
Dua hari bersama Alesha.
Berdua.
Perasaan yang mulai bergejolak di dadanya semakin sulit ia kendalikan.
Rayhan menelan ludah, dada sesak. Ia sadar, ia harus menjaga jarak. Tapi hatinya seperti memberontak.
Apa yang harus dia lakukan?
Bagaimana jika perasaan ini terus tumbuh?
Malam itu, Rayhan kembali duduk sendiri di ruang tengah. Tangannya gemetar, ia memegang gelas air dingin erat-erat.
“Alesha sudah bukan anak kecil lagi,” bisiknya lirih.
Dan dia ... pria yang harus bertanggung jawab, bukan terjebak dalam gejolak perasaan yang berbahaya ini.
Tapi apakah hatinya akan sanggup bertahan?
---
The moonlight bathes the lake in a soft, silvery glow, casting shimmering reflections across the water's surface. Standing at the edge of the lake, I watch as Marcus dives into the water, his laughter echoing through the night air. Part of me wants to join him, to let go of my inhibitions and dive into the cool embrace of the lake. But another part of me hesitates, afraid of getting wet and making a fool of myself."Come on, Sophie! The water feels amazing!" Marcus calls out, splashing playfully.I smile nervously, shaking my head. "I don't want to get wet," I reply, my voice barely audible over the gentle rustle of the leaves.Marcus pouts, pretending to be hurt. "Fine, I guess I'll just have to swim all by myself," he says, turning away from me with mock disappointment.My heart sinks at the thought of Marcus swimming alone, and before I can stop myself, I reach out to grab his arm. "Wait, Marcus! I didn't mean it like that," I stammer, feeling a blush creep up my cheeks.He turns b
After hours of anxiously waiting for Marcus to arrive, I hear the familiar rapping at my windowsill, and my heart skips a beat before thrumming in excitement. Marcus is here. Without even thinking about it, I jump out of my bed and hurry to the window, flinging it open to the window balcony where Marcus is standing, watching me.His hair tousled and the moonlight shining against his face, Marcus looks even more breathtaking than I've ever seen him. I suck in a breath, doing my best to calm the racing of my heart. Growing shy all of a sudden, I feel like a schoolgirl about to meet a boy, and the two of us nervously exchange greetings."Hey..." I mutter, wringling my hands behind my back as he takes a step toward me, his heavy breathing in rhythm of my heartbeat."Hi, yourself." He mutters as he walks close to me, his eyes glinting with gladness and something I couldn't quite decipher."Took you long enough." I mumbled with a mock frown and watched as the smile on his face grew wider. "
"Is it just me or do you seem really close with the fashion designer?" Aida asks as I walk past her. I pause in my tracks, turning back to look at her, my heart skipping a beat at her question. I had been so deep in my thoughts, I hadn't noticed her at all in the hallways. Her back is still turned to me, but she slowly turns toward me, and I can feel my stomach tie itself into knots when I see the knowing look in her eyes even as her face remains unreadable. It immediately makes me sick, and a groan escapes my lips before I get the chance to stop it."What do you mean?" I ask, hating the way my voice sounds defensive."You know exactly what I mean," she insists, her eyes flicking towards the garden where Sophie still was, lost in her own world. My heart skips a beat at the mention of her name, and I feel a sudden tension coil in my chest, my palms growing clammy with sweat. "The two of you spend quite a bit of time together," she adds, crossing her arms."I do not know what you're tal
After our little horse riding meeting, Marcus and I begin to see each other a little more frequently. From sparing glances to him during the occasional dinners I have with the rest of the royal family, to sneaking through the windows to see at the dead of the night, we've grown significantly closer. On the surface, it seems like we're just strangers, but between us, things have grown so much deeper. I still work on the dress, and the wedding preparations are already underway, but in our little world, everything is perfect.It's one of those evenings where I take a walk after spending a long time beading the wedding dress and enjoying the scenery around me. The evening sun casts a warm glow over the palace gardens as I stroll along the winding paths, my footsteps echoing softly against the cobblestone. The air is filled with the sweet scent of blooming flowers, the gentle rustling of leaves overhead providing a soothing backdrop to my thoughts.Lost in the beauty of my surroundings, I
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews